Multiverse Love

Multiverse Love
01 - HARI SENIN


__ADS_3

September, 2016.


Hari Senin, hari yang tak disukai sebagian orang. Aku awalnya biasa-biasa saja, sampai ikut-ikutan tak suka karena semua teman-temanku tak menyukai hari ini.


Setelah upacara bendera, matematika, fisika dan kimia adalah mata pelajaran setiap Senin, yang siap menghujani kepalaku dengan angka dan zat asam. Ditambah, hari itu aku sangat tidak beruntung, aku terlambat.


Malam sebelumnya, aku keasikan menonton film. Temanya tentang dunia paralel, seru sekali. Sambil menonton, sesekali aku membayangkan diriku pergi ke dunia paralel. Dalam imajinasiku itu, aku menjadi seorang putri, seperti di film. Dan itu membuatku lupa waktu dan akhirnya tertidur begitu saja di depan laptop yang masih menyala.


Sinar mentari, samar-samar menembus awan mendung yang mendekap langit Denpasar kala itu. Kubuka mataku secara perlahan dan menikmati setiap regangan tubuhku seraya menguap. Kuambil handphone-ku untuk melihat waktu, pukul 07.17 WITA.


Aduh, darahku melesat menuju ujung-ujung tubuhku guna membawa oksigen dan energi untuk membuatku segera tersadar sepenuhnya. Alarm yang kubuat semalam, dan akan berdering setiap 5 menit selama 10 kali itu, telah mencoba membangunkanku. Jika ia adalah manusia, mungkin saja sudah meneriakiku tepat di telinga. Bangun...!


Mandi gak ya? Gak usah deh.


Aku kemudian meluncur pergi ke kamar mandi yang jaraknya beberapa langkah lebar dari kamarku, hanya untuk mencuci muka. Setelah itu, cepat-cepat aku pakai seragam dan langsung bergegas menuju sekolah.


"Naura! Berdiri di sana," kata Pak Surya yang menyuruhku berdiri di sebelah kiri, tempat murid terlambat yang telah dicatat namanya. Pak Surya adalah guru yang baik dan ramah. Kebetulan saja waktu itu dia bertugas piket, mengawasi murid-murid yang terlambat. Raut mukanya itu tak akseptabel untuk terlihat garang.


Agak kesal, bukan pada Pak Surya, akan tetapi pada diriku sendiri. Aku tidak pernah terlambat sebelumnya. Sekarang, aku harus berdiri bersama anak-anak nakal yang sering terlambat dan bolos sekolah. Duh, gara-gara nonton film semalam. Ibu dan bapak juga sedang menginap di rumah nenek dari ibuku. Jadi, tak ada yang membangunkanku. Aku terus memalingkan wajah, menyembunyikan rasa malu dan kemudian menundukan kepala, memandangi sepatuku yang—


"Sepatumu tertukar ?" tanya Pak Surya. Wajahnya sedikit memerah. Tangannya bergerak menutup mulut mencoba menahan tawa.


Ia memang mengatakan itu dengan pelan, namun anak-anak nakal itu mendengarnya dan menertawaiku.


Baru saja kusadari sepatuku ternyata tertukar sebelah dan di saat yang sama, Pak Surya juga. Memang sepatu pantofel semua, tapi yang satu warna coklat dan satunya warna hitam. Dunia seakan meluntur, wajahku terasa tebal karena darah seakan menggumpal di sana. Dan, dengan kepanikan yang melanda, aku mencoba memberi alasan semampu benakku saat itu.


"Gini ... Mm ... Soalnya tadi sepatu saya basah, yang satunya. Jadi, saya pasangkan dengan sepatu lain." Setelah mengatakan itu, langsung kututup mataku rapat-rapat, wajahku merut, tanganku mengepal erat di samping badanku, karena sadar alasan itu hanya akan memperburuk keadaan.


Bodoh! Kau bodoh, Naura! Bahkan itu membuatmu terlihat semakin konyol di depan mereka.


Pak Surya yang tadi mencoba menahan ketawanya, kini ikut tertawa. Bahak mereka bak petir menyambar, langit serasa runtuh menimpaku, saking malunya.


Akhirnya aku meminta izin pulang, diiakan atau tidak, aku tetap pergi. Begitu melewati gerbang sekolah, tak kudengar lagi suara tawa mereka. Sedikit penasaran, aku berhenti dan menoleh mereka, yang juga tiba-tiba menolehku, dan kembali menertawaiku. Memang, kapan lagi kan melihat siswi teladan berlaku konyol seperti ini? Langsung saja kubalikan badan dan meneruskan berjalan.


