MISTERI DUA BABAK

MISTERI DUA BABAK
Bagian Lima


__ADS_3

Aku sudah beberapa hari di kampung ini, nyaris tak ada keanehan berarti yang ku temui, kecuali wanita-wanita penduduk kampung yang cantik dan berusia muda.


Atau tak ada aku melihat orang tua di sini kecuali Bu Nor. Aku juga tak pernah bertemu dengan penduduk prianya, kecuali yang pernah ku lihat dari kejauhan ketika beberapa orang mengenakan kopiah dan kain sarung berjalan hendak menunaikan sholat ketika suara adzan berkumandang sayup dan samar.


Aku menulis dalam catatan jurnalku.


Tetapi selain itu, ada yang cukup aneh bagiku setelah beberapa hari aku tinggal di kampung ini.


Setiap hari suasana di sini seperti mendung dan berkabut. Tak pernah matahari menampakkan sinarnya.


Suhu udara juga selalu dingin dan lembab.


Padahal saat aku kemari, aku ingat cuaca sedang musim panas. Apakah sekarang sedang musim pancaroba? Entahlah, aku juga tak tau.


Ada juga menurutku beberapa keanehan lainnya di kampung ini.


Setiap hari saat waktu sholat sayup-sayup aku juga selalu mendengar suara adzan, tapi aku tak tau dari arah mana suara adzan itu berasal karena suaranya datang memenuhi setiap arah.


Aku juga pernah melihat sekelompok orang memakai sarung dan kopiah, yang wanita mengenakan mukena, berjalan saat suara adzan berkumandang. Aku pernah beberapa kali secara diam-diam mengikuti mereka, tapi selalu saja kehilangan mereka di antara pepohonan kakao.


Aku pernah bertanya kepada Bu Nor perihal ini, Bu Nor mengatakan mereka adalah jamaah sholat.


Dia mengingatkan aku untuk tidak usah mengikuti mereka lagi, karena menurutnya mereka tidak akan senang jika tau di ikuti oleh orang lain.


Saat itu aku hanya mengangguk.


Bu Nor juga tak kalah anehnya, Dia sering aku lihat berbicara sendiri di halaman, terkadang juga di teras. Dia seperti tengah mengobrol dengan orang lain padahal saat itu tak ada siapa-siapa di sekitarnya. Aku hanya memperhatikan Bu Nor dengan segala keanehannya. Tapi terlepas dari itu semua, Beliau adalah seorang yang baik dan juga tuan rumah yang ramah. Dia juga yang sedikit memaksa memintaku untuk menjadi tamunya selama aku berada di tempat ini.


Selama di sini, menurut pengamatanku memang tak ada keganjilan yang berarti. Jika tak ada Salmah, mungkin aku tak akan betah berlama-lama di sini.


Dan juga yang membuatku betah di sini adalah, semua penduduk wanitanya muda-muda, juga cantik-cantik tiada tara. Aku menyukai pemandangan ini. Aku telah beberapa kali bertemu dengan mereka. Mereka juga ramah kepadaku.


......


Hari itu aku terlambat bangun, arlojiku mendadak mati, begitupun tanda jam di notebookku entah mengapa tak pernah berubah, sementara handphoneku sudah mati di malam pertama aku sampai. Pun semua batre cadangan semuanya tak ada yang bisa menyalakan Handphoneku.


Saat ini setelah di coba hanya tinggal notebook dan sebuah alat perekam suara yang masih berfungsi.


Hari itu kami hanya berdua dengan Bu Nor menyantap makanan yang telah tersedia, Salmah tak datang tadi malam.


Selepas makan dan membereskan perkakas, aku pamit kepada Bu Nor untuk menikmati udara segar di sekitar kebun kakao. Bu Nor mempersilahkan aku sambil mengingatkan agar menjaga adabku ketika sendirian dan berpesan agar aku pulang sebelum maghrib.

__ADS_1


Aku mengangguk dan segera meninggalkan rumah Bu Nor.


Aku berjalan sendirian ketika sampai di sebuah sungai kecil. Aku turun ke bawah sungai kecil itu dan merasakan airnya dengan tanganku.


Air sungai itu sangatlah jernih sehingga aku bisa melihat dasarnya yang berbatu dan berpasir.


Kemudian aku mencoba meminum air sungai itu.


