
Author PoV
Lama Nadhira terdiam dalam tangisnya, melihat kondisi Ayah yang terbaring tak berdaya. Ruangan ICU makin terasa dingin buat Nadhira.
"Ayah...ini teteh, ini Dhira Yah... Ayah bisa denger suara Dhira?" tanya Dhira lembut seraya mendekatkan suaranya ke telinga Ayah Sam.
Hening. Tak berapa lama, Nadhira melanjutkan pembicaraan searahnya seraya menahan tangisnya. Berharap Ayah Sam mendengar suaranya yang pelan dan terbangun.
"Ayah, Dhira belum kasih tahu Ibu dan adik-adik. Dhira nunggu Ayah untuk menguatkan Dhira sewaktu kasih tahu...
Dhira butuh Ayah, cuma Ayah yang Dhira butuhkan. Ayah bangun yah...Dhira ga mau Ayah tidur terus.
Ibu dan adik-adik juga butuh Ayah. Ayah bangun ya."
Ditengah usaha Nadhira menguatkan hati, genggaman tangannya merasakan ada yang menggenggam balik.
"Ayah....Ayah denger suara Dhira? Dhira disini Yah...disamping Ayah." tanya Nadhira sedikit bersemangat seraya menghapus air matanya yang sejak tadi menganak sungai.
Perlahan kedua mata Ayah Sam terbuka lemah, bibir Ayah yang terasa kering terlihat bergerak.
Ayah Sam berusaha menengok ke arah Nadhira dengan susan payah.
***
Ayah Sam PoV
Genggaman tangan Nadhira terasa begitu hangat.
Kejadian pagi tadi samar-samar kembali potong per potong. Obrolan menyenangkan dengan akang supir tiba-tiba terhenti dan suasana menjadi gelap gulita.
Ah...kepalaku terasa sakit, seluruh badan seperti mati rasa.
Kemudian, yang kutahu aku terbaring disini...sekarang...ditemani Nadhira.
Suara seraknya terus terdengar memanggilku. Mata yang terasa berat kupaksakan terbuka. Cahaya ruangan putih dan terang menyilaukan seketika menutup kembali mata ini.
"Te....teh..." panggilku dengan tenggorokan yang terasa kering.
"Iya Ayah......Dhira disini. Dhira seneng Ayah dah siuman. ayah jangan banyak bicara dulu. Sebentar Dhira panggil dokter ya." jawabnya seraya hendak bangkit dari duduknya.
Langsung kuremas pelan genggaman tangannya untuk tetap duduk disampingku.
"Te...teh, Ayah mau bi...cca..rrrra"
"Iya...Ayah, Dhira ga akan kemana-mana. Dhira temani Ayah terus kok. Tapi tunggu ya...biar Dhira panggil dokter dulu."
"Te..teh, kepala Ayah rasanya sasakit seekali"
__ADS_1
"Makanya Ayah jangan banyak bergerak dulu ya...terus coba jangan ngbrol dulu. Ngbrolnya nanti, yang penting Ayah sudah siuman. Biar Dhira panggil dokter sebentar ya.. untuk periksa kondisi Ayah"
Raut wajah sedih Nadhira tidak bisa disembunyikan...apalagi tangisnya yang masih tersisa. Menyebabkan suaranya lebih terdengar berat.
Aku menggeleng, "Tii..dak perlu, te...teh tetep disini."
"Ayah, Dhira tetep temani Ayah meski ada dokter. Dhira ga kemana-mana kok. Ya? Dhira panggil dokter dulu ya??" bujuknya perlahan.
"Teteh, ma...maafin Ayah nak...Ayah ga bisa bahagiain te..teh"
"Ayah kenapa bilang begitu? Dhira bahagia sama Ayah, sama Ibu juga adik-adik."
"Ayah tahu seberapa besar pengorbanan kamu...Ayah tahu"
"Tapi Dhira ikhlas Ayah.....Dhira ikhlas ngelakuinnya...hiks hiks"
"Nak, Ayah tahu kamu dengan senang hati melakukannya. Sekarang.......Ayah minta, kamu menerima pekerjaan yang semalam kamu ceritain ke Ayah. Kejar apa yang kamu inginkan...pekerjaan itu mungkin kesempatan kamu untuk membuktikan bahwa kamu mampu."
"Ayah...kenapa Ayah bicarain itu? Nanti saja Yah...Dhira tunggu Ayah pulih. Temani Dhira minta restu ke Ibu dan adik-adik"
"Ayah takut waktu Ayah ga banyak Nak...."
