Mewarnai Pelangi Di Matamu

Mewarnai Pelangi Di Matamu
Bab 3 Pembatalan Sepihak


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 8.30 dan kediaman Ayah Sam sudah tidak ada lagi keributan. Ayah Sam dan keempat anaknya sudah pergi menjemput kesibukannya masing-masing. Termasuk Nadhira.


Tanpa terasa Nadhira merasakan lapar disela pekerjaannya. Dia melirik jam di tangan kirinya dan berguman, "Pantes aja laper, udah jam 12 ternyata. Sholat trus makan ah."


Belum sempat beranjak dari kursinya, tiba-tiba HP nya berdering. Ibu memanggil.


"Assalammualaikum Bu, ada apa Bu?"


"Dhira, Ibu bingung....gimana ini?? Ibu ga ngerti harus gmn..hiks...hiks" jawab Ibu sambil terisak.


****


"Bu...kenapa, ada apa?? Kok sambil nangis nelponnya?" tanya Dhira penasaran mendengar suara Ibunya yang terisak-isak.


"Ibu bingung Dhir...harus gimana? Wa Antih yang pesen catering buat aqiqah anaknya barusan dateng...." jawab Ibu sambil menarik nafas disela isakannya.


"Ooh Wa Antih na ka imah? Neangan catering? Mmg blm selesai gitu Bu? Mau dianter jam brp? Nanti Dhira pesenin taxi onlen aja...biar Ibu ga repot", saut Nadhira sebelum Ibu Ipah sempat melanjutkan penjelasannya.


"Lain neng....hiks hiks", jawab Ibu Ipah masih berusaha menahan tangisnya. "Wa Antih ka imah lain neangan catering. Malah mau batalin....huhuhu...hiks hiiks" lanjut Ibu Ipah dan seketika makin kencang tangisan terdengar dari seberang sana.


Nadhira langsung menunjukkan wajah khawatir sekaligus heran, "Loh...ko bisa? Naha Bu? Ada masakan yang ga enak atau apa?"


"Wa Antih bilang aqiqahannya ga jadi....soalnya anaknya Wa Antih batal dapet bonus dari kerjaannya. Bilangnya mo bayar pakai bonus itu untuk catering Ibu. Tapi sampai pagi tadi dari kerjaannya ga da kabar, jadi dia ga bisa bayar catering Ibu." jelas Ibu Ipah masih terus bersedih.

__ADS_1


"Hmmm....." Nadhira terdiam


"Ibu harus gimana ini neng? Mubazir kan makanannya...hu...hu" keluh Ibu Ipah.


"Sebentar Bu, boleh Dhira pikirin solusinya sambil makan siang? Uda jam setengah 1...Dhira lom sholat juga. Insya Allah beres sholat, Dhira langsung telpon Ibu lagi ya." jawab Dhira perlahan menenangkan. "Ibu juga sholat dzuhur dulu, siapa tau dikasih jawaban juga harus gimana." bujuk Dhira.


"He eh...iya neng, Ibu sholat dulu klo gitu. Ibu keburu pusing ama stress waktu Wa Antih kasih tau gitu." jawab Ibu Ipah menyetujui saran Nadhira.


***


Nadhira menyelesaikan jam istirahatnya yang tersisa 15 menit untuk sholat dzuhur saja disamping meja kerjanya. Makan siang terpaksa dilewatkan berhubung telepon dari Ibu sudah memotong banyak jam istirahatnya.


Selesai salam, Nadhira melanjutkan dengan berdoa berkeluh kesah pada Sang Pencipta, memohon diberikan petunjuk untuk masalah ini. Tak terasa bulir-bulir bening menetes dari 2 sudut matanya saat menangkupkan kedua telapak tangan pada wajahnya mengakhiri permohonannya.


Tidak jauh dari meja Nadhira, ada sepasang mata mengawasi.


***


"Sudah neng, baru aja. Perasaan Ibu da sedikit tanang sekarang. Makasih ya neng, kalo neng ga ada....Ibu pasti da nangis-nangis datengin Ayah ke sekolahan" sahut Ibu Ipah."Jadi gimana neng? Ibu harus gimana? Cuma eneng tempat Ibu curhat soal ini, Ibu ga mau bebanin ayah. Dan Ibu juga ga bisa cerita ke adek-adek kamu. Takut ganggu belajar mereka."


"Iya Bu, gapapa. Neng seneng kok Ibu ceritanya sama neng...." balas Nadhira sambil menarik nafas sebelum melanjutkan.


Nadhira mengetuk-ngetuk pena ditangan kirinya sambil bertanya dalam fikiran apakah Ibunya akan menerima solusi yang diberikan.

__ADS_1


"Gini Bu...itu catering dah beres? Tinggal packing trus anter kan ya?" tanya Nadhira sebelum melanjutkan.


"Iya neng, Ibu dah beres masak semunya. Karena acaranya jam 8 tar malem, Ibu niat mau anter ke rumah Wa Antih jam 5, beres dibungkusin" jawab Ibu Ipah.


"Ya sudah, sekarang Ibu telpon ke Wa Antih...kabarin kalo pesenannya tetep dianterin. Untuk biayanya, bilang aja bisa dicicil dan dibayar nanti kalau sudah ada uangnya. Ibu ikhlaskan bantuin niat baik anaknya Wa Antih? Nanti soal modal yg kepake, biar Neng yang gantiin dulu." jelas Nadhira pelan-pelan.


"Tapi Nadhira gantiinnya nanti ya Bu, gajian ini setengah dulu...sisanya bulan depan lagi. Soalnya Naren da diminta bayar uang karyawisata" bujuk Nadhira.


Tiba-tiba terdengar suara isakan Ibu diseberang selesai Nadhira menjelaskan.


"Ibu.....Ibu kenapa nangis lagi? Neng dah coba cari solusi Bu. Cuma ini yang neng bisa kasih. Maaf ya Bu...neng ga bisa gantiin full modal Ibu langsung." respon Nadhira memelas ketika mendengar isakan Ibu tersebut.


Suara isakan Ibu Ipah perlahan menghilang, "Neng...justru Ibu yang bersyukur neng jadi anak Ibu. Maafin Ayah sama Ibu yah....masih bebanin kamu sampai sekarang. Padahal kamu itu arsitek, tapi malah kerja jadi staf admin untuk bantu sekolahin adek-adek kamu itu" balas Ibu Ipah sendu.


"Ih...Ibu, kenapa juga bilang beban. Neng ikhlas kok. Lagian tuh ya...jadi arsitek baru lulus itu ga gampang cari kerja. Biar pun lulusan IT* juga. Banyak yang minta uda pengalaman min.1 th." sahut Nadhira.


"Sudah ya Bu, Neng harus lanjut kerja lagi sekarang. Pokoknya Ibu beresin aja pesenannya Wa Antih. Neng dah itung-itung, insya Allah cukup" pesan Nadhira menekankan.


"Iya neng, Ibu telpon Wa Antih dulu...makasih ya Neng...nanti pulang hati-hati dijalan ya. Assalammualaikum" tutup Ibu Ipah.


"Wa alaikum salam Bu", jawab Nadhira kemudian menekan tombol end call.


Matanya kembali fokus pada layar monitor dan mulai melanjutkan pekerjaannya. Sesekali Nadhira mengunyah biskuit yang disimpannya dilaci untuk mengganjal lapar.

__ADS_1


Sepasang mata yang memperhatikannya dari jendela sejak tadi kini telah beralih ke meja kerjanya.


...****************...


__ADS_2