
"Sekarang, apa yang sudah kamu janjikan kepada anak saya? Setidaknya saya bisa memenuhi janji kamu selain menerima lamaran ini." Ucap Ayah tegas.
"Tidak ada."
"Coba kamu ingat, barangkali ada janji lain?" Lagi-lagi diam. Andhika menunduk dan memikirkan jawaban untuk pertanyaan Ayah.
"Tidak ada." Jawabnya tegas.
"Coba ingat betul. Kalau memang sudah tidak ada janji lain, kamu bisa pergi dan menerimanya dengan lapang dada."
Ayah mengangkat tangan menunjukkan pintu keluar kepada Kak Andhika. Memang Ayah adalah tipe keras kepala dan susah atau hampir tidak bisa ditoleransi sama sekali kata-katanya. Mendadak suasana menjadi senyap. Ayah menunggu reaksi Kak Andhika.
"Sepertinya ada, tapi saya tidak yakin anda bisa memenuhi janji kedua kamu, sebelum janji yang pertama tadi."
"Katakan."
"Kami berjanji untuk menikah di tanggal 29 Februari tahun kabisat."
Ayah tertawa kecil mendengar jawaban Andhika. Entah apa yang dipikiranAyah setelah mendengar jawaban itu. Tapi tentu benar, Ayah tidak mungkin menikahkan keduanya kalau lamaran saja tidak diterima.
"Kalau begitu segera urus surat-suratnya. Biar saya yang urus gedung dan perlengkapan lainnya." Ucap Ayah dalam sekali hembusan napas.
Andhika lantas mendongakkan kepalanya menatap Ayah dengan senyuman penuh haru. Ayah berdiri dari sofa diikuti Andhika. Ayah berjalan ke arah Andhika dan menyalami, kemudian menepuk bahu Andhika lantas memeluknya.
"Semoga kamu bisa terus melindungi anak saya dan negara kita." Bisik Ayah di telinga Andhika.
"Ayah!" Teriak kak Carista menyerbu memeluk tubuh Ayah. Dengan air mata haru yang tak bisa dibendung, rasanya tak cukup mengucap terimakasih untuk Ayah.
"Maaf Ayah sudah bikin kalian takut. Sebenarnya pak Surya sudah telepon Ayah tadi pagi. Katanya Andhika ini mau datang kemari. Begitu Ayah ambil cuti sehari seharian dan menunggu, ternyata kamu datangnya malam-malam gini."
"Loh? Om sudah kenal Ayah saya?"
"Surya itu dulu teman seangkatan waktu masih sekolah. Dan, jangan panggil om, panggil Ayah aja."
__ADS_1
"Ayah.." Suara Carista manja, lagi-lagi ia harus dibuat haru oleh sikap ayahnya.
Setelah melihat kejadian baper itu dari atas, aku segera turun dan turut merasakan atmosfer yang seolah berwarna merah muda bahagia. Aku hanya bisa tersenyum. Akhirnya kakak akan mengakhiri masa lajangnya diusia ke 25 tahun ini.
Kalau melihat senyum bahagia yang terpancar dari wajah tampan kak Andhika, aku selali ingat masa ketika mereka ketemuan setahun sekali di cafe depan SMU. Atau ketika kakak menangis di kamar karena telepon dari kak Andhika terputus tiba-tiba. Rasanya, semua penderitaan yang mereka rasakan dulu terbayar oleh restu dari Ayah.
Mungkin ada yang menyebut diriku alay karena terharu oleh hubungan kakakku ini, tapi tahulah bahwa aku nggak pernah merasakannya. Satu-satunya alasan aku sangat senang, karena hanya mereka yang bisa mendapatkan kebahagiaan seperti ini. Aku tidak bisa. Atau mungkin belum bisa.
"Selamat ya kak!" Aku memeluk Kak Carista dan Kak Andhika bergantian.
Kak Andhika terus memamerkan gigi-gigi rapihnya melalui senyuman bahagia. Sementara kakakku tak henti-hentinya menangis. Sampai-sampai hidungnya pun tampak memerah.
Sungguh momen indah di akhir Desember.
Aku berjalan ke belakang, membiarkan kebahagiaan mereka mengalir diakhir tahun ini. Rasanya aku bisa senyum-senyum terus sepanjang malam. Akhirnya kak Andhika punya keberanian besar mengungkapkan apa yang selama ini ditahannya.
