
Aku membuka mataku.
“Dimana aku?”
Ku dengar ramai suara orang seperti sedang berbicara. Tapi semuanya terasa samar yang ku dengar.
“Apa ini? Ahhh…”
Aku mencoba meronta, tapi aku tak bisa menggerakkan anggota badanku. Dan aku masih telanjang.
Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Ini adalah pemandangan paling mengerikan yang pernah ku alami sepanjang hidupku.
Di sekelilingku telah ramai makhluk-makhluk seperti Limah yang ku lihat di sungai tadi.
Saling melayang di atas tanah dengan tubuh serta wajah yang memanjang. Meliuk-liuk di udara.
“Manusia ini sekarang adalah milikku, hiiiiiiiii....”
Aku melihat Limah berbicara di atasku. Kakinya entah bagaimana bisa melilit tubuhku seperti ular.
“Manusia ini akan menjadi budakku, aku dan dia telah melakukan persetubuhan, hi ... hi ... hiii.......” Limah tertawa melengking.
“Tak boleh lagi ada yang menyentuhnya termasuk kau Salmah, dia sudah menjadi hakku, hi ... hi ... hiii…..” Limah menunjuk ke arah pepohonan kakao.
Aku benar-benar ketakutanku mendengar dan melihat apa yang ada di sekitaranku sekarang.
Mendadak satu sosok putih turun melayang dari atas rimbunan pohon kakao mendekatiku.
Itu adalah Salmah, aku masih mengenalinya walaupun tubuhnya sudah berubah memanjang dengan wajah pucat yang juga memanjang.
Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku.
“To-to-tolong a-aku Salmah…” Aku memohon kepada Salmah sambil menangis.
Salmah hanya menatapku dengan warna mata yang putih pucat, menggeram dengan nafas seperti tertahan, kemudian menggeleng lalu melayang menjauh ke arah rimbunan pohon kakao. Dia sangat marah sepertinya.
Riuh suara cekikikan saling bersahutan. Sementara aku pasrah dengan apa yang ku hadapi. Aku benar-benar tidak bisa menggerakkan badanku.
“Lepaskan dia Limah”
Mendadak sebuah suara menghentikan semua cekikikan tadi.
Limah memutarkan kepalanya melihat asal suara itu.
“Dia milikku Nek, hiiiiiii…..” Limah berkata sambil menyeringai.
Ternyata itu adalah Bu Nor yang datang.
“Tapi dia adalah masih tamuku” Kata Bu Nor menghardik.
“Tidak, tidak akan ku serahkan manusia ini kepada Nenek, kami telah melakukan persetubuhan, dan kami akan melakukannya lagi, Nenek tau aturan kami bukan?!!” Limah berkata sambil cekikikan, kepalanya berputar-putar.
“Kau juga tau adat kami Limah, di dunia manusia tamu harus di hormati dan di jaga, sebelum dia meminta izin untuk pergi atau sengaja berniat pergi, dia masih menjadi tamuku, kewajibanku untuk tetap menjaganya, sekarang lepaskan dia Limah”
“Hiiiiiiiiiiiiiii……..” Limah bersuara keras.
Makhluk-makhluk yang lain mengikut menyahuti dengan suara yang lebih keras dan riuh.
Aku semakin menangis ketakutan. Tubuhku menggetar keras.
Sejurus kemudian aku melihat beberapa sosok putih melayang mendekati Limah, aku tak tau siapa mereka. Mereka berbicara seperti sedang menasehati Limah.
__ADS_1
Limah menyeringai seperti tak senang.
“Baik Nek, tapi ingat, manusia ini akan tetap menjadi milikku hingga masa bertamunya selesai, ketika saat itu tiba, ku harap Nenek tidak lagi mencampuri apa yang menjadi urusan kami, hiiiiiii…………..” Kata Limah menatap tajam ke arah Bu Nor.
“Tidak mungkin manusia ini akan menjadi tamumu selamanya” Kata Limah lagi.
Limah terkekeh mengerikan. Tawanya seperti memenuhi seluruh alam.
Aku yang mendengarnya bergidik.
Limah melepaskan lilitan kakinya dari tubuhku dan melayang menjauh, di ikuti makhluk-makhluk lainnya.
Sekarang semuanya menjadi sepi. Suasana mendadak lengang.
Aku terkulai di tanah ketika Bu Nor mendekatiku.
“Pakai pakaianmu” Perintahnya sambil memberikan beberapa pakaian, Aku menurut.
“Mari kita pulang ke rumah”
Aku pun secepatnya mengikuti langkah kaki Bu Nor yang berjalan cepat di depanku dengan masih di liputi wajah ketakutan dan badan gemetar.
Apa yang baru saja terjadi fikirku? Kenapa semuanya berubah menyeramkan? Bayangan ketakutan semakin memelukku.
Sepanjang perjalanan kami hanya diam hingga tiba di rumah.
