
..."Semoga kita masih bisa bersatu, melalui angin yang menyapu rindu tanpa temu," -Juna...
...🍁🍁🍁...
Juna, dan yang lainnya pun sudah sampai di rumah Laura dulu.
Juna menekan bel itu berkali-kali. Laura masih dalam gendongannya.
"Assalamualaimum, buka pintunya," Juna mengetuk pintu itu tanpa henti.
Brian yang baru selesai bersih-bersih rumah pun berjalan menuju ruang tamu saat bel rumahnya di tekan berkali-kali. Entah kesal atau iseng. Brian tidak suka itu.
"Waalaikumsalam. Siap...a?" Brian membuka pintu itu dengan wajah yang masih cengo. Juna membawa Laura di gendongannya. "Laura kenapa?" perasaan tak enak menyelimuti relung hatinya.
"Maaf om, sekali lagi maaf," ucap Juna pilu. Ia masih menyiapkan kata-kata untuk Brian agar bisa menerimanya. "Laura, sudah meninggal," ujarnya lirih, bahkan terdengar bisikan.
Brian yang mendengar itu pun terduduk lemas di ambang pintu. Anak tunggalnya bak putri kerajaan itu meninggal dirinya, tanpa pamit dan kenangan yang tersisa.
"Saya masih gak percaya. Gak, kalian bohong kan?!" teriak Brian frustasi. Bagaimana bisa ini terjadi?
Juna menggeleng. "Gak om. Saya jujur, kalau gak percaya. Cek aja denyut nadinya Laura,"
Brian sampai lupa tidak mempersilahkan Juna masuk. "Oh iya, bawa Laura ke kemar. Setelahnya kamu bisa pergi," titah Brian dengan wajah datar. Rasa sedihnya tadi lenyap bergantikan amarah yang ingin ia lampiaskan.
Saat Juna membaringkan Laura di ranjang, saat itulah pertemuan terakhirnya melihat Laura.
"Ra, mau bagaimana pun. Aku masih sayang sama kamu ra," Juna menggenggam jemari mungil itu, dingin.
Brian yang melihat itu di ambang pintu pun menunggu dengan jengah. Kapan giliran dirinya bisa mengobrol dengan putrinya lebih lama?
__ADS_1
"Sudah saya bilang kan. Bisa pergi sekarang, Laura sudah disini bersama saya," usir Brian tegas. Juna mengangguk.
"Kalau gitu, saya pamit ya om. Assalamualaikum," Juna melangkah pergi, meninggalkan Brian seorang diri di rumah sederhana ini. Sepi, hampa, dan hambar setelah putri kecilnya pergi menemui sang kuasa.
Saat di luar, Juna mendapati Antariksa yang bersidekap dada dengan tatapan tajamnya.
"Pulang! Cepet!" gertak Antariksa marah. Mendengar kabar Laura meninggal di tengah hutan begitu, tentunya Antariksa cemas dengan Juna.
"Iya, ini mau pulang," tukas Juna jengah.
Dalam perjalanan pulang pun, tak ada yang berani berbicara sepatah kata pun. Aura dingin dan mencekam dari Antariksa yang sedang marah, membuat mereka terdiam seribu bahasa.
Hingga di rumah pun, Antariksa sama sekali tak melirik Juna dan melewatinya begitu saja. Anak dan ayah itu seakan tengah mengibarkan bendera permusuhan yang baru saja di mulai.
Antariksa merebahkan dirinya di ranjang. Sangat melelahkan sekali tadi. Bahkan sekarang sudah pukul 9 malam saking jauhnya perjalanan itu.
Rinai yang baru selesai keluar dari kamar mandi pun mendapati Antariksa yang menatap langit-langit kamar dengan kosong.
Antariksa mengangguk pelan. "Iya, biarin aja dia merenungi kesalahannya. Sudah aku bilang, jangan dekati Laura. Masih ngeyel aja," tekannya geram.
"Kamu jangan gitu mas. Juna kan lagi jatuh cinta, wajar aja dia berjuang dan berkorban buat Laura. Juna tulus mencintai Laura,"
Antariksa menatap wajah istrinya itu dari samping. "Cinta kamu bilang? Rin, Laura anak dari Cica. Si pembunuh yang gak punya hati itu," ucap Antariksa dengan kekesalan yang memuncak. Merengut dua nyawa orang yang di sayanginya.
"Iya, tapi Laura kan gak sama kayak Cica. Dia berbeda sedikit mas," sanggah Rinai berusaha meredamkan amarah Antariksa.
Juna yang tak sengaja mendengar percakapan itu pun menguping. Biarlah ini kurang sopan, namun ini menyangkut dirinya dan Laura, serta seberapa benci sang ayah pada Cica dan Laura.
"Kamu gak tau Rin, saat ibuku tiba-tiba meninggal gitu aja. Terus Agung, hilang di puncak dan di temukan dengan keadaan meninggal tapi keracunan. Se-jahat itu Rin, Cica
Melampiaskan dendamnya ke semua orang terdekat aku," curhat Antariksa pilu. Jatuh cinta tapi dengan obsesi yang tinggi akan memumbuhkan sikap iri yang berlebihan.
__ADS_1
Tanpa sadar, air mata Juna mengalir. Apakah ini yang ayahnya takutkan?
"Laura cewek baik yah. Dia pendiam, polos, dan gak tau apa-apa. Laura butuh pelindung, seperti Juna," sekelebat memori dimana awal mula dirinya bertemu dengan Laura, Juna merasa geli sendiri saat mengingatnya. Ia terlalu emosi membentak gadis itu.
"Yaudah, jangan terlalu di pikirin ya mas. Mending tidur, besok kamu berangkat keluar kota kan?"
Bahkan Juna tidak tau ayahnya akan pergi besok. Dirinya dengan sang ayah seolah ada jarak yang membentang membatasi interaksinya selama ini.
"Ayah mau pergi? Terus, yang ngomelin Juna di rumah buat masak dan bersih-bersih siapa?" ia akan merindukan saat-saat itu. Antariksa baik, ia tak pernah melarang Juna ini-itu asalkan dirinya bisa membedakan mana yang baik dan buruknya.
Tak ada suara percakapan lagi, kedua orang tuanya sudah tidur. Juna melangkah gontai menuju kamarnya.
Langkahnya menuju jendela kamar, menyibak gorden dan menatap langit yang bertabur bintang dengan rembulan sebagai pelengkapnya.
Seulas senyum tipis Juna membayangkan Laura yang selalu bertanya, salah tingkah dan mudah baper pada saat itu.
"Kamu baik-baik ya disana. Aku janji, kalau suatu saat nanti nyusul kamu, tunggu aku buat kembali menjadi pelukmu untuk yang terakhir kalinya. Laura Rastanty, i love you more,"
Sebuah bintang jatuh membuat Juna merapalkan doa dan harapan.
"Semoga kita masih bisa bersatu, melalui angin yang menyapu rindu tanpa temu," Juna jadi mellow sendiri rasanya. Cinta memang membuat seseorang bisa bahagia dan galau.
...🍁🍁🍁...
Juna: Good bye besties, mamen semua. Berpisah dengan kepahitan, melepas apa yang di relakan.
Akhirnya tamat juga kisahmu Jun 😅
Extra part gak sih? Kalau gak ya sampai disini aja 😆
Masih mau ada kelucuan buat ngehibur mas Juna si galau
__ADS_1