
Nadhira PoV
Malam hari, aku dan ketiga adikku berkumpul di kamarku.
Kami hendak menyusun rencana kejutan buat Ayah. Naylan, Opal dan Naren tampak serius berfikir kejutan apa untuk Ayah. Sementara aku, seperti biasa memperkirakan anggaran yang tersedia untuk kejutan tersebut.
Tiba-tiba Naren membuyarkan fokus semua orang dengan setengah berteriak.
"Mak, tau gak kalo di sekolah... Ayah tuh jadi favorit murid-murid?" tanya Naren padaku.
Aku menggeleng perlahan seraya mengangkat bahuku.
"Sok tau...diakui juga enggak lo di sekolah!?" celetuk Opal.
"Ya enggaklah, kan emang Naren mintanya gitu dari kelas satu juga. Gimana sih bang Opal??" bela Naren.
"Jadi....pada tau gak kalo Ayah itu favorit nya anak-anak di sekolah? ๐ง๐ง๐ง" tanyanya lagi.
Naylan yang sedang merebahkan dirinya di karpet menjawab santai, "Aa da bisa nebak da...pasti jadi favorit. Kan Ayah gantengnya 11 / 12 sama Aa. Bener ga Makk??!!"๐ค๐ค๐ค
Seketika bantal guling melayang ke arah Naylan.
BUG BUG BUG.....
"Aaaawww.....apa siih, bener kok Aa magh, kenapa jadi pada sewot???โบโบ" kilah Naylan seraya menyelamkan kepalanya dibalik tumpukan bantal guling menghindari serangan berikutnya.
"Aa mah salah...lain ganteng, Ayah mah orang nya ga bisa bilang enggak trus Ayah paling ga bisa emosi. Mirip kan sama Naren? Ya gak ya gak??!!! ๐Hahaha...๐คญ๐คญ๐คญ." timpal Naren tak mau kalah.
Opal bangkit dari duduknya dan berdiri didepan kami semua. Kemudian menaikkan kerah leher bajunya dan berkata,"Ayah itu cool macam Abang lah....mana mirip kalian??!!?? Apalagi emmak??? ๐ ๐ yang hobi banget corat-coret en maen kalkulator..hahahaha"
Mendengar Opal, aku langsung manyun...lalu bangkit dan menjewer kuping kiri Opal. Seketika dua adikku yang lain terkikik.
"Kamu tau kan klo emmakmu ini merangkap seksi keuangan dirumah? Penting kertas bolpen ama kalkulator dibanding kasih kamu ongkos malem minggu....sama siapa tu Nay? Juki ya...iya Juki!! ๐๐" belaku.
"Aduuuuu duuu duuu....sakit atuh Mak?!!" keluh Opal sambil pura-pura meringis.
"Zaki Mak! Lain Juki.....", timpal Naylan.
"Iya ih...emmak mah ganti-ganti sorangan nama temen Opal teh, dimintain nasi kuning baru rasa! Tolong lepasin Mak...meuni beneran jewerna" saut Opal.
"Eh....siapa suruh kamu nyinyirin emmak๐?!!!!!!" jawabku ketus seraya menarik lebih tinggi jeweranku.
"He eh lah....iya..iya..ampun ampun mak....ngancemnya pake kepeng wae๐ฃ, tarik ajalah omongan Opal tadi, anggep ga pernah diomongin๐ yeees ...plissss ๐ค๐ค๐ค" pinta Opal sambil mengiba untuk melepaskan kupingnya. "Lagian ya ....... si Zaki itu ce es nya abang di kampus. Orangnya sama cool kek abang...jutek ama cewek jadi enak diajak serius apalagi kalo urusan cari sponsor event.๐ค" lanjut Opal menjelaskan.
"Ooooh...ce es debt collector, baguslah. Aa pikir kamu ama Zaki dah ga normal!! Kamana mana duaan wae....๐ค๐ค๐ค...Hahahaa!!!" goda Naylan.
"Najizzzzzz...na udzzubillah min jalik A. Jauh amat mikirnya. Opal tuh masih lempeng kek penggaris...ada di jalan yang lurus.๐๐๐" jawab Opal sambil berusaha melepaskan diri dari jeweranku.
Perdebatan terus berlangsung diwarnai canda tawa kami. Ya....meskipun krisis ekonomi menghimpit, kami sekeluarga tetap harmonis. Ayah, Ibu serta ketiga adikku menjadi alasan terbaikku untuk mencari nafkah. Pekerjaan apapun itu yang terpenting halal.
Aku memang lulusan arsitektur, tapi tidak ada perusahaan yang dengan mudah menerima fresh graduate tanpa pengalaman dibidang tersebut sama sekali. Kecuali orang itu ada koneksi.
