
..."Laura, pergi," -Juna...
...🍁🍁🍁...
Pencarian pun di mulai, tapi Juna mengecek rekaman CCTV agar ia tau pelakunya siapa.
Sam sudah memperbesar objek seseorang itu, namun wajahnya tak bisa di kenali.
"Yah percuma dong kalau yang nyulik Laura pakai maskara," ucap Sam kesal. Sudah tiga kali ia memperbesar objeknya.
"Masker dodol, lo kira make-up," Alvaro mencupit lengan Sam gemas.
"Bos, nyari gimana lagi?" Sam beralih menatap Juna yang tengah melamun.
"Gak tau. Coba aja kalau gue ada disana saat Laura belum ngilang kayak gini," kata Juna menyalahkan dirinya sendiri. Padahal ialah yang menjauhi Laura karena perintah dari sang ayah.
"Udahlah bos. Kita bisa nemuin Laura kok. Eh Sam, coba lo zoom dan pause videonya. Nah disitu kan ada seseorang tuh di belakang Laura sama di balik tembok ruang ganti cewek. Coba lo amati lagi Sam," titah Alvaro lagi. Ia yakin jika dua orang itu saling bekerja sama.
Sam memicingkan matanya. "Hm, di liat dari matanya aja gue kayak kenal deh. Kayak Tiara sama Raka gitu,"
Juna mengernyit. "Ngapain tuh orang nyulik Laura? Kurang kerjaan banget," ucap Juna dengan nada tidak suka dan sinis.
"Udah biasa, dari awal kan Tiara gak suka sama Laura. Eh tapi kok gampang banget ya masuk cheerlader?"
"Ada rencana tersembunyi," jawab Juna logis. Tiara tak akan semudah itu berubah menjadi baik.
Sedangkan di sebuah hutan, tepatnya di pohon besar nan rindang Laura di ikat. Cewek itu masih belum sadar. Adnan memperhatikan Laura terus, mungkin bagi siapapun akan terlihat menyeramkan.
"Bos, jangan kayak patung juga dong. Gerak dikit kek, mager amat," celetuk Rizky mengenyahkan keheningan yang ada. Beberapa geng BATALION ikut disini ingin menyaksikan detik terakhir Laura.
Irham menimpuk Rizky. "Sstt, bos mau ngeliatin Laura buat yang terkahir kalinya. Jadi wajar aja Riz," jelas Irham agar kelemotan loading otak Rizky bereaksi.
Tiara dan Raka? Keduanya sedang asik menikmati musik DJ di sebuah club besar. Tugasnya sudah selesai, gaji pun di terima.
"Ah, seger banget. Hidup tuh kayak gini, bebas!" seru Tiara seperti sudah gila setelah meneguk soda kesukaannya. Meminum alkohol? Tidak, ia masih ingin kesadarannya penuh.
Raka mengangguk setuju. "Bener Ti. Gimana ya sama Laura? Emang tuh cewek mau di apain sih sama Adnan?"
Tiara bekerja sama dengan Adnan pun harus membujuk rayu cowok itu, dengan janji-janji manis ia akan balikan dengan Adnan meskipun rasa cintanya itu sudah mati.
"Mana gue tau Rak. Yang penting tuh hama tersingkirkan. Jadi gue sama Juna aman," ujar Tiara dengan wajah senangnya.
"Lah Inge? Gimana sama tuh cewek sok cakep?" siapa yang tak mengenal Inge? Meskipun siswi baru, cewek itu langsung populer seantero sekolah hingga sekolah tetangga dan yang lainnya pun tau. Entah bagaimana cara Inge bisa setenar itu.
"Gue gak berani Rak. Dia mafia, kalau pun gue mau main-main sama Inge. Hm, yang ada nyawa gue yang melayang," Tiara bergidik ngeri. Pasti Inge menguasai semua senjata tanpa ada yang meleset sama sekali.
Di hutan, Laura berusaha menggeleng kuat saat Adnan memaksanya agar meminum sebuah ramuan entah apa itu tapi baunya menyengat dan hitam pekat.
"Gak mau!" teriak Laura emosi. Adnan mencengkram dagunya. Meminumkan ramuan itu paksa hingga tandas tanpa tersisa.
"Gimana? Enak kan? Kalau tadi nurut, aku gak bakalan kasar sama kamu," Adnan menghempas dagu Laura kasar.
"Kalian jahat!" teriak Laura marah. Ingin sekali ia memuntahkan ramuan itu. Namun terlanjur sudah, dan sekarang mulai bereaksi. 'Ayah, ibu. Tolongin Laura, takut,' Laura memajamkan matanya, terbayang wajah Brian dan Cica saat bertengkar.
Adnan tertawa renyah. "Jahat ya? Kan udah aku bilang, kamu itu bakalan jadi tawanan kita,"
Dan Cica yang tengah mengupas bawang merah pun teriris, jari telunjuk Cica berdarah.
