MISTERI DUA BABAK

MISTERI DUA BABAK
Bagian Tiga


__ADS_3

Aku memandangi Salmah dengan pandangan menyelidik, sepertinya dia risih sehingga tangannya kemudian mengambil ujung kain selendangnya yang menjuntai di tikar untuk di tutupkan ke separuh wajahnya.


“Sudah siap Nak, jika Nak Aryo ingin istirahat silahkan masuk ke dalam”


Bu Nor datang kepada kami dan membuyarkan selidikanku.


“Iya Bu, terima kasih” Aku menjawab sambil menganggukkan kepala.


“Atau Nak Aryo lapar? Mau makan dulu?” Tanya Bu Nor.


“Ape yang ko bawe tadi tu Salmah?”


“Tak tau. Mak yang kasih, Mak yang buat”


“Makanan tak?”


“Iye lah, Nenek ni dah garu cendane pule”


“Issss…budak kocik sekarang ni, nak di tanye pun payah betul jawabnye”


“Tak apa Bu, Ini Saya ada bawa sedikit makanan sendiri”


Aku bergegas mengeluarkan bekalku dari dalam tas.


“Tak boleh, pantang tamu membuahkan makanan sendiri, simpanlah lagi”


“Tak apa-apa Bu?”


“Tak boleh”


“Salmah bawe sini kejap makanan tu”


Salmah berdiri lalu berjalan ke belakang untuk mengambil makanan yang dia bawa tadi.


Sementara aku memasukkan bekalku kembali ke dalam tas.


Salmah meletakkan sebuah bungkusan dari daun lalu membukanya. Sepertinya ubi jalar yang di rebus dengan parutan kelapa di atasnya.


“Makan lah Nak, selepas itu istirahat”


“Terima kasih Bu”


Salmah mengoyakkan selembar daun kemudian mengambilkan beberapa potong makanan itu dan memberikannya kepadaku.


Saat memberikan itu dia tersenyum. Duh, senyumnya manis sekali.


Aku kemudian memakan makanan itu sambil sesekali memandangi wajah Salmah.


Aku baru beberapa saat bertemu dengannya, tapi sepertinya ada sesuatu dalam hatiku.


Selepas makan, Salmah kemudian membersihkan sisa-sisa makanan yang ada di tikar.


Walau sebenarnya aku masih ingin mengobrol dengan Salmah, tapi aku harus tau diri, ini sudah larut, maka aku pun meminta izin untuk beristirahat di kamar yang tadi sudah di persiapkan oleh Bu Nor.


Mereka pun mempersilahkan aku untuk beristirahat.


Aku memasuki sebuah kamar berukuran tiga kali tiga meter. Ruangannya bersih dan rapi, tak ada apa-apa di dalam kamar itu, hanya sebuah tikar yang terbuat dari anyaman daun pandan.


Aku meletakkan tasku ke lantai, kemudian mengeluarkan notebook lalu menuliskan pengalamanku hari ini.

__ADS_1


Lama aku mengetik hingga akhirnya kantuk menyerangku. Aku merebahkan badan di atas tikar dengan berbantalkan jaket yang ku gulung. Samar-samar aku masih bisa mendengar Salmah dan Bu Nor berbincang di teras rumah. Mereka berbicara menggunakan bahasa Melayu kental yang sebagian besarnya tak ku fahami.


Tak lama kemudian aku tertidur. Malam itu tidurku kurasakan teramat sangat nyenyak, mungkin karena setelah melakukan perjalanan panjang.


Aku terbangun ketika kurasakan seseorang memegang dan menggoyang-goyangkan kakiku.


Aku membuka mata perlahan, kemudian memicingkan mata melihat sekitar.


Ku lihat ada Salmah di sana.


“Bangun bang, jangan tidur je”


“Iya, maaf, jam berapa sekarang?”


Aku duduk dan merenggangkan otot-ototku.


Salmah bangkit, membuka jendela, lalu keluar dari kamar tanpa menjawab pertanyaanku.


Aku bangkit menuju jendela, memandang keluar jendela.


Suasana di luar teduh seperti mendung. Aku melihat arlojiku, ahh ... ternyata arlojiku mati.


Aku bergegas keluar dari kamar, berjalan ke ruang depan, tidak ada siapa-siapa di sana.


Dari jendela rumah aku bisa melihat Bu Nor sedang menyapu di halaman samping. Aku pun bergegas turun dan menemuinya.


