Misteri Bu RT

Misteri Bu RT
Gempa Bumi Batavia pada tahun 1699


__ADS_3

Ketika mereka berdiri di depan jendela yang misterius, suasana hening dan tegang memenuhi ruangan. Di dalam benak mereka, pertanyaan-pertanyaan bergulir seperti ombak di lautan yang tidak pernah tenang. Bagaimana mereka akan melakukan perjalanan ke masa lalu? Apa yang akan mereka temui di sana? Dan bagaimana peristiwa sejarah akan memengaruhi mereka?


Bulan purnama menerangi malam itu, menggambarkan suasana yang penuh keajaiban. Cahaya bulan memantul di permukaan jendela, menciptakan efek yang nyaris magis. Anak-anak muda itu menatap jendela dengan tatapan bingung, mencoba memahami bagaimana hal ini semua mungkin terjadi.


"Kita harus mencobanya," kata Rizki, yang penuh rasa ingin tahu. "Kita tidak akan pernah tahu kebenarannya jika kita tidak mencobanya."


Mereka mengangguk setuju, lalu mendekati jendela tersebut. Setelah sejenak, mereka merasa sentuhan lembut angin malam yang sejuk membelai wajah mereka saat jendela itu memancarkan cahaya biru yang tenang. Mereka merasa tubuh mereka ringan seolah-olah mereka mengapung di dalam udara. Dan kemudian, dengan sekejap mata, mereka berada di tempat yang sama, tetapi berbeda.


Mereka melihat diri mereka sendiri, tetapi dalam pakaian yang sangat berbeda dan lingkungan yang sama sekali asing. Mereka berada di tengah-tengah sebuah kota tua yang penuh dengan bangunan-bangunan kolonial. Jalanan terbuat dari batu bata yang dipenuhi oleh orang-orang dengan pakaian kuno dan kereta kuda yang melintas di sana-sini. Mereka tahu bahwa mereka telah melakukan perjalanan ke masa lalu.


"Surga, ini adalah Batavia pada tahun 1699," kata Rizki dengan suara gemetar. "Ini adalah masa di mana kota ini masih di bawah kekuasaan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie)."


Mereka berjalan-jalan di sekitar kota yang penuh sejarah ini, memerhatikan setiap detail dengan seksama. Mereka melihat orang-orang yang bekerja keras di pelabuhan, pedagang-pedagang yang sibuk di pasar, dan tentara-tentara VOC yang berjaga di benteng-benteng. Semua terasa sangat hidup, seolah-olah mereka telah menjadi bagian dari masa lalu itu sendiri.


Saat matahari terbit, mereka melihat sebuah papan besar yang memberi tahu tanggal: 5 Januari 1699. Ini adalah hari yang akan datang, hari ketika gempa bumi dahsyat akan mengguncang Batavia. Mereka menyadari bahwa mereka memiliki kesempatan untuk menyelamatkan nyawa orang-orang yang tinggal di kota ini.


"Kita harus memberi tahu mereka," kata Maya dengan tegas. "Kita memiliki pengetahuan tentang masa depan, dan kita bisa menyelamatkan mereka."


Namun, Rizki menggelengkan kepala. "Tapi kita harus berhati-hati. Kita tidak boleh mengubah sejarah terlalu banyak. Itu bisa memiliki konsekuensi yang tidak terduga."


Percakapan mereka terhenti ketika mereka mendengar percakapan orang-orang di sekitar mereka. Mereka mendekati sekelompok warga yang sedang berbicara di depan pasar.


"Kau tahu, aku mendengar kabar tentang gempa bumi yang akan datang," kata salah satu dari mereka. "Mungkin kita harus bersiap-siap."


Percakapan ini membuat mereka kagum dan sedikit lega. Sepertinya beberapa orang di kota ini sudah memiliki peringatan tentang bencana yang akan datang. Tapi masih ada banyak yang tidak tahu, dan anak-anak muda itu merasa tanggung jawab untuk memberi tahu mereka.


Mereka berkeliling kota, berbicara dengan orang-orang, dan berusaha meyakinkan mereka untuk bersiap-siap menghadapi gempa bumi yang akan datang. Tidak semua orang percaya pada mereka, tetapi beberapa akhirnya mendengarkan dan mulai melakukan persiapan.

__ADS_1


Namun, ketika malam tiba dan gempa bumi semakin mendekat, anak-anak muda itu merasa bahwa mereka belum melakukan cukup. Mereka tidak bisa menghentikan gempa bumi ini, dan mereka tahu bahwa banyak orang akan menderita.


Tiba-tiba, di tengah-tengah kegelapan malam, mereka melihat seorang wanita tua yang duduk sendirian di depan sebuah gereja tua. Wanita itu memandang mereka dengan mata yang bijak.


"Kalian adalah pelancong waktu, bukan?" tanya wanita itu.


Mereka mengangguk. "Kami datang dari masa depan, untuk mencoba menyelamatkan orang-orang di sini."


Wanita itu tersenyum lembut. "Kalian telah melakukan yang terbaik yang kalian bisa. Terkadang, kita tidak bisa mengubah takdir. Tetapi kalian telah memberikan peringatan kepada mereka yang mungkin selamat."


