
"Tasya! Ayah berangkat." Aku menarik senyum mengindahkan pamit ayah.
Baru beberapa saat sejak suara mobil ayah menderum keluar dari pekarangan rumah, dua mobil berhenti di depan rumah. Rupanya itu adalah Eclipse, sebutan bagi anak buah ayahku yang merupakan mantan kepala preman dan mafia dari berbagai daerah.
Itulah mengapa ayahku dibenci oleh banyak orang dikalangan masyarakat umum. Seharusnya preman dan mafia itu mendapat hukuman mati karena tangan mereka yang terlalu sering membunuh manusia.
Tapi dalam pemikiran ayah, masih ada jalan untuk merubah mereka menjadi lebih baik. Ayah memberikan kesempatan mereka untuk hidup. Dan sebagai ucapan terimakasih, mereka yang selalu menjaga keamanan rumah ini selagi ayah pergi.
Aku sendiri tak terlalu akrab dengan anggota Eclipse. Aku hanya pernah beberapa kali berbicara dengan pimpinan mereka. Namanya Ali, ia hampir tak pernah tampak di antara anggotanya. Karena keberadaannya yang penting, ia tak pernah memberi tahu di mana tempatnya kini.
Namun sesekali aku mendengar Ayah berbicara dengan Ali lewat telepon rumah. Yaah, setidaknya itu meyakinkan aku bahwa Ali masih hidup dan punya tempat rahasia untuk mengamankan diri.
Tok tok tok!
Suara pintu kamarku diketuk dari luar. Aku pun beranjak untuk membukanya perlahan. Sepasang mata ini segera melihat sosok yang kini berdiri di depan pintu kamar dengan ekspresi datarnya.
"Jangan keluar rumah, aku mau keluar sebentar."
What?? Dia seenaknya aja keluar, sementara gue nggak boleh keluar sama sekali. Ini nggak adil.
"Jangan keluar rumah sampai ayah kamu datang. Aku cuma mau keluar sebentar." Ucapnya lagi-lagi tanpa ekspresi.
"Kalau aku nggak boleh keluar, kamu juga nggak boleh dong." Kataku seraya kuraih jaketnya.
"Kita ini beda, tolong turuti apa kata ayah kamu." Ucapnya dingin.
Tanpa memperdulikan, bahkan tanpa melihat ke arahku untuk kedua kalinya, Dhani menuruni tangga dan keluar dari rumah. Aku segera masuk ke kamar dan melihatnya dari jendela besar yang menghadap ke depan rumah. Cowok itu berjalan santai keluar. Bahkan Eclipse seolah tak menyadari keberadaannya ketika Dhani berjalan dan keluar dari halaman rumah.
Ayah kenapa sih sampai ngelarang aku keluar dari rumah segala? Ada kriminal apa kali ini?
Aku berjalan menuju ke meja belajar, menyalakan komputer dan segera membuka Email. Inilah satu-satunya alat komunikasi yang menghubungkanku dengan orang-orang penting di luar sana. Tanpa menyiakan waktu, aku mencari siapa dari mereka yang aktif untuk bisa dikulik tentang kasus baru ini.
__ADS_1
Tasya_YY : "Gal. Apa yang terjadi hari ini?"
Orgalio_ : "Sebuah berita besar. Tapi mungkin tidak akan disiarkan secara umum lewat televisi."
Tasya_YY : "Berita apa?"
Orgalio_ : "Mengerikan."
Tasya_YY : "Cepat beritahu aku."
Orgalio_ : "Ayahmu sedang mencoba mengontrol kondisi kali ini. Jadi kamu tenang saja."
Tasya_YY : "Jangan banyak bicara. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi sampai aku tidak boleh keluar dari rumah."
Orgalio_ : "Ini mengerikan. Dan aku sendiri tak ingin mendengarnya."
Tasya_YY : "Cepat katakan!"
Orgalio_ : "Pembunuhan seluruh sipir tahanan di bangsal 4. Semua tahanan kabur tanpa jejak, sekarang semua sel itu kosong. Yang paling berbahaya adalah si pembunuh menuliskan surat teror beruntun dan ancaman menghancurkan kota dengan virus."
Orgalio_ : "Ya. Kamu bisa diam untuk itu."
Tasya_YY : "Bisa kirimkan rekaman cctv dari sana?"