"Aww, kenapa ya?" tiba-tiba perasaan Cica tidak enak. Ia menoleh ke belakang, berharap Laura sudah pulang dari sekolah. Namun harapan Cica lenyap saat ia menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 5 sore.
"Kelayapan kemana lagi tuh anak?" pantas saja tadi sepi, biasanya Laura mengucap salam dan langsung menyapu rumah.
Cica menggeleng. "Gak, nanti juga pulang sendiri," ia tidak peduli dan kembali melanjutkan mengupas bawang merahnya. "Aww, masih perih lagi," ringis Cica saat darahnya itu terus keluar.
...🍁🍁🍁...
__ADS_1
Juna mengamuk, markas Meteoroid itu berantakan. Setelah puas membuat kursi dan bangku jungkir-balik, Juna terduduk dan merenungi kesalahannya telah menjauhi Laura hanya karena menuruti perintah ayahnya.
"Bos! Udah, jangan emosi gini!" Sam menenangkan Juna. Sekarang ketuanya itu tengah terduduk memeluk lututnya. Juna benar-benar rapuh.
"Gue gagal!" erang Juna semakin marah. "Gue gak becus jagain Laura. Dan dodolnya gue malah jauhin Laura demi ayah gue sendiri,"
Ponsel Alvaro berbunyi. Sebuah pesan singkat yang menunjukkan keadaan Laura sekarang. Alvaro terbelalak kaget, masih tak percaya dan syok.
"Apaaa!! Ih kasihan banget, kok bisa gini sih?!" pekik Alvato histeris, nomor tak di kenal itu mengirimkan foto Laura yang sudah terpejam dengan beberapa luka sayatan dari wajah, tangan, dan juga kaki. Lebam kebiruan pun ada.
Sam ikutan melihat apa yang Alvaro lihat di ponselnya. Ia bergidik ngeri, ah darah. Sam ingin muntah saat itu juga.
"Gila, yang nyulik Laura mah bukan manusia," Sam menggeleng heran.
"Vampir? Yang bener dong," Alvaro mulai parno sendiri.
"Kenapa?" Juna berdiri menghampiri keduanya. Matanya menatap Laura datar, sudah di pastikan cewek itu kondisinya lemah. Entah motif apa yang di rencanakan sang penculik ini.
"Lacak aja tuh nomer. Pasti dia yang ngelakuin ini," titah Juna tegas.
Alvaro mengangguk, namun tidak ada lokasi GPS yang bisa di temukan. "Waduh bos, gak bisa nih,"
"Yaudah, cari lagi," Juna melangkah pergi. Sam dan Alvaro menurut saja.
...🍁🍁🍁...
Inge berusaha melawan preman genit rasa buaya darat ini dengan cekatan.
Bram yang baru saja keluar dari supermarket pun di buat takjub akan aksi Inge yang luarbiasa hebat melawan pria-pria itu.
"Ampun, kita kapok," pria berambut acak-acakan bak mbah gimbal itu berdiri dan menarik temannya agar tak melanjutkan aksi jahatnya lagi.
"Sana! Pergi! Beraninya sama cewek doang. Huh," Inge membenarkan tas selempang Gucci-nya yang hampir di rebut oleh dua preman itu.
Bram menghampiri Inge, siapa tau cewek itu melihat Laura sebelum sahabatnya hilang di culik.
"Lo tau Laura gak?" tanya Bram setelah ia berada di hadapan Inge. Rambut cewek itu acak-cakan, gesit sekali melawan preman-preman itu. Bram kagum.
Inge menggeleng. "Gak, emang Laura kemana?"
"Laura hilang, coba lo inget-inget lagi. Masa iya gak liat Laura buat terakhir kalinya?" tanya Bram mendesak, Inge mulai berpikir.
"Em, liat sih. Cuman, Laura di bawa ke mobil. Gak tau deh kemana,"
"Mobilnya melaju kemana?" tanya Bram lagi mencoba mencari titik terang.
"Barat, kenapa?" untungnya ingatan Inge kuat. Tapi tidak untuk mantan yah.
"Ikut gue, nyari Laura," Bram menarik tangan Inge.
...🍁🍁🍁...
Antariksa sampai pulang dari rumah sakit, menjadi dokter sekaligus pebisnis membuatnya sibuk dua kali lipat dari sebelumnya.
Antariksa menelepon Rey, apakah Juna masih asik nongkrong atau kelayapan tidak jelas.
Saat telepon sudah tersambung, Antariksa menyerbu Rey dengan pertanyaan bak sesi wawancara saja.
"Kemana saja Juna? Dan belum pulang juga? Nongkrong atau kelayapan?" tanya Antariksa tak sabaran.
