
..."Biar gue aja yang nyari. Kalian disini aja," -Juna...
...🍁🍁🍁...
Saat ini lapangan basket SMA PERMATA itu mulai ramai, sekolah lain pun ikut melihat pertandingan ini. Tidak bisa di lewatkan karena menyegarkan mata sekaligus bagi kaum hawa.
Sedangkan Laura, ia sibuk memoles dirinya se-cantik mungkin.
Tiara dan Rani memperhatikan Laura yang cekatan dalam berdandan.
"Wah, kamu jago juga ya dandan. Kapan-kapan ajarin aku dong," Rani sampai iri dengan Laura sekarang, meskipun natural aura kecantikan Laura akan membuat siapa saja jatuh hati.
Laura memasukkan bedak dan liptint-nya ke dalam tas. "Biasa aja kok. Aku belajar ini semua dari YouTube," dipuji karena bisa dandan? Suatu kebanggan bagi dirinya juga kaum hawa lainnya.
"Eh, kayaknya kita siap-siap deh. Bentar lagi mau di mulai nih," Tiara melirik arlojinya. Tepat jam 7 anggota cheerlader SMA PERMATA dan SMA GARUDA akan tampil bersama sebagai pembukaan sekaligus menyuarakan yel-yel penyemangat bagi masing-masing sekolahnya.
"Yaudah, ayo guys," ajak Rani kepada semua anggota cheerlader-nya.
Di lapangan basket tepatnya tribun yang di duduki oleh geng METEOR tengah menyemangati Jaka sebagai ketua tim basket sekaligus menyusun strategi lain, menjaga keamanan sekolah agar tetap stabil sebelum geng BATALION akan bertindak lebih keras dan kejam lagi.
Sambil mengunyah cilok beranak, Sam berusaha berbicara meskipun tidak jelas untuk di dengar. "Smwgt yw Jakwa. Gwe dukwung low, kalaw menwang traktwir kitwa-kitwa," Sam menyemangati.
Satya mengacak rambut Sam gemas. "Habisin dulu, baru ngomong. Keselek ****** lo,"
Bibir Sam manyun. "Habisnya gue laper banget Sat," Satya lupa kalau Sam tukang makan.
Mata Alvaro terbelalak saat anggota cheerlader sekolahnya itu memakai seragam yang berbeda dari biasanya, kali ini lebih memukau dan cantik dengan polesan make-up setiap anggotanya. Yang mencolok diantara mereka adalah Laura, ya gadis itu berada di tengah-tengah bak ratu yang harus dijaga.
"Wah parah-parah. Laura cantik banget kalau gini. Hm, tau aja nih ya gue gebet dari dulu," mata Alvaro tak berkedip menatap Laura. Sampai Jaka menutupi pandangannya dengan tubuh Jaka yang gagah ini.
"Mata di jaga. Kalau bos tau, habis lo di jadiin menjeng rasa perkedel," nasehat Jaka.
Juna tau, matanya tak lepas dari obek yang berada di tengah-tengah dan lebih pendek dari mereka. Laura.
Juna ingin menghampiri Laura dan mengatakan jika ini tidak baik dan akan berkesan buruk nantinya. Mata Juna mencoba menelisik tribun mencari keberadaan geng BATALION apakah sudah datang.
Dan ternyata...
Mereka sudah datang, duduk bertopang dagu menatap Laura seolah gadis itu perlu di miliki seutuhnya. Dan Adnan, cowok itu terus membasahi bibirnya seolah Laura itu lezat.
"Sialan," desis Juna geram.
"Kenapa bos?" Sam yang duduk di sebelahnya tentu dengar meskipun tidak slewang (budeg/tuli).
Satya mengikuti arah pandangan Juna. "Tenang aja bos. Selagi Laura masih baik-baik aja dan disini, gak ada yang perlu di khawatirkan," Satya menepuk bahu Juna menenangkan sang ketua yang siap menjadi banteng ini.
