Mewarnai Pelangi Di Matamu

Mewarnai Pelangi Di Matamu
Bab 6 Kecelakaan


__ADS_3

Esok harinya seluruh penghuni di rumah Ayah Sam sudah sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.


Ayah Sam sudah berangkat ke SMA Raxxxli sejak pukul 6 tadi. Sementara Ibu Ipah sibuk di dapur, menyiapkan masakan istiwewa untuk pesta kejutan Ayah Sam malam nanti.


Nadhira dan adik-adiknya sudah sepakat untuk mengadakan makan malam bersama saja. Naylan, Opal dan Naren akan bernyanyi lagu-lagu kesukaan Ayah.


Kesepakatan tersebut juga atas dasar pertimbangan anggaran dan juga berhubung untuk mengadakan acara diluar rumah juga masih terbatas.


Naylan, Opal dan Naren berlatih diruang tengah. Melantunkan beberapa lagu favorit Ayah.


Sementara itu Nadhira sudah dalam perjalanan ke kantor dengan ojek online. Nadhira berencana akan membicarakan mengenai pemindahan kerjanya nanti malam pada saat semua berkumpul.


***


Ayah Sam PoV


Menjadi Ayah dari 4 anak itu memang ga mudah, semua punya karakter masing-masing. Terlebih Nadhira, anak sulungku.


Wanita satu-satunya dari 4 bersaudara, menjadikan Dhira wanita yang mandiri. Malah kadang terlalu mandiri. Keinginan Dhira untuk membantu ekonomi keluarga sangat kuat. Hingga dia merelakan diri menjadi admin biasa, padahal lulusan arsitektur.


Kasihan.


Tak terasa, perjalanan di angkutan umum sudah hampir selesai. Penumpang hanya beberapa yang diperbolehkan. Sejak tadi Bapak Supir bercerita bagaimana sulitnya mencari rejeki sekarang. Bersyukur kalau bisa menutup setoran. Allhamdulillah kalau bisa buat dapur mengepul.


***


Author PoV


Menikmati perjalanan, Ayah Sam diajak mengobrol oleh sang supir angkutan umum. Hingga mereka berdua terlibat dalam diskusi yang cukup alot. Kadangkala diseling tawa ketika obrolan sudah memasuki topik anak-anak.


Angkutan yang ditumpangi Ayah Sam berjalan sesuai jalurnya. Dan berhenti sesaat ke bahu jalan ketika hendak menurunkan penumpang.


Saat hendak kembali ke jalan utama, tiba-tiba semua penumpang yang tersisa termasuk Ayah Sam dan sang supir berteriak.


"AAAAAAAAAWWWWAAAAAAASSSS.........AAAAAAAAA"


***


Sementara itu Nadhira sudah tiba di meja kerjanya. Mengeluarkan beberapa berkas dari laci dan juga tas kerjanya.


Membereskan beberapa file dan menyiapkan semua file yang akan diserahkan ke Bu Dinar.


Nadhira PoV


Aku akan mengembalikan berkas kontrak ini siang nanti ke Bu Mira. Jadi tanda tangan didepan beliau saja.


Syukurlah Ayah sudah kasih lampu hijau, jadi tenang rasanya.


Baru saja hendak memulai membuat rincian kerja, tiba-tiba HP ku bergetar. Kulihat layar HP dari nomor tak dikenal. Namun kuputuskan untuk menjawab.


Drrrt drrrt drrt.


"Halo, iya .... betul ini nomornya Pak, iya iya dengan saya sendiri. Ada apa ya? tanyaku. Tapi tidak ada jawaban sesaat.


Menunggu jawaban dari seberang membuat perasaanku entah kenapa tidak tenang. Hingga suara itu kembali terdengar, namum memberikan kabar yang meruntuhkan tubuhku. Seketika aku lemas.


"Apa???? Astagfirullah al adzim, Ayah....."


Suara itu mengabarkan kalau Ayah mengalami kecelakaan waktu perjalanan ke sekolah dan sekarang dalam kondisi kritis.


Setelah mengumpulkan kembali kekuatanku, aku memaksakan untuk bertanya, "Terima kasih sudah mengabari saya Pak. Sekarang Ayah dirawat di RS mana ya Pak?"


