Multiverse Love

Multiverse Love
04 - NAMANYA KENAN


__ADS_3

Karena tidak ada sesuatu yang bisa kulakukan, akhirnya aku membaca novel favoritku. Aku sangat menikmatinya, kata demi kata, kalimat demi kalimat dan sampai aku menyadari telah menghabiskan waktu begitu lama.


Kututup novel itu dan sedikit mengkhayalkan setiap kisah dari tokohnya, lalu tiba-tiba seseorang mengetuk jendelaku. Begitu aku menoleh, aku terkejut mendapati seorang lelaki berdiri di sana dan menatapku dengan sedikit senyum tipis manis di bibirnya.


"Siapa kamu ?" ucapku pada lelaki itu


"Apakah kamu udah lupa sama aku ?" Lelaki itu balik bertanya padaku.


Oh, baru aku ingat, dia adalah lelaki misterius kemarin.


"Ada apa kamu datang ke sini ?"


"Aku hanya ingin menjengukmu, apa itu gak boleh ?"


"Bukan begitu, kenapa tak masuk dari depan saja ?" Aku begitu heran dengannya, bahkan sikapnya pun misterius.


"Oke, tunggu di sana," ucapnya seraya pergi dari tempatnya tadi.


Kemudian dia masuk begitu saja ke kamarku.


Eh? Dengan santainya dia memasuki kamarku? Dasar lelaki tak sopan!


"Kenapa tidak mengetuk pintu dulu ?" tanyaku padanya dengan keningku yang sedikit mengerut.


"Lah? Buat apa ? Kan kamu sendiri yang menyuruhku masuk, gimana sih." Dia tersenyum kepadaku seolah dia sudah mengenalku begitu lama.


Sedikit kesal dan curiga dengan gelagat anehnya. Apakah dia hantu atau memang pelaku kriminal ?


"Oh, ya, tadi payungmu sudah kubawa kemari. Aku kasi ibumu tadi," ucapnya tanpa ada kecanggungan sedikit pun.


"Hmm, dia bukan ibuku. Dia housemaid-ku!"


Kemudian dia tertawa mendengarku.


"Housemaid ?"


Aku terus memelototinya, ada apa dengan lelaki ini?


"Jika kamu ingin menjengukku, kamu harus memanggilku dulu dari luar, setelah ada yang mengizinkanmu masuk, kamu harus mengetuk pintuku, setelah aku memberimu izin untuk masuk, barulah kamu boleh memasuki kamar ini!" Aku sedikit kesal dengan tingkah lakunya.


"Hahaha, iya, ya ...," jawabnya santai yang membuatku semakin kesal terhadapnya. "Boleh duduk gak nih ?"


Kukasi tidak ya? Atau kusuruh dia pergi saja?


"Boleh, duduk saja."


Eh? kok malah kuizinkan dia duduk? Duh, aku merasa aneh pada diriku sendiri.


Kemudian dia mengambil sebuah kursi di pojokan kamar dan menaruhnya di dekatku.

__ADS_1


"Gak apa-apa kan aku duduk di sini ?"


"I ... iya, gak apa-apa."


Aku terus menjawab positif pertanyaannya. Apakah aku terkena hipnotis?


"Jadi, kamu gak apa-apa ? Sepertinya kakimu terkilir kan ?"


"Iya, aku baik-baik saja. Cuma terkilir, tak lama lagi juga bakal sembuh," ucapku yang mulai dengan nada rendah.


"Oh, jadi—"


"Tunggu, siapa kamu ?" tanyaku mencoba mencari jawaban atas rasa penasaranku dengan memotong perkataannya.


"Kan sudah kubilang kemarin."


"Bukan, maksudku siapa namamu ?" Lelaki ini menunjukkan ciri-ciri kalau dia adalah orang yang menyebalkan.


"Ibuku, bapakku, keluargaku, teman-temanku biasa memanggilku Kenan, kau juga boleh memanggilku Kenan, kalau mau sih," jawabnya seraya memasang raut wajah yang menyebalkan menurutku.


"Memangnya kalau bukan Kenan seperti yang kamu bilang tadi, aku bisa memanggilmu apa ?" Dia memang benar-benar membuatku kesal dan memang dia adalah lelaki yang menyebalkan.


"Kenan lah, siapa lagi ?"


Ya, Tuhan, ingin rasanya kubejek mukanya yang sok percaya diri itu di depanku.


"Oh, ya, aku bisa memijat kakimu kalau kamu mau."


"Aw ... sakit! Sudah ah, sudah!" Aku benar-benar kesal kali ini. Siapa dia? Berani melakukan sesuatu tanpa seizinku di rumah ini.


"Tahan, lagi dikit nih," ucapnya dan terus memijat pergelangan kakiku yang terkilir itu.


"Aww ..! Cukup, Konan cukup!"