Orgalio_ mengirim anda sebuah file /filevideocctv234from4bangsal/
Orgalio_ : "Makasih."
Thank you so much Orgalio. Meski aku nggak pernah tahu siapa sebenarnya orang-orang dalam email ini. Tapi jelas ini sangat membantu menghiangkan rasa penasaranku. Biarlah tugasku tak selesai hari ini asal aku bisa tahu siatuasi apa yang tengah ayah hadapi.
Ternyata apa yang dikatakan Gal hampir sepenuhnya benar. Mengerikan. Begitulah aku menggambarkan video yang baru saja selesai ku tonton itu. CCTV itu hanya merekam sedikit sebelum pelaku menghancurkannya.
Namun yang terekam justru bagian utama dari rencana sang pembunuh. CCTV dengan jelas merekam sosok yang hanya sendiri membunuh 9 orang sipir. Dan dengan kejamnya ia membiarkan jasad itu tak utuh seperti bentuk manusia. Kurasa pembunuh itu seorang psikopat atau sejenisnya.
__ADS_1
Tok! tok! tok!
Lagi-lagi pintu diketuk dari luar. Kali ini aku terkejut bukan main. Sampai akhirnya aku turun dari tempat dudukku dan berjalan lunglai menuju pintu.
"Kenapa?" Tanyaku kepada Dhani yang tampak datar seperti biasa.
"Cuma mastiin kamu ada di rumah. Tadi waktu jalan katanya di perpustakaan kota ada pembunuhan yang korbannya mahasiswi." Jelasnya segera berlalu pergi.
Aku hanya diam menelan ludahku. Mataku melotot tak berkedip begitu mendengarnya. Tanganku agak gemetar sendirinya.
Untung aku patuh dengan larangan ayah tadi. Ujarku lega dalam hati.
Ketika aku masih diam di posisiku, Dhani pun sama. Ia berdiri di sana tanpa berpindah. Matanya masih menatapku dengan tatapannya.
Kenapa masih berhenti di sini?
"Jangan pernah ngelawan peringatan ayah kamu. Dia mau yang terbaik untuk putri kecilnya." Suara Dhani tanpa menoleh.
Entah kenapa suara itu seolah membuatku semakin percaya pada ayah. Lagipun untuk apa aku melawan ayah, beliau adalah satu-satunya orangtuaku kini.
Dhani masuk kembali ke kamarnya setelah melepas jaket hitam itu. Aku pun kembali masuk ke kamarku dan masih mencoba percaya bahwa kenyataan seseorang baru saja terbunuh di perpustakaan.
Ketika senja mulai menyeruak menguasai langit, aku segera menutup tirai kamar yang menghadap ke barat. Saat itu kulihat pula mobil Ayah datang dan mobil Eclipse keluar dari rumah.
"Ayah pasti baik-baik saja." Gumamku lirih.
Malam datang begitu cepat. Ketika jam di dinding menunjukkan pukul tujuh malam, seperti biasa aku akan bercerita kepada tinta dan buku dengan bantuan sinar bulan. Itu kebiasaan yang selalu kulakukan setiap hari.
Entah bermula sejak kapan, tapi rasanya aku menjadi begitu dekat dengan ibu ketika sinar bulan itu menerpaku. Kapan aku merindu, hanya sinar bulan yang selalu memberiku ketenangan.
Tak bisa bohong lagi. Aku seperti terkena doktrin bahwa aku sangat menyukai bulan lebih dari serigala mencintai bulannya. Hahaha..
Dulu aku pernah membaca sebuah artikel tentang seseorang yang merindu pada bulan. Tapi isi artikel itu sama sekali tak menggambarkan tentang realita yang ku hadapi. Setelah waktu itu, aku mulai menerima kembali diriku yang terlanjur menyukai cahaya bulan malam.
Aku teringat pada kisah-ku dulu. Ketika aku berusia 8 tahun dan Ibuku meninggalkan dunia ini aku benar-benar menangis. Baru ketika nenekku mengajakku keluar rumah dan sedikit menghiburku di bawah terpaan sinar bulan, tangisku terhenti.
__ADS_1
Aku pernah terpikir mungkin ibu kini tinggal di bulan dan karena itulah aku selalu merasa tenang di bawah terpaan sinar bulan.