Moonlight Tonight

Moonlight Tonight
Episode 6


__ADS_3

"Tasya..! Berapa tahun kita nggak ketemu?" Sambutnya  tak terima dengan kediamanku. Aku menerima jabatan tangannya dan kembali mengukir senyum.


Aku harus mulai dari mana?


"Mau makan malam di sini?" Tawarku tiba-tiba.


Jangan tanya bagaimana terkejutnya aku dengan suaraku sendiri. Apa? Aku menawarinya makan? Mana mungkin dia mau? Lagian aku ini siapa sih, sok akrab sekali sampai menawarinya makan segala.


"Boleh." Katanya seraya berdiri dari sofa. Aku pun mengantarnya seperti layaknya menghormati seorang tamu.


Rambut hitam pekat yang dipotong rapi. Mata elang yang berwarna kecoklatan ditambah alis tebal. Memakai kemeja hitam dan jaket yang menutupi tubuh atletis bak petinju MME. Hebatnya, orang itu duduk di sebelah kiriku sekarang ini.


Ali. Orang yang luar biasa hebat bagiku. Bagaimana bisa kini ia berada di sampingku dan duduk bersama dalam makan malam ini. Sejak berapa tahun kami tak bertemu, rasanya seperti nostalgia masa SMP dulu.


"Ini pertama kalinya loh, Ali mau makan malam di sini." Kakak menuangkan air minum di masing-masing gelas.


"Kan yang nawarin makan malam Tasya, ya pasti mau dong." Balas Ali tersenyum kepadaku.


"Oh ya? Tahu begitu, harusnya dari dulu Tasya yang memintamu tinggal lebih lama dan makan malam." Sahut Ayah.


  


Sepertinya ada seseorang yang ketinggalan pembicaraan meja makan kali ini. Dhani. Berjalan menuruni tangga dan segera duduk di sebelah kiriku. Kali ini tak ada kacamata yang bertengger di depan sepasang mata tajamnya itu.


Dengan senyuman hambar, ia menyumpulkan kilas senyum pada Ali. Dan Ayah segera memperkenalkan Dhani kepada Ali. Bukan hanya Ali yang memperhatikan penjelasan tentang siapa Dhani. Aku dan Kakak pun tak ketinggalan menyimak.


Karena jujur saja aku tak begitu mengenalnya di luar perkenalan singkat dari Ayah waktu itu. Dan dari yang ayah ucapkan mala mini, dapat disimpulkan bahwa Dhani adalah sepupu jauh yang kedua orangtuanya meninggal, dan dititipkan ke rumah ini selama dua bulan. Hanya dua bulan.


"Terimakasih banyak buat makan malamnya, dan.., sebenarnya hari ini adalah hari terakhir sebelum aku pergi untuk suatu urusan yang mungkin akan sedikit lebih lama dari sebelumnya." Jelas Ali.


"Ali pergi lagi?" Tanyaku seperti anak kecil yang merajuk dengan manja.


"Iya. Tapi kali ini, kamu bisa lebih sering menghubungiku melalui email milik Gal." Ujarnya sedikit menghibur.


"Gal?"


"Iya. Email itu memang bukan milikku pribadi, tapi kita bisa berkomunikasi dari situ." Jelasnya lagi. 


  


Aku memanyunkan bibirku, menahan mata yang berkaca-kaca saat ini. Entah kenapa, berada di dekat Ali aku merasa tenang, dan ketika melihat Ali, sama seperti mengingatkanku pada Ibu. Tapi tangan Ali di bahuku seolah menenangkan segala kekhawatiranku.


Memang hanya aku yang paling dekat dengan Ali sedari dulu. Kak Rista cukup akrab dengan Ali, tapi berbeda denganku yang terlalu dekat dengan Ali. Hingga membuatku harus melepas Ali untuk kedua kalinya dengan perasaan tak rela ini. 


"Tasya..." Tangan Ali mengusap puncak kepalaku.


Aku mendongak berbalas menatap mata tajamnya. Ali memelukku erat, sangat erat. Bahkan lebih erat hingga hampir saja aku tak rela melepaskan. Perpisahan kali ini entah mengapa terasa memilukan. Kenapa aku menjadi seperti ini?

__ADS_1


"Gal harus tahu semua informasi yang aku tanya tentang apapun." Ucapku dengan nada mengancam.


