Mitos Kembang Mayang

Mitos Kembang Mayang
Bab 13 Tidak Bisa mengontrol emosi


__ADS_3

Maudy sudah rapi dengan seragam khusus, hari ini adalah hari pertama Ia kembali mengajar setelah Ia mengambil cuti menikah. Maudy merasa senang, karena ini adalah cita-citanya dari dulu.


Maudy memandang suaminya yang masih betah di bawah selimut, Ia bingung harus membangunkan atau meninggalkan nya sendiri saja.


Karena mengingat tempat Ia mengajar cukup jauh jadi Ia putuskan untuk pergi lebih awal, namun sebelum pergi Ia menyiapkan keperluan sang suami beserta sepucuk kertas di atasnya.


Maudy berpamitan pada Ibu mertuanya sebelum pergi, tanpa Ia sadari semua yang Ia lakukan telah membuat seseorang semakin memendam kebencian padanya.


" Eh pagi-pagi main pergi saja, suami mu bahkan belum bangun. Apa kamu sudah menyiapkan semua keperluan nya, main keluyuran saja. "


Maudy menghentikan langkahnya dan menatap Mawar, salah satu penghuni rumah yang seperti nya selalu membuat masalah dengan nya.


" Maaf Mawar, aku keluar bukan untuk keluyuran apalagi melakukan hal yang tidak penting. Aku bekerja dan mengenai hal itu aku juga sudah minta ijin pada Mas Gibran, kalau masalah tanggung jawab, aku rasa tidak perlu di pertanyakan lagi. InsyaAllah aku tidak akan menyia-nyiakan suami ku apalagi membuatnya melakukan semua pekerjaannya sendiri karena semuanya keperluan nya sudah aku siapkan, hanya saja aku tidak bisa menunggunya karena takut terlambat. "


Perkataan Maudy membuat Mawar terdiam, tadinya Ia sudah senang karena mengira bisa membuat Maudy malu di depan Ibu mertua mereka namun ternyata malah dirinya yang mendapat malu. Apalagi Ibu mertuanya justru lebih mendukung Maudy.


" Kamu menyindir ku ya. "


Maudy tersenyum walau terpaksa, Ia sama sekali tidak ada niat untuk menyinggung siapa pun apalagi membuat masalah di pagi hari seperti ini.


" Sudah, sudah. Maudy, jangan dengarkan Mawar. Bukankah kamu harus berangkat cepat sebelum terlambat. "


Maudy mengangguk dan sebelum berangkat Ia terlebih dulu meminta maaf pada Ibu mertuanya karena sudah membuat suasana tidak nyaman di pagi hari.


" Untuk kamu Mawar, bisa tidak sekali saja kamu tidak membuat keributan. Apa kamu juga sudah menyiapkan semua kebutuhan suami mu, kalau belum lebih baik kamu segera menyiapkannya. "


Mawar terkejut mendengar ucapan Ibu mertuanya, dalam hati kecilnya Ia tidak bisa menerima semuanya.


" Bunda, aku bukannya mau membuat keributan hanya saja dia yang selalu membuat aku seperti ini. Coba Ibu pikir, perempuan mana pagi-pagi begini sudah keluar rumah, lagipula bekerja itu alasannya saja. Mungkin saja di luar Ia ingin bertemu seseorang. "


Bu Ayu ingin marah namun tidak jadi karena melihat Putra keduanya yang datang menghampiri mereka.


" Mawar, berhenti mengatakan hal yang aneh- aneh dan cepat selesaikan sarapan mu. "

__ADS_1


Bayu melihat piring istrinya yang isinya masih separuh, tidak biasanya keluarga mereka berdebat di meja makan.


Tidak lama kemudian Gibran pun turun, suasana kembali mencekam karena aura dari kedua wajah kulkas itu.


Setelah sarapan baru terdengar suara masing-masing, mereka berpamitan seperti biasanya dan Bu Ayu selalu mendoakan yang terbaik untuk anak-anaknya agar semua urusan mereka di lancarkan.


Nadia merasa senang ketika melihat sahabatnya kembali bekerja, Ia dengan sikap jahilnya langsung menjahili sahabatnya.


         " Ada apa Nad, kok senyum-senyum nggak jelas gitu. "


Maudy merasa aneh melihat tingkah sahabatnya yang sejak tadi memperhatikan dirinya sambil senyum- senyum.


