
Dalam senyap malam yang lembut, pepohonan di hutan rimba masih berseru dalam nyanyian daun-daunnya yang bergoyang lembut ditiup angin sepoi-sepoi. Bulan purnama menyoroti bumi dengan cahaya peraknya, menciptakan kilauan misterius di permukaan sungai yang tenang. Di tepi sungai yang sunyi, seorang wanita tua yang mengenakan pakaian khas Betawi duduk dengan tenang, pandangannya terfokus pada air yang mengalir.
Dia adalah Rahmah, yang lebih dikenal sebagai Bu RT oleh penduduk kampungnya. Bu RT memiliki penampilan yang agak unik: rambutnya yang berwarna putih telah memudar, mengisyaratkan usia yang lanjut, dan wajahnya yang keriput menyiratkan pengalaman hidup yang panjang. Meskipun usianya yang lanjut, matanya tetap tajam, seperti dua bintang di malam yang gelap. Dan yang paling mencolok dari semuanya adalah keberadaan jendela di belakangnya, yang selalu terbuka setengah, tidak peduli cuaca seperti apa.
Suasana malam yang tenang itu terasa begitu akrab bagi Bu RT. Dia telah tinggal di kampung ini sepanjang hidupnya, dan sebagai ketua RT, dia selalu menjadi sosok yang dicari oleh penduduk kampung ketika mereka memiliki masalah atau pertanyaan. Baginya, kampung adalah segalanya.
Namun, pada malam itu, sesuatu yang luar biasa terjadi. Ketika dia menatap air yang mengalir di sungai, cahaya bulan mengiluminasi jendela di belakangnya dengan cahaya yang lebih terang dari biasanya. Jendela itu mulai bergetar seperti air yang terkena batu. Bu RT merasa getaran aneh di seluruh tubuhnya, seolah-olah dia diseret ke dalam sebuah aliran waktu yang misterius.
Dia merasa dirinya terangkat dari tanah dan ditarik melalui jendela. Tubuhnya melintasi ruang dan waktu dengan kecepatan yang mengagumkan. Seketika itu juga, dia merasa dirinya melayang di atas Batavia, kota yang dulu dia cintai, namun saat ini, ada yang berbeda. Udara terasa kental dengan ketegangan, dan suara-suara tembakan terdengar di kejauhan. Dia menyadari bahwa dia telah kembali ke masa lalu, tepat saat Pendudukan Jepang dimulai pada tahun 1942.
Bu RT merasa terkejut dan bingung. Dia melihat kota yang dia kenal dengan baik berubah menjadi kota yang dikepung oleh tentara Jepang, dan namanya diganti menjadi Djakarta. Dia terdiam, mengamati perubahan drastis ini dengan kebingungan.
Pada saat itulah, seorang pemuda muncul di dekatnya, terlihat begitu ketakutan dan lelah. Pemuda itu berdiri di bawah sinar bulan purnama, dan wajahnya tampak pucat oleh ketidakpastian. Dia berkata, "Tuan-tuan Jepang telah datang. Mereka mengambil alih kota ini dengan kejam. Kami semua hidup dalam ketakutan."
Bu RT yang masih bingung mencoba meredakan ketegangan pemuda itu. "Jangan khawatir, anak muda. Kita harus tetap kuat dan berjuang untuk masa depan yang lebih baik."
Pemuda itu menatap Bu RT dengan penuh harapan. "Apakah Anda punya rencana, nenek?"
Bu RT tersenyum lembut, mencoba memberikan semangat kepada pemuda itu. "Tentu saja, kita akan mencari jalan keluar bersama-sama. Tetapi sekarang, kita harus bersembunyi. Saya memiliki tempat yang aman di kampung saya. Ayo, ikuti saya."
__ADS_1
Mereka berdua merangkak perlahan-lahan melintasi hutan rimba yang lebat. Suara langkah mereka hampir tidak terdengar, dan hanya gemerisik daun-daun yang memecah keheningan malam. Bu RT memimpin dengan mantap, seperti seorang pemimpin yang berpengalaman.
Saat mereka tiba di kampung Bu RT, mereka menemukan tempat persembunyian yang aman. Mereka diterima dengan hangat oleh penduduk kampung yang takjub melihat kedatangan Bu RT bersama pemuda yang tidak dikenal.
Namun, ketika Bu RT dan pemuda itu duduk di bawah pohon besar di tengah kampung, Bu RT merasa kebingungannya tiba-tiba meningkat. Dia menyadari bahwa dia telah membawa pemuda ini dari masa depan, dan dia tidak tahu bagaimana cara mengembalikannya.
"Saya minta maaf, anak muda," ucap Bu RT dengan suara serak. "Saya tidak tahu bagaimana membantu Anda kembali ke masa Anda."
Pemuda itu tampak putus asa. "Tapi bagaimana saya bisa bertahan di sini? Saya tidak punya keluarga atau teman-teman di masa ini."
