
bu Fatimah keluar dari dapur,
membawakan minuman dan cemilan se ada nya karna kehadiran dadakan tamu mereka, jelas saja tidak ada persiapan...
pak Hamid tersenyum melihat kedatangan istrinya,
"mbak, maaf ya saya belum belanja jadi se gini ada nya"
"sudah lah Fatimah, jangan jadi pikiran. kami juga yang salah mendadak datang.. " Rahayu tersenyum menerima cangkir dengan tatakan nya, ia membantu Fatimah merapihkan cangkir dan toples di meja.
bu Fatimah duduk di sebelah suami nya,
"nah kita langsung saja perbincangan ini ya, agar tidak jadi tanda tanya buat semua nya" pak Hadi mulai mengungkapkan kedatangan mereka ke rumah Hamid dan Fatimah ini...
"Hamid, sudikah kiranya kami meminta putri pertama mu untuk putra ku Rangga" ucap pak Hadi.
sontak pak Hamid dan bu Fatimah saling lirik, tidak menyangka kedatangan sahabat nya itu untuk melamar putri nya,
"kamu tentu ga lupa sama perjanjian kita, kalo kita punya anak akan kita jodohkan" tambah Hadi
"ahaaaa, tentu saya ingat.
tapi bagaimana ya, Nayla sedang kuliah, kita jadi ga bisa tanya langsung sama dia" ucap Hamid
"tak apa, saya mengerti..
kita juga ga menuntut secepat nya untuk meminta jawaban, kita datang hanya untuk bersilaturahmi" kata Hadi
Fatimah dan Hamid tersenyum,
untuk mereka, menikahkan Nayla dengan keluarga Hamid inshaAllah akan terjamin kehidupan nya, namun sebagai orang tua di jaman modern ini, tentu mereka tidak bisa memutuskan secara sepihak saja, apa lagi ini menyangkut masa depan kedua putra putri mereka.
"maaf saya mau bertanya mbak ayu" ucap Fatimah,
"kenapa terkesan buru buru lamaran ini? ”
Rahayu dan Hadi saling tengok, lalu Hadi mempersilahkan istri nya itu menjawab.
" maaf ya Fatimah,
putra ku Rangga, sedikit sulit di atur, maksud kami ingin menuntut Rangga lebih fokus untuk hidup nya, inshaAllah dengan berumah tangga membuat ia tanggung jawab sama istri nya,
seperti yang kita tau, Nayla adalah gadis yang lemah lembut, kami harap bisa merubah Rangga jadi lebih baik"
Hamid mengangguk, ia mengerti dengan maksud ucapan Rahayu,
"mbak tau dari mana toh Nayla lemah lembut" Fatimah tertawa
__ADS_1
"aku beberapa kali bertemu Nayla saat kita hadir di pengajian, entah lah, hati aku berkata Nayla cocok untuk Rangga"
"tapi bagaimana pun kita harus menerima nanti nya keputusan anak anak kita, jangan di paksakan, karna pernikahan adalah ibadah terlama, bukan begitu Hamid? ” ucap Hadi tersenyum
"betul sekali"
***
"assalamu'alaikum" Nayla membuka pintu rumah nya yang sederhana itu,
"waalaikumsalam, alhamdulillah sudah pulang... " ucap bu Fatimah,
Nayla mencium tangan sang ibu,
"cape banget hari ini" keluh nay
"sudah shalat nak??" tanya ibu
"sudah bu" nay merosot di kursi mata nya terpejam...
"makan, mandi, istirahat sana" ucap Ibu mengusap kepala putri nya, "tapi jangan tidur udah sore"
"iya bu, nay masuk dulu ya... "
dengan langkah gontai nay masuk ke kamar nya
pak Hamid sudah kembali pulang dari pekerjaan nya, Fatimah melihat suami nya itu melamun, ia sepeti sedang berfikir...
