
Devi yang terus mendesakku agar memberitahunya tentang lelaki itu. Aku pun mulai menceritakannya.
"Setelah aku sadar kalau aku sendirian di sana, aku mutusin buat pulang. Tapi aku merasa seperti ada sesuatu yang menyedotku, Dev." tuturku padanya.
Devi dengan wajah serius ala-ala detektif itu terus mendengarkanku.
"Lalu tiba-tiba ada cahaya, setelah cahaya itu hilang ... lelaki itu tiba-tiba muncul entah dari mana," lanjutku.
"Oh, aku curiga kalau dia muncul dari cahaya itu ?" Devi ini kini berlagak seperti seorang detektif.
"Mungkin saja. Akan tetapi, aku tak tahu pastinya. Lalu aku lari kan, terus kakiku tersandung dan akhirnya jatuh," kataku dengan raut wajah seperti menyesali kejadian itu. "Eh, tapi setelah itu dia sangat romantis. Dialah yang mengantarku pulang, juga dia yang bawain payungku ke rumah paginya."
"Eh? Payungku! Tadi sepertinya dia yang membawa payungku." Aku membuat Devi sedikit terkejut.
"Payung apa ?" tanya Devi kepadaku.
Apa iya ? Tapi kan ada banyak payung merah di dunia ini. Pokoknya jika nanti payungku tidak ada di rumah, sudah pasti dia pelakunya. Rasa bersalahku barusan di kantin kepadanya mendadak hilang.
"We! Payung apa ?"
"Enggak, Dev, enggak," jawabku yang mencoba menyembunyikan hal ini padanya.
***
Setelah waktu untuk bersekolah di hari itu telah berakhir dan aku telah sampai di rumah, hal paling pertama yang kulakukan adalah mencari payung kesayanganku. Untunglah, ternyata payungku masih ada di rumah. Jadi, itu adalah payung miliknya.
Huh, aku telah berpikir kalau Kenan itu yang mengambil payungku. Tapi, untunglah sudah ketemu.
Hari-hari berikutnya, Kenan tidak pernah datang ke rumahku. Hanya sekali, itu pun saat dia menjenguk dan memijat kakiku. Namun, bukan berarti dia menghilang, setiap pagi dia selalu bersepeda di depan rumah dan terkadang menyapaku dengan senyuman dan lambaian tangan.
Kalau dipikir-pikir dia manis juga.
Seperti candu pada kafein, aku selalu berdiam diri di teras pagi-pagi, hanya untuk melihatnya menyapaku dengan senyumannya.
***
Waktu itu hari Selasa, aku berdiri di depan gerbang sekolah sambil melihat-lihat kalau bapakku datang untuk menjemputku. Siang itu terasa begitu gelap karena sinar surya terhalangi awan mendung yang tebal.
Pasti segera turun hujan. Di mana ya bapak? Kok belum datang juga?
Aku akhirnya memutuskan untuk berjalan dan tentu saja tidak mau terjebak di sekolah karena hujan. Baru beberapa langkah saja, diawali dengan gerimis lalu hujan pun turun dengan deras.
Yah, kok hujan. Berteduh di mana nih? Di sana saja deh.
Aku berlari, menutupi kepala dengan jaketku dan memilih berteduh di sebuah warung di pinggir jalan bersama beberapa orang yang juga berteduh di sana. Mereka ternyata adalah anak-anak berandal sekolah, dan mereka merokok di sana.
__ADS_1
Duh, cepat reda dong. Bapak kemana sih? Oh, ya, dia hari ini kan ada rapat di Disdikbud. Yah, siapa lagi yang akan menjemputku? Apakah tidak ada keajaiban? Tuhan, aku benar-benar tidak nyaman dengan asap-asap rokok ini.
Lalu dengan raut wajah masam, kesal dan putus asa karena aku pikir memang harus menunggu hujan untuk benar-benar reda, kulihat Agus sedang mengendarai sepeda motornya. Apa aku ikut dia saja ya? Jangan deh. Tapi, kalau dia menawarkan, mungkin aku bisa pulang dengannya.
"Naura, ikut gak ?" tanya Agus yang berhenti di pinggir jalan di depan warung.
"Boleh, Gus," jawabku seraya berlari ke arahnya. Wah, mungkin Tuhan menjawab doaku dengan mengirim Agus.
Aku naiki motornya dan cepat-cepat ingin menutupi diriku dengan jas hujan 'batman' yang dipakainya.
Namun, begitu aku ingin menutupi badanku, aku melihat seseorang. Aku melihat Kenan di seberang jalan berdiri menatapku dengan senyuman tipis yang terlihat sedikit dipaksa sembari memegang payung merah.
