
......................
Benar saja, Gibran kembali sebelum makan malam. Ia langsung membersihkan diri sebelum turun untuk makan malam, Maudy menyiapkan pakaian suaminya di saat Gibran berada di kamar mandi.
Gibran yang hendak mengambil baju gantinya di lemari mengurungkan niatnya ketika melihat di ranjang sudah tersedia pakaian miliknya, Ia pun memakainya dan bergegas turun.
Makan malam seperti biasa, semua diam tidak ada yang berbicara. Gibran terlihat sangat menikmati makan malamnya kali ini. Bu Ayu tersenyum melihat putra sulungnya yang begitu menikmati setiap suaranya.
Selesai makan malam Bu Ayu meminta anak dan juga menantunya berkumpul di ruang tengah, Ia ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting.
" Gibran, Bayu saat ini kalian sama-sama sudah menikah. Sebenarnya Bunda ingin membagi amanah yang di tinggalkan Ayah kalian, karena kalian sudah sama-sama menikah jadi sudah waktunya kalian mengelola usaha kalian masing-masing. "
Gibran dan Bayu sama-sama diam, mereka tidak pernah mempermasalahkan soal warisan. Toh tanpa itu mereka juga tidak akan kekurangan, mereka sudah punya usaha masing-masing. Begitu juga dengan Maudy, Ia tidak pernah mengharapkan apapun, bisa di terima dengan baik di keluarga itu saja sudah sesuatu yang paling Ia syukuri.
" Karena warisan ini ada bagian Bunda jadi Bunda ingin memberikan lima puluh persen bagi siapa saja di antara kalian yang lebih dulu memberikan cucu untuk Bunda. Intinya, warisan ini di sahkan setelah salah satu di antara kalian memberikan kabar yang baik, bagaimana. "
Lagi-lagi Gibran, Bayu dan juga Maudy hanya diam saja. Mereka menyerahkan semua keputusan pada Ibunya. P
Gibran yang merasa pembicaraan mereka sudah selesai berniat untuk pamit, Ia tidak berniat sama sekali untuk berebut warisan dari Ibunya.
" Apa sudah selesai Bun, Gibran ingin istrahat. "
" Eh Nak, tunggu. Ajak Istri mu dong, masa punya Istri di biarkan begitu saja. " Tegur Bu Ayu pada Putranya yang sudah ingin melangkah pergi.
Maudy diam saja, berbeda dengan Mawar. Ia nampak tersenyum bahagia melihat Iparnya tidak saling akur.
" Bunda, dia punya kaki dan dia juga sudah tau kamarnya ada dimana. Maaf Bun. "
Gibran kembali melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga, Bu Ayu kembali memanggil Gibran namun Maudy menahannya.
" Gibran......... !!! "
" Bunda, sudah. Tidak apa apa Bunda, Maudy akan ke kamar sendiri. Apa Bunda perlu sesuatu, biar Maudy......
" Tidak Nak, kamu istrahat saja susul suami mu. Ini sudah malam, Bunda temani kamu ke kamar ya. "
Maudy menggeleng cepat, Ia tidak mau merepotkan Ibu mertuanya hanya untuk membawanya menuju kamar.
Maudy akhirnya naik ke lantai atas setelah berpamitan, begitu juga dengan Bayu yang juga berpamitan di susul oleh Istrinya.
Sampai di kamar Bayu langsung menarik selimutnya menutupi tubuhnya, Ia tidak pernah mempermasalahkan harta warisan akan jatuh pada siapa. Berbeda dengan Mawar, Ia tidak bisa tidur karena memikirkan banyak hal. Di pandangi nya suaminya yang terlihat cuek seolah tidak terganggu dengan ucapan Bundanya.
__ADS_1
" Aduh bagaimana ini, aku harus bagaimana. Aku harus bisa mendapatkan warisan yang banyak di banding yang lain, tapi apa iya aku harus hamil dulu. Ih amit-amit, nanti tubuh ku jadi melar sana sini. "
Mawar membayangkan bagaimana Ia saat menjadi Ibu hamil, jalan saja susah. Belum lagi semua teman-teman nya akan menjauhinya begitu juga suaminya. Semuanya terlihat menakutkan.
" Tapi kalau aku tidak hamil ini juga tidak baik, jangan sampai perempuan kampung itu yang hamil duluan. Tidak..... kalau aku tidak hamil, siapapun tidak boleh hamil. " Batin Mawar.
Ia kembali memandangi suaminya yang sudah merebahkan tubuhnya lebih dulu.
" Ih Mas Bayu kenapa sih, kok tidur duluan. Apa dia tidak berpikir bagaimana caranya agar bisa menghamili aku. " Batin Mawar lagi.
Ia duduk di samping ranjang, dan menepuk pelan tubuh suaminya. Sebenarnya Ia ragu, namun rasa ingin mendapatkan warisan yang lebih membuatnya hampir kehilangan akal.
Berulang kali Ia menepuk tubuh Bayu memintanya bangun dan akhirnya Bayu membalikkan tubuhnya, dengan malas Bayu menanyakan apa yang di lakukan Istrinya.
" Ada apa sih Mawar, tumben belum tidur juga. Biasanya kalau sudah masuk kamar langsung hilang di bawah selimut. "
Mawar nampak bingung mencari alasan apa yang harus Ia katakan pada suaminya itu.
" Ah gini Mas, aku........ "
Bayu mengerutkan keningnya melihat kebingungan Istrinya.
