
Dalam kesehariannya, setiap weekend Nadhira selalu menggunakan waktu luangnya untuk bersama keluarga. Menjadi staf administrasi bukan impian Nadhira. Sebagai lulusan ITB, dia ingin sekali menerapkan ilmu yang diperolehnya dibidang arsitektur. Sayangnya, Nadhira harus mengenyampingkan mimpinya untuk dapat bantu membiayai ketiga adik-adiknya. Ayah Sam 2 bulan lagi akan pensiun. Sedangkan usaha catering Ibu Ipah sedang mengalami penurunan karena pandemi COVID.
Keputusan serta kerja kerasnya telah memperlihatkan hasil. Naylan, Naufal dan Narendra dapat meneruskan pendidikan mereka tanpa harus memikirkan biayanya. Menjadi anak sulung dan perempuan satu-satunya menempa Nadhira sebagai perempuan tangguh dan bertanggung jawab. Sebaik mungkin dia mengatur menjadi Emmak yang adil untuk ketiga adiknya.
Dan penyematan label Emmak padanya bukan tanpa sebab.
Flashback - 12 tahun silam, Minggu sore.
Naren kecil sedang bermain diteras, sementara Ibu Ipah masih sibuk mempersiapkan pesanan catering untuk acara tujuh bulanan tetangga. Opal dan Naylan sedang sibuk mengerjakan tugas sekolah membuat prakarya boneka lem kertas. Nadhira sendiri berusaha membantu Ibu mengawasi Naren dan sesekali ke dapur untuk mempersiapkan sayuran yang hendak dimasak.
Sewaktu Nadhira didapur, Naren kecil mulai merasa bosan dan mencari hal menarik lainnya. Naren kecil memanggil kedua kakak lelakinya dengan suara imutnya.
"Aa Ilan, Aa Opal...timana? Alen bocen niiyyy" keluhnya.
"Dikamaaal dek, lagi keljain plakalya Aa Ilan." saut Opal.
Naren kecil pun berlari ke arah kamar Naylan dan melihat 2 saudaranya sedang membuat boneka dengan lem kertas.
"Aa.....???? Alen bole bantu? Bole bole????" tanya Naren memelas.
"Alen bantu Aa bejek-bejek koran ya, nanti kalo uda kumpulin disini" jawab Naylan seraya menunjuk wadah kosong.
"Oteh...ciap laksanakan" saut Naren.
Fokus Opal dan Nay pun kembali ke kerangka boneka yang setengah jadi. Mereka melanjutkan membentuk kerangka boneka tersebut. Dan... melupakan keberadaan Naren kecil, yang sudah beralih dari tugasnya meremas setelah 10 menit berlalu.
"Aa...ini camponya ko au ya? Telus...bucanya ga adaan. Ga ceru ih" gerutu Naren kecil tiba-tiba sambil menggosok-gosok rambutnya dan sesekali mencium aroma tangannnya yang sudah penuh dengan cairan lengket.
Opal dan Nay kecil pun mengalihkan pandangan mereka ke Naren dan keduanya sukses terdiam.
Tidak lama setelah protes Naren, dr teras terdengar suara Nadhira mencari Naren sembari melangkahkan kakinya ke kamar. "Naaay. Opal....kalin liat dd Naren?" tanya Nadhira seraya menyembulkan kepalanya di pintu kamar.
Nay dan Opal yang masih terdiam dan mendengar Nadhira bertanya, bersamaan menunjuk Naren yang tengah sibuk menggosok rambutnya.
Nadhira pun mengalihkan pandangannya ke sudut kamar yang ditunjuk dan dia pun kaget lalu bergegas mendekati Naren.
__ADS_1
"Allllaaaaamaaaak...Naren, lagi apa? Ini rambut kamu apain?" tanya Nadhira sambil memegang sejumput rambut Naren yang menempel satu sam lain.
"Eteh Emmak...Alen gi cobain campo Aa....niy...liat, masa camponya au teh? Telus ga ada bucanya" jawab Naren sambil menunjukkan kepalanya yang penuh dengan lem kertas.
"Kalian...kenapa masih diem ajja? Kenapa bisa kek gini? Kalian ngapain aja?? Sok atuh bantu dd nya..jauhin lem kertasnya", titah Nadhira pada Opal dan Nay.
"Nay ga tau kalo Naren lagi maem lem Mak. Tadi Nay uda nugasin dia bejek-bejek kertas", sahut Naylan.
"Benel icu......Opal ga tau napa Alen jadi pedan-pedan lem Mak", timpal Opal membenarkan.
"Kalian...napa jadi panggil teteh Emak semua?" tanya Nadhira sambil sesekali mencoba mengelap rambut Naren kecil dengan tisu yang ada.
"Ngikutin Naren teh....", jawab Nay dan Opal hampir bersamaan.
"Ih...tadi Alen dengel tetehnya bilang aloou emmak, jadi Alen pikil teteh mo dipanggil teteh emmak" jawab Naren polos.