Kebahagiaan ini sudah terasa indah untukku, meski aku belum merasakan yang serupa. Aku duduk di kursi taman, menghadap ke kolam dua meter di depan. Kulihat sinar bulan yang memantul pada air tenang. Aku memejamkan mata sambil memegang liontin kalungku.
Aku bersyukur masih hidup sampai kini, bersyukur masih bisa melihat sinar bulan dengan sepasang mataku ini. Walau jujur saja terkadang aku merasakan sepi tanpa sosok Ibu di keseharianku. Tapi Ayah tak pernah mendidik anak-anaknya untuk terpuruk, dan kebahagiaan baru akan terus bermunculan setelah hari ini. Itulah semangatku.
"Apaan sih. Aku tuh bahagia banget, makanya aku juga nggak mau merusak kebahagiaan mereka. Aku tahu kakak juga bahagia malam ini." Ucapku mencoba tersenyum manis.
"Lebay ah." Kak Andhika menepuk ringan wajah manisku itu.
"Siapa yang lebay? Emang bener kok, aku aja sampai baper." Ujarku.
"Makasih ya Sya. Kamu adalah adik terbaik yang selalu kasih semangat buat Carista supaya terus percaya sama aku." Kak Andhika duduk di sebelahku turut menatap air kolam yang memantulkan sinar bulan.
"Itu udah tugas aku kak. Aku bahagia kok kalau kakak aku bahagia. Dan sekarang, aku bakal punya kakak ipar. Ganteng lagi." Aku tertawa sendiri mendengar kata-kataku.
"Jujur aja baru pertama kali ini ada yang bilang aku ganteng sih."
"Beneran?" Aku spontan membulatkan mata tak percaya.
__ADS_1
"Iya. Hampir semua cewek yang ketemu aku, pasti bilangnya aku berubah, kulitku menggelap seperti bulan yang terutup mendung tebal di tengah malam." Ujarnya setengah mengomel.
"Udah-udah, jangan sok puitis. Emang kulit Kak Andhika lebih gelap sih daripada yang sebelumnya." Aku turut menguatkan gagasan oranglain tentang pandangan kepada Kak Andhika itu.
"Tuh kan, kamu sama aja. Emang cowok kamu ganteng? Ganteng mana sama aku?" Tanyanya spontan.
"Aku nggak punya cowok kak.." Jawabku apa adanya.
"Bohong.. pasti backstreet kan?" Tanyanya menyelidik.
"Emang aku kaya kalian yang pacaran diam-diam? Beneran kok. I'm single from the first time i was born." Aku menguatkan kalimatku sendiri.
"Terus itu siapa?" Tanya Kak Andhika melihat ke belakangku.
Seorang cowok berdiri di balik dinding kaca yang membatasi taman dengan ruang keluarga. Tampak cowok itu berbicara serius dengan Ayah. Ya walau hanya tampak bayangan tubuhnya yang tinggi tegap. Tapi sosok itu jelas sangat familiar.
"Atau yang di atas?" Tangan Kak Andhika mengarahkan pandanganku ke balkon kamar Dhani. Dhani berdiri di sana dengan muka datarnya dan matanya menatap kea rah sini.
"Nggaklah Kak.." Ucapku segera mengalihkan pandangan dari manusia datar itu.
"Lihatin terus. Kalau dia nggak tahan kamu lihatin, berarti beneran dia suka sama kamu."
"Apaan sih." Aku memukul bahu Kak Andhika yang semakin nggak jelas bicaranya ke mana-mana.
"Cobain duluuu." Kak Andhika meyakinkanku sekali lagi.
"Ck." Aku menyilangkan tangan di depan dada, melihat ke arah manusia datar itu yang masih berdiri memegang gelas minumannya sembari menatapku tanpa ekspresi.
"Satu..., dua..., tiga." Dhani berbalik badan dan masuk. Bahkan cowok itu mematikan lampu kamarnya.
"Fix. Dia suka sama kamu." Celetuk Kak Andhika.
"Calon kakak iparku..., lihat tingkahnya aja kelihatan banget kalau nggak peduli. Mana mungin suka? Nggak banget deh."
__ADS_1
"Itu namanya tarik ulur. Cowok emang biasanya kayak gitu kalau suka sama cewek."
"Tau deh. Masuk yuk, di sini dingin." Aku berjalan masuk ke rumah. Mendahului Kak Andhika.