Mitos Kembang Mayang

Mitos Kembang Mayang
Bab 8 Kabur di malam pertama


__ADS_3

......................


Denis merasa heran ketika mendengar bunyi bel rumahnya, sangat jarang ada yang bertamu ke apartemen miliknya itu. Namun karena bel terus berbunyi akhirnya Ia pun berdiri untuk membuka pintu.


Keheranannya semakin bertambah ketika melihat siapa yang berdiri di depan pintu dengan wajah dingin.


" Apa aku terus di biarkan berdiri disini saja tanpa di persilahkan masuk. "


Denis masih dengan rasa heran lalu mempersilakan sepupunya itu untuk masuk, Gibran langsung menghempaskan bokongnya di sofa. Ia bersandar disana dan memijat pelipisnya yang terasa sakit.


" Ini minumlah. "


Denis memberikan satu botol minuman yang baru Ia ambil dari dalam lemari pendingin. Gibran menerimanya dan meminumnya sampai hampir tak bersisa. Denis masih menatap saudara sepupunya itu dengan tatapan bingung, bukan tanpa alasan.


" Denis, apa aku boleh menginap malam ini disini. " Tanya Gibran.


Mendengar ucapan Gibran, Denis semakin dibuat bingung.


" Kenapa, apa kamu tidak ingin aku disini. Denis, kita ini masih saudaraan dan saat ini aku benar-benar ingin istrahat disini. "


Denis masih terdiam, rasa bingungnya masih belum hilang juga dari pikirannya.


" Ya sudah kalau tidak bisa, aku akan menginap di hotel saja, maaf sudah mengganggu mu. "


Denis langsung menahan saudaranya itu sebelum pergi, melihat kondisinya yang sedang kacau Ia tidak mungkin akan tega membiarkan nya berkeliaran di luar.


" Gibran, tunggu. Kamarnya di atas, kamu bisa istrahat disana. "


Gibran yang seperti orang linglung mengangguk dan naik ke lantai dua, Denis pun mengikutinya sampai ke dalam kamar.


" Ada apalagi Denis, keluarlah. Aku lelah dan ingin istrahat. "


" Gibran, apa ada masalah. Bukan apa-apa sih, tapi kamu baru saja menikah. Seharusnya malam ini adalah malam pertama kalian, kamu malah menyia- nyiakan malam berharga ini. Malam yang selalu di nantikan setiap pasangan yang baru menikah. "


Gibran menarik selimutnya dan menutup seluruh bagian tubuhnya bahkan sampai kepalanya, hal itu membuat Denis geleng-geleng kepala.

__ADS_1


Di tempat berbeda


Ayu prameswari yang tak lain adalah Ibunda dari Gibran tidak bisa tidur, itu di karenakan putra sulungnya belum kembali juga padahal ini sudah larut malam. Beliau merasa tak enak hati pada menantunya yang di tinggal suaminya bahkan di malam pertama mereka.


Maudy yang melihat ada cahaya di luar perlahan keluar dari kamar dan melihat Ibu mertuanya mondar mandir bak setrikaan. Karena melihat mertuanya seperti gelisah akhirnya Maudy memberanikan diri menemuinya.


" Bunda, ada apa kok Bunda ada disini sendiri. "


Bu Ayu sedikit terkejut dan sontak menoleh ke asal suara, beliau semakin merasa bersalah ketika melihat kehadiran Maudy disana.


" Ah Nak, kamu belum tidur juga. "


Maudy mengangguk pelan, Ia memang belum mengantuk. Sejak tadi Ia memikirkan sikap Rizky yang mampu mengendalikan diri dan terlihat biasa-biasa saja saat berdiri di hadapannya. Padahal dirinya saja tidak sekuat itu, Ia ingin sekali berteriak memanggil nama kekasihnya itu dan memeluknya.


" Ah kamu pasti nggak bisa tidur karena suami mu belum pulang, maaf ya Nak. "


Maudy menggeleng pelan, Ia tidak mau mertuanya itu merasa bersalah atas semua yang Ia alami malam ini.


" Ah Nak, coba kamu hubungi nomor Gibran dan tanyakan dia ada dimana sekarang, kenapa nggak pulang. Soalnya dari tadi Mama nelpon nggak pernah di angkat. "


Maudy terdiam, bagaimana caranya Ia menghubungi suaminya itu, mereka bahkan belum bertukar nomor telpon.


