
"Hari ini matkulnya Bu Ririn dibatalin loh. Katanya Bu Ririn ada urusan mendadak gitu." Bisik-bisik mahasiswa yang berkerumun membentuk kelompok rumpi.
Dalam hatiku lega, tapi otakku justru berpikir tentang hal buruk. Kenapa Bu Ririn mendadak batalin kelas? Padahal kemarin beliau sendiri yang mengingatkanku di personal chat tentang tugasnya. Apalagi ini kelas besar, kenapa mendadak batal?
Mungkinkah ada hubungannya dengan kasus yang diselidiki ayah? Atau kejadian di perpustakaan seperti yang diceritakan Dhani kemarin? Otak ini serasa berputar-putar karena begitu pansarannya dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Aku masih duduk di kursiku dengan laptop yang menyala menampilkan note. Rangkaian kata kutulis di sana selagi waktu luang diberikan. Nggak ada kesempatan lain
"Waah. Dia ke sini, dia ke sini." Beberapa cewek di kelompok gosip itu histeris seperti sedang melihat idola favorit mereka.
"Kelasnya Bu Ririn?" Suara itu, aku hapal pemilik suara itu.
"Iya. Cari siapa?" Tanya cewek-cewek itu genit.
"Tasya. Anastasya Yulianne." Merasa terpanggil, aku segera mendongak dan menatap ke arah suara.
"Anastasya anaknya polisi itu?" Tanya cewek itu memastikan dan sedikit mencibir.
"Iya." Jawabnya datar.
"Nggak salah?" Ucap mereka disusul tawaan kecil meremehkan.
Namun pernyataan atau pertanyaan itu hanya diabaikan oleh Dhani. Ia segera mendatangi tempat dudukku setelah mencari keberadaanku dengan scanning ke seluruh ruangan auditorium yang luas ini.
"Ikut aku." Katanya datar. Ia segera berbalik setelah mengucapkan kalimat itu dan berlalu pergi. Dasar sok cool. Mau nggak mau gue mengikutinya meski dengan tatapan nggak suka, dan setengah hati.
"Eh, tunggu." Lagi-lagi cewek itu menghentikan langkah kakiku dan Dhani.
"Lo ada hubungan apa sama Dhani?"
"Nggak ada hubungan apa-apa kok." Jawab gue cepat.
"Terus? Kalian mau ke mana?" Tanyanya semakin mendetil.
"Kita..."
"Kita tinggal serumah. Ada masalah yang harus kita bicarain tanpa kalian tahu. Jangan banyak ngurusin kehidupan oranglain, tolong." Potong Dhani. Bahkan cowok itu memelototi si cewek bawel.
Dhani dengan cepat meraih tanganku dan menariknya menuju ke tempat yang tak ada kesan spesial atau rahasia sama sekali. Kita berhenti di pinggir lorong yang nggak ramai, tapi juga nggak begitu sepi.
"Ada apa?" Tanyaku setelah kami berhenti berjalan.
"Ayah kamu bilang untuk selalu jagain kamu kapan pun. Mungkin besok aku akan masuk kelas kamu juga. Tiap break time, kita ketemu di sini okay? Biar kamu nggak ngilang dari pengawasan."
"Ayahku yang minta kaya gitu?" Aku menatapnya heran.
"Iya."
"Tapi kenapa kamu pake bilang kalau kita tinggal serumah sama mereka? Mereka itu biang gosip di kampus ini..."
"Aku hanya bicara fakta. Mereka nggak akan ganggu kamu lagi." Aku menelan salivaku sendiri memandangi manusia yang hanya bicara seadanya ini.
"Okay. Tapi bisa nggak kamu kalau ngomong agak panjang dikit. Jangan terlalu datar gitu."
"Aku cuma bicara seperlunya. Kalau nggak ada yang penting untuk ditanyain mending diam aja."
__ADS_1
"Okay. Sekarang kita mau ngapain? Abis ini aku udah nggak ada kelas." Tanyaku pada manusia gunung es itu.
"Terserah. Kita pulang ke rumah lima menit lagi." Ucapnya meninggalkan aku begitu saja.
“Ketemu di dekat gang pulang ya.” Ucapnya lagi sembari berjalan pergi menjauh.
Baru berapa hari sih aku tinggal serumah dengan Dhani. Kenapa dia seenaknya kaya gini? Dan bodohnya aku karena mau aja nurutin kata-katanya yang singkat, padat, dan hemat.