Setelah mendengar jawaban dari seberang sana, aku mematikan sambungan telepon dan bangkit dari kursiku. Dadaku tiba-tiba sesak dan ingin rasanya segera berlari ke sisi Ayah.


Tapi aku sadar tidak bisa begitu.


Aku langkahkan kaki ke ruangan Bu Dinar dan menceritakan semua ke beliau. Kemudian meminta izin untuk ke RS segera.


Bu Dinar pun sama terkejutnya denganku dan beliau bilang, "Ya sudah Dhira, kamu cepat ke RS. Nanti kabari keadaannya ke saya. Yang tabah ya, semoga Ayah kamu tidak apa-apa".


Aku mengangguk kecil dan kembali ke meja kerjaku. Merapikan kembali semua ketempat semula. Lalu secepatnya berangkat ke RS. Ku raih HP dan membuka aplikasi ojek online. Sebaiknya naik motor supaya lebih cepat sampai.


Sambil menunggu, kuhubungi Naylan.


"Nay, kamu dirumah? Sama Opal dan Naren juga?


Ya sudah, teteh mau kabari sesuatu. Tapi tolong kamu bersikap tenang dulu supaya Ibu tidak khawatir. Ok?


Barusan teteh dikabari Polisi kalau Ayah kecelakaan dan dilarikan ke RS xxx. Itu lebih dekat dari rumah, jadi kamu dengan Opal dan Naren kesana dulu ya. Teteh masih tunggu ojek, sekitar setengah jam lagi mungkin baru sampai RS.


Nanti kamu ceritanya pas dijalan atau kalau sudah di RS aja ya..

__ADS_1


Ya sudah, hati-hati bawa motornya!"


***


Naylan PoV


Aku berusaha tenang setelah Teh Dhira mengabarkan Ayah kecelakaan. Tapi risau tetap kurasakan.


"Abang ... Naren, temenin Aa keluar. Bawa motor, Naren sama Aa aja boncengnya. Sebentar Aa pamit dulu ke Ibu" ajakku seraya beranjak dari kursi.


Kulangkahkan kaki ke dapur dan pamit ke Ibu, hanya untuk keluar sebentar tanpa menjelaskan mau apa. Karena jujur, tidak tahu harus bilang apa ke Ibu.


Setelah mendapatkan persetujuan, aku kembali dan meraih kunci motor serta helm. Kulihat Naren dan Opal sudah bersiap di teras.


"Ayu berangkat. Kita ke RS xxx" perintahku perlahan.


"Ke RS??!! Rek naon? Siapa yang sakit A?" tanya Opal terkejut.


"Nanti Aa ceritanya kalo dah sampe, sekarang kita kesana dulu. Ayu Ren, cepet." sahutku sambil memutar gas bersiap berangkat.


Naren masih bingung tapi tetap menuruti permintaanku dan segera duduk dibelakangku.


Tanpa menunggu lama, kami langsung melajukan motor ke RS. Sebisa mungkin menghindari kemacetan.


Sepanjang perjalanan, kecemasan melanda. Berdoa semoga Ayah tidak apa-apa.


***


Author PoV


Setibanya di RS, Naylan dan adik-adiknya memarkirkan dan mengunci motor mereka. Tak lupa helm yang mereka kenakan pun dikaitkan dibawah jok motor.


"A, udah bisa cerita sekarang? Kita ngapain disini? Memang tadi emmak ngabarin apa?" tanya Naren bertubi-tubi sambil melepaskan helm dan mengenakan maskernya.


"Tadi emmak ngabarin kalau Ayah kecelakaan waktu naik angkot." jelas Naylan singkat.


"Apaaaa? Ya Allah ya Tuhanku...Aa kenapa ga bilang dari tadi?" sahut Opal terkejut.


"Emmak nyuruh kita kesini duluan, soalnya dari rumah deket sama RS kan. Aa ga cerita dirumah, karena takut Ibu denger." jelas Naylan sambil melangkahkan kaki le IGD segera.


Opal dan Naren yang sudah mengerti situasinya, mengimbangi langkah kaki Naylan. Raut wajah khawatir dari ketiganya tetap terlihat meski mengenakan masker.


Memasuki IGD, Opal ke bagian depan dan bertanya kepada suster jaga. "Permisi Sus, ada korban kecelakaan yang baru masuk?"


"Iya Sus." jawab Opal.


