
Dengan pagar besi yang berkarat sanggup membuatku bergidik ngeri mengingat kejadian waktu itu. Dhani masih berjalan, sekitar tiga meter di belakangku. Aku berhenti menunggu Dhani dengan posisiku yang cukup dekat dengan penggilingan daging.
Untuk sekarang saja, bolehkah aku mengakui sesuatu? Aku sedikit takut. Lebih-lebih saat ini matahari hampir bersembunyi sepenuhnya. Tinggal semburat jingga di sebagian langit barat yang masih tampak. Juga bulan dengan sinar reman-reman yang sedikit menghibur.
Seakan mengerti apa yang sedang kupikirkan, Dhani mempercepat langkahnya. Membuatku merasa sedikit lega karenanya.
"Takut?" Dhani mendekat menghampiriku.
"Aku bukan gadis penakut."
"Yaudahlah. Ngapain berhenti di sini? Kamu nggak lapar apa?" Lagi-lagi Dhani mendahului jalanku. Kembali ia kenakan headphone hitam metalicnya itu.
Jalan yang saat ini aku lewati adalah rute tercepat menuju ke kampusku. Meski ini hanya jalan pintas, tapi cukup membantu untuk seorang pejalan kaki sepertiku. Ya, aku hampir tak pernah memakai kendaraan atau transportasi apapun ke kampusku. Pasalnya, bukan karena larangan ayah atau kakak.
Karena aku suka berjalan. Berjalan seperti kita menikmati tiap detik, tiap apa yang kita lihat. Lagipun tak menimbulkan polusi udara dan menyehatkan jasmani. Jarak dari rumah ke kampus sekitar empat kilometer dengan melewati macetnya jalan raya.
Tapi dengan melewati jalan pintas ini, hanya sekitar satu setengah kilometer. Dan itu pun bisa ditempuh tak lebih dari sepuluh menit. Selain efisiensi waktu, juga ada keuntungan lain yang kudapatkan, membuatku menutupi rasa takut yang selama ini ada dalam diriku ketika melewati jalan yang sama.
Lagipun tak lama aku akan lulus dari universitas. Hanya tinggal beberapa bulan saja sampai akhirnya aku tidak harus melewati jalan ini nantinya. Hanya perlu bertahan sebentar lagi. Dan sekarang tak perlu cemas lagi kan? Ada Dhani yang menemaniku melewati jalan ini.
Senja ini tak seperti biasanya bagiku. Bukan senjanya, maksudku manusia\-manusian yang melakukan kegiatan dan kesibukan mereka berbeda dari hari\-hari biasanya. Sampai di rumah, kakak ternyata sudah mendahului aku dan Dhani.
Duduk sendiri di sofa ruang tengah sambil terus melihat ke arah laptop di pangkuannya. Aku tertarik untuk melihat lebih lanjut apa yang dilakukan kakak. Sementara Dhani naik ke kamarnya lebih dulu tanpa peduli.
"Kak. Tumben kok udah pulang?" Aku mangambil duduk di sampingnya.
"Eh iya. Kakak tadi pulang duluan soalnya ada urusan." Jawabnya ramah seperti biasa.
"Oh gitu, oh ya Kak?"
"Kenapa?" Kakak menanggapiku tapi matanya masih begitu fokus pada laptopnya.
"Kakak nggak aneh sama sesuatu di rumah ini?" Tanyaku setengah berbisik dan mendekat.
Sebentar, Kakak diam dan melihat ke seisi rumah. "Aneh? Ya enggaklah.., sama rumah sendiri kok aneh."
__ADS_1
"Maksudku, kakak nggak aneh sama kehadiran Dhani di rumah ini yang terkesan tiba\-tiba. Apa yang bisa bikin Ayah menerima kehadiran Dhani? Alasan nggak masuk akal apa?"
"Ooh kamu ngomongin Dhani. Yaah kalau itu sih keputusan Ayah, toh nanti kakak nggak tinggal di sini terus kok."
"Kak..., bukan cuma itu maksudku."
“Dhani itu siapa? Anaknya siapa? Kenapa tinggal di sini? Kenapa harus rumah ini?"
"Tasya..., kamu nggak cemburu kalau Dhani dapat perhatian lebih dari Ayah, 'kan?” Kakak bertanya seolah sedang membela Dhani.