Bu RT memandang pemuda itu dengan penuh empati. "Saya akan menjaga Anda dan membantu Anda bertahan. Kami adalah satu keluarga di sini."
Saat dia berbalik untuk kembali ke rumahnya, pemuda itu bertanya, "Apa yang Anda lihat, nenek?"
Bu RT tersenyum dengan lembut. "Saya melihat sebuah jendela yang membawa saya kembali ke masa lalu. Saya harus pergi sebentar, tapi saya akan kembali untuk membantu Anda."
Dengan perasaan campur aduk, Bu RT melangkah kembali ke dalam rumahnya. Dia tahu bahwa ada tugas besar yang menantinya di masa lalu, dan dia siap untuk menghadapinya. Kejutan besar menunggunya, dan dia memiliki rasa ingin tahu yang mendalam tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.
Dengan hati yang penuh rasa ingin tahu dan keberanian yang tak tergoyahkan, Bu RT melangkah menuju jendela yang telah membawanya ke masa lalu. Dia merasa getaran aneh itu kembali mengelilingi tubuhnya saat dia melewatinya. Tiba-tiba, dia merasa seolah-olah dia tersedot oleh arus waktu yang kuat, seperti air yang mengalir deras.
__ADS_1
Saat Bu RT tiba kembali di masa sekarang, dia menyadari bahwa jendela itu adalah salah satu keajaiban dunia yang tak terkatakan. Itu bukan sekadar jendela biasa, melainkan portal yang menghubungkan berbagai periode waktu. Dan sekarang, dia memiliki kendali atas kekuatan tersebut.
Dengan rasa hormat terhadap kampungnya dan pemuda yang telah menjadi bagian darinya, Bu RT memutuskan untuk menggunakan kekuatan jendela untuk membantu mereka. Dia mengembalikan pemuda itu ke masa depannya dengan harapan bahwa dia akan menemukan keluarga dan teman-teman yang hilang.
Tetapi Bu RT tahu bahwa ada masalah lain yang harus dia hadapi. Dia kembali ke masa lalu, kali ini untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi selama masa Pendudukan Jepang di Batavia. Dia ingin mengumpulkan informasi dan pelajaran berharga yang dapat membantu kampungnya di masa depan.
Saat dia bergerak melalui waktu, dia menyaksikan berbagai peristiwa penting yang terjadi selama Pendudukan Jepang. Dia melihat ketegangan dan penderitaan yang dialami oleh penduduk kota. Namun, dia juga melihat keberanian dan tekad mereka untuk tetap bersatu dan melawan penjajah.
Di salah satu perjalanannya, Bu RT bahkan bertemu dengan seorang pemuda yang memimpin gerakan perlawanan lokal. Mereka berbicara panjang lebar tentang keinginan mereka untuk kebebasan dan kemerdekaan. Pemuda itu memberikan semangat baru pada Bu RT, dan dia tahu bahwa dia harus membawa pelajaran dan inspirasi ini kembali ke kampungnya.
Ketika Bu RT akhirnya kembali ke masa sekarang, dia membawa dengan dia pengetahuan yang berharga tentang masa lalu kampungnya. Dia berbagi cerita-cerita itu dengan penduduk kampung dan pemuda yang telah dia tolong. Mereka semua mendengarkan dengan penuh perhatian, menyerap pelajaran dan semangat dari masa lalu.
Namun, kejutan terbesar datang ketika Bu RT mengunjungi jendela sekali lagi. Kali ini, ada pesan misterius yang muncul di depan matanya. Pesan itu berbunyi, "Waktu untuk mengakhiri perjalananmu." Bu RT tidak tahu apa yang dimaksud dengan pesan tersebut, tetapi dia merasa bahwa kekuatan jendela telah mencapai batasnya.
Dengan berat hati, Bu RT menutup jendela tersebut untuk selamanya. Dia merasa sedih melepaskan kekuatan yang telah membawanya ke masa lalu dan membantu kampungnya. Namun, dia juga tahu bahwa dia telah mengumpulkan pengetahuan dan pengalaman yang akan membawa perubahan positif ke kampungnya.
Kampung Halaman akhirnya kembali damai, dengan pemahaman yang lebih dalam tentang Bu RT dan rasa hormat yang lebih besar terhadapnya. Mereka menyadari bahwa kekuatan yang tak terbatas harus digunakan dengan bijak, dan bahwa kedamaian dan persatuan dalam komunitas adalah hal yang paling berharga.
Dan sementara jendela itu mungkin telah ditutup, cerita tentang Bu RT dan misteri di balik jendela akan tetap hidup dalam ingatan mereka, sebagai pengingat akan kekuatan rasa ingin tahu, keberanian, dan kebijaksanaan. Bu RT, sang penjaga waktu, akan selalu dikenang sebagai pahlawan kampung yang telah membawa perubahan besar ke dalam hidup mereka.
__ADS_1