MISTERI DUA BABAK

MISTERI DUA BABAK
Bagian Empat


__ADS_3

Aku begitu bersemangat berjalan bersama Salmah. Kami melewati pepohonan kakao yang cukup teratur di tanam di sisi kiri kanan jalan kami. Cuaca hari ini mendung dan berkabut, matahari tak menampakkan sinarnya.


“Jauh lagi rumah kamu?”


“Tak, dah dekat”


“Salmah, boleh ga abang Tanya sesuatu?”


“Ape?”


“Salmah pernah dengar ga seseorang yang pernah datang kemari?”


“Sape?”


“Seorang laki-laki, namanya Hartono”


“Tak”


“Serius Salmah tak pernah dengar?”


“Abang tak pecaye Salmah ke? Abang sangke Salmah bohong ye?” Salmah berhenti berjalan sambil menatapku. Sepertinya dia tersinggung. Aku merasa tak enak hati jadinya.


“Bukan begitu Salmah, Abang cuma mau memastikan saja”


“Tak de pun Salmah pernah dengar ada Hartono datang kat sini, kalo ade tentulah Salmah dengar”


“Iya iya, Abang percaya”


"Nape ngan die bang? Siape? Hartono ye?"


"Tidak apa-apa kok. Hartono tu teman abang, cuma penasaran aja sudah lama tak jumpa dia"


"Owh, ye laa tuu"


Salmah melanjutkan langkahnya. Aku mengikuti di belakang sambil memperhatikan lenggok jalannya.


Di perjalanan kami berpapasan dengan beberapa orang wanita. Dan sungguh luar biasa, aku melihat semuanya sangat cantik. Bahkan semuanya seumuran sama seperti Salmah, mereka memakai baju kurung khas Melayu dengan selendang di kepala.


“Balek ko Salmah?” Tanya salah seorang dari mereka.


“Iye, nak mane ko Limah?” Jawab Salmah kepada yang bertanya.


“Nak ambek buah, mahu ikot ko?”


“Tak nak lah, nak pulang je” Kata Salmah lagi.


“Elok betul lakik yang ko bawe ni Salmah, mane ko dapat? Bagilah kami sorang” Kata perempuan yang di panggil Limah tadi oleh Salmah sambil tertawa cekikikan, teman-temannya juga ikut tertawa.


Aku tau yang di maksud adalah aku. Aku cukup faham bahasa mereka kali ini.


“Tak payahlah ko nak kacau Limah, dah lah balek dulu ye”


Salmah pun bergegas meninggalkan mereka, aku tetap mengikuti di belakang.


Para perempuan itu sepertinya masih di tempat dan cekikikan menceritakan aku.


Tapi sungguh aku melihat paras mereka sangatlah cantik-cantik. Aku menganggap kampung ini sungguh luar biasa. Ini pasti bukanlah kampung yang Hartono maksud. Penelusuranku ternyata telah salah.


Setelah melewati perkebunan kakao sekarang kami sampai ke sebuah perkampungan tradisional.


Semua rumah di sini sama seperti rumah Bu Nor. Rumah panggung terbuat dari papan dan kayu.


Tak terlihat orang di luar, sangat sepi.


“Kemana semua orang Salmah?” Kataku mencoba mencari jawaban rasa penasaranku.

__ADS_1


“Dalam rumah, atau sebagian lagi kat kebun ambek buah seperti si Limah tadi” Jawab Salmah.


Aku hanya mengangguk.


“Dah sampai, ini rumah Salmah”


Kami tiba di sebuah rumah panggung lainnya. Aku mengikuti Salmah menaiki anak tangga hingga sampai di teras rumah. Salmah kemudian membuka pintu.


“Mak..” Salmah memanggil.


Tapi tak ada sahutan.


“Mungkin Mak ngan Abah pigi kat kebun” Kata Salmah kepadaku.


“Abang nak masok?”


“Iya terima kasih”


Aku berjalan di belakang mengikuti Salmah.


“Dudok lah” Salmah mempersilahkanku.


Aku duduk di sebuah kursi kayu.


“Salmah nak ambek minom kejap, Abang tunggu lah sini”


“Tak usah repot-repot Salmah”


“Tak payah pun”


Salmah bergegas kebelakang. Tak lama dia kembali lagi dengan membawa air putih dan memberikannya kepadaku.


“Terima kasih” Kataku setelah menerima air putih yang di berikan Salmah.


“Abang dah tau rumah Salmah kan, balek lah” Kata Salmah.


