Mitos Kembang Mayang

Mitos Kembang Mayang
Bab 6 Resepsi Pernikahan


__ADS_3

......................


Ketika keduanya tengah mengobrol tiba-tiba terdengar pintu di ketuk dari luar, tak lama kemudian pintu terbuka karena memang tidak di kunci.


" Ya ampun sayang, di cariin di bawah eh ternyata disini. Wah anak Bunda benar-benar cantik ini, Bunda benar-benar tidak salah pilih ternyata, Gibran pasti akan sangat senang dan beruntung memilikimu. " Ucap Bu Ayu.


Bella mengiyakan dan juga mengangguk setuju, berbeda dengan Bella dan Bu Ayu, Mawar justru mencibir ketika mendengar pujian Bu Ayu pada calon menantu dari anak pertamanya itu.


" Jangan terlalu di puji Bunda, nanti bisa- bisa kecewa kalau nggak sesuai sama harapan. "


Bu Ayu dan Bella menatap tajam kearah Mawar yang kalau ngomong selalu nggak di saring.


" Sudah sebaiknya kamu diam saja karena setiap kali kamu bicara kok selalu nggak enak di dengar. "


Bella membenarkan ucapan Ibunya, bahwa kakak iparnya yang kedua itu benar-benar kelewatan.


" Kan aku mengatakan yang sebenarnya Bunda, dia itu manusia biasa, sama seperti kita. Tidak perlu di puji sedemikian rupa, lagi pula kan kita belum kenal dia bagaimana. Siapa tau dia wanita tidak benar. "


Maudy terkejut mendengar ucapan Mawar, belum apa apa dia sudah mendengar ucapan yang tidak mengenakan hati.


" Mawar, kakak ipar...... " Tegur Bu Ayu dan Bella bersamaan.



" Sudah Bunda, Bella. Tidak apa apa. "


Meskipun merasa tidak nyaman namun Maudy enggan untuk membuat keributan.


" Kamu benar-benar ya Mawar. Ya sudah, dari pada pusing dengar mulut mu itu lebih baik kita keluar. Ayo Nak, bawa kakak ipar mu keluar, Lama-lama disini bisa bikin darting. "


Maudy keluar kamar di apit oleh Bunda Ayu dan juga Bella, Ia mencoba tersenyum untuk menutupi kegundahan hatinya.

__ADS_1


***


Di tempat berbeda, seorang Pria turun di depan sebuah rumah dengan halaman yang cukup luas dan asri. Ia memanggil- manggil penghuni rumah namun tidak ada jawaban.


" Eh Mas Rizky, pasti cari Mbak Maudy ya ? " Tanya seseorang yang kebetulan adalah tetangga Maudy.


Ia sejak tadi melihat Rizky yang mondar-mandir di depan rumah tetangganya, karena Ia tau siapa Rizky jadi tetangganya itu berani menemui-Nya.


" Oh Selvi, iya nih. Aku nyariin Maudy dan Ayahnya, kemana ya. Dari tadi aku panggil- panggil nggak ada yang nyaut. Apa kamu tau mereka kemana ? " Tanya Rizky.


Selvi menggaruk- garuk kepalanya yang tidak gatal, Ia bingung harus mengatakan apa.


" Ada apa Selvi, kok kamu kaya bingung gitu. Apa kamu tau dimana mereka. "


Selvi mengangguk pelan " Tau Mas, tapi.....! " Selvi menjeda ucapannya.


" Tapi kenapa Selvi. " Tanya Rizky lagi, Ia mulai menduga-duga kalau memang telah terjadi sesuatu yang cukup serius.


Bak petir menyambar di pagi buta, Rizky sampai terhuyung beberapa langkah kebelakang.


" Di jodohkan....? Tapi dengan siapa, bagaimana mungkin. "


Rizky masih shock dengan kabar yang baru saja Ia dengar.


" Iya Riz, Maudy di jodohkan oleh Pak Rahmat. Soal jodohnya kalau nggak salah sih dari orang kaya, dari keluarga Wijaya gitu. " Ucap Selvi sembari mengingat-ngingat ucapan Ibunya yang ikut membantu- bantu di rumah Maudy pada saat acara lamaran berlangsung.