" Kenapa, pasti bingung memikirkan ucapan Bunda tadi ya. Sudahlah tidak usah di pikirkan, ayo tidur. "
" Mas, aku harus hamil secepatnya. Mas harus cepat buat aku hamil, kalau perlu malam ini juga. " Ucap Mawar.
Hal itu membuat Bayu terkejut, tumben Istrinya akhirnya menginginkan hamil padahal selama lima tahun ini Ia selalu menolak, bahkan untuk berhubungan intim layaknya pasangan suami istri pun harus di paksakan, terkadang Bayu juga harus menawarkan uang yang banyak untuk sekedar bisa menikmati tubuh sang Istri.
" Apa kamu sedang sakit, sudahlah ayo tidur. Aku sedang tidak ingin mendengar ucapan konyol mu. "
Bayu lagi-lagi ingin melanjutkan tidurnya namun hal yang sama di lakukan Mawar. Ia kembali menarik selimut yang di gunakan suaminya.
" Mas, aku serius. Aku harus secepatnya bisa hamil, ayo cepat kita lakukan sekarang. "
Bayu hanya melongo melihat perbuatan Istrinya yang langsung melepas semua penutup di tubuhnya tanpa di minta.
" Hei, apa yang kamu lakukan. Cepat pakai kembali, aku sedang tidak ingin mengeluarkan uang hari ini. "
Bukan tanpa alasan Bayu mengatakan itu, karena biasanya Ia harus mengeluarkan sejumblah uang hanya untuk bersenang-senang dengan istrinya itu.
Bayu menutup tubuh Istrinya dengan selimut namun Mawar menepis nya, Ia bahkan menarik semua selimut yang ada di atas ranjang dan melemparnya ke lantai. Ia meliuk-liuk di depan Bayu mencoba menggoda suaminya itu.
Melihat suaminya tidak bereaksi, Mawar dengan keinginannya sendiri langsung jongkok di atas tubuh suaminya. Dengan kasar Ia menarik penutup paling bawah tubuh suaminya.
__ADS_1
Bayu masih shock, Ia tidak menyangka akan mendapatkan hal seperti ini dari sang Istri. Sebagai Pria normal tentu saja hasratnya langsung muncul ketika melihat tubuh mulus Istrinya, apalagi sesuatu yang nampak kemerahan yang membuat jangkunnya naik turun.
Tidak hanya sampai disitu, Bayu lagi- lagi di kejutkan karena tanpa aba- aba Mawar sudah me****t bibirnya dengan rakus. Hal yang sebelum nya tidak Ia inginkan sama sekali, Ia tau Istrinya itu tidak ingin menggunakan bibirnya itu selama mereka bersenang-senang.
" Mas, ayo dong. Jangan diam saja, ini nggak enak tau. "
Lagi dan lagi Bayu di buat tercengang dengan perlakuan Mawar istrinya, bak gayung bersambut Bayu langsung pasang aksi. Mumpung saat ini Istrinya menginginkannya, tanpa harus keluar uang atau membujuk dengan susah payah.
" Apa kamu yakin sayang, kamu tidak akan menyesal karena aku tidak ingin memberikan mu uang sama sekali malam ini. "
Tanpa memberikan tanggapan, Mawar kembali memberikan servis di tubuh suaminya. Malam itu mereka akhirnya bertempur dengan rasa suka sama suka, yang paling bahagia tentunya adalah Bayu karena mendapatkan durian runtuh.
Di kamar sebelah Maudy sejak tadi bingung harus tidur dimana, Ia melihat Pria yang sudah sah menjadi suaminya sedang sibuk dengan laptop nya.
Tanpa Ia sadari sejak tadi beberapa kali Gibran melirik dirinya yang nampak kebingungan.
" Tidurlah di atas ranjang, aku akan tidur di sofa. " Gibran menghela nafas dan segera menutup laptopnya.
Ia mengambil bantal, guling dan juga selimut dan membawanya ke sisi lain.
" M..... Mas kenapa nggak tidur di ranjang saja. " Tanya Maudy dengan suara pelan.
Susah payah Ia mengeluarkan kata- kata di bibirnya, Gibran tersenyum sinis mendengar pertanyaan wanita yang sudah sah menjadi Istrinya itu.
" Jangan terlalu berharap banyak pada hubungan palsu ini, apalagi sampai memikirkan apa yang di inginkan Bunda. Itu adalah hal yang tidak akan mungkin terjadi. "
" Bukan begitu maksud ku M.... Mas, maksudku M... Mas saja yang tidur di ranjang, biar aku yang tidur di sofa. " Ucap Maudy.
Gibran menghentikan aktivitas nya, Ia yang baru akan merapikan tempat tidurnya tiba-tiba terdiam beberapa saat.
" Sudahlah, cepat tidur saja sana jangan banyak protes. "
Gibran merebahkan dirinya di sofa sedangkan Maudy masih berdiri mematung, merasa tidak ada pergerakan dari Maudy perlahan Gibran membuka pelan matanya.
" Kenapa belum tidur juga. "
Maudy terperanjat mendengar suara Gibran yang tiba-tiba.
" Aku, aku tidak terbiasa tidur di ranjang yang empuk. " Ucap Maudy lagi.
Gibran menatap tak percaya pada ucapan wanita di depannya, bagaimana bisa ada wanita aneh yang tidak menyukai ranjang yang empuk.
__ADS_1
...****************...