
Author PoV
Sementara itu dilokasi yang sama namun diruangan berbeda, seorang pria sedang menghubungi seseorang melalui telepon.
"Mira, tolong emailkan segera CV staf admin yang disamping meja Dinar." perintah pria tersebut.
"Baik Pak, segera...mohon ditunggu"
Gadis bernama Mira tersebut pun segera mencari file CV yang diminta untuk dikirimkan ke atasannya. Atasan yang sama sekali tidak pernah ia temui sepanjang dia bekerja di perusahaan tersebut.
Mira telah bekerja di bagian HR lebih dari 4 tahun dan tak pernah sekalipun bertemu atasannya. Para senior yang telah lebih dulu bekerja di perusahaan tersebut hanya mengatakan bahwa Direktur Utama perusahaan bernama Fathir Darmawan.
Usia dan juga penampilannya tidak pernah diketahui karyawannya. Dia telah menunjuk orang kepercayaannya bernama Oscar sebagai tangan kanannya dalam semua hal.
Terkadang Mira berpikir jika atasannya itu tinggal di ruangannya. Karena tidak ada satu karyawan pun yang pernah melihatnya datang juga pulang. Bahkan yang datang paling awal atau pulang paling telat sekalipun.
Ada juga yang sempat berfikir kalau diruangan atasannya itu memiliki lift pribadi yang hanya diketahui dan digunakan oleh dia sendiri.
Yang tak kalah absurd, Nadhira bahkan berfikir kalau atasannya itu dedemit. Berhubung penampakannya sslalu misterius tapi selalu ada suaranya. Dinding kaca yang hanya bisa melihat pantulan sisi luar.
Flashback, hari pertama Nadhira bekerja.
Mata Nadhira menyapukan pandangannya ketika lift terbuka. Mencoba merekam dalam ingatannya tata letak ruangan lantai tempatnya bekerja.
"Wah...luasnya, oh ada dinding cermin juga sebelah sana. Artinyaa ga perlu ke toilet untuk touc**h up." batih Dhira.
Tiba-tiba.
"Halo.....kita dah sampai nih. Nona Dhira, Anda bisa keluar dari lift sekarang" beritahu Mira yang melihat Dhira terpaku.
Ucapan Mira membuyarkan lamunan Nadhira seketika.
"Oh iya...baik teh. Maaf"
"Gapapa, meja kerja kamu di sebelah sini ya. Password laptop nanti bisa minta ke Bu Dinar. Beliau atasan Nona Dhira langsung." jelas Mira seraya menunjuk meja kerja Nadhira.
"Iya teh, siap!"
"Sebentar saya ke Bu Dinar untuk menginformasikan beliau" jelas Mira sambil berlalu.
Nadhira sedikit berkeliling dan langkahnya terhenti didepan cermin.
Perlahan Nadhira mengangkat kacamatanya dan melihat pantulan dirinya. Menatap lekat dua matanya, kemudian telunjuknya menyentuh ujung bibirnya yang berwarna peach. Merapikan sedikit lipstik yang keluar dari jalurnya.
Dibalik cermin, sepasang mata sedari tadi memperhatikan Nadhira yang bercermin. Nadhira tidak mengetahui kalau cermin tersebut satu arah dan merupakan dinding ruangan Direktur Utama.
"Matanya..." bathin pemilik sepasang mata yang memperhatikan Nadhira.
__ADS_1
"Oscar, siapa gadis ini?" tanyanya pada Oscar yang tengah sibuk memilah berkas untuk rapat siang nanti.
Oscar yang sedang fokus mengalihkan pandangannya ke tempat pria tersebut berdiri dan menoleh ke kaca. Terlihat seorang gadis yang sedang bercermin.
"Oh...itu karyawan baru, pengganti admin nya Dinar yang resign bulan kemarin." jelas Oscar sambil beranjak berdiri meraih telepon di meja sang Dirut.
"Halo Bu Dinar, tolong sampaikan ke karyawan baru untuk menggunakan cermin di toilet jika butuh bercermin." pinta Oscar setelah panggilannya terhubung.