" Wijaya.... ! Hanya ada dua anak laki-laki dan setauku Bayu sudah menikah lima tahun yang lalu, apa Maudy di jodohkan dengan Gibran. " Batin Rizky.


Persendian lututnya serasa tidak berfungsi lagi, tak mampu menopang berat tubuhnya.


" Eh Mas Rizky, duh... Mas kenapa. "

__ADS_1


Selvi dengan spontan menopang tubuh Rizky agar tidak jatuh ke tanah.


" Makasih Sel, aku tidak apa- apa. Eh bukannya ini pernikahan mereka. Kenapa kamu tidak kesana. " Tanya Rizky setelah Ia mampu menguasai emosinya.


Selvi berubah murung, namun kemudian Ia mencoba tersenyum.


" Biasa Mas, mana ada kondangan orang kaya mau ngundang orang rendahan seperti kami. Aku hanya mendoakan apapun itu, semoga yang terbaik buat Mbak Maudy. Bagaimana pun juga Mbak Maudy itu orang baik, rasanya dia tidak pantas untuk tidak bahagia. Semoga saja Pria dari keluarga Wijata itu memperlakukan nya dengan baik. "


Setelah berbicara dengan Selvi, Rizky memutuskan untuk pergi. Meskipun dia tidak tau kemana acara pernikahan itu di langsungkan. Niatnya bertanya pada Selvi kenapa tidak menghadiri acara pernikahan nya hanya untuk mengetahui dimana alamat resepsi nya, sayang sekali Selvi bahkan tidak tau.


" Apa mungkin di salah satu gedung milik keluarga Wijaya. " Gumam Rizky sembari melajukan roda empat nya.


Hatinya remuk redam, membayangkan wanita yang begitu Ia cintai dan jaga selama dua tahun ini, sebentar lagi akan menjadi milik orang lain rasanya sungguh menyakitkan.


" Maudy, kenapa kamu tidak menungguku. kenapa kamu menerima lamaran itu, bukankah kita sudah berjanji akan melangsungkan pernikahan kita setelah aku kembali. "


Setelah lama berputar mencari hotel milik keluarga Wijaya yang kemungkinan di jadikan tempat resepsi, akhirnya Rizky melewati kediaman orang kaya raya itu. Ia tidak melihat adanya tanda- tanda keramaian disana. Ia terus mengendarai mobil nya hingga sepuluh menit dan akhirnya Ia menemukan tempat yang Ia cari.


" Bukankah ini juga hotel milik keluarga Wijaya, ternyata disini. Kenapa aku nggak kepikiran dari tadi, tempat ini kan memang sering di gunakan untuk resepsi pernikahan. " Gumam Rizky.


Ia keluar dari dalam mobilnya, mengamati sekeliling para tamu undangan yang berdatangan. Ia juga memikirkan bagaimana caranya dirinya bisa masuk, sedangkan Ia sendiri tidak punya kartu undangan.


Dengan menggunakan akal nya akhirnya Rizky bisa masuk, meskipun harus mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan.


Rizky berbaur di antara para undangan yang baru datang, Ia mencari keberadaan Maudy. Jantungnya berdebar hebat ketika melihat penampakan wanita yang Ia cinta di atas pelaminan. Benar saja, wanita yang Ia cintai dengan sepenuh hati tengah duduk di singgasana bersama Pria lain.


Ingin rasanya Rizky menerobos dan menemui Maudy namun di tahannya, samar- samar Ia mendengar percakapan dua orang.


" Iya Ma, ini yang aku maksud. Keluarga mereka apalagi Bunda kan masih mempercayai mitos itu, aku bisa gunakan ini agar semua orang membenci wanita kampung itu. Berani- beraninya dia masuk ke keluarga Wijaya


dan bermimpi menjadi ratu. " Ucap seseorang.

__ADS_1


Rizky lebih tertarik dengan bisik- bisik yang Ia dengar tidak jauh darinya, hanya terhalang oleh hiasan dari bunga- bunga yang indah.


__ADS_2