“ape judes?”Tanyanya. Sepertinya dia tak faham.


“Galak, garang” Jawabku menjelaskan.


“Oooo ... tah cakap dari mane punn”


Aku tersenyum gemas.


“Salmah, kamu sudah punya pacar?” Entah mengapa aku bertanya seperti itu.


“Tak”


"Masak sih?"


"Iye, buat apa Salmah nak bohong?"


“Kalo jadi pacar Abang aja mau?” Entahlah, aku mulai menggodanya.


Salmah memandangku.


“Nanti Abang yang tak nak kawin ngan Salmah”


Waw ... mendengar Salmah bicara seperti itu, kegenitanku sebagai laki-laki bangkit.


“Kenapa pula Abang tak mau kawin dengan Salmah?”


“Abang kan bukan orang sini, orang dari luar tak de lah yang mau tinggal di kampung ni”


“Kalau Abang mau gimana?”

__ADS_1


“Abang tak kan nak”


“Issss ... mau lah Abang kawin sama Salmah”


“Taak…”


Aku memandangi wajahnya, dia sepertinya tersipu malu.


“Ape Abang tengok Salmah cem tu?”


“Tak, Abang tengok Salmah cantik sangat, Abang suka lah”


“Nanti abang menyesal”


“Kenapa harus menyesal misalnya memang Abang beneran kawin dengan Salmah?”


Salmah semakin tersipu, wajahnya memerah, kontras dengan kulitnya yang sangat putih.


“Mak dah pulang” Kata Salmah.


Aku melihat seorang perempuan berjalan memasuki halaman rumah.


Kemudian Salmah menarik tanganku mengajak keluar. Aku cukup terkejut ketika Salmah menarik tanganku.


“Mak…” Kata sSalmah dari serambi atas rumahnya.


“Dah pulang ko” Kata wanita itu.


“Sape yang ko bawa tu Salmah?” Tanya wanita itu melihat ke arahku.


Salmah mengajakku turun ke bawah. Aku mengikuti.


“Ini Bang Aryo Mak, tamu Nek Nor” Kata Salmah memperkenalkan aku dengan Ibunya.


“Ooo…” Wanita itu merapikan selendangnya.


“Saya Aryo Bu” Aku memperkenalkan diri sambil mengatupkan kedua telapak tanganku. Ibu Salmah pun kemudian mengatupkan kedua tangannya dan mengulurkan ujung jarinya. Aku menyambutnya.


“Sudah kalian makan?”


“Dah tadi di rumah nenek”


“Ini Mak ada bawa makanan, mari temani Mak makan”


Salmah dan Ibunya berjalan naik ke atas rumah, aku pun mengikuti mereka.


Aku sungguh takjub melihat perempuan-perempuan di kampung ini. Bahkan aku sebenarnya tidak percaya jika perempuan yang di panggil "Mak" oleh Salmah itu adalah ibunya. Dia tidak terlihat berbeda dengan Salmah. Menurutku wanita itu masih seumuran dengan Salmah. Bagaimana mungkin dia bisa menjadi ibunya?


Selesai makan makanan yang di bawa oleh ibu Salmah, kami berbincang-bincang ringan.


Salmah kali ini malah banyak menggodaku. Mungkin karena dia merasa ada ibunya sekarang sehingga dia merasa nyaman.


Aku yang di goda Salmah sebenarnya sangat suka, ingin rasanya aku membalas godaannya itu, tapi aku harus menghormati ibu Salmah.


Salah satu setelah percakapan kami itu yang masih terngiang di kepalaku adalah ucapan ibu Salmah yang berkata “ ... dah lepaskan dia Salmah, kasihan”


Aku tak tau apa maksudnya. Saat itu aku berfikir mungkin maksudnya jangan terus menggoda aku. Tapi aku tak tau pasti.


Setelah itu Salmah mengantarku kembali ke rumah Bu Nor. Dalam perjalanan pulang itu kami berpapasan kembali dengan Limah yang baru pulang dari kebun sambil membawa beberapa buah kakao.


Limah menegur kami, Salmah sepertinya tak senang dengan sikap Limah.


Salmah berjalan di depanku sedang aku di belakangnya. Saat aku berselisihan jalan dengan Limah, dia menyentuh lenganku dengan jarinya sambil tersenyum, aku pun membalas senyumnya.


“Heii ... dia genit” Begitu kataku dalam hati.

__ADS_1


Bersambung………


__ADS_2