"Oh, baik Pak Oscar...mohon maaf sudah mengganggu Pak Fathir." jawab perempuan diujung telepon.
Nadhira yang baru mulai bekerja di hari itu langsung diberikan peringatan ketika briefing jobdesc. Dia diperingatkan untuk tidak bersolek di ruangan kerja pada jam kerja ataupun tidak.
Terutama untuk tidak menggunakan cermin dinding ruangan Dirut.
****
TING!
Notifikasi inbox di gmxxnya berbunyi. Jemari pria tersebut segera menari di keyboard laptopnya dan memeriksa dengan seksama lampiran CV yang dimintanya.
"Hmm.."
Sejenak pria tersebut berfikir dan bergumam kembali. Tak lama kemudian, pria tersebut meraih HP nya dan menghubungi seseorang melalui panggilan WA.
***
Drrrt.....drrrt....drrt, HP Pak Rusmin bergetar. Diambilnya HP tersebut dan matanya langsung fokus kepada nama penelpon.
"Halo, sore Pak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Pak Rusmin.
"Sore. Pak Rusmin kantor Point Cook masih membutuhkan asisten untuk Mr Jerry?" tanya si penelpon to the point.
"Masih Pak. Tapi sayang masih belum ada fresh graduate yang cocok sama requirement nya Mr Jerry." jawab Pak Rusmin menerangkan.
"No worries, I just read someone CV and I believe this candidate will suits to Mr Jerry requirements", sahut pria tersebut.
"Noted Sir, perkiraan kapan saya bisa mulai urus kedatangannya?" tanya Pak Rusmin.
"Just wait my jnstruction, I will let you know once its ready." jawab pria tersebut.
***
"Oscar, ke ruangan saya segera!" pinta pria tersebut melalui telepon.
"5 menit lagi meluncur, beresin dulu draft audit report dari KAP" jawab pria bernama Oscar di ruangan lain.
Selesai membuat respon email ke KAP mengenai perihal tersebut, Oscar langsung melangkah keluar ruangan dan menuju ruangan pria yang tadi mencarinya.
__ADS_1
Tok tok.
"Masuk!"
"Sore bos!" sapa Oscar seraya melangkah masuk dan perlahan duduk di hadapan pria tersebut.
Oscar mengenal baik pria tersebut. Sang Dirut, Fathir Darmawan.
Oscar telah menjadi tangan kanan Fathir sejak 15 tahun silam.
"Bagaimana perkembangan proyek?"
"Semua berjalan semestinya Bos. Cuma banyak yang menanyakan kemana Dirutnya? As ussual...."
"Lalu???"
"Jawaban yang sama buat mereka, ga da yang berubah."
"Bagus...."
"Mau sampai kapan Bos menutup jati diri sendiri? Aneh rasanya perusahaan besar tapi tiap ada liputan di majalah ga pernah bisa masang wajah Lu."
"Gue bukannya menutup jati diri, tapi mencoba mengikuti sandiwara seseorang yang masih bermain peran di depan gue. Ga usah pusing, itu urusan nanti ada waktunya sendiri."
"Ya sudah, bentar lagi ada meeting nih. Ada yang lain ga yang mau dibahas?"
"Gue barusan forward email CV kandidat untuk asisten Jerry di Melbounrne. Urus keperluan untuk kirim dia kesana." perintah Fathir.
"Pelamar dari luar?"
"Bukan, karyawan."
"Oh...uda ditanya bersedia tidaknya?"
"Harus, pastikan dia menerima tugasnya!"
"Hmmm...kalau dia ga mau gimana?"
"Itu urusan Lu, Gue ga terima penolakan!"
Oscar cuma bisa menaikkan alisnya dan cemberut. "Lagi-lagi penekanan ga nerima penolakan..hmmm" bathin Oscar.
"Gue yakin Lu bisa, kalau nggak buat apa jabatan Lu sekarang??" sahut Fathir seakan mendengar suara bathin Oscar.
Oscar mengangguk dan melangkahkan kaki keluar ruangan. "Siap Bos!!!"
...****************...
__ADS_1