"Ayah bicara apa sih? Dhira ga suka Ayah bicara seperti itu"
"Nak....Tuhan Maha Tahu umur Ayah, mungkin Ayah memang hanya bisa sampai sini menemani kalian. Ayah mungkin akan lebih dulu pergi, jadi....sampai bertemu lagi."
Rasa kecewa diraut wajahnya yang sendu terlihat jelas. Dia berlalu keluar melepaskan genggaman tangannya. Ya Tuhan, apakah seberat ini?
Perasaanku terus berkata untuk menyiapkan diri. Buliran hangat jatuh dari sudut mataku. Kuatkan diriku ya Tuhan. Aku ingin keluargaku tabah dengan cobaan dariMu meski tanpa ada aku. Aamiin.
***
Author PoV
Dhira melangkahkan kakinya keluar ruangan. Isak tangisnya yang ditahan seketika pecah dibalik pintu.
Beringsut duduk dilantai, Nadhira membenamkan wajahnya dikedua lututnya. Kekuatan yang dipertahankannya didepan Ayah Sam runtuh begitu saja.
Tiba-tiba terdengar suara yang dikenal memanggilnya, "Teteh....teteh kenapa? Ayah dimana Nak?"
"Ibu?" seraya mengangkat wajahnya dan melihat sosok yang dikenalnya. Ibu dan ketiga adiknya berjalan terburu-buru mendekatinya.
Nadhira bangkit dan menghapus air matanya. Berusaha menghilangkan wajah sedihnya dan mengembalikan ketegaran seperti semula.
"Ibu..."
Ibu mendekat dan memeluk Nadhira erat. Tenggelam dalam isak tangisnya. Nadhira berusaha tetap tegar dan menenangkan Ibunya.
__ADS_1
"Ibu, ayah baru aja siuman. Ini Teteh diluar baru mo panggil dokter." jelas Nadhira pelan.
"Biar Naylan aja Teh yang manggil." seraya berlalu ke ruang depan untuk memberitahu perawat.
Naren dan Opal berdiri cemas, menunggu Ibu dan kakaknya yang masih berpelukan.
"Teteh...Ibu baru dikasih tahu Aa wktu di Rumah Sakit kalo Ayah kecelakaan. Sekarang Ayah dimana teh? Gimana kondisi Ayah?" tanya Ibu panik.
"Ayah di dalem ruangan ICU Bu. Ayah baru aja siuman. Nanti Ibu bisa masuk, tapi setelah dokter periksa Ayah dulu yah?" bujuk Nadhira.
"Ayah kenapa dirawat di ICU teh? Teteh belum jawab Ibu....gimana kondisi Ayah? tuntut Ibu sambil menangis.
"Kita tunggu penjelasan dokter ya Bu."
Tidak berselang lama, seorang dokter dan perawat datang memasuki ruangan Ayah. Mereka menunggu lama.
Diluar ruangan.
"Abang, Naren....administrasi Ayah udah beres?" tanya Nadhira pada kedua adiknya masih sambil memeluk Ibu.
"Sudah teh, tadi Opal dah beresin semua." terang Opal.
Nadhira mengangguk mengerti.
"Keluarga pasien Bapak Samsuri?" tiba-tiba suara seorang perawat memecah kesunyian.
Mereka semua menoleh dan mendekat pada sumber suara. Nadhira mendekat dan memperkenalkan diri dan keluarga pada sang dokter.
"Iya Dok, saya anak tertuanya, Nadhira. InI Ibu saya dan ketiga adik saya."
"Saya bisa bicara berdua dengan mbak Nadhira? Saya ingin menyampaikan kondisi Bapak. Oh...dan untuk Ibu, silahkan masuk. Tadi pasien bilang ingin bertenu Ibu." jelas dokter.
Dengan cemas, Ibu berjalan perlahan ke dalam ruangan. Ibu telah menggunakan pakaian yang diminta oleh perawat penjaga.
Ibu membuka pintu pelan, khawatir sedikit suara akan melukai Ayah didalam, tapi tak lama wajah Ibu terdiam.... shock ketika melihat Ayah terbaring penuh luka..
CEKLEK.
"Aaaaaayaaaaaah ,,,,,,,,... " gumam Ibu sedih...melihat suaminya terbaring tak berdaya.
Mendekati pembaringan, Ibu tak kuasa menahan air matanya jatuh. Bulir demi bulir pun terjatuh begitu saja.
Ibu terduduk lemah disamping pembaringan Ayah. Mencoba mengeluarkan kata-kata yang ada dikepalanya. Namun tak satu huruf pun yang mau terucap.
"Ayah....ayah, ini Ibu."
...****************...
__ADS_1