Aku terus menatapnya, sampai air hujan yang deras itu telah membasahiku. Agus mulai menjalankan motornya, namun Kenan terus menolehku sampai di tikungan ketika aku juga tidak dapat melihatnya.
"Naura, udah sampe nih," ucap Agus yang tidak kusadari.
Aku masih terus memikirkan Kenan.
Agus kemudian memarkir motornya. Dia terkejut karena aku tidak melindungi diri dari air hujan yang begitu deras.
"Ye? Naura, kok gak dipake?" tanya Agus.
Aku memandangnya dan tersenyum kecil kepadanya.
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, aku merebahkan diri di ranjang. Kembali kuingat-ingat kejadian tadi.
Kenapa aku begitu merasa bersalah pada Kenan? Tapi, apa salahku?
Perasaan bersalah yang menyelimuti pikiranku semakin menjadi-jadi ketika mengingat bagaimana senyum tipis kekecewaan itu terlukis di bibirnya. Dia bukan siapa-siapaku. Bahkan boleh dikata kalau aku belum benar-benar mengenalnya walaupun senyumannya padaku setiap pagi itu mampu membuatku selalu ceria sepanjang hari.
Mungkin saja dia menjemput seseorang di sana dan kebetulan melihatku.
Aku mencoba berpikir positif agar tidak terlarut dalam rasa bersalah ini.
***
KRING!! KRING!!
Suara alarmku berbunyi, berarti ini sudah pukul enam pagi. Kubuka pelan mataku seraya menatap ke arah jendela. Kemudian aku mengambil posisi duduk dan meminum segelas air putih yang telah kusiapkan sejak semalam.
Aku cepat-cepat menuju kamar mandi dan bersiap-siap untuk sekolah, memang terlalu pagi. Tujuan utamaku adalah untuk menikmati canduku terhadap senyum manis Kenan di luar pagar.
Setelah sudah selesai mempersiapkan diriku, tak lupa aku mengintip ke kaca.
"Cantik," gumamku. Lalu aku keluar dan duduk di kursi teras menunggu Kenan lewat dengan sepeda keranjangnya.
__ADS_1
Begitu lama aku menunggunya, dia tidak muncul juga.
"Mungkin dia sedang sibuk."
Benar, mungkin saja sekarang dia sedang sibuk ata—
"Naura, yuk berangkat." Ayahku tiba-tiba menepuk pundakku dan mengajakku segera berangkat.
Dalam hati aku masih sibuk memikirkan kenapa Kenan tidak kunjung lewat di depan rumah.
Apakah karena kemarin aku pulang bersama Agus? Ah, lagipula siapa dia kan?
Aku mencoba memalingkan pikiranku terhadapnya dengan mencoba mendoktrin diriku bahwa dia adalah orang baru dan tidak ada pengaruhnya untukku.
Di kelas yang sama, aku kembali merasa bosan. Kebosanan itu membuatku begitu mengantuk. Kulihat jendela dan membayangkan Kenan datang membawa payung merah itu.
Eh? Kenapa aku memikirkan dia lagi?
Kembali kufokuskan konsentrasiku ke arah guru yang sedang menerangkan pelajaran.
"Naura, kamu ngerti gak sama yang dijelasin tadi ?" tanya Devi yang tak kugubris.
Aku sama sekali tidak merasakan apa-apa seolah-olah indraku sudah non-active semua! Memang betul-betul perasaan yang aneh.
Bahkan sampai bel istirahat berbunyi aku terus melamun. Aku juga bingung, apakah benar ketidak hadiran Kenan yang membuatku begini?
Devi kemudian merapatkan bangkunya ke arahku.
"Naura, kamu kenapa ? Ngelamunin apa sih ?" tanya Devi. Dia juga terlihat tidak senang ketika aku seperti ini.
Aku hanya menatapnya dengan wajah yang kusut dan begitu layu.
"Kamu sakit ?"
Aku tidak mengeluarkan sepatah kata pun, aku menjawabnya hanya dengan menggelengkan kepala.
Hari yang cerah di tengah musim hujan saat itu terasa begitu gelap dan pekat bagiku. Sesuatu berkecamuk dalam diriku.
Apakah benar semua ini karena Kenan? Apakah aku mencintainya?
Banyak pertanyaan yang muncul dalam benakku, namun tak satu pun terjawab.
Setiap pagi aku menunggu kemunculannya, namun Kenan kali ini benar-benar hilang. Orang yang belum lama kukenal itu telah menghilang dan tidak pernah datang.
Setiap hari, setiap pagi aku menunggunya.
__ADS_1