Terlebih lagi di masa sekarang, dimana banyak perusahaan yang mengurangi bahkan menghentikan operasional atau aktivitasnya demi bertahan untuk dapat melalui krisis akibat pandemi COVID-19.
Tidak terasa, pandemi yang dianggap bencana internasional ini sudah berlangsung lebih dari 9 bulan di Indonesia. Banyak pengusaha yang memutar otak untuk bertahan ditengah pandemi ini. Bahkan keputusan merumahkan karyawan dan menggaji harian menjadi salah satu solusi ideal.
Jadi saat itu aku putuskan tidak masalah bekerja hanya sebagai admin dan menunjukkan performa terbaik. Yang terpenting ketiga adikku tetap menyelesaikan pendidikannya. Syukurlah sekarang ada pengurangan biaya dari pihak kampus Naylan dan Opal berhubung pandemi. Jadi anggaran untuk mengganti modal Ibu bisa terlaksana tanpa memotong anggaran lainnya. Sementara Naren SFH (School From Home). Keadaan ini sdh berlangsung lebih dari 1 semester.
Hingga pukul 11 malam, diskusi kami tidak membuahkan kesepakatan. Yang ada malah menimbulkan kegaduhan karena terus membahas hal lain dan menertawakannya.
TOK TOK TOK.
Suara ketukan dipintu kamar seketika membuat kami semua berpaling ke arah pintu.
"Anak-anak...kalian lagi apa? Ribut banget sih. Udah mo jam 12 nih, kasian teteh kamu besok kerja." ujar Ibu mengingatkan.
"Iih....iya, ga berasa. Mak, lanjut nanti lagi lah ngobrolnya" ujar Naren sambil melirik ke Naylan dan Opal.
"Da ini mah gegara kamu Ren...bahas na ti kamana mana. Kagak jelas...jadi weeeh urusan Ayah ga beres. Ya udah yuuu ...sare." ajak Naylan seraya mengangguk.
"Iyaaa Buu...sebentar sun n peluk teteh heula. Biar ga mimpi burik eh buruuuk ๐ ." sahut Opal asal ke arah pintu.
Naylan dan Opal cekikikan๐คฃ๐คฃ๐คฃ, sementara aku menoyor kepala Opal dari belakang.
"Dah sana....pada molor!! Teteh juga da ngantuk.๐๐๐ด๐ด๐ด"
"Iya iya teteh sayang... peyuuuuk dulu atuh๐ค, lamun mimpi buruk kumaha?" jawab Opal merajuk.
"Ih ga malu ama tampang kamu teh....geus bujang masih keneh manja๐." kataku sambil mengacak-acak rambutnya.
"Bae lah teh....kita mah manja ku teteh sorangan. Da kita ga da yang bobogohan sesuai titah kanjeng emmak๐" sahut Naren sambil memelukku bergantian dengan Opal dan Naylan.
__ADS_1
Lalu mereka bertiga keluar bersamaan mengarah ke pintu. Karena berdesakkan....lubang pintu tak bisa dilalui.
"Eh kupluk....Aa duluan atuh, meuni te sabaran" pinta Naylan sambil melirik kekedua adiknya.
Opal dan Naren hanya mencibir tetap memaksa keluar bersamaan, berebut saling mendahului. Butuh 5 menit berdebat di pintu hingga mereka akhirnya dijewer Ibu karena tingkahnya.
"Iiih...ini budak budak bujang ga malu ama umur, masih keneh bocah kelakuan." cibir Ibu seraya menjewer kuping mereka satu per satu seperti di absen.
Melihat pemandangan ini memberikanku kekuatan, mengisi ulang energiku meski akan telat tidur malam.
Ayah, Ibu dan aku sepakat tidak memberikan ijin ke Naylan dan Opal untuk bekerja. Dan kami juga tidak mengijinkan mereka, termasuk Naren untuk pacaran atau dekat dengan lawan jenis.
Selain godaan zinah, hal tersebut akan mengganggu kegiatan belajar mereka.
***
Pagi itu aktivitas dikantor berjalan normal. Pekerjaanku tidak terlalu banyak. Bu Dinar tiba-tiba memanggilku ke ruangannya.
TOK TOK TOK.
"Masuk.."
"Siang Bu, tadi Ibu panggil saya?"
"Iya, masuk Dhira...duduk duduk" ujar Bu Dinar seraya menunjuk kursi didepan mejanya.
"Dhira, ada yang mau saya bicarakan tentang kerjaan kamu." lanjut beliau.
DEG.
Sesaat aku terdiam ketika Bu Dinar menyebut tentang pekerjanku. Khawatir tiba-tiba merasuki pikiranku.