“Apa yang terjadi sebenarnya Bu?” Aku mencoba bertanya dengan masih ketakutan dan sedikit gemetar setelah sampai dan masuk ke dalam rumah.
Bu Nor menarik nafas panjang.
“Nak Aryo tidurlah dulu, Ibu takut ini akan memburuk, sebaiknya apapun yang terjadi Nak Aryo tetaplah di dalam rumah dulu” Kata Bu Nor.
Aku pun menuruti perkataan Bu Nor.
Aku menarik nafas panjang lalu meraih notebookku dan menuliskan yang baru saja aku alami.
Aku kembali teringat cerita Hartono, apakah sebenarnya ini adalah kampung yang telah di datangi oleh Hartono? Dan mereka semua telah berbohong kepadaku sejak awal? Otakku benar-benar bekerja keras.
Lama aku menulis hingga akhirnya aku tertidur dalam ketakutan dan kelelahan. Aku tersentak ketika aku mendengar seperti suara tangisan. Ternyata itu adalah suara Salmah.
Aku bergegas beranjak dari tidurku dan keluar dari kamar, aku sempat melihat Salmah, dia tidak seperti yang aku lihat di malam itu, dia masih sama seperti saat pertama kali aku melihatnya.
Aku mencoba menegurnya, Salmah membuang muka lalu pergi meninggalkan rumah Bu Nor.
Ada kekecewaan di wajahnya.
Ku lihat hari masih malam karena gelap masih menyelimuti, atau aku yang terlalu nyenyak hingga tertidur melewati siang? Aku sungguh tak tau.
“Duduklah Nak Aryo” Kata Bu Nor kepadaku setelah Salmah pergi.
“Sebentar Bu, saya ambil baju dulu” Jawabku. Saat itu aku memang tak mengenakan baju.
Setelah memakai baju, akupun berinisiatif mengambil Notebookku dan sebuah alat perekam suara, karena hanya kedua alat inilah yang masih berfungsi.
Aku keluar kamar lalu duduk di hadapan Bu Nor dan meletakkan notebook beserta alat perekam suara di hadapanku.
“Ibu akan memberitahukanmu tentang kebenarannya” Kata Bu Nor lagi.
“Nak Aryo merekam ini?” Tanya Bu Nor sambil memperhatikan tas yang berisi notebook dan juga alat perekam di atasnya.
“I-i-iya Bu, saya ingin menuliskannya nanti sebagai kenang-kenangan saya di sini. Bolehkan Bu?” Jawabku.
“Terserahlah, toh waktu Nak Aryo hanya sebentar lagi” Katanya dengan wajah datar.
__ADS_1
“Maksud Ibu?” Tanyaku gelisah.
“Sudahlah tak usah di fikirkan” Kata Bu Nor kepadaku.
Aku menarik nafas panjang, aku tau maksudnya.
“Ibu sudah lama tinggal di sini, dari semenjak suami Ibu meninggal hingga hari ini” Dia mulai bercerita.
“Kampung Munian bukanlah seperti kampung biasa Nak. Tak ada manusia yang tinggal di kampung ini kecuali Ibu”
“Ibu bukan seperti mereka?”
“Tentu saja tidak, Ibu sama seperti kamu, manusia juga, seharusnya kamu juga tidak bisa melihat mereka”
“Lantas siapa mereka Bu? Kenapa saya bisa melihat mereka?”
“Mereka adalah orang bunian, sebangsa jin, makhluk halus, terserah apalah sebutannya untuk mereka. Nak Aryo bisa melihat mereka karena salah satu dari mereka telah memilih kamu, dan kamu melihat mereka dalam gambaran seperti apa yang ingin kamu lihat”
Aku menyimak penjelasan yang di berikan Bu Nor.
“Apakah Limah yang telah memilihku Bu?” Aku bertanya seperti kehilangan daya. Tapi Bu Nor menggeleng pelan.
“Mereka semua makhluk halus Bu? Termasuk Salmah?” Lanjutku mengejar dengan pertanyaan.
“Iya, tentu saja, termasuk Salmah”
“Tapi bukan kah Salmah adalah cucu Ibu? Dia memanggil Ibu dengan sebutan nenek”
“Semua yang di kampung ini memanggilku dengan panggilan Nenek, tentu saja termasuk Salmah. Sejak awal sebenarnya Salmah telah bersamamu. Dia sudah mengikuti Nak Aryo semenjak dari hutan. Ketika Nak Aryo masuk ke rumah Ibu, saat itu Ibu juga tau jika Salmah ada di kolong rumah mendengarkan kita bicara. Dia lah yang telah memilih Nak Aryo. Sejak awal dia menyukai Nak Aryo, karena dia juga lah makanya kamu bisa melihat mereka semua. Tapi kini semuanya telah berubah, Nak Aryo telah melanggar sesuatu yang sangat pantang bagi kita terhadap mereka, dan Salmah sangat kecewa” Bu Nor menarik nafas sejenak.