Tiba-tiba, gempa bumi yang dahsyat itu mengguncang kota. Bangunan-bangunan runtuh, dan orang-orang berteriak ketakutan. Anak-anak muda itu merasa tubuh mereka terangkat oleh getaran kuat, dan mereka tahu bahwa saat ini mereka harus kembali ke masa kini.


Dalam sekejap mata, mereka kembali ke ruangan dengan jendela misterius. Mereka semua terengah-engah, merasa terpukul oleh pengalaman yang baru saja mereka alami.


"Kita tidak bisa menghentikan gempa bumi itu," kata Rizki dengan suara tertekan.


Mereka semua merenung sejenak, merenung tentang keajaiban dan konsekuensi dari perjalanan mereka ke masa lalu. Dan ketika mereka melihat jendela itu kembali, mereka tahu bahwa cerita ini masih akan terus berlanjut, dengan lebih banyak misteri yang menunggu untuk dipecahkan.


Ketika mereka kembali ke masa kini, tubuh mereka terasa berat. Mereka berdiri di dalam ruangan yang sama dengan jendela misterius, tetapi ada sesuatu yang berbeda. Ruangan itu sekarang tampak lebih gelap dan terabaikan. Jendela yang sebelumnya memancarkan cahaya biru tenang, sekarang tampak mati dan suram.


"Ada apa dengan jendela ini?" tanya Maya, meraih gagang jendela. Namun, saat dia mencoba membukanya, dia merasa gagang itu terkunci.


Rizki mencoba membantu. "Mungkin ada sesuatu yang terjadi selama perjalanan kita ke masa lalu. Mungkin jendela ini tidak lagi berfungsi."


Mereka berusaha keras membuka jendela itu, tetapi tetap terkunci dengan erat. Pada saat itulah, mereka mendengar suara langkah-langkah berat yang mendekat dari luar ruangan.


Pintu terbuka dengan keras, dan di ambang pintu muncul seorang pria berpakaian kuno dengan topi tinggi dan wajah yang penuh kemarahan.

__ADS_1


"Siapa kalian? Apa yang kalian lakukan di sini?" bentaknya sambil mengayunkan pedangnya.


Anak-anak muda itu terkejut. Mereka tidak tahu bagaimana menjelaskan situasi mereka. Mereka berusaha menjelaskan tentang jendela dan perjalanan waktu mereka, tetapi pria itu tidak tampak percaya.


"Kalian pasti adalah penyusup atau pencuri!" kata pria itu dengan marah. "Saya akan membawa kalian ke pengadilan!"


Maya, Rizki, dan teman mereka lainnya merasa panik. Mereka tidak tahu bagaimana cara kembali ke masa kini, dan sekarang mereka berada dalam bahaya nyata.


Tiba-tiba, wanita tua yang mereka temui di masa lalu muncul di belakang pria itu. Dia mengangkat tangannya dengan lembut dan berkata, "Tunggu sebentar. Mereka adalah tamu yang tidak diundang, tetapi mereka tidak datang dengan niat jahat."


Pria itu menoleh ke arah wanita tua itu, wajahnya masih penuh kemarahan. "Siapa kau dan bagaimana kau tahu mereka?"


Wanita tua itu tersenyum lembut. "Saya adalah penjaga jendela ini. Saya tahu tentang perjalanan waktu mereka karena saya juga memiliki kekuatan ini. Mereka adalah tamu yang tidak sengaja tersesat di waktu. Mereka tidak berbahaya."


Pria itu tampak ragu-ragu sejenak, kemudian meletakkan pedangnya. "Baiklah, jika begitu. Tapi mereka harus pergi dari sini."


Anak-anak muda itu merasa lega, tetapi mereka tahu bahwa mereka harus menemukan cara untuk kembali ke masa kini. Mereka meminta bantuan wanita tua tersebut.


Wanita itu mengangguk. "Saya bisa membantu kalian kembali, tetapi kalian harus berjanji untuk tidak menggunakan kekuatan ini untuk merubah masa lalu. Kekuatan ini harus dijaga dengan bijaksana."


Mereka semua setuju dengan janji tersebut. Wanita tua itu membimbing mereka ke depan jendela, dan dengan sekejap mata, mereka kembali ke masa kini.


Ketika mereka berdiri kembali di ruangan dengan jendela misterius, mereka merasa lega. Mereka telah belajar banyak tentang konsekuensi dari tindakan mereka dan kekuatan yang mereka miliki.


Maya, Rizki, dan teman-teman mereka melihat ke arah jendela yang sekarang tampak tenang dan bercahaya kembali. Mereka tahu bahwa jendela itu adalah pintu ke sejarah yang penuh dengan misteri dan keajaiban.


Mereka merenung tentang pengalaman mereka dan belajar bahwa kekuatan seperti itu harus digunakan dengan bijaksana. Mereka tidak boleh mencoba mengubah masa lalu atau mengganggu alur sejarah.

__ADS_1


Sebagai pertanda bahwa mereka telah memahami pelajaran ini, mereka semua menutup jendela itu bersama-sama. Mereka tahu bahwa jendela itu harus dijaga dengan baik dan hanya digunakan dalam keadaan darurat.


__ADS_2