
TOK TOK TOK
“Assalammu’alaikum ... permisii….” Aku mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
TOK TOK TOK
Aku kembali mengetuk pintu dan mengulangi salamku.
“Wa’alaikum salam” Sahut dari dalam menjawab panggilanku. Suaranya parau.
KREEEEEEKK ... Pintu di buka.
Seorang wanita tua dengan menggunakan mukena putih keluar dari balik pintu.
Cukup terkejut aku awalnya melihat wanita tua itu yang ku taksir mungkin usianya sudah lebih dari lima puluh tahun. Tapi secepatnya aku menguasai diri.
“Ada apa Nak?” Tanya wanita tua itu sambil memandangiku.
“Maaf Bu, saya baru melakukan perjalanan menyebrangi hutan itu, dan sepertinya kemalaman atau mungkin tersesat saya juga kurang tau ini” Jawabku sambil menunjukkan dari arah aku datang.
“Anak dari mana?” Tanya wanita tua itu lagi.
“Saya dari ...” Jawabku sambil menyebutkan nama kota tempat tinggalku.
“Hmmm ... sepertinya Anak lelah ya? Mari masuk dulu” Dia menawariku masuk ke dalam rumah.
“Iya, terima kasih Bu”
Aku melepaskan sepatu lalu mengikuti langkah kaki wanita tua itu ke dalam.
“Silahkan duduk Nak”
“Terima kasih Bu”
Aku duduk di atas gelaran tikar di dalam ruangan yang berfungsi sebagai ruang tamu berukuran empat kali lima meter. Ini adalah rumah panggung yang semuanya terbuat dari kayu. Rumah panggung khas Melayu lama yang sering aku lihat ketika ada event-event kebudayaan.
Lantai rumah terbuat dari papan. Seluruh ruangan hanya di terangi oleh dua buah lentera kecil di kanan kiri dinding rumah.
Aku memperhatikan sekeliling sepertinya penghuni rumah adalah orang yang menjaga kebersihan. Tak banyak barang yang ku lihat di sini, hanya sebuah lemari kecil dari kayu dan sebuah kursi goyang terbuat dari anyaman rotan beserta meja kecil terletak di samping jendela yang telah tertutup.
“Ibu buatkan Anak minum dulu sebentar ya”
“Jangan repot-repot Bu, saya tidak apa-apa”
“Hanya air teh, sebentar saja”
“Iya Bu, sekali lagi terima kasih”
Wanita tua itu kemudian berjalan ke belakang kemudian kembali lagi membawa sebuah teko berisi air putih dan sebuah cangkir terbuat dari kaleng di atas sebuah nampan lalu meletakkannya di atas tikar.
Wanita tua itu kemudian duduk di depanku, masih menggunakan mukenanya.
“Silahkan di minum Nak” Ujarnya sembari menuangkan air putih ke dalam cangkir lalu menyodorkannya ke hadapanku.
“Terima kasih Bu” Aku meminum air putih yang di berikan.
“Ibu sendirian tinggal di sini” Aku memulai percakapanku.
“Biasanya ada cucu Ibu yang menemani, tapi malam ini Ibu tidak tau dia datang atau tidak”
“Sebelumnya saya minta maaf Bu, saya sampai lupa memperkenalkan diri, nama saya Aryo Bu” Saya mengulurkan kedua tangan terkatup kepada wanita tua itu.
“Saya Bu Nor”
Dia menyambut uluran tanganku dengan hanya menyentuhkan sedikit ujung jarinya yang juga terkatup dengan ujung jariku.
“Kalau boleh Ibu tau, hendak kemanakah tujuan Anak hingga bisa sampai ke tempat ini?”
__ADS_1
“Saya hendak menuju Kampung Munian Bu, kata orang-orang yang tadi siang Saya jumpai di jalan, mereka memberikan arahnya kesini, Ibu tau kampung itu?”
“Hmmm ... memangnya apa yang hendak Anak cari di kampung itu?”
“Tidak ada Bu, Saya hanya ingin liburan saja” Kataku membuat alasan.
“Ibu tau kah di mana letak kampung itu?” Sambungku lagi.
“Tau” Sambil dia mengeluarkan tangannya dari balik mukena kemudian menunjuk ke suatu arah.
“Jauh lagi kah Bu?” Mendadak aku bersemangat.
“Tidak jauh Nak, sebenarnya Anak pun sekarang sudah sampai”
ASSALAMMU'ALAIKUM
TOK TOK TOK
Sebuah suara dari luar terdengar mengucapkan salam sambil mengetuk pintu.
“Wa’alaikum salam” Bu Nur menjawab salam.
“Itu cucu Ibu, dia datang ternyata”
Bu Nor kemudian membukakan pintu.
Setelah pintu di buka, degg ... aku cukup terkejut melihat wajah seorang wanita muda yang teramat sangat cantik Berusia sekitar dua puluhan tahun mungkin, mengenakan baju kurung khas Melayu dengan selendang menutupi sebagian kepalanya.
Aku belum pernah melihat kecantikkan yang seperti itu sebelumnya.
