
Di balik jendela rumah Bu RT, matahari telah condong ke ufuk barat, menghadirkan perpaduan warna jingga dan merah ke langit senja. Suara gemericik air sungai yang mengalir di dekat rumah Bu RT menambah nuansa damai di Kampung Halaman yang tenang.
"Bu RT, kami benar-benar merindukanmu," kata Mbah Joko, salah seorang tetua di kampung, sambil tersenyum lebar. "Kampung ini bukanlah tempat yang sama tanpamu."
Bu RT tersenyum tulus, matanya berbinar-binar saat melihat wajah-wajah akrab yang hadir di pesta kecil itu. "Saya juga sangat merindukan kalian semua," jawabnya sambil mencoba menahan air mata haru.
Anak-anak kecil dari kampung itu berlari-lari riang di halaman, mengejar-ngejar satu sama lain sambil tertawa. Mereka tampak gembira karena Bu RT kembali, seorang wanita yang selalu punya cerita menarik dan permen manis untuk mereka.
"Tetapi Bu RT, kami penasaran, apa yang sebenarnya terjadi di tahun 1962?" tanya Yuni, salah satu ibu muda di kampung. "Kami ingin tahu bagaimana pengalamanmu di sana."
Bu RT memulai ceritanya dengan penuh semangat. Dia menjelaskan bagaimana dia tiba-tiba berada di tahun 1962, dan bagaimana dia bertemu dengan orang-orang dari masa lalu. Dia menceritakan tentang Jakarta yang meriah saat menjadi tuan rumah Pesta Olahraga Asia, dengan detail yang memukau.
"Dan kalian tidak akan percaya, aku bahkan bertemu dengan Puteh di sana!" kata Bu RT dengan antusiasme. "Puteh tiba-tiba muncul di tahun 1962 dan membuatku sangat bahagia."
"Puteh? Kucing kesayanganmu yang sudah lama meninggal?" tanya Pak Joko, tetua lainnya, dengan kening berkerut.
"Iya, dia muncul di tahun 1962, sehat dan lincah seperti dulu," jawab Bu RT dengan penuh keheranan. "Ini adalah salah satu misteri yang belum terpecahkan."
Warga kampung mengangguk-angguk, mengikuti cerita Bu RT dengan antusiasme. Mereka terpesona oleh pengalaman Bu RT di masa lalu, dan suasana penuh sukacita terus mengisi malam itu.
Namun, saat Bu RT bercerita, dia melihat sesuatu yang menggetarkan hatinya. Di antara orang-orang yang berkumpul, dia melihat wajah yang tak bisa dia lupakan. Itu adalah wajah seorang pria muda yang sudah lama tidak dia lihat: Adi.
"Adi?" gumam Bu RT, mengenali pria muda itu dengan cepat.
Adi tersenyum hangat dan mendekati Bu RT. "Hai, Bu RT. Aku tidak bisa melewatkan kesempatan untuk menyambut kepulanganmu."
__ADS_1
Bu RT merasa hatinya berdebar kencang. Adi adalah salah satu orang yang menemaninya di tahun 1962, dan mereka telah mengalami banyak petualangan bersama. Kejutan ini membuat Bu RT merasa bahagia, dan dia merasa bahwa takdir telah membawanya kembali ke tempat yang benar.
Pesta kecil di rumah Bu RT berlanjut hingga malam larut. Mereka tertawa, bercerita, dan berbagi kenangan. Di bawah langit berbintang yang indah, Kampung Halaman kembali damai dan harmonis, seolah-olah tak ada yang berubah sejak Bu RT pergi.
Puteh mendekati Bu RT dengan lembut, menggelengkan ekornya seperti mengundang Bu RT untuk memeluknya. Dengan hati yang berdebar, Bu RT mengulurkan tangan dan memegang Puteh. Bulu halus kucing putih itu terasa lembut dan hangat di telapak tangannya.
"Puteh, itu benar-benar kamu?" gumam Bu RT sambil mendekap Puteh erat-erat. "Aku merindukanmu begitu banyak, sayang."
Puteh hanya menjawab dengan menggosok-gosokkan kepala ke tangan Bu RT dan mendengkur lembut. Semua orang yang berada di pesta itu menatap dengan takjub. Mereka tahu betapa istimewanya hubungan antara Bu RT dan Puteh, dan melihat kucing itu kembali adalah kejutan yang tak terduga.
Adi, yang duduk di samping Bu RT, tersenyum lebar. "Ini benar-benar ajaib, Bu RT. Bagaimana mungkin Puteh bisa kembali?"
Bu RT mengangguk, matanya masih terpaku pada Puteh. "Saya juga tidak tahu, Adi. Tapi ini adalah salah satu kejadian yang penuh misteri dalam hidup saya."