“Pagi Bu…” Aku menyapa Bu Nor.


“Pagi juga Nak Aryo, dah bangun ke” Bu Nor membalas sapaku sambil tersenyum.


“Iya Bu, tadi Salmah yang bangunkan, kemana Salmah Bu?” Aku bertanya karena tak ku lihat keberadaan Salmah.


“Nak Aryo mandi lah dulu, lepas tu kita sarapan”


“Baik Bu”


Aku berjalan kearah belakang rumah panggung tersebut. Di sana aku melihat sebuah bilik terbuat dari papan dan anyaman daun kelapa yang berfungsi sebagai kamar mandi. Terpisah dari rumah induk.


Aku mendekati perlahan kamar mandi itu, aku bisa mendengar Salmah berada di dalam kamar mandi tersebut karena bisa ku dengar suara Salmah bersenandung sebuah lagu yang belum pernah ku dengar sebelumnya.


Aku berdiri mematung di depan pintu kamar mandi tersebut ketika tak lama Salmah keluar.


Dia baru selesai mandi, sudah mengenakan baju kurung dengan kain melilit di kepalanya.


Sungguh dia terlihat sangat cantik sekali.


“Aihh ... ape abang buat kat sini?” Salmah sedikit terkejut dengan keberadaanku.


“Maaf, Abang tadi Cuma mau mandi tapi ternyata Salmah ada di dalam” Jawabku gugup.


“Abang nak tengok Salmah ke?”


“Tak dee laaa” Entah kenapa malah aku menirukan logat bahasa Salmah.


“Buat yang elok-elok je kat sini bang, payah nanti soalannye” Kata Salmah lagi sepertinya mengingatkanku.


“Iya, maafkan Abang ya”


“Dahlah kalo Abang Nak mandi, Salmah nak buat makan”

__ADS_1


“Iya Salmah yang cantiikk...” Aku menggodanya kemudian berjalan masuk ke kamar mandi.


Selesai mandi dan berpakaian aku kembali ke dalam rumah karena Bu Nor dan Salmah sudah menungguku di dalam.


Kami makan seperti tadi malam, di atas gelaran tikar di ruangan yang sama.


Sambil makan aku teringat tujuanku kemari, kemudian membuka percakapan.


“Maaf Bu, boleh saya bertanya?”


“Makanlah dulu, ngobrolnya nanti saja selepas makan, tak elok makan sambil becakap” Jawab Bu Nor.


Aku diam, aku harus menghormati kebiasaan tuan rumah.


Selesai makan, Salmah bergegas membereskan semuanya dan membawa sisa makanan dan piring kotor ke belakang.


“Apa yang Nak Aryo hendak tanyakan tadi?” Tanya Bu Nor kepadaku.


Aku cukup bimbang memulainya.


“Emmm ... sebelum ini, atau Ibu pernah gak mendengar seorang laki-laki yang datang ke sini?”


Bu Nor memandangku.


“Banyak lah yang datang, kenapa rupanya?”


“Maksud saya apakah Ibu pernah mendengar laki-laki bernama Hartono datang ke kampung sini?”


“Hmmm ... sepertinya tidak pernah dengar”


“Hartono pernah bercerita kepada saya soal sebuah kampung, saya rasa kampung yang di maksud Hartono adalah Kampung Munian ini” Aku berbohong untuk mendapat sebuah keterangan.


“Tak ada yang bernama Hartono pernah datang kemari, kalaupun ada pasti Ibu akan mendengarnya, tidak ada yang merahasiakan apapun kepada Ibu di kampung ini Nak”


Aku mengangguk ketika Salmah datang kepada kami.


“Dah siap semuanye, Salmah nak balek dulu Nek”


“ye laa, ko balek sampaikan salam nenek ngan Mak ko Salmah”


“Iye”


“Boleh saya ikut ke rumah Salmah?”


“Nak buat ape?”


“Tak ada, cuma ingin jalan-jalan aja”


“Ye laa..”


“Boleh Bu?” Aku meminta persetujuan kepada tuan rumah.


“Iya, tak apa-apa, pergilah”


“Terima kasih Bu”


Sebelum berangkat, aku menyempatkan mengambil notebook dan alat perekamku. Sepertinya aku akan menuliskan kisahku sendiri.


Bersambung…………….

__ADS_1


__ADS_2