"Naura!" Pak Surya memanggilku, pasti dia merasa bersalah dan ingin meminta maaf, aku berhenti dan sekali lagi menoleh ke arahnya. Jika dia meminta maaf, maka aku langsung membalikkan badan lagi dan tidak akan menghiraukannya.


"Cepat ya, usahakan kembali sebelum jam belajar tatap muka dimulai."


Eh? Kok tidak meminta maaf?


"Iya, Pak. Terimakasih."


Lah? Kenapa aku harus menjawabnya? Seharusnya cukup mengangguk saja sebagai ekspresi kekesalan. Pakai bilang terimakasih segala. Kulihat Pak Surya mengerutkan keningnya, mungkin dalam benaknya dia kebingungan karena aku mengucapkan terimakasih. Langsung kubalikan badan dan melangkahkan kakiku yang terasa sudah sangat berat, seberat bumi.


"Oh ya, sepatunya nanti jangan sampai tertukar lagi." kata Pak Surya terus tertawa, tawanya menggema di telingaku.


Hari yang menyebalkan! Jika saja aku benar menjadi putri raja, sudah aku kurung dia dan anak-anak nakal itu di penjara bawah tanah.

__ADS_1


Aku semakin membenci hari Senin. Berjalan pulang dengan rasa kesal dan malu, bahkan lebih malu lagi rasanya jika aku kembali ke sekolah. Membayangkan bagaimana reaksi teman-teman sekelasku jika mereka mengetahui hal ini.


***


Ketika membuka pagar rumah, si bibi yang sedang menyapu halaman, menyambutku dengan senyuman. Cuma senyuman, dia tak bicara atau bertanya apa-apa. Aku menatapnya, masih menunggu perkataan yang keluar, setidaknya kekesalanku akan sedikit terlampiaskan dengan tidak menghiraukannya saat dia berkata padaku.


Eh? Kok jadi jahat begini diriku, ya, Tuhan.


Ya, paling tidak aku bisa menuju kamar tanpa dihadang pertanyaan.


Sampai di kamar, kulepas sepatu. Benar-benar kesal, lalu kubanting sepatuku itu. Saking kesalnya, yang salah itu bukan aku, tapi sepatuku. Kenapa harus tertukar coba? Sudah terlambat, ditambah sepatuku tertukar dan 'terimakasih?' untuk apa aku bilang terimakasih?


Menarik napas panjang, lalu aku merebahkan badan di kasur, memandangi langit-langit kamar, lalu kuputuskan untuk tak kembali ke sekolah.


Namun, kekesalan itu masih menguasai emosiku. Kenapa sebodoh ini sih kamu, Naura!


"Tumben, biasanya kamu orang yang teliti."


Tadi buru-buru ke sekolah kan?


"Kenapa kamu harus begadang ?"


Ya juga, ya, kenapa kemarin aku menonton film itu dan merelakan diriku untuk begadang?


Dan kenapa sekarang aku malah bicara sama diri sendiri ketika aku bisa melanjutkan tidurku?


"Sepatumu tertukar ?"


Aduh! Kalimat dan bahak mereka kembali dan terus diputar dalam benakku, otomatis! Sudah, sudah! Aku tak ingin memikirkannya lagi. Kembali kurebahkan badan sambil memeluk boneka kesayanganku, mencoba melupakan kejadian tadi.


"Naura, kamu kemarin terlambat ya ? Katanya, sepatumu tertukar. Judul yang bagus untuk dijadiin sinetron. Hahaha."


Besok pasti di-bully seperti itu. Harus ku jawab apa?


Tunggu, kenapa sekarang otakku seolah berperan sebagai Agus dan menanyakan hal yang sudah pasti akan dia tanya kalau tahu apa yang telah terjadi? Agus si anak jail yang suka menggangu di kelas. Oke, jadi sudah kusimpulkan kalau kepalaku punya roh sendiri.


Kuambil handphone-ku, kuhidupkan bluetooth-nya, kunyalakan speaker aktif dan kuputar lagu Avenged Sevenfold kesukaanku keras-keras, agar tak perlu lagi berdebat dengan kepalaku sendiri.


