Multiverse Love

Multiverse Love
02 - PENCULIK ?


__ADS_3

Dengan segala pikiran negatif yang membebani kepalaku, membayangkan bagaimana riuhnya teman-temanku besok, juga tentang hari ini yang begitu menyebalkan. Akhirnya kuputuskan untuk pergi keluar jalan-jalan.


Ini bulan September, sudah musim penghujan. Bunga-bunga sakura itu pasti telah bermekaran. Sudah lama aku tidak menghibur diri ke Taman Lumintang. Aku biasanya sering ke sana, sendiri atau sama teman-teman, sekedar untuk menghibur diri atau berolahraga. Duduk di bawah pohon sakura itu memberikan ketenangan bagiku.


Tapi, sebenarnya itu adalah pohon bungur yang mirip dengan pohon bunga sakura di Jepang. Beberapa juga ada pohon tabebuya. Periode Juli - Agustus pohon-pohon ini akan mengalami gugur daun, setelah itu barulah mulai berbunga dan berguguran, itu sungguh indah. Jadi kuanggap saja itu adalah pohon sakura, mirip sekali. Kalau mau ke Jepang juga uang dari mana? Walau itu adalah salah satu negara favoritku untuk kukunjungi nanti, kalau sudah kaya. Hehe.


Malam itu, hujan baru saja reda, namun, masih menyisakan sedikit gerimis. Kuambil payung merah kesukaanku lalu pergi keluar. Aroma khas petrichor itu mulai membelai reseptor olfaktori di hidungku, dan menyesaki paru-paruku yang seketika membuat suasana jadi begitu mellow. Aku sangat senang dengan aroma ini, serasa ingat kenangan-kenangan bahagia dulu, entah apa itu.


Aku berjalan di atas genangan air kecil yang baru saja terbentuk, sambil menyapu bunga-bunga merah jambu yang berguguran itu dengan kakiku. Aku begitu menikmati jalan pikiran dan perasaanku yang damai sampai tidak menyadari kalau hanya aku yang ada di sana. Aku seperti terhipnotis, oleh suasana yang begitu ingin semua orang untuk menikmatinya. Aku sangat terpengaruh dan turut mengalir bersama perasaan bahagia yang teruntai dalam setiap langkahku.


Kemudian aku memandangi objek-objek yang jauh di sekeliling, oh, ternyata aku sedang sendiri.


Eh? Sendiri?


Semua suasana damai dan mellow itu berubah menjadi degupan dada yang tak karuan. Aku mulai khawatir akan berbagai hal yang mungkin saja bisa terjadi.


Tumben taman ini sepi? Penikmat petrichor itu pada kemana? Apakah semua sudah beralih menjadi penikmat senja?


Sebenarnya tidak ada yang salah, banyak kendaraan lalu-lalang, tapi, firasatku mengatakan kalau akan terjadi sesuatu, entah itu apa.


"Penculik ?"


Mungkin saja.


"Tenang, tak ada penculik. Nikmati dulu suasana ini."


"Pasti penculik!"


Roh dalam kepalaku kembali menunjukan eksistensi-nya, bahkan kali ini ada dua, seakan aku hanya menjadi orang ketiga antara perdebatan mereka.


"Cepat pergi!"


Oke!


Kuturuti saja saran salah satunya. Kubalikkan badanku dan mulai melangkah, berlari kalau perlu, berteriak? Ah nanti saja.


Semakin kupercepat langkahku, kenapa situasi juga semakin mencekam?


Oke, berlari, ini saatnya lari.


Baru kupercepat ayunan kakiku, sesuatu seperti menarikku dari belakang, seperti tersedot oleh vacuum cleaner ukuran jumbo. Coba kutoleh, tapi karena saking takutnya, kupejamkan saja mataku.


Berteriak, ini saatnya aku berteriak.


"........"


Eh? Tidak ada suara?


Aku kemudian mengetahui cahaya benderang ada di depanku, itu karena sinarnya menembus kelopak mata yang kupejamkan rapat.


Tak lama, cahaya itu sepertinya mengilang, ku buka mataku seraya berteriak sekencang-kencangnya. Suaraku baru bisa keluar dan terdengar pastinya. Seseorang kemudian menutup mulutku, mencoba menghentikan teriakanku.

__ADS_1


"Sssttt! Jangan teriak!" bisik orang itu.


Dari suaranya, dia pasti seorang lelaki.


"Penculik, yakin. Pasti penculik."


Percaya deh, ini adalah roh yang berwarna merah yang seperti logo Manchester United itu, karena membuatku selalu berpikiran negatif dan diliputi rasa takut.


Tapi, serius, siapa orang ini?


"Kalau gak diem, gak bakal kulepasin nih!" ancamnya dan terus mendekap mulutku dengan tangannya.


Kugunakan kode tangan dan anggukan sebagai tanda persetujuan. Setelah dia melepaskan tangannya, aku akan lari.


Begitu dia melepaskan tangannya, kuayunkan kakiku, dan berlari sekencang-kencangnya. Usain Bolt rasanya akan kalah olehku, jika saja dengan motivasi yang sama—seperti sekarang—kudapat lagi saat kuberlari di olimpiade melawannya.


GEDEBUK!


"Aduh ...," ringkihku menahan sakit. Air telah membasahi wajah dan kuncup-kuncup bunga itu menempel, memenuhi wajah serta rambutku.


Sepertinya, sesuatu membuatku tersandung dan terjatuh dengan wajah mendarat lebih dulu pada genangan air, untung tidak berlumpur.