“Atau kamu takut Dhani jadi anak angkat Ayah? Soalnya kalau kakak lihat, Dhani lumayan juga loh. Dan kayaknya dia cocok sama kamu." Ucap Kakak semakin tak jelas terdengar di telinga ini.
"Kak. Aku masih muda untuk urusan yang begituan. Aku nggak kaya Kakak atau pun kak Andhika yang menikmati masa putih abu\-abu dengan menyenangkan. Hidupku ini abu\-abu kak..”
“Makanya cari cowok dong..”
"Udah deh..., kamu tuh harusnya ingat umur. Selisih usia kita nggak jauh loh Sya. Secepatnya kamu harus ubah dunia abu\-abu kamu, dan lihat ke depan. Ada siapa di sana yang mengaharapkan kamu bukan untuk hubungan pacaran biasa.” Ia meletakkan laptopnya.
“Tapi hubungan serius ke depan." Kak Rista bangkit dari duduknya dan berjalan menuju meja makan, meninggalkanku termangu dalam kalut pikiran menyedihkan. Aku nggak butuh dikasihani, kenapa nggak ada yang paham itu?
Aku mengikuti kakak sampai ke meja makan. Ia melanjutkan membuka laptonya dan hanya diam. Aku pun diam, dan akhirnya masuk ke kamar. Aku baru keluar dari kamar saat waktu makan malam tiba. Aku masih tidak mengerti dengan semua ini.
Kenapa nggak ada seorang pun yang memahami pikiranku? Kenapa nggak ada seorang pun yang menyadari keanehan yang sedang terjadi. Setelah melihat sebentar cahaya bulan dari balkon dan menghirup bau pterikor, aku pun turun.
Baru akan menempati kursi. Kakak memintaku naik dan memanggilkan Dhani untuk makan malam. Meski dengan setengah hati, akhirnya aku pun mengiyakan permintaan Kakak.
"Dhani... Dhani..." Panggilku dari depan pintu kamarnya yang tampak terkunci. Tak lama kemudian, yang dipanggil membukakan pintu kamarnya dengan muka datar seperti biasa.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanyanya ketus.
"Makan malam." Ucapku seraya menunjuk jam di tangan kiri.
"Okay nanti aku nyusul. Duluan aja nggak papa." Ucapnya kembali masuk dan menutup pintu kamar perlahan.
Sesuai perkiraan. Pasti Dhani akan menolak kalau yang aku yang memintanya turun untuk makan malam. Dasar manusia datar, ada apa sih sama dia? Punya beban hidup kah? Atau masalah mental?
Menuruni tiap anak tangga dengan gerutu\-gerutu dan omelan dalam hati. Sampai akhirnya sampai di depan meja makan yang sudah ada Kak Rista dengan kacamata seperti yang dipakai Dhani sewaktu aku memanggilnya tadi.
*Oh astaga! Aku hampir melupakannya*.
Dhani memakai kacamata! Kenapa aku sama sekali tak menyadarinya tadi? Wow! Seindah apa ciptaan Tuhan yang ada pada diri manusia datar itu, sampai dengan style seperti apapun dia tetap tampak indah di mata manusia. Astagaa, aku ngomong apa sih!
Tanganku mengetuk meja di depan Kakak "Kak. Ayah mana?" Tanyaku ketika Kakak mendongakkan kepalanya.
"Lagi bicara di depan." Mendengar jawaban Kakak, aku segera beranjak dan melihat ke depan.
Siapa lagi yang mengganggu makan malam keluarga kali ini? Membosankan. Setiap kali makan malam selalu ada sesuatu yang membuatnya jadi tertunda. Menyedihkan.., bahkan tak pernah ada makan malam terbaik di rumah ini.
Lagi\-lagi pikiranku mengomel sendiri ketika aku terus berjalan menuju ke ruang depan. Ketika kaki melangkah melewati sekat terakhir...
*Deg*!
Aku berhenti. Tak bersuara, kemudian sedikit menyimpulkan senyum ketika orang itu tampaknya menatapku. Aku sedikit canggung dan mulai berjalan mendekat.
"Tasya..! Berapa tahun kita nggak ketemu?" Sambutnya tak terima dengan kediamanku. Aku menerima jabatan tangannya dan kembali mengukir senyum.
__ADS_1