Setelah men-supply kepalaku dengan lagu-lagu rohani khas A7X, sepertinya roh dalam kepalaku mulai tenang. Kini giliran perutku yang meronta, dan aku tidak ingin berdebat dengannya. Bagiku, kesal adalah kata lain dari lapar.


Aku beranjak dari kasur dan menuju dapur yang sudah penuh sesak dengan aroma makanan, yang baru saja selesai dimasak bibi. Tapi, kurang lengkap kalau tidak ditemani mi instan kesukaanku.


"Bik, Bibik ? Buatin Naura mi instan dong, yang kuah, ya ?"


"Sebentar, Bibi masih ngepel. Lagi sedikit, selesai," sahut si bibi dari salah datu ruangan di luar dapur.


"Yaudah gak apa-apa. Biar aku buat sendiri aja, Bik."

__ADS_1


Oke, membuat mi adalah perkara gampang walau tidak se-instan mereknya. Baru tiga langkah ketika aku mau mengambil sebungkus mi kesukaanku—


DUGG!


Kakiku tersandung, kelingkingku yang mungil dan tak berdaya harus beradu dengan kaki meja yang kokoh itu.


"Aduh! Sial! Hari ini benar-benar sial!" Kelingking kakiku berteriak, memaki dan merintih kesakitan, hanya saja keluarnya lewat mulutku. Serius! Itu suara kelingkingku, aku tak pernah berkata kasar.


Aku berjongkok sambil memeganginya, kulihat ada sedikit darah keluar dari luka kecil yang timbul. Kuambil obat merah dan meneteskannya pada luka itu.


Tak lama, bibi masuk. Wah, sepertinya ini adalah waktu yang tepat untuk mengerjainya.


"Aduh ..."


"Naura, kamu kenapa ?"


"Tadi kelingkingku terbentur kaki meja, Bik. Sakit ... putus dah ini kelingkingku, Bik," jawabku sambil menangis dan sedikit mendramatisir keadaan. Tentu saja berpura-pura.


"Kok bisa sampai berdarah gitu ? Duh ... Tunggu, tunggu, biar Bibi ambilkan obat merah." Wajahnya pucat pasi, keringat dingin seketika membasut di keningnya, dia sangat khawatir


Kemudian aku mulai tertawa, bahak jahat yang menyaingi bahak Pak Surya dan anak-anak nakal tadi, ku lampiaskan pada si bibi. Mungkin dari caraku menyampaikan, itu terlihat kejam. Tapi tidak begitu, aku sering mengerjai bibi dan dia sama sekali tak pernah tersinggung. Malahan dia bahagia kalau aku suka main dengannya. Ya, walaupun dia yang selalu jadi korbannya.


"Ini cuma obat merah, Bik. Aku yang tetesin tadi." Tawaku masih mengiringi perkataanku.


Sambil mengelus dadanya, si bibi berkata :


"Naura, kamu selalu bikin bibik khawatir aja. Yasudah, sana."


"Sana kemana ?"


"Biar bibik yang buatin mi untukmu."


Wah, si bibi memang sangat pengertian. Memang sosok pembantu yang ideal. Atau, kusebut saja housemaid, biar keren aja gitu. Hehe.


_o.O.W.O.o_


Sambil makan, aku masih terbayang raut wajah bibi dan kembali tertawa. Kenapa ya aku suka tertawa pada hal-hal kecil? Jangan-jangan ketularan Pak Surya? Atau, karena kesepian? Ah, tak mungkin.


"Cari pacar, biar gak kesepian."


Siapa? Sepertinya dulu ada yang pernah mengatakan itu padaku.


Oh, ya, Devi. Dia teman sekelasku, cukup akrab untuk dapat dikatakan sahabat. Dia orang yang selalu mendukungku, begitu juga aku yang selalu memberi dukungan padanya saat ulangan. Ya, memberi contekan salah satunya.


Mungkin yang dikatakan Devi benar. Mungkin aku kesepian. Tapi, berpacaran kupikir bukan jalan satu-satunya agar tak kesepian. Lagian mau pacaran sama siapa? Tak ada yang menarik bagiku.


Sudah lama semenjak terakhir kali aku pacaran. Dunia itu sudah tak menarik bagiku. Tapi, aku masih terus melayangkan pikiranku pada apa yang sempat Devi katakan. Dan, ya, mungkin aku memang benar-benar merasa kesepian.

__ADS_1


__ADS_2