"Oh..iya, ada pasien atas nama Samsuri Kusuma dan Maeliha Diniati. Bapak dari pasien atas nama siapa? Dan hubungannya apa?" selidik suster.


"Atas nama Samsuri Kusuma, kami anak-anaknya Sus!" sahut Naylan setengah berteriak dari belakang Opal.


Setelah itu, Suster meminta Opal mengisi beberapa berkas terlebih dahulu. Saat Opal mengisi berkas-berkas, seorang petugas polisi mendekati meja dan bertanya, "Sus, apa sudah ada keluarga pasien yang datang?"


"Oh..sudah Pak. Ketiga orang ini anak dari pasien atas nama Samsuri Kusuma." jawab suster seraya menunjuk ketiga bersaudara tersebut.


"Selamat pagi, perkenalkan saya petugas Kurnadi."


"Pagi Pak, saya Naylan, anak lelaki tertua dari pasien Samsuri." jawab Naylan menyambut jabat tangan petugas tersebut.


"Saudara Naylan, mohon ikut saya untuk bantu verifikasi apakah benar Bapak Samsuri Kusuma adalah ayah Anda."


"Baik Pak."


Naylan dan Naren mengekor dibelakang petugas tersebut kedalam IGD, sementara Opal masih melanjutkan mengurus berkas-berkas administrasi.


***


Naylan PoV


Memasuki ruangan IGD menambah degup jantungku. Petugas Polisi sudah mengingatkan untuk melihat dari balik kaca saja. Berhubung kondisi pasien yang katanya kritis. Beliau hanya hendak memastikan bahwa pasien tersebut adalah Ayah.


Irama jantung makin cepat seiring langkah Pak Petugas yang berhenti didepan satu ruangan. Naren dan aku diminta berdiri di depan kaca ruangan tersebut. Masih tertutup tirai putih, tapi bayangan-bayangan orang berlalu-lalang terlihat jelas. Hingga Pak Petugas mengetuk pelan kaca tersebut.


TOK TOK.


Perlahan tirai tertarik ke sudut kaca dan memperlihatkan tubuh seseorang yang dipenuhi luka sedang dirawat oleh beberapa suster dan seorang dokter.


Salah seorang suster mengangkat satu tangannya ke Pak Petugas memberikan isyarat. Lalu jari-jarinya membentuk tanda OK.


Tak lama kemudian, seorang suster lainnya bergeser dan memperlihatkan satu pemandangan yang menusuk dadaku seketika. Itu Ayah....tubuh yang terbaring didalam ruangan itu benar-benar Ayah. Aku berpaling ke Naren dan melihat sudut matanya sudah menggenang.


Naren berusaha tidak menumpahkan tangisnya, tapi wajahnya tidak dapat menyembunyikan keterkejutan juga kesedihan melihat pemandangan dihadapannya.

__ADS_1


"A.......itu Ayah A...." terbata-bata Naren seraya menunjuk ke dalam.


Kujawab dengan anggukan kecil, namun berat rasanya untuk mengiyakan bahwa itu Ayah.


Lalu kualihkan pandanganku ke Pak Polisi dan memastikan bahwa pasien didalam ruangan benar Bpk Samsuri, ayah kami.


"Baiklah, terima kasih untuk konfirmasinya. Biar saya ceritakan dulu bagaimana kejadiaannya." jelas Pak Petugas.


Kecelakaan terjadi pukul 8.40 pagi tadi. Awalnya, supir angkot yang sudah menurunkan penumpang ingin kembali ke jalur utama. Belum sempurna kembali ke jalan, tiba-tiba dari arah berlawanan ada truk muatan yang melaju kencang berusaha menyalip kendaraan didepannya.


Supir angkot tersebut berusaha menghindar, tapi semua terlambat. Benturan keras pun terjadi. Ayah Sam yang duduk disamping supir menjadi korban terparah. Selain orang yang duduk di kursi penumpang pada truk tersebut.


Sedangkan supir angkot dan truk muatan sudah dinyatakan tewas ditempat.


Dan kini, Ayah terbaring kritis didalam sana.


***


Author PoV


Nadhira langsung berlari cepat menuju IGD setibanya di RS dan fokus mencari keberadaan Ayah Sam.


Tiba-tiba sebuah suara yang dikenal memanggilnya.