Kejadian kemarin saat Dhani tiba\-tiba mengajakku pergi dan mengatakan kalau kita tinggal serumah membuatku merasakan hawa\-hawa membunuh dari tatapan para gadis di kelas\-kelas berikutnya. Padahal udah hampir lulus, kenapa harus ada kejadian begini sih.
Yang lebih parah lagi ketika hanya aku yang merasa tak nyaman. Sementara Dhani hanya pasrah dan memilih diam daripada meladeni kata\-kata mereka yang sama sekali tak enak di dengar. Lagian aku juga nggak habis pikir sama ayah. Kenapa sebegitu khawatirnya sama aku akhir\-akhir ini.
*Apakah ada sesuatu yang berbahaya yang mengancam keluarga ini lagi*?
"Dhani." Panggilku pada laki\-laki yang berjalan santai dua meter di depanku itu.
"Hmm?" Responsnya tanpa menoleh sedikit pun.
"Nggak." Balasanya ketus.
"Ck. Seriusan Dhani.."
"Nggak ada yang aneh. Jauhin deh pikiran negatif\-negatif kayak gitu. Menghambat jalan logika dan nalar manusia."
"Emang ada yang aneh Dhani... kamu aja yang nggak peka. Apalagi sama bangunan tua itu." Ujarku lirih, mataku melirik sebentar ke bangunan tua yang aku maksudkan.
"Penggilingan daging?" Tanya Dhani melihat gue dan melihat bangunan tua itu bergantian.
"Iya. Belum lama ini, aku lewat jalan ini juga waktu ke kampus. Pas di depan penggilingan daging itu tiba\-tiba kaki aku berhenti. Terus kayak ada yang merhatiin aku gitu." Ceritaku masih dengan suara lirih.
__ADS_1
"Kaki kamu nggak bisa gerak?" Tanyanya merespon seperti yang aku harapkan.
"Iya. Kok kamu bisa tahu?" Jawabku serius.
"Itu namanya keram." Balasnya singkat.
"Iiih. Kirain bakal jawab serius.”
"Please deh. Sekali aja jangan jawab pertanyaanku dengan nalar logika manusia biasa." Ucapku sanggup menghentikan langkah Dhani yang kini hanya satu setengah meter di depanku.
Dhani masih berhenti di tempatnya sementara aku juga berhenti di tempatku dengan mata yang tak lepas memperhatikan sosok manusia datar itu. Dhani melepas headphonenya masih dengan posisinya itu. Beberapa kali aku memanggil namanya, tapi seolah tak mendengarku, ia hanya berdiri tanpa bergerak.
Kedua tangannya tampak menggenggam erat dengan sedikit bergemetar. Astagaa ada apa sih Dhani..., kenapa harus ada manusia misterius seperti ini yang jadi kepercayaan Ayah? Menjadi manusia tampan dengan ekspresi datar saja menurutku sudah terlalu aneh. Dan sekarang, apa lagi ini?
"Dhan..., Dhani..., Dhani..., Dhani. Dhani..., Dhani! Dhan!" Panggilku untuk kesekian kalinya. Dan human in front of me is not responding.
"Dhani..., Dhani..." Tiap langkah kecilku mendekati cowok itu, aku terus memanggil namanya. Bahkan untuk sekedar menoleh pun tidak.
Sejujurnya antara rasa khawatir dan takut dalam hati terhitung lima puluh dua persen dan empat puluh delapan persen.
"Dhani." Panggilku untuk terakhir kalinya. Tanpa sadar tanganku sudah bertengger di bahu sebelah kirinya.
"Whaaa!" Teriaknya dan aku pun turut menyamai karena terkejut bukan main.
"Whahahahaha!" Dhani tertawa lepas sambil memegangi perutnya melihat ekspresiku barusan.
Aku memukul punggungnya berkali\-kali melihat aku yang seperti anak kecil dipermainkan seperti itu. Aku kesal, tidak pernah sekesal ini. Tapi ini adalah pertama kalinya aku melihat Dhani tersenyum. Bukan. Maksudku tertawa lepas tanpa beban.
__ADS_1
Dan sepertinya agak menyenangkan jika bisa mendengar tawanya seperti itu setiap hari. Aku segera berjalan mendahuluinya, meninggalkan Dhani yang tampak puas dengan mengerjaiku seperti itu. Aku terus berjalan lebih dulu di depan Dhani, sampai tak sadar aku benar\-benar melihat penggilingan daging itu lagi.