
Ibuku satu-satunya telah meninggal ketika usiaku delapan tahun. Saat itu aku masih kecil dan sangat susah untuk memahami penyebab Ibu meninggal. Bahkan Kakakku juga hanya diam melihat prosesi pemakamannya.
Ibuku meninggal lima belas tahun yang lalu ketika aku masih berusia delapan tahun, dan kakakku berusia sepuluh tahun. Kematian ibu yang disebabkan oleh hal tak masuk akal membuat ayahku ingin sekali menelusuri tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Pagi itu, aku ingat betul ibu berangkat ke laboratorium kimia tempatnya bekerja dengan diantar supir pribadi kami. Aku pun ikut mengantar ibu sampai ke tempat parkir laboratorium sebelum aku ikut homeschooling di rumah. Ibu bilang, ia akan pulang lebih awal dari biasanya karena hanya sedikit pekerjaannya hari ini.
Ketika waktu berangsur petang, ibu masih tak menghubungi supir kami, bahkan tak menelepon ke rumah. Aku menangis dan memohon kepada supir keluarga itu untuk mengantar aku menjemput ibu, tapi ia menolak dan tetap menunggu sampai ibu menghubunginya. Tapi ibuku masih tak menghubungi sama sekali sampai ayahku pulang dari pekerjaannya.
Melihat aku menangis dan memohon-mohon, ayah akhirnya mengajakku menjemput ibu ke laboratorium yang berjarak 7km dari rumah kami. Ketika mobil yang ayah bawa sampai di belokan terakhir, seseorang menghentikan mobil kami dan melarang kami untuk ke laboratorium. Tapi pria itu adalah pria mabuk, sehingga ayah tetap meneruskan perjalanan.
Ketika sampai di depan laboratorium, ayah turun dan memegang tanganku berjalan bersamanya. Laboratorium ini sangat besar, tapi ayah tahu pasti dimana tempat ibu bekerja setiap harinya tanpa bertanya pada petugas lobi.
“Oh Pak, ada hal apa sampai membawa anda datang kemari?” Seseorang berjas putih menyapa Ayah yang berjalan di lorong panjang itu.
“Putriku merindukan ibunya. Apa istriku masih di dalam?”
“Oh, gadis yang manis.” Pria itu lantas mencubit pipiku.
“Kurasa istri anda masih di dalam sana, tapi bukankah lebih baik meninggalkan gadis manis ini di sini?” Pria itu kembali menatapku dengan tatapan anehnya yang mengganggu.
“Terimakasih, lebih baik putriku ikut masuk ke dalam. Dia yang sangat ingin bertemu ibunya.” Ayah lantas menggendongku dan kembali berjalan.
Ayah yang menggendongku, membuat aku bisa melihat ke belakang ayah. Dan aku melihat pria itu masih saja terdiam di sana dan tersenyum menatapku dengan tatapan yang tak kusuka itu. Laki-laki itu masih tak berpindah sampai aku dan ayah mencapai ujung lorong yang mungkin berjarak 50m.
Ketika ayah berhenti di depan sebuah ruangan berdinding kaca dan berpelindung, ayah memelukku erat. Ia tak membiarkanku melihat apa yang dilihatnya. Bahkan hingga terdengar suara pistol dari tangan ayahku, aku masih tak boleh melihat apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
Aku pun menangis sejadi-jadinya karena ayah terus memaksaku menutupi mata. Hingga akhirnya ayah membawaku keluar dari laboratorium dan aku masih tak mengerti apa yang terjadi. Aku terlalu penat karena menangis, hingga akhirnya aku tertidur di dalam mobil. Dan aku tidak tahu bagaimana malam itu berakhir.
Pagi harinya, aku baru tersadar bahwa rumah kami menjadi sangat ramai, kakek-nenek pun ada di rumah ini. Dan akhirnya aku kembali dibuat menangis karena mengetahui bahwa ibuku meninggal. Satu-satunya ibuku telah meninggal. Saat itu, baik aku maupun kakak tidak diperbolehkan melihat ibu untuk terakhir kalinya.
Hal itu membuat aku semakin menangis histeris. Salah seorang dokter mengatakan bahwa kematian ini bukan karena zat kimia, dan bukan pembunuhan oleh manusia. Dokter itu mengatakannya kepada ayahku sesaat setelah peti ibuku dibawa ke ruamh terakhirnya.
Aku yang tak sengaja mendengarnya, membuatku segera menulis kalimat itu dalam buku pelajaranku agar aku tak lupa. Dan saat itu aku berpikir bahwa aku akan memahami kalimat itu ketika aku sudah dewasa dan menjadi lebih pintar.
