Multiverse Love

Multiverse Love
05 - DIA YANG TAK TERTEBAK


__ADS_3

Kini tiada lagi khayal tentang lelaki misterius yang menamai dirinya Kenan itu. Semua pikiranku kini tertuju pada si Agus yang entah kenapa setelah ia datang menengokku, aku merasakan ada sesuatu yang memikatku.


Sibuk berimajinasi, sepertinya gerombolan cacing di perutku mulai menuntut makanan. Namun, kemana si bibi? Kok belum dibawakan makan?


"Bik, Bibik ..." Aku berteriak mencoba memanggil si bibi dan menunggu beberapa saat untuk mendengar jawaban darinya.


Eh? Kemana si bibi? Kok tidak menyahut panggilanku. Aku ambil sendiri saja lah. Tapi, kakiku kan masih sakit. Oh, ya, tadi si Kenan memijat kakiku dan dengan kepercayaan diri setara dewa dia mengatakan kalau kakiku sudah dapat kugunakan untuk berjalan.


Akhirnya dengan pelan coba kuangkat dan kugerakkan kakiku dengan masih di posisi terbaring.


Eh? Beneran. Masih ada rasa sakit, tapi, cuma sedikit.


Secara perlahan kutapakkan kaki di lantai, mulai berdiri dan melangkahkan kakiku dan ternyata aku memang sudah bisa berjalan seperti biasanya.


Sebenarnya si Kenan itu tukang pijat atau siapa ya? Dia memang lelaki misterius.


Padahal baru kuhilangkan pemikiran tentang dirinya, namun apa yang telah dia lakukan padaku selalu membuat pikiranku melayang-layang ke sikapnya yang begitu misterius dan dengan perlakuannya yang baik pula.


o.O.W.O.o


Keesokan harinya aku memilih untuk sekolah, ya, walaupun aku bukanlah perempuan serajin apa yang orang pikirkan, namun tetap aku adalah perempuan yang taat akan kewajiban.


"Pak, anterin ke sekolah dulu yah ?" pintaku kepada bapak.


"Udah bisa sekolah ?" tanya bapakku dan setelah itu menyeruput kopinya.


"Sudah dong, Pak. Yuk."


Bapakku menaruh kopi, mengambil kaca matanya dan berdiri. Ia mengelus-elus rambutku. "Buk, tunggu sebentar ya. Bapak mau nganter Naura dulu."


"Iya, Pak," jawab ibuku singkat, entah apa yang ia kerjakan di dapur.


Bapakku kemudian berhenti tepat di depan sekolah. Lalu aku turun dan mencium tangannya.


Agus datang menyambutku dan mengambil tasku untuk dia bawakan. Aku menatapnya, kubuat senyum tipis di bibirku sebagai persetujuan sekaligus tanda terimakasih.


o.O.W.O.o


Di dalam kelas aku merasa sangat bosan dengan pelajaran yang begitu tak menarik perhatianku. Agus yang duduk di deretan bangku sebelah kanan terus melirikku. Hah ... malah sekarang aku menjadi agak ilfil dengannya. Aku memang sering berlaku sesuai mood-ku.


Ayolah ... seseorang, palingkan konsentrasiku dari jam pelajaran yang membosankan ini.


Kemudian tak sengaja aku menoleh ke arah jendela. Seseorang membawa sebuah payung merah, wajahnya tertutupi oleh payung itu.


Eh? Itu seperti payung merahku. Aku fokuskan lagi pandanganku. Siapa yang membawa payung di saat yang seperti ini? Kan tidak hujan? Aku begitu penasaran, siapa orang yang membawanya.


Kemudian dia berhenti dan diam sejenak di situ. Aku tidak lagi mengkonsentrasikan pikiranku pada pelajaran yang membosankan itu. Seperti menonton film rasanya, menebak-nebak apa yang akan terjadi dan siapa yang akan muncul di balik payung merah itu. Terlihat sederhana, namun aku serasa menikmati momen itu.

__ADS_1


Perlahan ia menggerakkan payung dan tubuhnya ke arahku. Sekarang dia pasti akan menoleh ke arahku. Lalu tiba-tiba ia membalikkan badannya dan menoleh ke arah yang sebaliknya. Seketika keningku mengerut melihatnya.


Eh? Siapa sih dia?


Kemudian perlahan ia kembali seperti akan menolehku. Sekarang dia pasti menoleh ke arahku! Kemudian dia berjalan begitu saja tanpa sedikit pun menoleh ke arahku.


Kenapa semua tebakanku gagal? Apa dia bisa membaca pikiranku?


Bel istirahat berbunyi dan masih belum kusadari, aku masih terus mencoba menebak-nebak siapa orang itu.


"Mungkin dia Kenan."


Hah? Mana mungkin dia. Pertama, dia tidak tahu tempatku bersekolah. Kedua, dia tidak tahu kelasku. Dan, untuk apa dia datang menemuiku hanya untuk berdiri dan melakukan hal yang tidak akan dilakukan siapa pun.


"Dia lelaki yang susah ditebak kan?"


Benar juga. Tapi, apakah dia terus membuntutiku dan mengorek-orek informasi pribadiku?


"Heh! Mikirin apa ?" tanya Devi seraya menepuk pundakku.


"Eh ... mm ... aku tidak memikirkan apa-apa kok," jawabku dengan sedikit terkejut dan ragu-ragu membuat Devi curiga dengan sedikit mengangkat salah satu alisnya. "Kantin, yuk ?" tanyaku mencoba mengalihkan pembicaraan.


Devi masih memelototiku, tampangnya seperti seorang detektif yang mencoba mengintimidasi seseorang.