“Kenapa kamu bisa begitu ceroboh hingga tergoda melakukan perbuatan itu dengan Limah? Sekarang, Limah tak akan melepaskanmu, dia akan membawamu ke dunia mereka, entah apa yang akan dia lakukan kepadamu di sana" Lanjutnya lagi.
Aku diam, menyesali segalanya.
“Setelah Nak Aryo di bawa kesana, Ibu bahkan tak tau apa sebenarnya yang ada di sana. Semenjak Nak Aryo tiba di sini, kamu ingatlah lagi, pernahkah Nak Aryo sekali saja melihat cahaya matahari? Tak pernah ada bukan? Itu di karenakan Nak Aryo sebenarnya sedang berada di sebahagian sisi dunia mereka, dunia persilangan antara kita dengan mereka. Ibu bahkan tak pernah tau bagaimana keadaan alam mereka sebenarnya, jika di sisi dunia mereka saja yang seperti Nak Aryo tau dan rasakan selalu gelap, mungkin alam mereka yang sebenarnya, sesungguhnya lebih gelap dari yang pernah kita bayangkan” Bu Nor menjelaskan dengan tatapan menerawang jauh.
“Sejujurnya saat ini tak ada yang bisa menghalangi Limah untuk membawa Nak Aryo bersamanya, tidak juga Salmah atau siapapun, karena begitulah peraturan yang berlaku bagi kaum mereka. Semuanya sekarang tau bahwa Nak Aryo sudah menjadi milik Limah, batasan yang sementara ini masih menghalangi adalah keberadaanmu sebagai tamu Ibu. Mereka tak akan memaksa masuk ke dalam rumah jika tak di izinkan oleh pemilik rumah, karena sama seperti kita sebagai manusia, mereka juga memiliki aturan-aturan yang harus di jalani. Selama Nak Aryo masih di dalam rumah dan menjadi tamu Ibu, Ibu rasa Nak Aryo akan baik-baik saja” Sambung Bu Nor menjelaskan.
“Mereka juga sebenarnya tak mau sembarangan berinteraksi dengan manusia kecuali dalam keadaan khusus. Nak Aryo lihat, di sekitar sini banyak terdapat pohon kakao dan kelapa bukan? Sebenarnya kebun-kebun kakao dan kelapa itu adalah milik orang-orang yang tinggal tak jauh juga dari sini”
“Mereka manusia Bu?” Aku menyela keterangan Bu Nor.
“Iya, tentu saja mereka manusia sama seperti kita, mereka yang menanam semua tanaman -tanaman itu” Jawab Bu Nor.
“Setiap hari juga mereka kemari mengambil kakao dan kelapa, terkadang juga mampir kemari buat ngobrol, itulah kenapa sebabnya terkadang Nak Aryo seperti melihat lbu sedang bicara sendiri. Sebenarnya Ibu sedang bicara dengan manusia lainnya, tapi karena Nak Aryo sedang tersembunyikan, kamu tak bisa melihat manusia yang lain kecuali Ibu, pun mereka juga tak bisa melihat Nak Aryo, malah saat kamu tersembunyikan itu, kamu hanya akan bisa melihat kaum mereka saja” Bu Nor mengambil jeda sejenak, kemudian melanjutkan.
“Setau Ibu orang-orang bunian itu juga sama seperti kita, memiliki kelompok masyarakat juga, memiiliki adat istiadat serta aturan yang seharusnya tak boleh di langgar, tapi sama seperti kita juga, beberapa dari mereka terkadang juga tak taat aturan, mengabaikan adat istiadat mereka sendiri, sebagian mereka baik seperti Salmah, sebagiannya lagi berkelakuan buruk, ada juga yang taat beragama seperti rajin mengerjakan sholat, tapi ada juga yang berkelakuan jahat seperti Limah contohnya”
Aku terus menyimak penjelasan yang di berikan.
“Di seberang kebun kelapa itu ada perkampungan manusia, mereka yang mengambil kelapa kebanyakkan tak pernah mengalami kejadian yang aneh-aneh, selama masing-masing menjaga adabnya sendiri”
Aku mengangguk mendengarkan. Saat itu sebenarnya aku sudah pasrah. Aku tau tak akan mungkin selamanya aku akan menjadi tamu bagi Bu Nor.
Kami berdua sama-sama diam ketika tak lama kemudian mendadak ada suara riuh memanggil-manggil nama Bu Nor untuk keluar.
“Itu si Limah datang” Kata Bu Nor menarik nafas panjang kemudian bangkit dan melangkah keluar.
Kembali bayangan kengerian serta ketakutan memelukku erat. Saat ini aku hanya bisa pasrah menunggu.
Suara riuh kikikan di luar semakin membuatku gelisah tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.
Bersambung…………..
__ADS_1