MISTERI DUA BABAK

MISTERI DUA BABAK
Bagian Satu


__ADS_3

Aku adalah pegiat social media. Hampir semua platform social media aku ikuti.


Beberapa hari terakhir ini, di jagad social media ada sebuah fenomena yang cukup menghebohkan.


Cerita tentang petualangan seorang pria di sebuah perkampungan berhantu.


Menceritakan tentang pengalaman seorang pria bernama Hartono yang sengaja masuk ke dalam perkampungan terpencil di dalam hutan. Kemudian mendapatkan misteri-misteri di dalamnya.


Ceritanya cukup menyeramkan hingga menjadi trending topic di social media.


Di twitter, facebook, instagram, juga di youtube, ramai warga net membahas cerita Hartono tersebut. Bahkan di bahas pula di salah satu stasiun tv swasta dengan menghandirkan dua nara sumber paranormal yang cukup terkenal.


Aku pun sebagai pegiat social media kemudian menjadi tertarik dengan cerita-cerita yang berseliweran.


Banyak yang menduga-duga bahwa cerita dari akun “Hartono Boy” itu adalah fiktif, karangan, khayalan, tapi banyak juga yang mengatakan bahwa cerita Hartono itu adalah real, asli dari pengalamannya.


Aku penasaran dengan semuanya. Hingga aku putuskan untuk menelusuri setiap jejak yang di tinggalkan warga net agar bisa menuntunku untuk menuju tempat yang di maksudkan oleh akun “Hartono Boy” tersebut.


Aku ingin membuktikan kebenaran cerita itu.


Aku cukup banyak dan lama berselancar di dunia maya mengikuti setiap cerita yang berhubungan dengan cerita Hartono. Secara detailnya aku membaca, mencatat dan mencari kemudian mengumpulkan informasi tentang keberadaan kampung misterius yang di maksud Hartono.


Hingga pada akhirnya aku mendapatkan sebuah kesimpulan tentang nama sebuah kampung yang terletak di belantara pulau Sumatra di salah satu Provinsinya, tepatnya di Sumatera Utara, kabupaten Langkat, bernama Kampung Munian.


Aku cukup berkeyakinan bahwa mungkin Kampung Munian inilah yang di maksudkan oleh Hartono dalam ceritanya.


Setelah meyakinkan diri, selanjutnya aku mempersiapkan segalanya untuk mendatangi Kampung Munian tersebut sekedar untuk membuktikan kebenaran cerita Hartono.


Aku tau perjalanan ini tak akan mudah, tapi demi sebuah rasa penasaran akhirnya aku terbang ke Sumatera Utara, dan akhirnya aku menginjakkan kaki di bumi Melayu ini.


Aku turun dari bus di sebuah pinggir jalan lintas. Cukup lama perjalanan yang ku lakukan.


Turun dari pesawat, berganti tiga kali angkutan umum dari ibu kota provinsi hingga ke tempat terpencil ini.


Hampir tiga jam lamanya aku berada di dalam sebuah angkutan umum yang ke tiga ini sebelum akhirnya aku sampai di sini.


........


Aku menoleh ke kiri dan kanan kemudian menyebrangi jalan.


Aku menuju sekumpulan Bapak-bapak yang aku perkirakan adalah sebuah tempat pangkalan ojek.


Beberapa dari mereka yang melihat kedatanganku langsung menghidupkan sepeda motornya dan menawarkan jasanya kepadaku.


“Permisi Pak”


“Iya bang, mau di antar kemana?”


“Saya mau nanya dulu ini Pak”


“Iya, apa?”


“Bapak tau Kampung Munian?”


Mereka terdiam saling berpandangan.

__ADS_1


“Jauh tempatnya bang” Salah seorang dari mereka akhirnya berkata.


“Bapak bisa mengantar Saya kesana?”


“Sebenarnya sih ya bisa, tapi tempat yang Abang maksud itu juga katanya katanya loh”


“Maksudnya Pak?”


“Maksudnya Kampung Munian itu kata orang-orang ada di daerah situ, Saya sendiri belum pernah tau sih”


“Bisa antar Saya kesana Pak?”


“Tempatnya jauh, pun bukan nganterin sampai ke kampungnya ya, Cuma nganterin sampai ke jalan yang katanya menuju Kampung Munian itu”


“Memangnya berapa jauh Pak?”


“Lumayanlah, ada mungkin dua jam dari sini, itupun kalau jalannya bagus, soalnya jalan kesana suka berubah-ubah, kadang lancar kadang jalannya jelek”


“Ga apa-apa Pak, Udah sejauh ini Saya datang”


“Ongkosnya mahal Bang”


“Yaudah ga apa-apa Pak, yang penting Bapak bisa tunjukkin Saya jalan ke sana”


“Tapi ga bisa satu motor saja, Abang mesti bawa dua motor, nanti kalau ada apa-apa gimana? Di sana mana ada orang”


“Yaudah deh, gapa Pak, soal ongkosnya?”


“Dua ratus lima puluh dua motor”


Ternyata perjalanan menuju kesana seperti yang di katakana Bapak-bapak penarik ojek itu benar.


Jalanannya cukup sulit dan membutuhkan beberapa kali pekerjaan ekstra. Beberapa kali juga aku harus turun dari motor dan membantu menyingkirkan dahan pohon yang menghalangi jalan.