"TETEH!!!!!!!!"


Menyapu pandangan dan tak lama berkata, "Opal!" sahut Nadhira setelah menemukan sumber suara. "Kenapa sendirian?? Aa Nay sama Naren mana?"


"Ini lagi nunggu Teh." jawab Opal sambil mencium tangan Nadhira untuk salim. "Tadi waktu Opal beresin admin, Aa sama Naren ikut Polisi ke dalem. Opal nunggu teteh sampe disini." jelasnya lagi.


Tidak lama kemudian, Nay dan Naren terlihat dari dalam. Naren yang sejak tadi berusaha tegar, langsung berlari memeluk Nadhira dan menangis.


"Teteh....Ayah teh, Ayah didalem. Hiks hiks..."


"Iya...Naren harus kuat ya. Kasian Ibu kalo liat kamu kek gini"


Nay menepuk hangat pundak Naren beberapa kali, berusah mentransfer kekuatan ke adik kecilnya.


"Nay, gimana Ayah?" tanya Nadhira menahan tangis.


"Ayah bener kritis Teh....lagi ditindak sama dokter didalem. Tadi kita verifikasi identitas Ayah dulu ke Polisi. Belum bisa nemuin Ayah." jelas Naylan.


Seketika dunia Nadhira terasa runtuh. Baru malam tadi dia bersama Ayah dan masih bisa melihat senyumnya. Sekarang Ayah didalam berjuang untuk keluar dari kondisi kritisnya. Air mata yang sejak tadi berusaha dibendungnya, lepas menetes dari sudut matanya.


Lama Nadhira terdiam dalam tangisnya tanpa suara.


"Ayah....padahal Dhira masih bisa denger suara Ayah tadi pagi dirumah." bathin Nadhira.


Setelah berusaha mengumpulkan kekuatan, Nadhira meminta Naylan untuk menjemput Ibu.


"Nay, kamu tolong pulang ke rumah dan jemput Ibu ya. Kamu cerita pelan-pelan ke Ibu kondisi Ayah. Nanti kalau Ibu sudah bisa tenang, kamu bawa Ibu ke sini" pinta Nadhira.


Naylan mengangguk mengerti dan langsung berjalan ke parkiran.


"Naren, Opal...teteh mau lihat Ayah dulu ke dalem. Kalian tolong tunggu Ibu disini ya."


"Iya teh". sahut Naren dan Opal bersamaan tak semangat.


Nadhira berjalan dan mencari ruangan yang diceritakan Naylan. Namun tak menemukan Ayah setibanya di depan ruangan tersebut.


"Sus maaf, korban tabrakan yang tadi didalam situ dimana ya?" tanya Dhira ketika ada perawat yang hendak melewatinya.


"Oh...sudah dipindahkan ke ICU. Setelah dilakukan tindakan pasien masih belum siuman dan kritis soalnya. Ruangan ICU disebelah kiri lorong ini" jelas perawat seraya menunjuk arah yang dimaksud.


Nadhira mengangguk dan mulai melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah yang diberikan.


Sesampainya di depan ICU, "Maaf Sus, pasien atas nama Samsuri Kusuma didalam?"


"Betul, Anda siapannya pasien"


"Saya putrinya, apa bisa masuk ke dalam Sus? Sebentar saja...." pinta Nadhira mengiba.


"Boleh, dokter tadi bilang agar mengijinkan 1 orang dari keluarga pasien menunggu didalam...kondisinya masih kritis, tolong diajak bicara perlahan, meski terpejam pasien masih bisa mendengar. Mbaknya tolong tinggalkan barang-barangnya disini ternasuk HP, cuci tangan diruangan itu dan gunakan baju pelindung yang ada serta masker medis yang tersedia juga disana", jelas perawat tersebut.


Nadhira mengangguk pelan dan melakukan semua instruksi perawat.


CEKLEK.


Pintu terbuka, Nadhira berjalan pelan ke arah Ayah dibaringkan, lalu mendudukkan tubuhnya dikursi.


"Ayah....mmmfft" panggil Nadhira pelan, berharap Ayah dapat mendengar. Tangan kirinya membelai dahi Ayah Sam. Sementara telapak tangan kanannya menutup mulutnya sendiri, berusaha agar isak tangisnya tidak terdengar Ayah Sam.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2