"Ayo! Aku udah lapar nih!" seruku seraya menarik tangannya.


"Naura, jujur aja, kamu suka kan sama Agus ?" tanya Devi dengan senyum menyebalkan.


"Eh, enggak kok." Kenapa saat itu aku menjawab pertanyaan Devi dengan terkejut dan langsung memalingkan wajah. Itu adalah gelagat pembohong dan Devi mungkin menyadari itu. Dia sangat suka menonton film bertema detektif dan salah satu favoritnya adalah Sherlock Holmes. Memang teman-temanku tidak ada yang beres.


Sembari duduk dan menyuapi diriku sendiri dengan mi instan kuah yang lezat itu, Devi kembali berbicara mengenai Agus.


"Agus kalau dilihat-lihat, juga, tidak buruk-buruk amat kok," ucap Devi dengan nada lemah agar tidak ada orang yang mendengarnya.


Jadi, menurut gosip anak sekolah yang telah beredar, Agus ditaksir banyak perempuan. Tentu saja siswi yang berpacaran dengan Agus akan membuatnya menjadi begitu merasa bangga. Haha. Sudah hampir tiga tahun aku sekelas dengannya, namun, baru kali ini aku mulai mendengar desas-desus tentang dirinya.


Desas-desus itulah yang membuatku mengurungkan niatku, bagaimanapun juga aku bukanlah tipe orang yang gampang suka dengan seseorang. Walaupun wajar terkadang ada sedikit rasa nyaman, mungkin itu adalah hal biasa yang sering dirasakan perempuan.


Mungkin perasaanku dengannya hanya sebatas perasaan suka sebagai seorang teman saja karena Agus begitu perhatian kepadaku. Dan setelah menyadari ini semua, aku merasakan diriku begitu damai dan beban terasa hilang dari pundakku.


Suatu saat, pasti ada orang yang memang benar-benar untukku.


Lalu tiba-tiba seseorang dengan payung merah itu datang menyeruak kerumunan siswa.


"Permisi-permisi," ucapnya.


Wajahnya terlihat, aku terkejut melihatnya. Apakah dia akan menghampiriku?

__ADS_1


Dia mendekat, aku hanya tertegun, mi yang baru saja kumasukan kemulutku belum sepat ku telan dan masih bergelantungan di bibirku.


"Dia datang, dia akan ke sini," gumamku yang di dengar oleh Devi. Dia kebingungan melihat wajahku yang begitu terkejut melihat orang berpayung merah itu.


Begitu dia telah berada di depanku, dia membelokkan arahnya dan menuju bu kantin.


"Siapa yang datang ? Dia ? Siapa dia ?" tanya Devi begitu penasarannya.


Aku terus memandanginya berbincang dengan bu kantin, lalu kualihkan wajahku dan baru ingat untuk menelan mi itu. Jika ada orang selain Devi yang melihat kekonyolanku ini, apa kata mereka nanti.


"We! Dia siapa ?" Devi kembali bertanya dengan nada yang lebih kencang.


"Akan ku ceritakan nanti, cepat makan dan segera pergi dari sini!" seruku pada Devi.


Tanpa di sengaja aku mendengar percakapannya dengan bu kantin.


"Beneran, Bu. Aku dari tadi mencarinya."


"Dia mencari seseorang," ucap Devi yang juga mendengarkannya. Aku hanya mengangguk dan melanjutkan konsentrasi pada percakapan mereka.


"Dia gak cantik-cantik amat. Tapi dia manis. Pokoknya kalau ibuk jadi laki-laki pasti suka sama dia," ucapnya kepada ibu kantin.


"Ibu gak tau yang kamu maksud. Banyak orang di sini yang cantik dan manis," balas bu kantin sembari menyiapkan pesanan makanan dari murid-murid.


"Aku ... mencari ... seseorang ... yang seperti dia," ucapnya pelan seraya menatapku.


Aku langsung memalingkan wajah, apa yang akan dilakukannya?


"Dia ?" tanya bu kantin seraya menunjukku. "Kalau yang seperti dia cuma ada satu di sini, namanya, Naura," lanjut bu kantin. Murid-murid yang mendengar memandangku sekejap, entah itu karena refleks atau ada hal lain yang mereka pikirkan.


"Nah, kan sudah kubilang, Buk. Seharusnya ketika kukasi tahu ciri-cirinya, Ibuk langsung mengetahui siapa dia. Hehe." Ibu kantin hanya tersenyum membalasnya. Kemudian dia mendekat ke arahku.


Jantungku berdebar, entah apa ini? Logikaku mengajakku untuk segera beranjak dari kantin, namun hatiku mengatakan hal yang berbeda. Inilah yang membuatku terdiam dan tidak bisa melakukan apa-apa selain menunggu apa yang akan ia lakukan.


Dia menatapku, sorot matanya begitu membuatku degdegan diiringi senyum manisnya. Dia mengulurkan tangan kepadaku.


"Hai, Naura. Aku Kenan," ucapnya.


Tentu saja aku telah mengetahui siapa kau, tapi ... Ah, pokoknya dia memanglah orang yang aneh.


Setelah mengetahui aku tidak membalas uluran tangannya, dia menariknya. Namun senyum itu tidak pernah memudar dari wajahnya.


"Namamu bagus. Yasudah aku pergi dulu." Dia membalikkan badan dan berjalan menjauh dariku.


Duh, kenapa aku setega itu? Mungkin sikapku tadi telah membuatnya merasa malu.


Semakin aku membayangkan senyum yang tak pernah hilang dari bibirnya meski aku telah mempermalukannya, membuatku semakin merasa bersalah.

__ADS_1


__ADS_2