Seharian setelah pemakanan ibu, aku terus menangis. Tangisan ini bukan seperti tangisan sebelumnya. Aku sendiri tak bisa mengendalikan tangisan ini. Bahkan ketika tubuhku lelah dan otakku berpikir untuk menghentikan tangisan ini, tapi aku tetap tak bisa berhenti menangis. Baru di hari kedua setelah pemakaman, aku berhenti menangis saat Nenekku membawaku keluar rumah dan sinar bulan malam itu menerpa tubuhku.
Bermula dari sana, aku mulai terbiasa berjemur di bawah sinar bulan setidaknya seminggu lima kali. Sinar bulan seperti menyimpan kekuatan magis yang membawaku pada sudut ketenangan hati. Dan setiap tahun, akan ada masa dimana aku terduduk di pasir pantai dan diterpa oleh sinar bulan. Selalu seperti itu.
“Aku akan membawa seorang ke depan makam ibu dan membiarkan ia mengatakan kata-kata membahagiakan.” Setiap bulan, dan setiap tahun yang kujalani, aku mendengar suara itu dalam mimpiku. Dan suara itu terasa seperti suaraku sendiri. Aneh kan?
Setelah homeschooling sejak kecil, pada usia ke 14 aku memohon kepada ayah untuk mendaftarkanku ke sekolah umum karena aku jenuh berada di rumah sepanjang waktu. Ketika baru satu tahun menempuh pendidikan di sekolah umum, banyak dari mereka yang jauhiku setelah tahu siapa ayahku. Tak jarang mereka menyebutku sebagai “Anak pengkhianat negeri”.
Saat aku berusia tujuh belas tahun, kakakku akan masuk ke universitas dan menjadi mahasiswi. Ketika ayahku tahu kakak memilih fakultas hukum, ayah tak terima dan sempat terjadi kontra di rumah ini. Karena tak mau terlibat, aku justru melarikan diri ke makam ibu dan menceritakannya sambil menangis. Kukira aku hanyalah aku yang tak ada siapapun mengenal.
Rupanya aku terlalu meremehkan diriku sendiri. Seseorang di luar sana sedang mengincar nyawaku. Bahkan hampir saja aku terbunuh oleh seseorang bertuxedo hitam di depan makan ibuku sendiri. Dan tepat sebelum orang itu membunuhku, Ali menyelamatkan hidupku. Anak buahnya pun datang dan menangkap pelaku yang akan membunuhku, dan membawanya kepada ayah.
“Lain kali jangan pergi sendirian. Kau adalah orang penting sama seperti ayah dan ibumu.” Ucap Ali ketika itu.
Bagiku, julukan orang penting memiliki arti lain, yaitu incaran pembunuhan. Tapi Ali selalu mengatakan bahwa kami adalah orang-orang penting yang perlu perlindungan khusus.
“Usiamu berapa sekarang?”
__ADS_1
“Aku tujuh belas tahun. Ada apa?”
“Apakah kau tidak ingin belajar ilmu bela diri? Sebagai orang penting, tak jarang kamu akan menghadapi situasi seperti ini. Bayangkan jika suatu saat aku tidak mengikutimu lagi.”
“Aku mau, tapi apakah ayah akan mengizinkanku?”
“Sepertinya ayahmu akan mengizinkanmu. Dan, ini…” Ali menunjukkan sebuah benda di atas telapak tangannya yang terbuka.
“Kenapa kau menunjukkannya padaku?” Tanyaku heran kala itu.
“Aku ingin kau memiliki ini. Tapi sebelum itu, ikutlah latihan dengan Eclipse sepulang sekolah, agar kamu tahu bagaimana cara menggunakannya dengan benar.” Ucap Ali kembali menyimpan pistol itu.
“Kau benar akan mengajariku menembak juga?” Tanyaku antusias.
“Iya. Tapi khusus ini, tolong rahasiakan dari ayahmu. Mungkin ayahmu tak ingin putrinya memegang pistol, tapi demi keselamatanmu, kurasa kau sangat membutuhkan ini suatu saat nanti.” Jelasnya.
“Baiklah, aku akan ikut latihan dengan pasukanmu.”
“Berjanjilah kau akan menjaga dan merahasiakannya sampai kapan pun setelah kau mendapatkannya dariku.”
“Aku berjanji!”
Ketika itu, Ali menyerahkan pelaku pembunuhan berencana kepada ayah untuk diinterogasi. Tapi sayangnya, ia bahkan tak mau mengaku ketika ditanya siapa yang memerintahnya. Ia juga pada akhirnya memilih menembak kepalanya sendiri daripada mengatakan siapa dalang di balik semua ini.
“Penderitaanmu tak cukup berakhir hanya karena kau melihatku mati dengan darah yang bercecer di lantai gudangmu ini.”
__ADS_1
Dorr!