"Hmmm...kupingnya Naren disamping ya?" tanya Nadhira setelah dengar penjelasan lugu adiknya. Nadhira terus mencoba membersihkan lem yang masih menempel sempurna di rambut Naren.
"Iya atuuuuh....masa di depan, parrah ??!!!?", saut Naren sambil protes.
"Sudah-sudah, ayu ikut....!" pinta Nadhira dengan tersenyum sambil menjulurkan tangan kanannya ke Naren.
"Mandilah....itu rambut kamu sudah bersatu padu ga jelas, mo Emmak keramasin pake sampo asli", jawab Nadhira sambil mencubit gemas pipi kiri Naren.
"Alen bole sambil belenang Mak??" tanya Naren lagi saat mengekor di belakang Nadhira.
"Boleh boleh, yuk ah", ajak Nadhira ke kamar mandi.
****
Masa kini, Senin pagi jam 05.00 WIB
"Emmak, Naren sama aa Nay lom bangun!!" protes Opal sambil sedikit berteriak ke arah dapur.
Nadhira yang sedang menyiapkan sarapan, langsung mematikan kompor dan tak lupa mengambil sebaskom air dari tempayan di dapur. Setelah itu, dia melangkah ke kamar adiknya.
__ADS_1
Dilihatnya Naylan dan Naren masih berbalut selimut ditempat tidur.
"Ampun kalian tuh...tidur pada kaya kebo, pasti abis pada nonton bola niih" bathin Nadhira sambil menyiapkan baskom yang berisi air.
Nadhira lalu mendekati tempat tidur Naylan yang bersebelahan dengan tempat tidur Naren. Dalam 2-3 jurus, cipratan air sukses membasahi wajah kedua adiknya.
"BANGUUUNNNN....kalian ga pada subuhan apa?? Jam segini masih nungging di kasur!!!" perintah Nadhira sambil terus menciprati Naylan dan Naren bergantian. "Udah jam 7 nih...mana kalian belom mandi, pada niat belajar kaga?" sambung Nadhira.
"Haaaaa apa sih Mak...basah nih...iya iya aku da bangun Mak," jawab Naylan sambil mengusap-usap mukanya yang mulai kedinginan.
Naren pun terbangun cemberut sambil mengusap wajahnya. Tangannya dengan malas mengambil HP dan melihat kalau jam masih menunjukkan pukul 5 pagi.
"Iiih....apa Mak? Liat tuh...masih jam 5 seperempat juga. Naren kan hari ini mulai kelas jam 9. Kemaren gurunya dah WAG kalo mereka mo rapat internal dulu." protes Naren seraya menunjukkan jam di HP nya ke depan wajah Nadhira.
"Bodo ah...mo kelas jam berapa kek. yg penting kalian subuhan dulu giih. Emmak lagi buat sarapan. Kalo kalian belom beres mandi n subuhan 10 menit lagi, Emmak ga kan kasih kalian ongkos 2 minggu!" ancam Nadhira tegas.
Jadilah Naren dan Naylan bergegas bangkit dari kasurnya dan berebut untuk ke kamar mandi. Alhasil keributan kecil pum terjadi. Nadhira yang melihat kelakuan 2 adiknya, cuma bisa menggeleng dan tidak habis pikir.
Mereka sudah dewasa, tapi kelakuan mereka dirumah bak bocah 10 tahun. Tidak yang sulung ataupun yang bungsu. Hanya Opal yang sedikit mengerti apa itu disiplin. Itu pun sedikit...tidak sepenuhnya, tapi setidaknya beban Nadhira untuk kelakuan absurd adik-adiknya tidak terlalu maksimal.
Opal yang sedari tadi sudah terbangun, baru selesai menunaikan subuhnya. Mendengar Nadhira kakaknya berteriak mengancam 2 saudara lelakinya, Opal tersenyum licik. "Hahaha...sukurin, sejukkan dikepret emmak pagi -pagi??!!!" bathin Opal.
Setiap pagi sebelum berangkat bekerja, Nadhira berusaha membantu Ibunya untuk mengurus ketiga adik lelakinya dengan berbagai drama yang episodenya selalu penuh warna.
Sementara Ibu Ipah fokus menyiapkan bahan-bahan untuk pesanan cateringnya. Alhamdulillah, masih ada tetangga yang mempercayakan konsumsi aqiqah anaknya pada Ibu Ipah.
****
Jam sudah menunjukkan pukul 8.30 dan kediaman Ayah Sam sudah tidak ada lagi keributan. Ayah Sam dan keempat anaknya sudah pergi menjemput kesibukannya masing-masing. Termasuk Nadhira.
Tanpa terasa Nadhira merasakan lapar disela pekerjaannya. Dia melirik jam di tangan kirinya dan berguman, "Pantes aja laper, udah jam 12 ternyata. Sholat trus makan ah."
Belum sempat beranjak dari kursinya, tiba-tiba HP nya berdering. Ibu memanggil.
"Assalammualaikum Bu, ada apa Bu?"
__ADS_1
"Dhira, Ibu bingung....gimana ini?? Ibu ga ngerti harus gmn..hiks...hiks" jawab Ibu sambil terisak.
...****************...