"Apa Radit sama Adit gak papa ya kita tinggal disana?" tanya Jaka khawatir. Dua kakak-beradik itu membagi kelompok pasukan METEOR dari gerbang utama dan belakang sekolah demi mengantisipasi penyerangan BATALION yang bisa terjadi sewaktu-waktu.
"Kan ada Rafa, Raffael sama Kananda," ujar Alvaro santai. Tiga trio itu sudah di latih beladiri oleh Juna.
__ADS_1
"Kita saksikan, penampilan cheerlader PERMATA dan GARUDA," seru sang pembawa acara lantang.
Laura tersenyum senang amat senang.
Penampilan cheerlader pun di mulai. Pertama dari SMA PERMATA yang menyerukan yel-yel secara kompak dan formasi gerakan yang indah.
"Go, go, go. SMA PERMATA semangat, se-semangat. Tarik siska semongko!" seru mereka lantang. Pasti kalian tau kan yang lagi viral ini?
Cheerlader GARUDA hanya mencibir alay, iri dan terlalu lebay.
Laura membuat gerakan dari ARABESQUE, SCORPION, SHOULDER STAND, dan LIBERTY. Sempurna. Riuh tepuk tangan dan siulan di tunjukkan untuk Laura, bukan dari gerakannya saja yang bagus, tapi kelenturan serta keseimbangannya.
Setelah giliran cheerlader GARUDA tampil lebih menarik dari PERMATA, akhirnya pertandingan basket pun di mulai. Hingga pada saat tim PERMATA mencetak skor 2 dan GARUDA 1, sebuah kericuhan mulai terjadi. Area tribun kini bak pasar saja, semuanya berlari tak tentu arah. Dari suaranya saja menyeramkan, pukulan, kaca pecah, hingga teriakan para korban yang meringis kesakitan.
Juna langsung menuju gerbang utama ditemani Sam dan Alvaro. Jaka dan Satya menuju gerbang belalang sekolah. Pasti saat ini Radit dan Adit sedang kewalahan.
Dan Adnan? Cowok itu duduk anteng di tribun dengan Rizky memantau semuanya dari ponselnya.
"Eh, itu apa-apaan geng METEOR bawa pasukan banyak? Curang ah, gak asik," Rizky berdecak kesal saat setengah pasukan BATALION di gerbang utama tengah terkepung oleh pasukan METEOR dengan jumlah dua kali lipatnya.
"Tenang Riz. Kita masih ada rencana lain. Telepon Raka sekarang juga," titah Adnan tak ingin di bantah. Karena Raka adalah pusat rencananya kali ini.
"Raka, posisi pertama di ruang ganti cewek. Target Laura," ucap Rizky memberikan intrusksi.
"Oke,"
Sesuai perintahnya, Raka bersembunyi di balik tembok. Menunggu Laura selesai mengganti seragam cheerlader-nya.
Raka mengirimkan pesan pada Tiara.
^^^Sekarang. Dari belakang. Keadaan aman.^^^
Tiara
Siap 💪
Laura pun keluar dari ruang ganti. Dengan langkah tergesa, Laura berlari kecil agar dirinya tidak terkena lemparan batu-batu kecil yang tadinya menghantam kaca kelas hingga pecah beberapa kali.
Namun langkahnya terpaksa berhenti seakan di seret oleh seseorang dari belakang dengan membekap mulutnya hingga semuanya gelap.
Juna berusaha melindungi Jaka yang keadaannya mulai melemah. Pasukan BATALION semakin beringas dari biasanya. Meskipun Juna melawannya dengan tangan kosong, hanya satu sampai tiga orang yang berhasil ia tumbangkan.
"Jak. Kalau lo gak kuat, mending mundur aja. Biar gue yang ngelawan mereka semua," teriak Juna parau. Beberapa kali pipinya di tinju oleh pasukan BATALION.
Jaka menggeleng. Tenaganya masih ada meskipun lemah. "Gak bos! Kita bakalan lawan bereng!" seru Jaka lantang. Energinya bangkit kembali, ia lebih semangat memukuli sang lawan tanpa ampun.