"Okay. Okay... Gal akan selalu menjawab email Tasya. Tak terkecuali." Ali tertawa kecil dan mengacak rambutku melihat mata yang berkaca-kaca ini perlahan menitikkan airnya.


“Tasya masih menyimpannya?” Bisik Ali lirih.


“Iya. Tapi aku belum menggunakannya sama sekali.” Balasku berbisik.


“Semoga sampai akhir pun Tasya tidak akan menggunakannya. Ingat, gunakan hanya saat keadaan darurat.” Ucapnya lagi, yang kubalas dengan anggukan.


Ali melepaskan pelukannya, ia menatap ke arah Dhani yang berdiri di belakang Ayah. Aneh? Dhani menatap Ali seperti tatapan tak suka. Atau seperti tatapan yang menunjukkan keangkuhan dan rasa tak ingin tunduk. Keanehan apalagi ini?


"Semuanya... saya pergi dulu. Tolong jaga Tasya. Dia yang terbaik." Pamitnya seraya berjalan menuju ke mobil hitam berkaca gelap yang segera keluar dari pekarangan rumah diikuti beberapa mobil di belakangnya.


Sinar bulan malam itu sangat terang namun tetap nyaman. Seolah dengan senang mengantarkan keberangkatan Ali dan seperti penghiburan untukku. Ketika semua kembali mausk ke dalam rumah, aku masih menikmati cahaya bulan malam itu dan tersenyum membayangkan ibu dan kehangatan saat bersamanya.


Ketika udara dingin malam itu mulai menusuk, aku pun mausk ke dalam rumah. Menuju ke kamar untuk menikmati sinar bulan lebih lama. Ini benar-benar seperti sugesti. Sinar bulan memberiku tenaga, mengisi ulang energy yang telah kuhabiskan seharian ini.


Dari semua keanehan yang kuhadapi dan semakin keluar dari nalar logika, hanya sinar bulan yang menghiburku hingga larut.




"Ayah, kenalin namanya Andhika. Andhika ini temannya Rista. Tujuan Andhika ke sini, karena mau bicarain sesuatu yang penting sama Ayah." Ujar Kak Rista di depan Ayah. Tapi dilihat dari ekspresinya, ada terbesit sedikit rasa takut dan keraguan yang tak seperti biasanya.




"Ya, saya Ayahnya Carista. Silakan duduk." Ujar Ayah dingin dan serius.



"Yah. Aku ke belakang dulu ya.." Pamit Kak Rista beranjak pergi.



Sesaat tangan laki\-laki bernama Andhika itu menahannya pergi. Namun setelah Ayah mendehem melihat tangan keduanya, Andhika segera melepas, membiarkan Kak Rista pergi. 



"Sudah berapa lama kamu memiliki hubungan dengan anak saya?" Tanya Ayah serius.



"Tujuh hari." Jawab Kak Andhika jujur.

__ADS_1



Ayah tertawa kecil mendengar jawaban lugas laki\-laki itu.



"Sejak kapan kamu kenal anak saya?" Tanya Ayah lagi masih pasang muka garang seperti ketika menghadapi anak buahnya.



"Sejak berteman di Junior High School."



"Kenapa baru berhubungan tujuh hari yang lalu?"



"Karena waktu itu saya belum cukup pantas untuk mempunyai hubungan seperti ini." Jawab Kak Andhika tenang.



"Jadi maksud kamu, sekarang ini kamu sudah pantas?" Tanya Ayah sekali lagi dengan nada dingin yang mengintimidasi.



"Pantas atau tidaknya, saya tidak lebih tahu daripada pandangan anda sendiri." Balas Kak Andhika tanpa terdengar sedikit pun rasa keraguan.



"Kalau begitu kenapa kamu berani mendekati anak saya sekarang?"



"Karena saya sudah berjanji pada putri anda, untuk segera melamarnya setelah saya kembali dari tugas."



"Apa alasan kamu ingin bersama anak saya?" Diam sejenak, tak ada yang bersuara sama sekali.



"Tidak ada alasan."



"Beraninya kamu melamar anak saya? Kamu tahu, banyak laki\-laki yang datang malamar anak saya tapi saya tolak." Ayah mulai meninggikan suaranya.

__ADS_1



"Sekarang, apa yang sudah kamu janjikan kepada anak saya? Setidaknya saya bisa memenuhi janji kamu selain menerima lamaran ini." Ucap Ayah tegas.


__ADS_2