Melewati jalanan yang belum pernah tersentuh aspal, hanya jalan setapak tanah berdebu.


Beruntung saat ini hujan sudah lama tak turun, aku tak bisa bayangkan jika kondisi jalannya tersiram air.


Sekitar dua jam akhirnya ojek itu pun berhenti, lalu menjelaskan dan menunjukkan arah menuju Kampung Munian yang aku tanyakan.


Dia juga menjelaskan itu walau dengan tak pasti, karena dari awal memang dia hanya menyebutkan kata orang-orang saja. Seperti kabar angin menurutku.


Turun dari ojek, setelah membayar ongkos sebesar dua ratus lima puluh ribu akhirnya sampai juga aku di antarkan ke tepi sebuah hutan. Cukup mahal memang, tapi mengingat jauhnya perjalanan dan medan yang sulit, aku rasa cukup wajar tukang ojek tersebut meminta bayaran untuk jasanya dengan harga itu.


Menurut penuturan tukang ojek tadi, mungkin kampung yang ku maksud berada di balik bukit yang berada di sisi hutan di mana aku di turunkan. Dia pun tak tau pasti.


Aku mengamati keadaan sekitar. Di hadapanku sekarang terhampar pepohonan dan semak belukar.


Sementara di belakangku juga pemandangan yang ku rasa sama saja dengan yang ada di depanku.


Hari masih cukup siang ketika aku memaksakan diri menerabas rimbunan belukar menuju jauh ke dalam hutan.


Cukup lelah rasanya berjalan melintasi semak belukar hingga bajuku basah oleh peluh.


Semakin jauh aku masuk ke dalam hutan suasana semakin redup di karenakan pepohonan juga semakin rapat dan rimbun.

__ADS_1


Aku beristirahat sejenak di bawah sebuah pohon besar yang rimbun


Aku membuka tas untuk mengambil bekalku, menenggak air mineral dari botol serta memakan sepotong roti dan kemudian mengeluarkan perlengkapanku.


Sebuah kamera, beberapa buah hape dan sebuah notebook. Juga beberapa batre cadangan lengkap dengan chargernya.


Aku tersenyum kecut, sepertinya bakal tak ada listrik di kampung tersebut, bathinku.


Sambil beristirahat aku menghidupkan notebook dan mulai menulis sebuah jurnal di sana.


Aku menulis tentang kenapa aku kemari, menggambarkan jalan mana yang ku lewati, serta menuliskan perasaanku tentang perjalanan ini.


Suasana cukup lengang di sekitarku. Aku bisa mendengar sayup-sayup suara hewan penghuni hutan, mulai dari suara burung hingga suara-suara asing yang aku tak tau sumbernya.


Aku melihat arloji di tanganku, jam 15.30 WIB sekarang.


Aku memutuskan melanjutkan perjalanan. Berjalan lebih jauh ke dalam untuk segera sampai ke sisi hutan. Sepanjang perjalanan entah mengapa mendadak ada perasaan yang tak nyaman menggelayutiku.


Ada semacam perasaan bahwa aku sedang di perhatikan atau di ikuti, entah oleh siapa. Tapi aku mencoba mengabaikan hal itu dengan memikirkan hal-hal yang positif.


Bagiku perjalanan semacam ini bukanlah hal baru. Di masa kuliahku dulu aku adalah seorang mahasiswa yang tergabung ke dalam ikatan MAPALA. Beberapa gunung dan hutan di wilayah Jawa dan Sumatra pernah ku datangi. Dan selama itu pula semuanya baik-baik saja. Tak pernah terjadi hal-hal yang tak di inginkan.


Semua kejadian yang pernah ku alami masih bisa di jelaskan dengan akal dan logika. Tak ada yang misterius


.


Hari sudah cukup gelap ketika aku sampai yang menurutku adalah tepian hutan. Karena pepohonan sudah kembali jarang.


Di depanku yang ada sekarang adalah pohon-pohon sedang yang tak terlalu rimbun. Aku berjalan dengan di terangi sebuah senter untuk memandu langkahku.


Aku berhenti sejenak ketika di depan aku melihat seperti cahaya pelita menyala di kegelapan.


Bergegas aku menuju ke sumber cahaya itu. Ternyata cahaya pelita tersebut berasal dari nyala api sebuah lentera di depan sebuah rumah panggung.


Ahh…kebetulan fikirku. Aku bisa menumpang beristirahat di sini malam ini. Mungkin saja perkampungan yang ku tuju sudah dekat.


Aku melangkahkan kaki menaiki anak tangga kemudian melintasi teras menuju pintu rumah tersebut.


Ada cahaya juga di dalam, itu artinya ada orang bathinku.


TOK TOK TOK


“Assalammu’alaikum ... permisii….” Aku mengetuk pintu dan mengucapkan salam.


TOK TOK TOK


Aku kembali mengetuk pintu dan mengulangi salamku.


“Wa’alaikum salam” Sahut dari dalam menjawab panggilanku. Suaranya parau.


KREEEEKKKK .... Pintu di buka.


Seorang wanita tua dengan memakai mukena putih menyembulkan kepala dari balik pintu.


Bersambung…….

__ADS_1


__ADS_2