
"Senyummu manis."
Setiap membayangkan ucapannya itu, senyum tipis selalu muncul di wajahku. Tersipu aku dibuatnya. Sayangnya, tak begitu jelas ingatanku akan wajahnya.
"Pintu pagarmu bagus."
Eh? Iya ya, dia juga memuji pagar rumahku. Sungguh aneh. Dia pasti lelaki yang memang suka merayu perempuan, toh pagar saja dia katakan bagus. Oke, jadi aku tidak usah gede rasa dengan dia.
Jika kupikir-pikir lagi, darimana datangnya si lelaki misterius itu? Apakah benar dia sudah di sana sebelum aku? Atau jangan-jangan, dia itu hantu?
Hah?
Jangan sampai dia itu beneran hantu, aku tak akan lagi datang ke taman favoritku itu.
Tapi, jujur saja sudah lama aku tak dibonceng lelaki selain bapakku. Walau karena terpaksa mengiakan tawarannya, ada setitik rasa nyaman dan romantis yang kurasakan saat itu.
"Naura, kamu tidak apa-apa ?" tanya ibuku yang tiba-tiba saja memasuki kamarku.
Dengan ekspresi yang sedikit terkaget karena buyarnya khayalku dengan kedatangan ibuku, aku menjawab, "A ... Aku baik-baik saja kok, Buk."
Ibuku terus duduk di sampingku, tak sengaja ia menapak pergelangan kakiku.
"Aduh, sakit, Buk," kataku refleks.
"Kone baik-baik den, yang mana sakit ?"
"Itu dah, Buk. Sepertinya terkilir," jawabku dengan nada yang lemah.
"Besok ibuk panggilkan tukang urut ya ? Biar cepet sembuh. Kamu istirahat sekarang, dan besok jangan sekolah dulu." Ibuku terlihat tenang seraya mengelus rambutku.
Apakah aku harus bersyukur atas kejadian ini, karena masih ada waktu untuk mempersiapkan mentalku sebelum ditertawai di sekolah? Atau menyesali kejadian tadi yang membuat kakiku terkilir dan membatasi gerakku? Entahlah.
"Ibuk tidak tidur ? Udah malam, nanti Ibuk sakit." Sengaja aku menanyai ibuku pertanyaan ini, dengan harapan agar ia membiarkan aku sendiri saat ini sehingga aku memiliki lebih banyak waktu untuk melanjutkan khayalku tadi.
"Ibuk ke kamar dulu ya ? Jangan banyak gerak loh." Ibuku terus berjalan keluar dan seperti orang-orang sopan lainnya, ia menutup pintu kamarku.
Oke, sampai mana tadi? Oh ya, dia itu hantu atau bukan? Pertama, aku merasakan aura mencekam yang membuatku begitu takut. Kedua, ada sesuatu yang seperti menyedotku dari belakang. Ketiga, ada cahaya benderang di depanku. Jadi kesimpulannya ... Ah, apa mungkin dia itu hantu?
__ADS_1
Kalau dia bukan hantu, pasti dia berpikir kalau aku ini perempuan yang konyol dengan sikapku tadi. Duh, jadi malu sendiri membayangkannya. Namun, dari caranya memperlakukanku tadi yang sama sekali tidak menyinggung keanehanku, karena berteriak dan berlari tanpa alasan jelas, membuatku tak merasa kalau aku telah membuat diriku terlihat konyol di depannya.
"Pelaku kriminal ?"
Ah, tadi aku juga menuduhnya yang bukan-bukan. Rasa bersalah mulai muncul sedikit mengingat betapa baiknya dia padaku.
Eh, kok pikiran dan emosiku menjadi semakin tak terkendali seperti ini?
Malam semakin larut, pikiranku hanya melayang di seputar topik yang sama. Jam dinding yang entah kenapa semakin larut, suara detikkan jarumnya kok semakin kencang? Suasana menjadi semakin seram.
Aku akhirnya memutuskan berdoa, selain itu adalah kewajiban, juga membuatku merasa tenang setelahnya. Setelah semua kembali kurasa normal, termasuk suara jam dinding itu, seketika roh dalam kepalaku memunculkan jawaban yang out of the box atas rasa penasaranku.
"Dunia Paralel!"
Eh? Iya, apakah aku masuk ke Dunia Paralel?
Mana mungkin, semuanya sama saja kok. Bapak, ibuk dan suasananya semua sama. Sepertinya aku juga masih terbawa suasana mengenai film itu.
Emosi yang meledak-ledak ini, membuatku tidak nyaman sekaligus nyaman di saat yang sama. Termasuk pikiranku yang dengan cepatnya melintas ke segala kemungkinan tentang kejadian itu.