"Ini sungguh menyegarkan" Bathinku.


Segera aku melepaskan pakaianku dan masuk ke dalam sungai kecil itu. Airnya sungguh menyegarkan ketika menyentuh kulit. Aku berendam sendirian di sungai itu sambil memainkan air dengan kedua tanganku hingga satu suara mengejutkan aku.


“Sendirian mandinya Bang?” Suara itu membuatku reflek kemudian berenang menjauhi sumber suara.


Ternyata suara itu adalah suara Limah yang beberapa hari lalu pernah berpapasan denganku saat aku bersama Salmah berjalan menuju rumah Salmah. Aku masih mengenalinya dengan baik.


“Ga mandi dengan Salmah Bang?” Limah bertanya lagi.


“Ehh..” Aku tergagap karena masih terkejut.


Limah duduk di atas batu memperhatikan aku.


“Maaf, saya tidak tau jika di sini ada orang” Kataku setelah aku terlepas dari keterkejutanku.


“Abang ... Limah boleh menemani Abang mandi? Limah belum mandi hari ini” Lanjutnya lagi membuatku semakin tergagap.


“Salmah tak akan marah kok” Sambungnya lagi.


Mendadak naluri kelakianku muncul untuk memanfaatkan kesempatan ini.


“Boleh saja” Kataku.


Limah bangkit sambil tersenyum, kemudian tanpa canggung dia melepas semua pakaian yang di kenakannya lalu melangkah perlahan masuk ke dalam air tanpa sehelai benang pun.


Aku menelan ludah melihat tubuh mulus Limah. Di suasana yang sepi begini, mandi di dalam sungai di temani perempuan yang cantik, sungguh tak pernah terbayangkan olehku sebelumnya.


Birahiku mulai terbakar.


“Kok diem aja Bang?” Limah mengagetkan lamunanku.


“Ehh ... enggak” Jawabku masih tergagap.

__ADS_1


“Abang tak apa kan Limah mandi telanjang sama Abang?”


“Iya ga papa, soalnya Abang telanjang juga kok” Aku mulai berani menggoda.


“Hihihii…” Limah hanya tertawa kemudian berenang ke kiri dan ke kanan memperlihatkan dada dan kakinya yang mulus, lalu berenang mendekati aku. Aku memandangnya dengan perasaan senang di iringi syahwat.


Limah menatapku sambil tersenyum, kemudian menyentuhku. Membelai bahuku dengan pungung jarinya, lenganku juga dadaku.


Dia sangat cantik. Limah mendekatkan wajahnya ke wajahku.


Dia membuka sedikit bibirnya kemudian memejamkan mata.


Wajahnya begitu sayu dan menggairahkan.


Aku mencium bibirnya. Limah membalas ciumanku dengan bernafsu.


Dia memelukku erat. Mendekap leherku dan mengapitkkan kedua kakinya di pinggangku.


Kami saling memeluk dan menyentuh di dalam air hingga berangsur ke tepian sungai dengan masih saling memagut bibir.


Hari itu kami melakukan sebuah perbuatan yang akan ku sesali nantinya.


“Ahhh….” Aku tergeletak ke samping tubuh Limah yang baru saja ku gauli.


Limah memandangku dengan tersenyum. Aku memejamkan mata sejenak melepaskan rasa penatku setelah cukup lama kami tadi saling bergumul memperturutkan birahi.


“Abang kini dah jadi milikku” Ucap Limah.


“Emm ... maksud Limah bagaimana?”


Limah bangkit, kemudian memiringkan kepalanya sambil tersenyum. Saat itu aku mendadak takut melihat diri Limah. Ada yang berubah darinya. Dia menyeringai menakutkan.


Wajah limah ku lihat semakin pucat dan perlahan memanjang, begitu juga dengan tubuhnya. Bola matanya menghilang dengan berubah menjadi putih semuanya.


Aku kaget dan langsung bangkit menjauhinya dalam keadaan masih telanjang.


“Li ... Li ... Liimaaahh….”


“Kau sekarang milikku, ih ... ih ...ih....” Kata Limah yang kemudian mendadak melayang-layang dengan wajah dan tubuhnya yang terus memanjang.


Seketika gelap. Aku lupa segalanya. Aku pingsan.

__ADS_1


Bersambung………………………..


__ADS_2