Sedangkan di gerbang belakang sekolah, Adit terkapar lemah di tengah kerumunan pasukan BATALION. Kondisi Adit lemah.
"Aww," Adit memegangi perutnya yang terasa nyeri. Mungkin pukulan itu terlalu keras, terutama perut bagian kiri dimana letak lambung berada disana.
Radit berusaha mencari adiknya itu, tiba-tiba saja Adit terpisah dari jangkauannya.
__ADS_1
Radit berusaha menyingkirkan pasukan BATALION bak banteng mengamuk saja. Menepis, menendang dan memukulnya dengan kasar hingga sang lawan tersungkur.
"Adit! Dek! Kamu dimana?! Kamu denger kakak kan?! Adit!!!" teriak Radit berang dengan nafas naik-turun.
Hingga berada di posisi tengah-tengah, ia menemukan Adit terkapar lemah disana. Darah yang mengalir dari pelipis dan hidungnya itu semakin membuat Radit khawatir. Dengan cekatan ia menyingkirkan pasukan BATALION yang berusaha menginjak-injak Adit padahal kondisinya sudah lemah dan tak berdaya.
"Dek! Bangun! Kamu masih dengerin suara kakak kan?! Dek!" Radit mengguncang tubuh Adit. Matanya terpejam tenang dengan senyum tipisnya. Radit menggendong adiknya meskipun berat, yang terpenting Adit harus di tangani dengan cepat.
Setelah perkelahian itu di menaangkan oleh BATALION, Juna mengintruksikan pasukannya agar pulang. Namun, sebuah pesan singkat membuat Juna terbelakak tak percaya.
"Adit sekarat. Ke rumah sakit sekarang," ucap Juna. Jaka, Sam dan Satya mengangguk.
...🍁🍁🍁...
Mungkin ini cobaan untuk Juna, setelah ketiga anggota paling terkahirnya itu di serang oleh BATALION hingga masuk rumah sakit. Sekarang terulang kembali, Adit.
Di tengah keheningan itu, ponsel Jaka berdering. Nama Bram tertera jelas.
"Iya Bram?"
"Laura hilang! Udah gue chat dan telepon gak di angkat. Udah gue cari juga dii sekolahan juga gak ada. Udah gue cari kemana-mana Jak. Tapi apa?! Gak ada!" teriak Bram frustasi.
"Apa?!"
"Laura hilang?" tanya Juna masih syok. "Biar gue aja yang nyari. Kalian disini aja," sebelum Juna melangkah, Jaka mencekal tangannya.
"Gak bos. Jangan nyari sendirian. Bahaya, mending sama kita aja," Jaka tak ingin Juna kenapa-napa. Meskipun Juna bisa melawan, yang namanya BATALION akan kebrutalannya bisa melumpuhkan Juna sewaktu-waktu.
"Gak usah. Gue bisa sendiri," tolak Juna dingin.
"Bos! Jangan gini! Bahaya!" bentak Jaka mulai emosi. Juna sudah membelanya tadi, hampir saja Juna menjadi pelampiasan BATALION jika semangatnya tak bangkit kembali.
Juna menghela nafasnya. "Yaudah, sebagian ada yang disini. Jangan semuanya, Adit juga butuh kalian,"
Satya mengangguk. "Baik bos. Hati-hati,"
"Gue ikut ah," Sam berdiri, lalu Alvaro.
"Gue sama siapa disini?" kesal Satya, sudah cukup ia sendiri dalam artian jomblo.
"Sama gue Sat. Tenang aja," Jaka kembali duduk di sebelah Satya.
...🍁🍁🍁...
Fyuh adem panas ngetik iki 😅
Ngalir gitu aja sih kayak air 😆
Gimana? Gak sabar ya METEOR tamat?
Kalau author mah gak rela 😣
__ADS_1
Masih kangen Juna dong 😚
Boleh minta like-nya? Seneng dong dapet notif gitu, apalagi komen kalian 💖