Ah! Semua ini membuatku menjadi kalut.
Sambil memiringkan badan dan memeluk boneka kesayanganku, aku mulai memejamkan mata dengan sedikit memaksa.
"Mungkin dia yang dari dunia paralel ?"
Memang, benakku suka mengganggu di saat seperti ini, terutama saat aku ingin tidur.
Tapi, benar! Apakah mungkin dia yang datang dari dunia paralel? Besok aku harus menemuinya dan menanyakannya langsung. Tapi, takutnya aku terlihat seperti perempuan yang tidak baik kalau agresif seperti itu. Dilain sisi kakiku kan masih sakit, bagaimana caranya aku bisa ke taman untuk bertemu dengannya?
Eh? Payungku! Payung merah kesukaanku tertinggal di taman. Duh, bagaimana sekarang?
KRIINGG!
Handphone-ku tiba-tiba berdering memecah kekalutan pikiranku malam itu. Seseorang mencoba menghubungiku. Pasti si Devi.
Begitu kulihat layar handphone-ku, memang benar Devi yang meneleponku. Jawab, tidak ya? Jangan deh, dia pasti mau bertanya tentang tugas dan tentu dia bakal minta paket komplit alias nanya tugas beserta jawabannya. Biar kubalas saja melalui pesan whatsapp besok pagi. Bukannya jemawa atau pelit, hanya saja aku memang tidak ingin diganggu saat ini.
__ADS_1
o.O.W.O.o
TUK! TUK! TUK!
Suara pintu kamarku diketuk, si bibi kemudian masuk membawa nampan berisi hidangan untuk sarapanku. Tentu saja dengan semangkuk mi instan kuah favoritku.
"Naura, kamu tidak apa-apa kan? tanya si bibi dengan lembut padaku.
"Tidak apa-apa kok, Bik. Makasih udah bawain Naura makanan."
"Katanya, kakimu terkilir ya ? Itu lukanya sudah diobati belum ?" Si bibi kemudiam menaruh nampan itu di atas meja di samping ranjangku. Si bibi tak kalah perhatian dengan ibuku, membuatku merasa spesial di rumah ini.
"Iya, Bik. Lukanya udah dikasi obat merah juga kemarin."
"Kamu kena karma karna ngerjain bibik kemarin sore. Hahaha." Si bibi tiba-tiba terbahak, bahak yang menyaingi bahakku, Pak Surya dan anak-anak nakal itu. Ternyata dia datang dengan tujuan tersembunyi ke sini.
"Duh, jangan bicara gitu, Bik. Kemarin aku kan bercanda," jawabku dengan sedikit kesal padanya.
"Iya bibik juga sedang bercanda. Hahaha." Dia kemudian pergi sambil terus tertawa, seolah sangat bahagia melihat keadaanku saat ini.
Dasar si bibi ini, suka juga membalasku. Awas ya nanti.
Beberapa saat setelah selesai menyantap sarapanku, si bibi kembali masuk. Aku menatapnya dengan tatapan intimidasi karena pembalasannya tadi, dia memalingkan wajahnya sembari tersenyum jahat dan sesekali cekikikan.
Tapi, senang juga rasanya, serasa menginap di hotel berbintang dengan pelayanan super dari si bibi.
"Bik, kemarin payungku tertinggal di taman, bisa tolong diambilkan ? Sekarang ya, Bik, biar tidak keburu hilang," pintaku pada si bibi dengan raut wajah memelas.
"Payung warna merah itu maksudmu ?" tanya si bibi. Aku mengangguk sambil menatap penuh harap padanya. "Itu di depan, tadi ada lelaki yang bawain ke sini."
"Siapa ?" Aku bertanya dengan nada tinggi yang tiba-tiba, membuat si bibi terkejut. Aku memasang raut wajah penuh harap dan semangat sembari menunggu jawaban dari si bibi.
"Bibik gak tau, dia juga gak ngasi tau namanya. Kemudian dia langsung pergi."
Mendengar jawaban yang tak sesuai ekspetasi, kukembalikan raut wajahku dan kutambahi sedikit ekspresi murung. Kupikir lelaki yang kemarin itu yang datang membawakan payungku.
Eh? Kalau bukan dia, siapa lagi? Memangnya siapa lagi yang tahu kalau kemarin aku meninggalkan payung merahku di taman?
__ADS_1
Wajahku berbinar, begitu besar kutaruh harapanku pada pemikiranku tadi. Entah kenapa aku begitu bersemangat untuk tahu tentang si lelaki misterius itu.