"Dhira...Dhira, kamu dengar saya" tanya Bu Dinar yang melihatku melamun.
"Oh ..eh iya Bu...iya, maaf. Gimana Bu tentang kerjaan saya?" tanyaku sambil berusaha fokus dari keterkejutan dan menjauhkan pikiran tentang PHK.
"Jadi gini...ada evaluasi performa kamu dari pihak HRD dan juga Direksi. Agak mendadak sih...karena saya juga noticed kalau kamu tuh belum genap 4 bulan bekerja disini."
"Iya Bu. Saya baru selessi bulan ke 3 seminggu lalu." jelasku.
"Ok. Performa kerja kamu menurut saya sangat bagus. Saya juga sudah masukkan rekomendasi ke HRD. Tapi rupanya kamu tidak bisa melanjutkan kerja dibawah arahan saya lagi....." lalu Bu Dinar terdiam...agak lama.
DEG DEG DEG
Tak lama kemudian Bu Dinar melanjutkan seraya menatap wajahku yang sudah merefleksikan keputusasaan.
"Dhira...kamu kenapa? Saya belum selesai menyampaikan. Kenapa wajah kamu sudah lesu gitu?
Kamu itu ga bisa kerja lagi dibawah arahan saya, karena pihak Direksi memutuskan agar kamu dipindahkan ke kantor Point Cook, Australia. Sebagai S**econd Assistant dari Head of Project, Mr Jerry." jelas Bu Dinar perlahan.
"Aa...aa....apa Bu? Saya ga salah denger kan?" tanyaku setengah terkejut.
"Saya sama terkejutnya dengan kamu waktu terima employee evaluation report kamu. Sepertinya background pendidikan kamu di bidang arsitektur jadi pertimbangan dasar Dewan Direksi."
"Bu, apakah pemindahan ini bersifat mutlak dan apa ada hal lain yang perlu diketahui saya?"
"Sore nanti kamu ketemu Mira di HRD ya...untuk lebih jelasnya bagaimana. Sekarang, tolong kamu selesaikan berkas-berkas yang ada di meja kamu dan serahkan final report nya besok pagi di meja saya.
Untuk sementara itu dulu saja. Kamu bisa kembali ke meja kerja kamu lagi sekarang." ujar Bu Dinar.
Aku mengangguk pelan dan bangkit dari kursi. Kulangkahkan kaki kembali ke meja kerja, namun pikiranku masih tertinggal di ruangan Bu Dinar...mengulang-ulang pembahasan tentang pemindahan kerja ke Australia.
Setibanya di meja, aku fokuskan untuk menyelesaikan segera pekerjaan yang diminta Bu Dinar. Ingin segera rasanya segera mengetahui lebih detail tentang rencana pemindahan ini.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 3.45 sore. Bu Dinar sudah mengingatkan untuk ke ruangan HRD jam 4.
Tersisa 15 menit. Kurapikan berkas-berkas dan juga meja. Kemungkinan selesai dari HRD akan langsung pulang, jadi kebereskan sekalian saja.
Perjalanan ke ruangan HRD hanya 5 menit jika lift tidak penuh. Setibanya aku langsung masuk ke ruangan Ibu Mira.
Dan beliau sudah menunggu didalam.
TOK TOK TOK
"Masuk ....mbak Dinar ya?"
Aku menjawab dengan anggukan kecil saat masih diambang pintu.
"Masuk mbak Dinar. Duduk disebelah sini ya...sebentar saya lagi nunggu satu orang lagi. Jadi biar sekalian dijelaskan nanti. Tunggu sebentar ya" jelas Bu Mira.
__ADS_1
TOK TOK
Belum ada semenit duduk, ada suara ketukan pintu. Bu Mira dan aku sama-sama menoleh.
"Bu Mira maaf, ini saya diminta Pak Bos kalau pelamar yang ditunggu tidak perlu di brief. Nanti Pak Bos langsung katanya." info Pak Marbun, office boy kantor yang hanya berdiri di pintu.
"Oooh...ok. Baik Pak, terima kasih infonya." sahut Bu Mira sambil mengangguk-angguk.
Setelah mendapat respon, Pak Marbun langsung undur diri dan menutup pintu.
Aku kembali fokus ke Bu Mira untuk melanjutkan pembicaraan.
"Saya langsung aja kalo gitu Mbak Dhira. Bu Dinar sudah menyampaikan sebagian besar infonya kan? Jadi sekarang saya hanya akan memberikan kontrak dan garis besar untuk pekerjaan ini." seraya mengeluarkan clear holder berisi beberapa lembar kertas.
Aku masih mengikuti pembicaraan dan mencoba menelaah informasi yang akan diberikan.
