Mitos Kembang Mayang

Mitos Kembang Mayang
Bab 7 Kebahagiaan Bu Ayu


__ADS_3

...****************...


Mawar dan sang Ibu ikutan barisan para tamu undangan yang akan memberikan ucapan kepada kedua mempelai, keduanya melangkah beriringan sambil sikut-sikutan. Satu persatu para tamu undangan mulai turun.


      " Selamat ya Kakak ipar, selamat datang di keluarga besar Wijaya, semoga rumah tangga kakak ipar selalu bahagia dan di usahakan betah ya. "


Mawar dan juga Ibunya memberi ucapan meskipun dengan hati dongkol.


      " Eh Mama, tau nggak sih. Kembang mayang yang ada di depan itu kok kering, padahal acara juga baru di mulai. Bukankah seharusnya kembang mayangnya masih segar, kan katanya pengantin nya wanita baik dan polos. Tidak mungkin kan Bu kalau dia sudah melakukan hubungan intim sebelum pernikahan ini terjadi, tapi bisa saja kan Ma. Dengar- dengar kan dia punya pacar Ma. "


           " Hust Nak, jangan sembarang kalau bicara. Bagaimana kalau ada yang dengar, lagipula itu kan hanya mitos, siapa juga yang akan percaya bahwa kembang mayang bisa menandakan kesucian seseorang. "


Dania memandangi sekelilingnya dan tersenyum sebelum menggandeng tangan Putri kesayangan nya untuk turun dari panggung.


           " Bagaimana, bagaimana Mama. Apa rencana kita berhasil, apa dia mendengar percakapan kita tadi. " Tanya Mawar pada Ibunya.


Mereka memang sengaja melakukan itu di atas pelaminan, agar di dengar oleh keluarga besar Wijaya.


           " Sepertinya sih begitu Nak, tapi sayang nggak semua. Paling Kakak ipar mu saja, kalau mertua mu kan ada di sebelah sana, mana mungkin mereka bisa dengar apa yang kita bicarakan. " Ucap Bu Dania sedikit kecewa.


Mawar mencoba menenangkan Ibunya agar tetap tenang, karna Ia yakin untuk saat ini apa yang mereka lakukan sudah cukup. Nanti juga semua akan tau, termasuk Ibu mertuanya yang menurutnya mulai berpihak pada kakak iparnya.


Satu persatu para tamu undangan naik ke pelaminan untuk mengucapkan selamat pada pengantin baru, hingga tiba giliran Rizky. Meskipun hatinya hancur namun Ia mencoba kuat dan menerima semua takdir cinta mereka.

__ADS_1


Maudy terkejut melihat kehadiran Rizky, pria yang telah memiliki hampir seluruh rasa cintanya. Air matanya menetes, ingin rasanya Ia memeluk Pria itu namun bisikan Rizky membuatnya menahan diri.


Rizky menyalami keduanya seperti tamu undangan yang lain lalu kemudian pergi, Ia tidak bisa berlama- lama disana. Sebelum pergi Ia menatap gedung tempat berlangsung nya acara pernikahan kekasihnya.


           " Hah...... !! Semoga ini memang kebahagiaan mu Maudy, aku rela melepaskan mu, semoga kamu bahagia bersama keluarga barumu. Aku berharap mereka menyayangi mu, melebihi dari rasa sayang ku ini padamu. " Gumam Rizky di sertai dengan helaan nafas.


Meskipun mencoba ikhlas tapi tetap saja Ia merasa hancur, mimpi indah yang selama ini Ia bangun bersama hancur berkeping-keping dalam hitungan detik saja.


Satu persatu tamu undangan mulai kembali ke rumah nya masing-masing, tersisa beberapa orang yang memang khusus di hadirkan untuk membantu kelancaran acara tersebut. Mereka gotong royong membersihkan sisa- sisa sampah yang di tinggalkan oleh tamu undangan.


Di dalam kamar Maudy menatap pantulan dirinya di cermin, Ia kembali teringat momen beberapa jam yang lalu. Air matanya kembali menetes ketika mengingat apa yang di katakan Risky, semuanya terasa menyakitkan. Maudy dengan cepat menyapu air matanya dengan tisu agar tidak di lihat oleh yang lain kalau tiba-tiba ada yang masuk.


