
Hening pagi menyambut perjalanan mereka menuju masa lalu yang bersejarah. Anak-anak muda dari Kampung Halaman telah mempersiapkan diri dengan baik untuk perjalanan melalui jendela waktu, dan dengan hati penuh rasa ingin tahu, mereka melangkah ke dalam dunia yang tak terduga.
Mereka tiba dengan lembut di tengah Pelabuhan Sunda Kelapa yang ramai dengan aktivitas kapal layar dan pedagang dari berbagai bangsa. Suasana begitu berbeda dari kampung mereka yang tenang. Angin bertiup keras, membawa aroma garam laut dan campuran parfum eksotis. Ratusan perahu layar dengan segala warna dan ukuran bersandar di pelabuhan yang ramai.
Anak-anak muda ini tiba di tengah keramaian pelabuhan, dengan mata terbuka lebar. Mereka melihat pedagang-pedagang yang sibuk memuat dan menurunkan barang-barang eksotis seperti rempah-rempah, kain sutera, dan barang-barang lainnya. Para pelaut bercerita tentang petualangan di lautan luas, menambah kekaguman anak-anak muda akan keajaiban dunia di masa lalu.
Salah satu anak muda, Dika, dengan mata bersinar-sinar, berkata, "Lihatlah kapal besar itu, sepertinya kapal dagang dari Tiongkok. Mereka membawa harta yang tak terhitung!"
Di tengah keramaian itu, mereka melihat seorang lelaki tua yang mengenakan jubah putih berdiri di tepi pelabuhan, memandang ke arah laut dengan tatapan bermakna. Lelaki itu memiliki rambut putih panjang dan jenggot tebal, dan ekspresi tenang yang memancarkan kebijaksanaan.
Saat anak-anak muda mendekat, lelaki itu berbicara dengan suara tenang, "Selamat datang di Pelabuhan Sunda Kelapa, pelabuhan yang telah menyaksikan berbagai peristiwa bersejarah. Ada sesuatu yang membawa kalian ke sini?"
Anak-anak muda saling pandang sebelum Yanti, yang selalu berbicara dengan penuh percaya diri, berkata, "Kami datang dari masa depan, tuan. Kami mencoba memahami kekuatan jendela waktu, dan kami ingin mengetahui sejarah di balik pelabuhan ini."
Lelaki tua itu tersenyum lembut, "Tentu, anak-anak muda. Pelabuhan ini memiliki banyak cerita untuk diceritakan. Salah satu peristiwa bersejarah yang pernah terjadi di sini adalah kedatangan seorang pelaut terkenal, Laksamana Cheng Ho dari Dinasti Ming."
Saat Yanti mendengar nama itu, matanya berkilat, "Laksamana Cheng Ho? Kami belajar tentangnya di sekolah! Dia melakukan perjalanan besar dan membawa perdamaian dan perdagangan!"
__ADS_1
Lelaki tua itu mengangguk, "Betul, anak muda. Cheng Ho adalah seorang laksamana Tiongkok yang memimpin armada besar ke berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Kedatangannya di sini membawa perubahan besar bagi kampung ini."
Saat lelaki tua itu menceritakan kisah tentang kedatangan Cheng Ho, anak-anak muda itu merasa seolah mereka benar-benar berada di tengah-tengah sejarah. Mereka melihat kapal-kapal besar Tiongkok bersandar di pelabuhan, dan perdagangan yang berkembang membawa kemakmuran bagi kampung ini.
Sementara itu, anak-anak muda lainnya berjalan-jalan di sekitar pelabuhan, mengamati pedagang yang menjual berbagai barang eksotis. Mereka melihat wanita-wanita berpakaian warna-warni dengan keranjang penuh rempah-rempah dan pedagang berbicara dalam bahasa yang asing.
Di tengah perjalanan mereka, mereka bertemu dengan seorang gadis muda bernama Aulia. Gadis itu memiliki kulit cerah dan senyum yang tulus. Dika, yang selalu ceria, menyapanya, "Halo, apa yang sedang kamu lakukan di sini?"
Aulia tersenyum lembut, "Saya adalah seorang pedagang rempah-rempah. Ayah saya adalah seorang pedagang terkemuka di kampung ini, dan saya membantunya menjual rempah-rempah dari berbagai belahan dunia."
Anak-anak muda tersebut tertarik dengan cerita Aulia tentang perdagangan rempah-rempah dan betapa beragamnya barang-barang yang ditemuinya di pelabuhan. Mereka pun bertanya tentang kehidupan di masa itu dan bagaimana pelabuhan ini memengaruhi kampung sekitarnya.