"Konan ? Detektif dong ? Hahaha. Kenan, namaku Kenan, bukan Konan." Kemudian ia mulai tak melanjutkan pijatannya dan bangkit dari kursinya.


Eh? Kenan ya? Sudahlah, mau Kenan atau Konan intinya lelaki ini begitu menyebalkan.


"Nah, udah selesai tuh. Nanti juga kamu udah bisa jalan lagi. Aku pergi dulu, kapan-kapan aku main lagi ke sini," ucapnya seraya beranjak pergi.


Aku hanya bisa terdiam, aku sama sekali tak dapat mengatakan apa pun.


"Gak dipanggil nih ? Beneran dikasi pergi nih ?" katanya sembari melambatkan langkahnya untuk kupanggil.


Selain menyebalkan ternyata dia juga over-PD.


"Enggak! Pergi aja!" jawabku dengan nada yang dingin, saking kesalnya.


"Oh, ya, apa kamu memang suka bicara kayak gitu ?" Dia bertanya, namun tidak menolehku.

__ADS_1


"Gitu kenapa ?"


"Bahasamu aneh, cenderung baku kayak bapak-bapak lagi pidato." Dia kemudian pergi keluar dan menutup pintu kamarku namun tetap memalingkan wajahnya. Dia sama sekali tidak terdengar tertawa atau cekikan, entah dia membuat lelucon atau benar-benar mengataiku.


Dasar lelaki aneh, kupikir dia seromantis kemarin, sekarang malah sebaliknya. Kenapa tidak kulempari saja dia tadi? Atau kuteriaki saja dia sebagai maling biar digebuki warga.


Lalu kudengar dia sedang berbicara diluar dengan bibi, namun tak jelas kudengar.


Dari sekian lelaki yang mencoba mendekatiku, hanya dia yang paling aneh. Sudah muncul secara misterius, sikapnya juga sangat misterius.


Oh, iya, aku lupa menanyainya tentang kesimpulanku kemarin malam kalau dia datang dari dunia paralel atau tidak. Eh, tapi masa iya? Pertanyaan itu hanya akan membuatku semakin terlihat konyol. Tapi, tak habis pikir aku dengan sikapnya yang terlalu percaya diri itu. Kenapa tadi aku selalu mengiakan tawarannya.


Aku akhirnya memutuskan untuk tidak memikirkan lelaki itu. Kembali kubuka novel untuk memalingkan khayalku terhadapnya.


TUK! TUK! TUK!


Seseorang mengetuk pintu. Apakah lelaki itu datang lagi? Baru saja dia pergi masa sudah kembali.


"Masuk saja."


Ternyata Devi yang datang menjengukku bersama dengan Agus.


"Naura, kenapa kamu ?" tanya Devi yang kemudian duduk di sampingku.


"Aku enggak kenapa kok, Dev."


"Siapa cowok yang barusan ?" tanya Agus begitu penasaran dengan ekspresi yang terlihat sedikit cemburu.


Agus adalah lelaki yang sering mengerjaiku di kelas. Kata Devi, dia mencintaiku. Sebenarnya, aku juga ada rasa untuknya sedikit. Iya, cuma sedikit dan itu pun didominasi rasa pertemanan.


"Itu lelaki misterius yang membuatku begini."


"Ah? Jadi, dia yang bikin kamu sakit gini ?" tanya Agus dengan kesal, ia mencoba terlihat bak pahlawan di depanku.


"Enggak juga, maksudku, aku kaget melihat dia yang tiba-tiba muncul begitu saja, entah darimana datangnya, lalu aku jatuh," jawabku.


Perbincangan pun kami lanjutkan sampai sore hari, banyak pertanyaan dari mereka tentang apa yang menimpaku semalam. Namun, banyak hal yang masih kusembunyikan dari mereka, termasuk gelagat aneh lelaki itu.


Melihat keadaanku yang seperti ini, Agus berubah dari orang yang jail dan usil menjadi orang yang begitu perhatian. Atau mungkin itu hanya perasaanku saja?


"Gus, balik yuk ?" Devi mengajak Agus untuk pulang.


"Udah sore juga, besok kami kemari lagi. Jangan banyak gerak, makan yang banyak supaya cepet sembuh," ucap Agus begitu perhatian kepadaku.


"Cie cie." Devi mencoba menggoda kami dan itu membuatku tersipu dan sedikit canggung.


"Apaan sih cie cie ?" tanyaku mencoba menyembunyikan kecanggungan itu.


"Yaudah, jangan dipikirin. Balik dulu ya, Ra ?" Agus berpamitan dan beranjak pergi.

__ADS_1


"Makasih ya sudah sempat menjenguk, hati-hati di jalan," ucapku pada mereka berdua.


Setelah mereka pergi, aku merasakan ada yang aneh dalam diriku. Sikap Agus begitu perhatian benar-benar membuatku merasa nyaman.


__ADS_2