Kemudian Bu Mira melanjutkan, "Sebagai Second Assistant. mbak Dhira akan ditempatkan di kantor Point Cook Australia. Untuk akomodasi dan transportasi ditanggung sama perusahaan. Selama bekerja, mbak Dhira akan bekerja dalam tim. Ada Head of Project & First Assistant. Rincian detail job desc mbak Mira ada didalam kontrak ini termasuk jumlah pendapatan yang diterima" seraya menyodorkan berkas dalam clead holder tadi kepadaku.
Sesaat aku membolak balik halaman kontrak untuk membaca sekilas, mencari klausul-klausul penting yang sekiranya harus diperhatikan. Mataku terhenti pada kalimat - mulai bekerja 7 hari setelah penandatanganan kontrak. Ditambah lagi kalimat - harus membayar penalti sebesar 10 juta rupiah jika menolak penempatan.
Aku terkejut hingga tanpa sadar mengajukan pertanyaan ke Bu Mira seraya menunjukkan klausul tersebut, "Maaf Bu, apakah ini artinya saya tidak bisa menolak? Karena jujur, saya masih terkejut dan saya juga merasa keberatan dengan persyaratan yang tercantum. Ini saja saya belum baca detail lainnya."
"Mbak Mira bisa pelajari dulu copy kontraknya dirumah. Dan besok lusa kembalikan ke saya setelah ditandatangan." jawab Bu Mira.
"Apa? Lusa? Cepat sekali Bu. Apa tidak bisa diberikan waktu lebih lama? Karena pemindahan ini beda benua...bukan beda kota." aku coba memelas.
"Maaf mbak Dhira, Dewan Direksi yang memutuskan kalau untuk kantor Point Cook. Lagipula nanti mbak Mira berangkatnya gak sendiri. First Assistant nya nanti flight bareng." bujuk Bu Mira.
***
Malam hari dirumah. Sepulang dari kantor, aku belum keluar kamar. Coba mempelajari isi kontrak kerja tadi.
Gaji yang akan kuterima, kalau boleh jujur membuatku tergiur. Jam kerja dan job desc nya masih bisa dikategorikan standar.
Pertimbanganku saat ini masih ke Ibu. Kasihan Ibu kalau tidak ada yang membantu. Juga adik-adik dan ayah.
Kepalaku sakit memikirkan semua...akhirnya ku putuskan merebahkan diri dikasur. Hingga terdengar ketukan di pintu.
TOK TOK TOK.
"Teh...teteh gapapa? Dari tadi Ayah ga liat teteh keluar kamar. Udah makan belum teh?" tanya Ayah khawatir.
Aku paksakan diri untuk bangun dan melangkah, membuka pintu.
"Ayah...."
"Teteh gapapa?"
Aku cuma menggeleng pelan.
"Bener gapapa? Ayah perhatikan kamu dari pulang kerja belum keluar kamar. Ada apa?"
"Ummmmm...itu Yah, kerjaan teteh."
"Kenapa dengan kerjaan teteh? Teteh mau cerita ke Ayah?"
Dan entah kenapa kepalaku mengangguk pelan tapi ragu. Bercerita ke Ayah mengenai pekerjaan adalah satu hal yang kucoba hindari. Karena sejak awal Ayah yang keberatan aku bekerja sebagai admin.
Beliau berharap aku bisa mengejar impian sebagai arsitek. Bukan malah membantu ekonomi keluarga. Lalu aku ceritakan semua perlahan dan menunjukkan kontrak kerjanya.
Ayah menarik nafas panjang dan bertanya, "Teteh sayang dengan Ayah?"
"Iya.."
"Kalau begitu, terima pekerjaannya. Ini kan impian teteh. Melamar sebagai admin diperusahaan itu kan awalnya hanya untuk bantu Ibu sama Ayah.
Sekarang...kesempatan sudah diberikan. Teteh harus ambil." bujuk Ayah.
"Tapi Yah....kalau teteh terima, itu artinya teteh harus pergi jauuuh. Ninggalin Ayah, Ibu sama adik-adik."
"Cuma beda benua teh...gak beda alam. Masih bisa disusulin." goda Ayah sambil tersenyum.
"Ih...apa sih, Ayah ko ngomongnya sembarangan." jawabku sambil bersandar manja ke Ayah.
"Lagipula, teteh belum ngomong ke Ibu sama adik-adik." kataku lanjut.
"Sok atuh ngomong...jangan dipikirin sendiri aja."
"He eh...makasih ya Ayah." kataku sambil memeluk Ayah.
Perasaan lega dalam hati tak bisa dihindari ketika sudah mendapat restu Ayah. Tinggal bicara dengan Ibu dan adik-adik.
__ADS_1
...****************...