
Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat, meninggalkan cahaya senja yang tenang di sekitar rumah Bu RT. Mereka semua berkumpul di halaman belakang, mengenakan pakaian yang nyaman untuk latihan fisik mereka. Bu RT membuka sesi persiapan dengan tenang.
"Kita harus memastikan tubuh kita dalam kondisi prima untuk perjalanan ini," katanya sambil mengatur matras yoga di tengah-tengah mereka. "Latihan fisik dan meditasi akan membantu kita menjaga keseimbangan dan konsentrasi selama perjalanan."
Mereka duduk di matras yoga mereka dengan kaki bersila, menutup mata, dan menghirup napas dalam-dalam. Bu RT memandu mereka melalui serangkaian gerakan yoga yang melibatkan peregangan dan pernapasan yang dalam. Tubuh mereka merespons dengan lembut, mengikuti irama pernapasan.
"Biarkan semua ketegangan meninggalkan tubuhmu," pesan Bu RT, suaranya pelan dan menenangkan. "Kita harus menjadi seperti aliran air yang mengikuti jalur alami. Fleksibel dan kuat."
Selama latihan fisik, mereka membicarakan perasaan dan persiapan mereka. Adi mengakui bahwa dia merasa gugup tentang perjalanan yang akan datang. "Saya pikir ini adalah kesempatan unik dalam seumur hidup kita," katanya, matanya terbuka dan memandang langit senja. "Tapi saya juga merasa sedikit takut dengan ketidakpastian."
Maya menambahkan, "Saya setuju, Adi. Tetapi kita telah menjalani persiapan dengan cermat, dan saya percaya kita bisa menghadapi apa pun yang akan datang. Kita harus tetap bersama sebagai tim."
Bu RT tersenyum puas mendengar kata-kata mereka. "Anda berdua adalah anak-anak yang luar biasa. Keberanian dan tekad Anda akan membantu kita melewati setiap rintangan."
Setelah latihan fisik selesai, mereka duduk dalam meditasi selama beberapa saat. Ini adalah momen ketenangan dan refleksi, di mana mereka mencoba membuang pikiran dan rasa gugup yang masih tersisa. Matahari benar-benar tenggelam sekarang, dan cahaya senja memenuhi halaman belakang.
"Kita sudah mencapai keseimbangan tubuh dan pikiran," kata Bu RT, memutuskan sesi meditasi mereka. "Saatnya kita melanjutkan dengan persiapan berikutnya."
Mereka duduk bersila di hadapan altar kecil yang terletak di ruangan yang tenang di dalam rumah Bu RT. Ruangan itu dihiasi dengan berbagai barang keramat dan lilin-lilin kecil yang menghasilkan cahaya lembut. Di atas altar, ada patung Buddha kecil yang memancarkan aura ketenangan.
Bu RT memimpin sesi meditasi dengan suara yang tenang dan penuh kebijaksanaan. Dia meminta mereka untuk menutup mata dan mulai bernafas perlahan, mendalam, dan teratur. Dalam beberapa saat, mereka merasakan ketenangan merayap masuk ke dalam pikiran dan jiwa mereka.
__ADS_1
"Mari kita bersama-sama mencari kedamaian dalam diri kita masing-masing," kata Bu RT dengan lembut. "Biarkan pikiran-pikiran yang tak berguna menghilang, dan fokuskan perhatian kita pada perjalanan yang akan datang."
Mereka mengikuti panduan Bu RT, merasakan pernapasan mereka yang tenang dan perlahan. Semakin dalam mereka masuk ke dalam meditasi, semakin terasa kedamaian dan ketenangan yang mendalam.
Selama meditasi, mereka juga melakukan pembersihan rohani. Bu RT meminta mereka untuk memvisualisasikan diri mereka sendiri sebagai makhluk cahaya yang bersinar. Mereka membayangkan cahaya ini membersihkan semua ketidakmurnian dan beban emosional yang mungkin mereka bawa.
Maya merasakan beban emosionalnya yang terangkat saat dia membiarkan cahaya membersihkannya. Dia merasa lebih ringan dan lebih siap secara rohani untuk perjalanan waktu yang akan datang.
Adi, sambil memusatkan pikiran pada pembersihan rohani, merenungkan tentang keberanian dan tekadnya. Dia merasa semangatnya membara, siap menghadapi apa pun yang akan datang.
Sementara itu, Bu RT juga bermeditasi bersama mereka. Dia telah menghadapi banyak tantangan dalam hidupnya, dan meditasi adalah cara baginya untuk menemukan ketenangan dan kebijaksanaan.