         " Gimana rasanya jadi pengantin baru, maksud ku kalian ngapain saja, apa dia hebat. "


Nadia terkejut karena Maudy mengetuk kepalanya menggunakan pulpen yang ada di tangannya.


        " Ngapain, hebat, apa maksud mu. Jangan berpikiran aneh- aneh Nadia. "


        " Ish, aku kan kepo Maudy. " Ucap Nadi sambil mengelus jidatnya sendiri.


         " Eh Maudy, tunggu aku dong, kamu mau kemana. "


" Hm Nadia, ini sudah masuk jam pelajaran, Ayo, buruan. "


Maudy geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya sendiri. Sama halnya dengan Maudy, Gibran juga di goda oleh sahabat-sahabatnya. Mereka juga menanyakan bagaimana malam pertama dari Pria yang terkesan dingin itu.


         " Bagaimana malam pertamanya Bro, apa langsung gol. "Tanya Rayyan


Denis menahan senyum karena Ia tau bagaimana cerita malam pertama saudara sepupunya itu.


" Denis, ngapain senyum-senyum begitu. Apa jangan- jangan kamu tau soal sahabat kita ini, apa jangan- jangan dia kabur, benar kan. "


Rayyan mendesak Denis agar menceritakan tentang sahabatnya itu.

__ADS_1


" Wah, jangan-jangan benar Gib, kamu kabur di malam pertama. Wah parah kamu Gib, coba kalau aku nggak bakalan kabur, langsung sikat habis, apalagi aku lihat istrimu itu sangat cantik. Wajahnya itu loh Gib, nggak bikin kita bosan lihatnya. "



Brakkkkk !!!!


Semua yang ada disana terkejut karena tiba-tiba Gibran menggebrak meja dengan begitu keras, Denis menatap Rayyan karena semua ini adalah ulahnya.


" Santai Bro, kenapa harus marah seperti itu. Tapi kalau kamu tidak mau, aku mau kok menggantikan mu. "


Gibran tiba-tiba berdiri dan menarik kerah baju Rayyan, hampir saja terjadi perkelahian di antara keduanya namun Denis dengan cepat melerai mereka.


" Cukup Gibran, Denis sebaiknya kamu pulang sekarang. "


Denis sedikit memohon sambil mencoba menahan tubuh Gibran yang di selimuti amarah. Lagi-lagi dinding ruangannya menjadi sasaran kemarahan nya, Denis dengan sigap menahannya agar tidak semakin melukai dirinya sendiri.


" Gibran, ada apa dengan mu, tenangkan dirimu, kenapa harus marah-marah seperti ini. "


Denis membimbing Gibran untuk duduk di sofa, Ia mengambil botol minuman dan juga kotak P3K untuk mengobati luka Gibran.


" Berikan tangan mu. "


Denis mengobati tangan Gibran dan membalut nya, Ia merasa heran pada saudaranya itu, mengapa sampai semarah itu.


" Biar aku saja, sebaiknya kamu pergi, biarkan aku sendiri. "


Denis pun mengangguk dan berlalu keluar, mungkin memang saudaranya itu butuh waktu untuk menyendiri.


Gibran memandangi tangannya yang sudah di balut perban, Ia mengingat semua yang terjadi beberapa menit yang lalu. Ia juga merasa heran, mengapa Ia harus sampai semarah itu. Padahal Ia tau kalau sahabatnya itu hanya mengajaknya bercanda, karena Rayyan memang dari dulu mempunyai sifat seperti itu.


Gibran mengeluarkan ponselnya, mencoba mencari sesuatu disana namun akhirnya Ia menyadari satu hal. Bagaimana Ia bisa mengetahui kabar seseorang, kalau mereka saja bahkan belum bertukar nomor telpon.


Entah mengapa Gibran menjadi sangat emosian, Ia tidak bisa mengontrol kemarahan nya sendiri. Rasanya ingin marah setelah semua yang yang Ia inginkan tidak sesuai dengan harapannya. Setelah insiden tadi Gibran merasa tidak tenang, bekerja pun sulit dirinya untuk fokus. Pikiran nya bercabang-cabang, akhirnya Ia memutuskan untuk meninggalkan ruangannya.

__ADS_1


Gibran mengemudi entah kemana, tidak ada tujuan yang jelas, tidak ada niatan juga untuk pulang kerumah.


__ADS_2