Saat percakapan berlangsung dengan Aulia, mereka mendengar sorak-sorai yang semakin dekat, diikuti oleh alunan musik yang mengalun dari jauh. Aulia tersenyum dan mengajak mereka untuk melihat lebih dekat apa yang sedang terjadi. Mereka dengan antusias mengikuti Aulia menuju pusat perayaan yang semakin ramai.
Ketika mereka mendekat, panorama yang memukau pun terungkap di hadapan mata mereka. Pelabuhan Sunda Kelapa tengah menyelenggarakan perayaan besar yang dirayakan oleh warga lokal dan para pelaut asing. Panitia perayaan telah menyiapkan panggung besar yang dihiasi dengan warna-warni bendera dan lentera, menciptakan suasana yang semakin meriah seiring matahari terbenam.
Di panggung tersebut, sekelompok musisi lokal memainkan alat musik tradisional dengan penuh semangat. Suara seruling, gambang, dan gendang mengisi udara, menghadirkan nuansa magis yang membuat semua yang mendengarnya terpesona. Para penari tradisional bergoyang dengan indah, menciptakan gerakan yang harmonis dan memukau.
__ADS_1
Sementara itu, aroma makanan yang lezat dan harum menyelusup ke indra penciuman mereka. Ada stan-stan makanan yang menjajakan hidangan khas seperti rendang, nasi goreng, dan makanan laut segar yang baru saja ditangkap. Bau rempah-rempah yang kuat dari kari dan gulai juga tercium, menggugah selera mereka.
Anak-anak muda dari Kampung Halaman dengan cepat terlibat dalam perayaan ini. Mereka menari bersama warga setempat, mencoba hidangan-hidangan lezat, dan merasakan kehangatan dan keramahan para pelaut asing yang datang dari berbagai belahan dunia.
Saat mereka menikmati perayaan, mereka mendengarkan cerita-cerita menarik tentang kehidupan di masa lalu dari penduduk setempat. Seorang tua yang bijaksana menceritakan kisah petualangan Laksamana Cheng Ho dan bagaimana kunjungannya telah mengubah takdir Pelabuhan Sunda Kelapa.
"Pelabuhan ini adalah jantung kehidupan kami," kata orang tua itu dengan suara lembut. "Kunjungan Cheng Ho membawa perdamaian dan kemakmuran. Kami belajar banyak dari para pelaut asing yang datang ke sini, dan perdagangan membuka pintu dunia bagi kami."
Saat mendengar cerita ini, anak-anak muda itu semakin menghargai arti dari kunjungan Cheng Ho dan dampak bersejarahnya pada Pelabuhan Sunda Kelapa.
Saat malam perayaan berlanjut, di bawah cahaya bulan purnama dan bintang-bintang yang bersinar terang di langit, mereka merasa seakan telah menjalani perjalanan waktu yang luar biasa. Masa lalu Pelabuhan Sunda Kelapa telah memberi mereka pengalaman yang tak terlupakan, membuka mata mereka pada keberagaman budaya, dan menginspirasi mereka untuk terus menjelajahi dunia yang penuh misteri dan keajaiban.
Namun, di tengah euforia perayaan, ada sesuatu yang membuat mereka terkejut. Mereka melihat Bu RT, Rahmah, yang juga terlihat muda seperti yang mereka temui di masa lalu. Wajahnya tampak tenang, dan dia dikelilingi oleh anak-anak muda dari Kampung Halaman yang berbicara dengan penuh antusiasme.
Yanti berseru, "Tunggu, itu Bu RT! Bagaimana dia bisa di sini?"
Tetapi sebelum mereka bisa mendekati, Bu RT menghilang begitu saja, seperti kabut di pagi yang cerah. Anak-anak muda tersebut tercengang, tidak tahu apa yang terjadi. Apakah ini sebuah keajaiban atau mungkin ada rahasia lain yang masih tersembunyi?
__ADS_1
Mereka bertanya-tanya dalam hati mereka saat malam perayaan berlanjut. Masa lalu Pelabuhan Sunda Kelapa telah memberi mereka pengalaman yang tak terlupakan, tetapi misteri terkait Bu RT semakin dalam. Apa yang sebenarnya terjadi, dan bagaimana Bu RT dapat ada di dua tempat sekaligus? Hanya masa depan yang akan membuka semua jawaban.