"Kamu adalah keberuntungan yang hidup, Puteh," kata Pak Joko sambil mengelus lembut kepala Puteh. "Kamu seperti hewan peliharaan dari dongeng yang datang kembali kepada pemiliknya."
"Puteh pasti memiliki cerita menakjubkan tentang petualangannya di tahun 1962," kata Yuni dengan nada antusias.
Bu RT tersenyum lembut. "Mungkin benar, Yuni. Tapi sayangnya, Puteh tidak bisa berbicara tentang petualangannya di sana."
Sementara itu, Puteh menjelajahi halaman rumah Bu RT, seperti mencari tahu apa yang telah berubah selama dia pergi. Dia melompat ke atas meja piknik, mengendus bunga-bunga di taman, dan akhirnya beristirahat di bawah pohon yang rindang.
Adi duduk di samping Bu RT dan berkata dengan lembut, "Ini adalah momen yang indah, Bu RT. Saya bahagia bisa berbagi ini denganmu."
Bu RT mengangguk setuju. "Saya juga, Adi. Semua ini seperti mukjizat yang tidak bisa saya jelaskan. Saya merasa bahwa kehidupan saya telah membawa saya kembali ke tempat yang benar."
__ADS_1
Malam itu, pesta kecil di rumah Bu RT berlanjut hingga larut malam. Mereka bercerita, tertawa, dan menikmati kebahagiaan bersama Puteh yang telah kembali. Kejutan ini akan menjadi pembuka dari rangkaian misteri yang akan menghiasi kehidupan Bu RT dan warga Kampung Halaman.
Puteh terus berguling-guling di depan Bu RT, seolah-olah dia ingin menunjukkan betapa bahagianya dia bisa kembali ke sisi pemiliknya. Bu RT memeluk kucing putih itu dengan lembut, merasakan denyutan jantung kecil yang hangat dan tenang di dalam dekapan.
"Kamu benar-benar mukjizat yang hidup, Puteh," kata Bu RT dengan suara yang hampir tercekat oleh emosi. Dia menatap Puteh dengan mata berkaca-kaca. "Kamuu..."
Puteh hanya menjawab dengan mendekatkan wajahnya dan menggelengkan kepala dengan lembut, seolah-olah mengerti kata-kata yang tak bisa diucapkan oleh kucing itu.
Mbah Joko, salah satu tetua di kampung, berbicara dengan nada terkejut, "Ini adalah sesuatu yang tak terbayangkan, Bu RT. Kucing yang kembali dari alam kematian. Apakah kamu yakin ini Puteh?"
Bu RT mengangguk. "Saya benar-benar yakin, Mbah Joko. Saya merasakan kehangatan dan cinta yang sama dari Puteh seperti dulu."
Warga kampung yang hadir di pesta itu berkerumun mengelilingi Bu RT dan Puteh, ingin melihat keajaiban itu lebih dekat. Beberapa dari mereka membawa camilan dan makanan untuk diberikan kepada Puteh, yang tampaknya sangat berselera.
Pak Joko bersuara, "Kita semua bisa merasa beruntung telah menjadi saksi dari kejadian yang begitu luar biasa ini. Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk mengalami keajaiban seperti ini."
Sementara Puteh terus dikelilingi oleh warga kampung yang memberinya perhatian dan kasih sayang, Bu RT merasa haru dan berterima kasih atas dukungan dan kebahagiaan yang mereka berikan. Dia benar-benar merasa bahwa ini adalah saat-saat yang luar biasa dalam hidupnya.
Namun, di tengah-tengah kebahagiaan itu, Bu RT merasa ada sesuatu yang belum diungkapkan oleh Puteh. Kucing itu terlihat seperti memiliki pesan yang ingin dia sampaikan. Bu RT membisikkan sesuatu kepada Puteh dengan lembut, "Puteh, apa yang ingin kamu katakan padaku? Apakah kamu punya cerita yang ingin kamu bagikan?"
Puteh menatap Bu RT dengan mata tajam dan kemudian melihat ke arah hutan yang berada di belakang rumah Bu RT. Puteh melompat dari pangkuan Bu RT dan mulai berjalan menuju hutan, seolah-olah mengundang Bu RT untuk mengikutinya.
Semua mata warga kampung tertuju pada Puteh yang menghilang di balik pepohonan. Mereka tahu bahwa ada sesuatu yang harus diungkapkan oleh kucing itu, dan Bu RT pun merasa dorongan kuat untuk mengikuti Puteh ke dalam hutan yang misterius.
Dengan hati yang penuh penasaran, Bu RT berdiri dan melangkah menuju hutan, diikuti oleh warga kampung yang juga ingin melihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Keajaiban yang dimulai dengan kedatangan Puteh tampaknya masih memiliki bab yang belum terungkap.
__ADS_1