"Satu-satu bos. Saya juga perlu mikir kali,"
"Iya jawab!" sentak Antariksa emosi. Ini sudah menjelang maghrib. Apa Juna mulai berani melawan wejangannya? Bermain sampai maghrib itu tak baik.
"Juna ke hutan bos, sama temennya juga," lapor Rey. Ia memang mengikuti kemanapun Juna pergi.
"Ngapain kesana?" nada Antariksa naik satu oktaf, hingga Rinai yang melihat sinetron adzab pun terperanjat kaget.
__ADS_1
"Mana saya tau bos. Rombongan lagi,"
"Mas, kamu kenapa sih? Kok marah-marah?" Rinai menghampiri Antariksa, bukannya melaksanakan sholat, Antariksa masih memikirkan Juna tiada hentinya.
Antarisa mematikan sambungan teleponnya. Ia beralih menatap Rinai. "Juna, ke hutan. Gak tau ngapain kesana. Yang jelas bahaya, udah gelap," jawab Antariksa mulai melunak. Tidak, mau bagaimanapun ia marah, melampiaskan pada Rinai tidak baik. Antariksa akan bersikap seperti biasanya, lemah lembut, dan perhatian.
"Sholat maghrib aja dulu, ayo. Nanti waktunya keburu habis mas," Rinai meraih jemari Antariksa. "Sambil berdoa semoga Juna baik-baik aja disana mas,"
Antariksa hanya mengangguk. Semoga saja.
...🍁🍁🍁...
Juna masih tak percaya saat Laura-nya itu tergeletak begitu saja dengan luka sayatan sesuai yang ada di foto.
Juna menghampiri Laura, menemukan lokasi ini atas kerja sama Bram dengan Inge.
Bahkan Bram pun langsung turun dari motor ninjanya, menghampiri Laura yang sudah terkapar tak berdaya.
Juna menepuk pipi Laura beberapa kali. "Laura! Bangun! Laura! Ini aku Juna!" teriak Juna lantang, berharap Laura bisa mendengar suaranya.
Merasakan tak ada pergerakan sama sekali, Juna memeriksa denyut nadi Laura. Dan betapa terkejutnya ia, Laura sudah pergi untuk selamanya.
"Laura kenapa Jun?" tanya Bram khawatir.
"Laura, pergi," lirih Juna dengan air matanya.
"Apa?! Gak, lo bohong. Minggir sana!" Bram mendorong Juna kasar hingga cowok itu tersungkur. Bram mengguncang tubuh Laura. "Laura! Bangun! Kamu gak akan ninggalin aku kan?! Laura!" teriak Bram semakin cemas. Tak kuasa, Bram memeluk Laura untuk terakhir kalinya.
"Laura," dengan sesenggukan Bram tak rela Laura pergi secepat ini. "Siapa yang ngelakuin ini sama kamu?" suara Bram terdengar pilu.
Juna pun ingin memeluk Laura untuk yang terakhir kalinya. "Bram, izinin gue meluk Laura ya?" pinta Juna lembut. Ia tau Bram tengah menahan emosinya.
Bram mengangguk, mau bagaimana pun Juna juga pernah memberikan kebahagian bagi Laura meskipun hanya sebentar.
Juna memeluk Laura erat, seakan tak ingin Laura pergi. "Laura, maafin aku ya? Aku gak becus jagain kamu. Aku terlalu bodoh! Nurutin perintah ayah bua jauhin kamu,"
Sam, Alvaro dan Inge yang melihat itu pun ikut terharu.
"Eh, bukannya lo masih suka sama bos ya?" tanya Alvaro menoleh pada Inge.
Inge hanya menggeleng. "Gue udah di jodohin. Jadi rasa cinta itu ke Juna pun udah gak ada," jawab Inge sedih.
"Astaga, kayak zamannya Siti Kebaya aja," Sam menggeleng, ikut kasihan.
"Nurbaya dodol," Alvaro mencubit gemas lengan Sam yang kekar itu.
"Nah iya, itu maksud gue,"
"Juna, ayo bawa Laura pulang. Pasti orang tuanya nyariin dia," ucap Bram memegang bahu Juna. Cowok itu mengangguk. "Oke,"
Rey, Wildan, Galang dan Faris yang melihat itu pun masih tak percaya.
Rey menelepon Antariksa.
"Lapor bos, Juna ke hutan nemuin Laura yang sudah meninggal," ucap Rey saat sambungan telepon itu terhubung.
"Yaudah, sekarang tetap ikuti Juna. Nanti saya juga menyusul kesana,"
"Ayo," ajak Rey pada ketiga temannya.
...🍁🍁🍁...
Masih banyak sih, tapi tambah panjang dong part-nya 😅
Kurang dua part lagi nih tamat 😢
Aduh gak rela pisah sama mas Juna 😣
__ADS_1