
Namaku Tasya, Anastasya Yuliane. Aku tinggal di suatu daerah yang cukup ramai atau bisa dikatakan bising. Tempatku tinggal masih di dunia manusia, yang mana aku bisa menghirup oksigen bersih dengan bebas dan tentunya gratis.
Ditahun-tahun masehi yang terus menua ini, ada semakin banyak kasus-kasus yang ditangani kepolisian. Aku yang hanya bisa melihatnya hanya menggeleng kepala. Dan kebetulan, Ayahku seorang detektif yang dulunya pimpinan dari devisi 11 yang dianggap penting dalam mengusut kriminalitas atau kasus spesial.
Aku bangga selalu dengan Ayahku. Bukan hanya pada kepintarannya mengusut sebuah kasus. Tapi juga kebijaksanaannya dalam membela keadilan. Seperti apa Ayahku dalam membela keadilan? Jadi begini ceritanya..
Sekitar tiga tahun yang lalu, terjadi sebuah kasus bajak laut. Perompak datang dan membajak sebuah kapal milik sekelompok nelayan yang mengarungi samudera lepas. Seluruh awak kapal disandera selama empat luluh hari. Sementara kapal itu hanya berlabuh beberapa kali.
Jujur saja pemerintah masih belum cukup peduli terhadap kasus tersebut. Entah dengan alasan apa, tapi yang jelas Ayahku mengusutnya bersama dengan devisi yang dipimpinnya saat itu. Dan hasilnya, perompak itu merupakan warga negara lain yang membajak kapal karena takut tindakannya diketahui oleh oranglain. Dan kebetulan sata itu, sebuah kapal melintas dan melihatnya.
Singkat cerita setelah penangkapan bajak laut itu, Ayah dipromosikan atau mudahnya naik pangkat. Namun, pikir ayahku saat itu adalah
"Devisi 11 beranggotakan 8 orang yang bekerja keras di bawah pimpinanku. Jika hanya aku yang naik jabatan, takkan adil rasanya." Hanya itu yang Ayah katakan.
Dari pemikiran itu, ayah memutuskan untuk mengajukan kenaikan pangkat 8 bawahannya. Tapi ternyata apa yang diajukan ayahku tidak disambut baik oleh pemerintah kota. Sehingga ayah diberikan dua pilihan. Dinaikkan pangkat seorang diri, atau tetap menjadi pimpinan yang terjun ke lapangan (TKP).
Ayah memutuskan untuk tetap menjadi pimpinan. Setelah dipikir-pikir, jika ia menerima kenaikan pangkatnya ia hanya akan dihadapkan pada kertas setiap hari. Sementara prinsipnya dari dulu adalah mengamankan negeri ini dengan kerja nyata. Bukan hanya perintah atau tandatangan saja. Dengan penolakan itu, pemerintah kota merasa tersinggung dan membebas kerjakan ayah selama dua bulan. Dan dalam dua bulan itu, ayahku selalu menjadi pengamat dalam tiap berita televisi yang menyiarkan kriminalitas.
Dan itu adalah pengalaman dua tahun silam. Kini, ayah melaksanakan dinas lapangan seperti semula. Dengan jabatan yang berbeda, yakni detektif polisi. Aku juga bingung bagaimana bisa berganti jabatan dengan begitu mudah. Tapi entahlah, itu yang terjadi di kota-ku.
Pagi itu, kaki terasa berat dilangkahkan ketika melewati gang rumah tua. Sayang otakku belum bisa diajak berfikir tentang hal-hal mistis ketika melewati tempat yang dulunya merupakan penggilingan daging.
Asataga.., kenapa kaki nggak bisa diangkat?
Tanyaku dalam hati ketika kedua kaki tak lagi bisa melangkah normal.
Sebuah suara muncul dari balik pagar tempat penggilingan kosong itu. Bukan suara mengerikan, melainkan suara mesin penggilingan yang seolah sedang bekerja menggiling daging.
__ADS_1
Hell! Mana mungkin ada hantu di pagi hari begini! Ayolah Tasya.., jangan berhalusinasi deh.
"Oi! Dipanggil daritadi bukannya jawab malah diem aja. Muka lo kenapa pucat gitu?"
"Nggak papa kok. Lo di belakang gue daritadi?"
"Mana ada, orang gue baru aja lihat lo langsung lari ke sini."
"Oh gitu. Berangkat yuk, kayaknya kita akan telat dalam beberapa waktu ke depan kalau terus ngobrol." Ucapku mendahului Pak Reza yang merupakan dosen muda di kelasku.