Suasana ruangan menjadi semakin tenang, hanya diisi dengan suara napas perlahan dan kata-kata bijak Bu RT. Mereka berada dalam momen ketenangan yang mendalam, siap untuk perjalanan waktu yang akan datang.
Namun, ketenangan mereka terganggu ketika seekor kucing liar yang berlalu lewat memutuskan untuk bergabung dengan ritual mereka. Kucing itu melewati lingkaran mereka dengan gemerisik yang lembut, dan kemudian duduk di dekat Adi dengan pandangan tajamnya yang menatap ke arah mereka.
Adi, yang tadinya tengah terfokus pada mantra, merasa sedikit terkejut oleh kedatangan tiba-tiba kucing tersebut. Dia membuka mata dengan perlahan dan menatap kucing itu yang tampaknya sangat tertarik pada mereka.
"Bu RT, ada kucing di sini," bisiknya kepada Bu RT, tanpa mengganggu Maya yang masih terlibat dalam mantra.
Bu RT membuka mata dan melihat kucing tersebut. Dia tersenyum dan berkata, "Tenanglah, Adi. Kucing adalah makhluk spiritual yang memiliki kepekaan terhadap energi-energi yang kita ciptakan dalam ritual ini. Mungkin dia merasa tertarik oleh energi positif yang kita hasilkan."
__ADS_1
Kucing itu terus duduk dengan tenang, seolah-olah dia juga ikut dalam meditasi mereka. Sementara itu, Adi mencoba kembali memusatkan perhatiannya pada mantra, meskipun sekarang dia merasa terganggu oleh kehadiran kucing tersebut.
Maya, yang masih dalam meditasi, tidak menyadari keberadaan kucing tersebut. Dia tetap fokus pada mantra dan perasaannya semakin tenggelam dalam kedamaian.
Mereka melanjutkan ritual dengan kucing sebagai saksi diam mereka. Meskipun ada gangguan kecil, mereka merasa semakin terhubung satu sama lain dan semakin siap untuk perjalanan waktu yang menanti mereka.
"Mantra ini adalah kunci kita untuk membuka Jendela Ajaib dan melakukan perjalanan waktu," kata Bu RT. "Ini akan membantu kita menghubungkan diri kita dengan aliran waktu dan ruang yang berbeda."
Dengan lembut, Bu RT memulai mantra kuno. Suaranya gemetar di udara, dan Adi, Maya, dan Bu RT mulai mengikuti alur mantra tersebut. Kata-kata kuno itu terasa melayang di udara, menciptakan getaran spiritual yang dalam di sekitar mereka.
Mereka mengulangi mantra itu berkali-kali, semakin dalam ke dalam meditasi mereka. Dalam keheningan, mereka merasakan energi yang mengalir melalui tubuh mereka, menghubungkan mereka dengan aliran waktu yang tak terbatas.
Ketika mereka mengucapkan mantra bersama-sama, mereka merasa semakin terhubung satu sama lain. Mereka adalah satu kesatuan yang kuat, siap menghadapi perjalanan waktu yang tak terduga.
Mantra itu terus mengalir, dan suasana di dalam ruangan menjadi semakin khusyuk. Cahaya lilin di altar mereka berkobar-kobar, menciptakan suasana spiritual yang dalam dan menenangkan.
Adi merasakan getaran kuat di dalam dirinya, seolah-olah dia sedang tersambung dengan aliran energi kosmis. Maya merasa damai dan terhubung dengan alam semesta, seperti dia menjadi satu dengan segala sesuatu di sekitarnya.
Bu RT, dengan mata terpejam, terus memimpin mereka dengan suara yang penuh kebijaksanaan. Dia merasakan kekuatan mantra itu mengalir melalui dirinya, menguatkan ikatan spiritual mereka dengan Jendela Ajaib.
Mereka melanjutkan mengulangi mantra itu, meresapi setiap kata dan getaran yang diciptakannya. Suasana di dalam ruangan itu begitu khusyuk dan penuh makna, seolah-olah waktu itu sendiri ikut merespons pada upaya spiritual mereka.
__ADS_1
Setelah beberapa saat yang terasa seperti keabadian, Bu RT akhirnya mengakhiri mantra itu dengan satu kata: "Selesai."
Mereka semua membuka mata mereka dan merasakan energi yang mengalir melalui mereka. Mereka tahu bahwa mereka telah siap untuk perjalanan waktu yang tak terlupakan.