" ayah... ini teh nya" Fatimah datang, membuyarkan lamunan suami nya
"alhamdulillah, makasih bu.. "
"sama sama, ayah lagi banyak pikiran ya? ”
Hamid tersenyum, ia meraih tangan istri nya menggenggam nya
" anak kita sudah besar ya bu?
sudah ada keluarga yang melamar nya" Hamid menepuk pelan tangan istri nya yang ia genggam dengan tangan kanan itu, mata nya tak lepas dari tangan mereka berdua yang saling bertaut...
sulit memang mengambil keputusan dan menolak permintaan keluarga Hadi,
mereka begitu berjasa untuk keluarga Hamid,
_ dua tahun lalu _
Hamid dan Fatimah memiliki dua orang putri,
__ADS_1
pertama Nayla ke dua Shanum...
namun allah sedang menguji ke imanan ke dua nya saat Shanum, putri ke dua mereka lahir,
dokter bilang bayi kecil yang lucu itu memiliki cacat jantung bawaan dimana membuat kondisi sang bayi tidak stabil dan sangat lemah...
Hamid selalu berupaya untuk apa pun kesembuhan putri nya,
biaya yang tidak murah, membuat mereka memutuskan menjual rumah yang cukup mewah hasil menabung selama ini..
dengan kondisi yang serba terbatas,dan bergantung dengan obat obatan Shanum bertahan sampai usia nya 6tahun,
di sana Hamid dan Fatimah di uji lagi,
usaha mereka yang menjadi sumber penghasilan raib sudah, sebuah konfeksi cukup besar yang mereka miliki harus hangus terbakar karna korsleting listrik...
tidak ada yang tersisa,
semua hilang begitu saja, ±50 pegawai nya pun harus kehilangan pekerjaan, di situasi seperti itu, Hamid harus ikhlas,
tidak hanya memikirkan diri nya dan keluarga semata, para pegawainya pun harus kehilangan penghasilan mereka...
dengan sisa uang tabungan nya, ia memberi pesangon yang memang belum di katakan cukup untuk pegawai nya, namun syukur lah, mereka memaklumi, walau tidak semua orang menerima itu, dalam kondisi jatuh, ia harus menerima caci maki dari orang yang tidak menerima apa yang ia dapat...
satu tahun sudah berlalu,
si kecil Shanum malah makin drop keadaan nya,
hutang sudah membengkak karna pengeluaran rumah tangga dan rumah sakit, di tambah Hadi pun sudah tidak memiliki penghasilan,
sayang nya Shanum tidak bisa bertahan, anak kecil itu meninggal dua tahun lalu...
Hadi menyeka sudut mata nya yang mulai basah,
Fatimah hanya bisa mengusap lengan suami nya itu, lelaki yang sangat bertanggung jawab, bertahan untuk mereka,
"kita banyak berhutang uang dan jasa pada Hadi" suara nya bergetar...
Fatimah mengangguk, ia tau tujuan dari ucapan sang suami...
Hadi adalah teman Hamid saat SMA dulu, entah mengapa allah mungkin menggariskan takdir untuk mereka bertemu kembali,
sebuah perusahaan besar, membutuhkan beberapa karyawan untuk sopir,
Hamid melamar pekerjaan di perusahaan milik Hadi, Hamid langsung bertemu Hadi di interview nya, mereka berbincang, Hamid menceritakan semua kejadian yang telah berlalu yang membuat kondisi nya seperti sekarang ini,
Hadi jelas sangat terkejut, walaupun sejak berpisah di bangku SMA mereka tidak terlalu dekat karna kegiatan masing masing, tapi Hadi tau Hamid memiliki usaha yang lumayan sukses...
__ADS_1
namun siapa sangka, bukan posisi sopir yang ia Terima, melainkan jabatan yang lebih layak dengan tujuan Hadi, agar Hamid bisa mengembalikan apa yang telah hilang dulu, dan bahkan menimbulkan ada nya hutang