Sedikit info bahwa Pak Reza ini terkenal pintar, muda, dan tampan. Terdengar sangat istimewa dan menggiurkan. Tapi tidak sama sekali bagiku. Dia adalah tetanggaku sejak lama. Dan ada rahasia yang orang lain tak tahu tentang Pak Reza. Dan aku mengetahui rahasia itu.
Sampai di kampus, aku segera ke kelas dan menyelesaikan kehidupan mahasiswa yang hampir usai dalam hitungan hari. Siang harinya ketika kuliahku selesai, aku pulang dengan melalui jalan yang sama meski dengan ketakutan yang sama pula.
Ketika langkah kaki ini mendekati pekarangan rumahku. Tampak mobil Ayah terparkir di depan rumah. Hal itu membuatku mempercepat langkah kaki ini dan segera masuk ke rumah. Karena jarang Ayah makan siang di rumah.
"Ayah..!" Teriakku memasuki rumah yang menjadi tempat tinggal kami selama ini.
"Tasya, bagus kamu udah pulang. Kenalin, namanya Dhani. Dia akan tinggal di sini sama kita selama dua bulan ke depan." Ujar Ayah dengan santainya.
"Tasya." Aku mengulurkan tangan memperkenalkan diri.
"Dhani." Jawabnya tanpa menerima uluran tanganku.
"Tasya langsung masuk Yah, banyak tugas." Pamitku kesal.
Sekarang ini baru jam 4 sore. Yang pastinya kakakku belum pulang ke rumah ini. Entah apa yang akan terjadi kalau kakak tahu ada manusia lain bernama Dhani tinggal di rumah ini. Aku sendiri hanya bisa pasrah, karena sejak kecil aku percaya pada sosok ayah.
Beliau adalah orang yang selalu memikirkan konsekuensi dari setiap tindakannya. Jadi, pastinya keputusan ini sudah diperhitungkan sebelumnya. Tapi aku belum tahu seperti apa sosok Dhani sesungguhnya, dan apa tujuannya tinggal di sini selama dua bulan ke depan.
Oh my.., besok ada tugas dari Bu Ririn dan aku bahkan belum kerjakan sama sekali! Astaga..!
__ADS_1
Teriakku dalam hati ketika melihat personal chat dari dosen favoritku itu.
Tanpa persiapan, tanpa pertimbangan, aku segera mengambil tas berisi buku dan membawanya turun. Aku berniat ke perpustakaan untuk cari buku dan sekalian kerjain tugas\-tugas bu Ririn. Baru menuruni beberapa anak tangga, aku terhenti ketika mendengar suara laki\-laki yang tengah berbincang dengan Ayah di ruang keluarga.
Siapa? Yang pasti itu bukan Dhani. Karena barusan aku keluar dari kamar, aku melihat Dhani masuk ke kamarnya.
"Ayah." Panggiku pelan.
"Mau ke mana?" Tanya Ayah terkejut melihatku.
"Tasya mau ke perpustakaan Yah. Ngembaliin buku sama ngerjain tugas buat dikumpulin besok." Jelasku.
"Nggak usah pergi. Kamu bisa kerjain tugas kamu tanpa harus ke perpustakaan. Tunggu kakak kamu pulang aja biar dibantu sama kakak."
"Tapi tugasnya banyak Yah.. nggak mungkin selesai dikerjainnya kalau nunggu kakak pulang." Aku beralasan.
"Pokoknya kamu jangan keluar rumah." Bantah Ayah tanpa negosiasi.
"Iya Yah." Aku menundukkan kepala, berjalan kembali ke kamarku.
Memang aku tak pernah bisa atau berani membantah perkataan ayahku. Aku sangat menghargai beliau, dan lagipun tak ada lagi kini yang bisa kuhormati selain ayah.
"Dhani." Panggil ayah dari bawah. Dan manusia bernama Dhani itu segera turun tanpa mempedulikan kehadiranku di sudut tangga.
"Tolong kamu jaga Tasya ya.., jangan sampai ada siapapun yang masuk ke rumah ini. Dan jangan biarin Tasya keluar rumah, dia keras kepala anaknya." Ujar Ayah pada Dhani, tapi aku masih bisa mendengarnya dengan sangat jelas.
Dhani menatapku tanpa ekspresi. Dan bukan hanya Dhani, laki\-laki yang tadi berbicara dengan ayahku juga menatapku dengan tatapan yang sama.
*Ada apa dengan tatapan mereka itu? Atau justru aku yang kenapa*?
"Tasya! Ayah berangkat." Aku menarik senyum mengindahkan pamit ayah.
__ADS_1
\*Don't forget to Like❤️, Comment📨, Vote💛, and Click Favorite💗