Aku tertegun, terpana.
Tapi darimana dia datang? Seingatku tadi selain rumah ini yang ku lihat hanya pohon dan semak, tak ada rumah lain yang ku lihat. Mungkin memang perkampungan itu sudah dekat.
“Lame ko balek” Bu Nor bertanya kepada perempuan tersebut.
Mereka berbicara dengan menggunakan bahasa dan logat Melayu yang kental.
“Masok lah ko, ade tamu kite”
Perempuan itu melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah. Berdiri memandangiku sambil meraih ujung selendangnya menutupi separuh wajahnya.
Perempuan itu semakin cantik ku lihat.
“Siape?” Dia bertanya kepadaku.
“aisss….takde lah sopan ko nak betanye ke tamu kite macam tu” Bu Nor mungkin sedang mengingatkan cucunya.
Aku spontan respek dan hendak berdiri menyalami perempuan muda tersebut.
“Eehhh ... tak payahlah bediri, dudok ko Salmah, hormati tamu”
“Yee laa ... tapi Salmah nak ke belakang dulu, ini ade titipan dari Mak, itu pon Nenek nak marah”
Owh, namanya Salmah. Dia berjalan ke belakang sambil menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.
Aaiii ... Dia lucu, tipe cewek manja fikirku.
Tak lama dia kembali ke tempat kami duduk.
“Dudok, budak sekarang ni tak de lah jage marwah budi base menghormati tetamu” Bu Nor sepertinya sedang menasehati Salmah.
Salmah duduk dengan wajah cemberut.
“Abang sape?” Dia langsung bertanya kepadaku.
“Oang jahat ke?” Ucapnya lagi belum sempat ku jawab pertanyaannya yang pertama.
__ADS_1
“Ehh….ape pule ni Salmah, cakap yang elok-elok ke tamu”
Aku yang mendengarkan bingung.
“Maaf, nama Saya Aryo, Saya tak sengaja tadi datang kemari buat beristirahat setelah melakukan perjalanan panjang” Kataku sambil mengatupkan kedua tangan dan menyodorkannya ke depan Salmah.
Salmah kemudian mengatupkan kedua tangannya juga, menyodorkannya ke ujung jariku lalu dengan cepat menariknya kembali tanpa sempat menyentuhkan ujung jarinya.
Bu Nor hanya menggeleng melihat tingkah cucunya.
Tapi entah mengapa aku suka.
“Nak Aryo menginap saja di sini, Ibu akan menyiapkan tempat tidurmu sebentar”
Bu Nor lantas beranjak meninggalkan kami berdua di ruangan itu.
“Nama kamu Salmah?” Aku memulai percakapan.
“Iye” Jawabnya singkat.
Aku memandangi wajahnya. Dia memiringkan kepalanya membalas tatapan mataku.
“Sudah lama tinggal di sini?”
“Tak lah tinggal sini, nape?”
“Maksud Saya tinggal di kampung ini?”
“Sejak lahir pun sudah di sini”
Salmah sepertinya berusaha menyesuaikan logat bahasanya untuk sama denganku walau masih terdengar dialek khasnya. Tapi sekali lagi malah aku suka mendengar logatnya.
“Itu tadi Nenek kamu?” Aku bertanya kembali.
“Iye lah, Abangkan dah tau”
“Kamu tinggal di mana?”
“Rumah Mak ngan Abah lah”
“Emmm ... maksud saya rumah kamu di mana?”
“kenape? Abang mau tau? Abang orang jahat tak? Kalau tak, mainlah Abang ke rumah, nanti Salmah kenalkan ngan Mak ngan Abah” Dia bertanya, dia menjawab, dia menjelaskan.
“Kalau boleh”
“Boleh ape?”
“Main ke rumah”
“Dah pun di cakapkan”
Salmah menjawab semua pertanyaanku dengan sekenanya. Aku tak berhenti memandangi wajahnya. Dia tau, dia juga membalas pandanganku, sekali-sekali dia melihat ke arah pintu yang tadi di masuki Neneknya.
“Boleh saya tanya sesuatu?”
“Ape?”
“Apa nama kampung ini?”
“Kampung Munian” Jawabnya singkat.
Degg ... aku langsung teringat cerita Hartono tentang sebuah kampung berhantu. Bagaimana Dia menceritakan misteri-misteri yang ada di kampung tersebut.
Aku mengernyitkan dahiku. Apakah mungkin kampung ini yang Hartono maksud? Ataukah aku yang telah salah mengambil kesimpulan atas penelusuranku?
Dengan adanya Salmah di depanku, bagaimana mungkin Salmah bisa menjadi bagian dari hantu-hantu yang di ceritakan oleh Hartono? Gadis ini terlalu cantik untuk bisa menakut-nakuti. Atau Neneknya yang mengenakan mukena yang biasa di gunakan untuk sholat itu, tak mungkin dia adalah arwah atau hantu seperti yang ada dalam cerita Hartono. Tak mungkin.
__ADS_1
Bersambung…..