Pintu terbuka ketika Maudy mencoba melepas riasan di kepalanya yang begitu berat. Ia menoleh sekilas, nampak Pria yang kini sudah sah menjadi suaminya, sejak tadi Ia enggan untuk menatap dengan seksama wajah suaminya.


Tidak ada seorang pun yang berbicara begitu juga dengan Maudy, meskipun Ia saat ini sedang kesulitan namun Ia enggan untuk minta tolong.


" Bunda, Bella mana Bun. " Panggil Gibran


" Eh Nak, kok kamu disini. Bukannya di kamar temani istri mu. "


Gibran mencari alasan agar tidak mendengar ceramah Ibunya


" Bunda, tadi Gibran sudah di kamar tapi tiba-tiba saja ada telpon penting jadi Gibran keluar sebentar. Oh ya Bunda, minta Bella untuk datang ke kamar, temani kakak iparnya itu dan bantu dia melepaskan riasan nya. "

__ADS_1


Bu Ayu mengerutkan keningnya, Ia heran dengan sikap Putranya. Kenapa harus meminta orang lain untuk membantu Istrinya melepaskan riasan nya, namun akhirnya beliau tersenyum. Mungkin putranya merasa canggung dan masih malu, maklumlah pengantin baru, lagipula mereka memang belum pernah bertemu sebelumnya, tentu akan terasa aneh bagi keduanya.


" Gibran, Nak. Tapi adikmu sudah kembali, dia langsung pergi setelah ijab qobul usai. "


Gibran memijat pelipisnya yang terasa sakit


" Ya sudah kalau begitu, Bunda saja yang temani dia, atau tunggu MUA nya datang saja. Maaf Bunda, Gibran harus pergi sekarang. "


Bu Ayu bergegas ke lantai atas, Ia tidak mungkin menunggu perias datang untuk membantu melepas pernak-pernik di tubuh menantunya.


Benar saja sampai di kamar pengantin nampak Maudy yang sedang kesusahan, berkali-kali Ia mencoba menjangkau pengait gaunnya namun tidak berhasil juga.


" Biar Bunda saja Nak. Maaf atas kesulitan yang kamu alami, maafkan juga soal anak Bunda ya. Kamu jangan kecewa, bukan dia tidak peduli padamu tapi mungkin dia masih malu- malu saja Nak. Maklum kan ini masih baru, tapi tadi dia yang meminta Bunda kemari untuk menemani kamu kok, kamu tidak apa- apa kan Nak. "


Bu Ayu merasa tak enak hati karena Putranya meninggalkan istrinya saat sedang kesulitan, namun ketika mendengar jawaban Maudy beliau jadi tenang.


" Tidak apa apa Bunda, lagipula sekarang kan sudah ada Bunda dan ini juga sudah selesai, kenapa harus di permasalahkan lagi. Bunda tidak perlu merasa tidak nyaman ya. "


Bu Ayu tersenyum bahagia membayangkan kejadian hari ini dan kejadian beberapa tahun lalu. Ada yang berbeda dan itu membuat senyum wanita semakin mengembang di wajahnya.


" Kamu pasti lapar kan belum makan, tunggu disini ya, biar Bunda ambilkan makanan nya dulu. "


Bu Ayu baru mengingat sesuatu, ini sudah jam tiga sore tapi anak- anaknya belum makan siang.

__ADS_1


" Tidak perlu Bunda, Maudy bisa ambil sendiri. Maksud Maudy bisakah kita makan bersama di bawah saja, Bunda nggak perlu repot- repot bawain makan siang untuk Maudy kemari. "


Lagi- lagi jawaban Maudy membuat Bu Ayu tersenyum bahagia, beliau sangat terharu. Baru hari pertama di rumah sudah terlihat kalau Maudy tidak menyisakan jarak di antara mereka, terbukti kalau Ia lebih memilih makan bersama ketimbang memintanya makan sendiri di dalam kamar pengantinnya.


__ADS_2