Dengan cepat coba kubersihkan diriku, membuat rambutku berantakan dan terlihat kacau. Lalu kulihat lelaki itu masih berdiri di bawah pohon sakura-nya Indonesia itu, kemudian dia mendekat. Wajahnya tak terlihat begitu jelas, karena dia berjalan membelakangi cahaya. Kuncup-kuncup bunga yang berguguran itu membuat suasana terkesan lebih dramatis.


Aku mencoba berdiri dan melanjutkan pelarianku. Tapi, aku tidak mampu untuk berdiri, sepertinya kakiku terkilir.


Pupilku melebar menyaksikannya mendekat, jemariku terasa begitu dingin dan membeku seperti es. Rasa sakit itu kalah oleh dasa takutku.


Aku tak bisa berkata apa-apa, baru saja aku ingin berteriak—lagi, kalimatnya yang lembut itu membuat benakku mencoba mengolah kembali informasi tentang apa yang sedang terjadi, dan apa yang harus kulakukan.


"Gak usah takut, aku orang sini kok. Kamu orang mana ?" tanya lelaki itu sambil memegangi dan memeriksa kakiku yang sepertinya terluka.


Penculik? Kok baik?


"Ah, sakit. Pelan-pelan sedikit," balasku ketika ia menyentuh lukaku dengan sengaja atau tidak, aku tak tahu. Yang kutahu hanya sebuah pertanyaan dibenakku, yaitu :


Dia ini siapa? Aku tidak pernah melihatnya.


Dengan indraku yang mulai menenang, kujawab pertanyaannya barusan. "Aku juga dari sini, tapi aku tak pernah melihatmu."


"Beneran ? Aku dari Buleleng aslinya, cuma sudah pindah ke sini beberapa tahun lalu. Rumahku di sana, tak jauh dari sini." Lelaki itu menunjuk ke arah jalan yang juga searah dengan rumahku.


Beberapa tahun? Rumahnya gak jauh? Kok aku tak pernah melihatnya?


"Sini, kubantu berdiri. Bisa jalan gak ?"


Perhatian sekali nih orang. Makasih, jawabku dalam hati.


"Aduh ... duh." Sakitnya kakiku. Rasanya begitu menusuk dan panas. Pasti terkilir. Kalau begini, gimana bisa pulang?


"Kalau gak bisa jalan, sini kuantar saja, gimana ?" Dia menawariku untuk dibonceng di sepeda keranjangnya. Sepertinya itu milik ibunya, atau, adiknya?

__ADS_1


Gimana ya? Kalau-kalau nanti dia memang benar-benar penculik dan mau menculikku?


Tapi, melihat bagaimana perlakuannya, dia kelihatan sangat baik dan begitu perhatian. Yasudah, ku setujui tawarannya.


Kunaiki sepedanya dan duduk di belakang. Masih malu-malu, tapi, mau. Mau karena terpaksa sih lebih tepatnya.


"Ini sepeda adikku, malam-malam aku sering ke sini."


"Tapi kenapa aku tidak pernah melihatmu ?"


"Bunkankah aku yang seharusnya bertanya seperti itu ? Haha."


"Eh? Serius!"


"Aku juga serius! Dari tadi aku berdiri di sana, aku lihat kamu berjalan melewatiku sambil senyum-senyum sendiri," ujarnya membuatku semakin bingung.


Tapi, perasaan, tadi aku memang sendiri di sana. Atau, aku memang tak menyadari kehadirannya di sana?


"Seyummu manis," lanjutnya dengan pelan, lebih seperti sedang berbisik.


Aku tersipu mendengarnya. Namun, aku berpura-pura tidak mendengarkan. Lagipula dia siapa? Sudah berani merayuku.


Eh, tapi, senang juga dengarnya. Sudah lama tak ada yang mengatakan hal itu padaku.


"Jadi lewat mana nih ? Kiri atau kanan ?"


"Kiri, itu tuh, di depan," sahutku sambil menunjuk pintu pagar rumahku.


Dia kemudian berhenti tepat di depan rumahku, dan bertanya :


"Yang ini ? Beneran yang ini ?" sambil menunjuk rumahku.


"Iya, memang kenapa ?" Aku turun dari sepedanya dan berdiri di depan pagar.


Kemudian dia melihat sekitar dan berbisik, seperti bicara dengan dirinya sendiri.


"Hmm ... Sama, mirip, gak ada bedanya." Sambil mengelus-elus dagunya dengan satu tangan menyilang horizontal ke bawah tangan satunya.


Gelagatnya memang seperti penjahat saat ini. Kutatap tajam matanya, dan kemudian dia menoleh ke arahku.


"Heh? Kenapa? Serem gitu mukanya," ucapnya dengan sedikit terkaget.


"Kamu pelaku kriminal ya ? Kamu pasti mau mencuri kan ?" Aku bergerak mendekati dan mencoba membuat dia merasa terintimidasi.


"Lah? Aku cuma lihat-lihat aja. Yaudah, aku mau pulang dulu. Oh ya, pintu pagarmu bagus." Lelaki itu memutar sepedanya dan hendak pergi.


Pintu pagar? Jika begini, lebih baik rasanya dia memujiku seperti tadi saja. Memang, apa bagusnya pintu pagar?


"Eh, eh, namamu siapa ?" Baru kuingat untuk menanyakan namanya. Tapi, sepertinya dia tidak mendengar pertanyaanku, dia terus mengayuh sepedanya menjauh.


Saat aku tiba di kamar—dipapah oleh bapakku yang telah kembali dari rumah saudara, aku masih memikirkan si lelaki misterius yang muncul tiba-tiba di bawah pohon sakura.

__ADS_1


__ADS_2