Maudy kembali terdiam, Ia menjadi serba salah. Bu Ayu yang melihat itu semakin mersa tidak nyaman, bagaimana mungkin Putranya melakukan hal seperti ini pada istrinya.


" Anak ini benar-benar keterlaluan, bukannya di rumah malah keluyuran. " Gumam Bu Ayu.


" Sebenarnya....... sebenarnya Mas Gibran tidak keluyuran Bunda. Hm..... tadi Mas Gibran bilang ada rencana keluar kota, pekerjaan mendadak. Kalau dia tidak pulang berarti rencananya jadi Bunda. "


Sebenarnya itu hanya karangan Maudy saja, mereka tidak sedekat itu sampai suaminya harus melaporkan kemana perginya Ia malam ini.


" Oh gitu ya Nak, baiklah kalau begitu, sekarang kamu istrahat, ini sudah larut malam, Bunda akan temani kamu malam ini. "


Maudy menggeleng, Ia tidak ingin merepotkan Ibu mertuanya itu. Lagipula Ia sudah terbiasa tidur sendiri.


" Nggak apa-apa Bunda, Bunda istrahat saja di kamar. Maudy nggak apa-apa tidur sendiri, sudah biasa. "

__ADS_1


Akhirnya malam itu kedua pengantin baru tidur di tempat berbeda. Esok harinya Gibran masih saja tertidur, Denis tidak enak hati untuk membangunkannya.


" Makanlah sarapan mu, kalau sudah agak baikan sebaiknya telpon orang rumah biar mereka tidak khawatir. "


Gibran membaca sepucuk kertas yang ada di atas meja, Ia memakan sarapan yang sudah di siapkan Denis.


Pagi berganti malam, Denis mengira kalau saudara sepupunya itu sudah kembali namun ternyata tidak. Ia masih berdiri di dalam kamarnya menatap keluar jendela.


" Gibran, kamu masih disini. Bukannya aku tidak suka kamu disini, tapi apa kamu tidak kasihan pada Ibumu. Bagaimana beliau menghadapi menantunya, Tante Ayu pasti tidak enak hati pada istri mu. "


Gibran tidak menjawab, Ia masih fokus memandang keluar jendela. Tiba-tiba ponsel Denis berdering, Denis langsung mengecek ponselnya itu dan terkejut.


" Tante Ayu. " Gumam Denis.


Gibran menoleh mendengar nama Bundanya di sebut.


" Jangan bilang kalau aku ada disini. "


Denis menghela nafas berat, Ia jadi serba salah, akhirnya Ia memutuskan sedikit menjauh untuk menerima panggilan saudara dari Ayahnya itu.


" Besok kamu harus kembali Gibran, ini masalah mu. Jangan paksa aku untuk berbohong pada Tante Ayu, aku selama ini tidak pernah berbohong padanya dan kali ini


aku melakukan kesalahan karena kamu. Ingat, masalah itu di hadapi bukan untuk di hindari. "


Denis meninggalkan saudara sepupunya itu dengan perasaan sedikit kecewa, di tempat berbeda juga Bu Ayu merasa sedih dan kecewa.


BU Ayu memutar otak nya, bagaimana caranya membuat anak- anaknya itu berbaikan dengan pasangannya, meskipun beliau tau kalau hal ini belum tentu membuahkan hasil, karena Ia tau bagaimana watak ketiga anak-anak nya.


Sebelum memutuskan tidur, Bu Ayu mengirimkan sebuah pesan untuk Gibran agar Putra sulungnya itu segera kembali ke rumah besok.


Bibirnya menyunggingkan senyum ketika pesan yang Ia kirim tercentang dua dan berubah warna.


" Aku tau kamu pasti disana karena keponakan ku itu tidak pandai berbohong, baiklah kita lihat bagaimana besok. "


Benar saja ketika bangun tidur Bu Ayu menerima pesan balasan dari Gibran bahwa Ia akan kembali sebelum makan malam nanti, pagi ini Ia ada pertemuan penting dengan beberapa rekan bisnisnya.

__ADS_1


Bu Ayu sudah merencanakan sesuatu yang besar untuk nanti malam, Ia mengajak kedua menantunya untuk berbelanja keperluan bulanan dan juga berencana memasak untuk makan malam nanti.


...****************...


__ADS_2