
Matahari pagi menjelang, melemparkan pancaran keemasan di langit Jakarta. Angin sejuk bertiup perlahan-lahan melintasi ladang-ladang hijau subur yang terbentang hingga ke tepian sungai Ciliwung. Tiga anak muda, Aria, Rama, dan Maya, bersiap-siap untuk perjalanan luar biasa mereka ke masa lalu yang bersejarah. Mereka berdiri di tepi jendela Bu RT yang sekarang telah menjadi pintu ke zaman yang jauh.
Dalam keheningan pagi itu, mereka bergantian menatap jendela tersebut, memikirkan petualangan yang akan mereka alami. Jendela yang selalu setengah terbuka itu menyala dengan cahaya biru lembut, menandakan bahwa saatnya tiba.
Rama, pemimpin tak resmi kelompok itu, memberi aba-aba, "Mari kita masuk."
Dalam sekejap, mereka melompat melalui jendela ke dalam dunia yang berbeda. Mereka tiba di tengah-tengah hutan lebat yang penuh dengan suara cicit burung dan bunga-bunga yang berwarna-warni. Ini adalah Jakarta pada masa lalu, abad ke-4 M.
Aria tersenyum, terpesona oleh keindahan alam di sekitarnya. "Ini benar-benar luar biasa! Bayangkan bahwa Jakarta yang kita kenal sekarang adalah tempat yang begitu berbeda pada waktu itu."
Mereka berjalan melintasi hutan, menelusuri jejak-jejak yang mengarah ke pemukiman Hindu kuno. Seiring perjalanan, mereka melihat puing-puing reruntuhan kuil dan arca-arca dewa yang tertanam di dinding tebing.
Maya menunjuk ke sebuah kuil yang terletak di puncak bukit. "Itu tujuan kita, Kuil Dewa Siwa. Kabarnya, di sana terdapat artefak bersejarah yang sangat berharga."
Mereka mendaki bukit dengan hati-hati, melintasi jembatan batu tua yang menghadap sungai yang indah. Ketika mereka mencapai puncak, kejutan menunggu mereka. Kuil Dewa Siwa adalah struktur megah yang dihiasi dengan ukiran-ukiran yang menakjubkan, tetapi yang paling mencolok adalah patung Dewa Siwa yang sangat besar yang berdiri di tengah kuil.
__ADS_1
Aria terpana. "Ini... ini luar biasa."
Namun, ketika mereka mendekati patung itu, mereka melihat sesuatu yang sangat tidak biasa. Mimik wajah Dewa Siwa berubah dari tenang menjadi marah, seolah-olah patung itu hidup.
Rama menjauhkan diri dengan cepat. "Apa yang terjadi?"
Tiba-tiba, sebuah suara mendalam dan menggema mengisi udara. Suara itu terdengar seperti suara Dewa Siwa yang marah. "Siapa yang berani menginjak kaki di kuil ini? Katakanlah identitasmu!"
Mereka saling berpandangan dengan wajah pucat. Maya mencoba menjawab, "Kami adalah peneliti dari masa depan yang datang untuk mempelajari sejarah. Kami tidak bermaksud mengganggu atau merusak apa pun."
Dengan ajaib, patung Dewa Siwa mulai berbicara dengan lebih lembut. Suaranya meresap di udara seolah-olah ia sedang menceritakan sebuah rahasia besar yang selama ini tersembunyi. Anak-anak muda itu tersenyum gembira, seakan mereka telah menemukan pengetahuan tersembunyi yang sangat berharga.
Mimik wajah Dewa Siwa yang awalnya marah dan tegas, berubah menjadi ekspresi lembut dan ramah. Cahaya lembut menyala di matanya yang terbuat dari batu. Dia mulai menceritakan kisah Jakarta pada masa lalu dengan suaranya yang dalam dan penuh kebijaksanaan.
"Saat ini, pada abad ke-4 M, Jakarta bukanlah kota yang kalian kenal sekarang. Ini adalah sebuah permukiman kecil yang didominasi oleh pemeluk Hindu. Kota ini terletak di tepi sungai Ciliwung yang subur, dan pelabuhan kami adalah pusat perdagangan yang ramai."
__ADS_1
Anak-anak muda itu mendengarkan dengan seksama, meresapi setiap kata yang diucapkan oleh Dewa Siwa. Mereka mencatat dengan teliti setiap detail yang diberikan oleh patung itu.
"Kota kami dipenuhi dengan kuil-kuil Hindu yang indah, dengan arca-arca dewa yang menghiasi setiap sudut jalan. Kami adalah tempat keagamaan yang suci dan pusat budaya yang makmur. Namun, seperti semua kota, kami juga menghadapi tantangan dan konflik."
Dewa Siwa melanjutkan untuk menjelaskan tentang perubahan zaman dan konflik yang pernah terjadi di Jakarta kuno. Dia menceritakan tentang kemakmuran dan kemunduran kota tersebut, tentang kehidupan sehari-hari masyarakatnya, dan tentang pentingnya agama dalam kehidupan mereka.
Saat cerita berakhir, Dewa Siwa berkata, "Kalian telah datang untuk memahami sejarah kami. Sekarang, pergilah, dan ingatlah pelajaran yang kalian dapatkan di sini."
Dengan cahaya biru yang tiba-tiba melingkupi mereka, anak-anak muda itu kembali ke masa kini. Mereka membawa pulang pengetahuan berharga tentang sejarah Jakarta yang lama dan merasa bersyukur atas pengalaman unik ini.
Saat mereka kembali ke rumah Bu RT, mereka menemui Bu RT sedang duduk di depan jendela yang selalu setengah terbuka itu. "Kalian telah kembali dengan selamat," kata Bu RT dengan senyum hangat.
Rama menjawab, "Kami telah mempelajari begitu banyak tentang sejarah kampung kami. Terima kasih atas bantuanmu, Bu RT."
Bu RT mengangguk. "Sejarah adalah bagian dari identitas kita. Penting untuk memahaminya. Dan ingatlah, sekarang kalian memiliki pengetahuan yang berharga yang harus kalian bagikan dengan kampung ini."
__ADS_1
Dengan itu, anak-anak muda itu tahu bahwa mereka telah mendapatkan hadiah yang tidak ternilai dari perjalanan mereka ke masa lalu yang bersejarah. Dan dengan pengetahuan itu, mereka berjanji untuk menjaga dan menghormati sejarah kampung mereka dengan lebih baik lagi.