
Rangga mempercepat langkah nya,
ia mendapat telpon dari Jihan kalau ia menabrak mobil saat menuju tempat kerja nya,
Rangga memasuki gedung kantor polisi itu, Jihan sedang di mintai keterangan,
"sayang... " Jihan langsung bangun dari duduk nya, memeluk rangga sambil menangis
"kenapa? kenapa sampai nabrak? ”
Jihan tidak menjawab, ia duduk lagi,
Rangga mengikuti Jihan duduk di sebelah nya, mendengar pernyataan dari polisi yang menangani kasus ini.
" jadi nona Jihan mencoba meraih HP yang terjatuh tanpa memelankan/ memarkirkan mobil nya dulu, sehingga terjadi kecelakaan itu, betul nona? ” tanya sang polisi
Jihan mengangguk lemah,
"apa ada korban pak? " tanya Rangga
"alhamdulillah tidak ada mas, hanya yang jadi berat adalah, korban menuntut untuk biaya perbaikan"
"berapa? " tanya Rangga
"tadi yang punya mobil minta 65jta, karna pihak bengkel belum tau harus berapa yang di keluarkan atas kerusakan itu"
Rangga terdiam.
ia melipat bibir nya sejenak berpikir
"Jihan pasti ga punya uang untuk itu, belum lagi mobil yang dia bawa milik orang lain yang dia sewa juga rusak, Jihan harus membetulkan nya juga"
Rangga menandatangani surat penjamin untuk Jihan, menyanggupi biaya yang di minta korban,
***
"maaf ya sayang... " Jihan terlihat lesu, menatap rangga dengan mata berlinang
"sekarang harus berpikir dapat uang itu dari mana, belum lagi mobil rental yang kamu sewa juga rusak"
Jihan menangis lagi,
"aku juga bingung,
kalo minta pinjeman sama bos di kerjaan ga akan bisa segede itu di kasih nya"
rangga mengusap wajah nya, entah datang ilham dari mana, satu satu nya harapan hanya papa nya,
"ya udah kamu tenang aja, tar aku coba cari"
"maafin aku ya" ucap Jihan memeluk Rangga
**
rangga ragu menatap papa nya, ia baru berani berhadapan dengan papa di rumah, belum berani jika harus bertemu di kantor, semendesak apa pun masalah nya.
tadi rangga coba bicara pada mama nya, dengan alasan menolong teman kecelakaan,
namun mama nya tidak punya uang sebanyak itu,
rangga melirik mama nya, yang sedang menyendok makanan, mereka makan dalam keadaan hening
"pa... "
hadi melirik putra nya, namun tidak menghentikan tangan nya menyendok makanan..
__ADS_1
"Rangga perlu uang, buat nolong temen rangga yang kecelakaan"
hadi meraih gelas,
meneguk isi nya setengah,
"teman kamu yang kena musibah kenapa kamu yang ketar ketir? ” melanjutkan lagi makan nya tanpa memperhatikan rangga
" teman rangga orang ga punya, dia bingung harus minta tolong sama siapa selain rangga"
"lalu, kamu minta tolong sama papa? " tanya hadi, sekarang mulai memperhatikan putra nya.
"iya, karna rangga ga punya uang sebesar itu" ucap Rangga
"ya bagaimana mau punya, kerja aja belom, tapi so so an nanggung biaya orang lain"
hening tercipta di antara mereka beberapa detik
"memang berapa? " tanya hadi kemudian
"100juta pa"
hadi tanpa ekspresi menanggapi nya,
meneguk air yang tinggal setengah, lalu menyeka mulut dengan tisu, hadi memulai mode serius nya....
"kamu tau uang 100 juta sangat banyak?
jika papa investasi kan pada sebuah usaha keuntungan nya akan berlipat dalam satu tahun..
lalu jika papa memberikan uang itu pada kamu, apa keuntungan buat papa? ”
rangga tercengang,
"pa ini tentang kemanusiaan, papa tega mengambil keuntungan dari musibah orang? ” ucap rangga sedikit menaikan nada suara nya
"tidak ada yang mau membantu mu dengan suka rela rangga, kamu belum tau apa apa tentang kehidupan, hidup kamu terlalu enak, sampai tidak tau apa itu arti susah, bahkan untuk makan,
kamu pikir kenapa orang orang mau kerja memungut botol bekas di jalanan?
demi apa? demi uang,
karna tidak ada yang dengan senang hati memberikan kamu uang,
semua nya berlandaskan bisnis semata"
mama dan rangga terdiam,
hadi kalo sudah begitu, rahayu merayu nya dengan lembut selembut kapas pun tidak akan bisa luluh...
"apa yang harus rangga kasih buat imbalan uang itu? ” tanya rangga dengan angkuh nya
hadi tersenyum " ini yang papa tunggu nak" ucap nya dalam hati
"kamu harus mengembalikan uang itu dengan bunga 50%"
"apa? sejak kapan papa jadi renternir? ” tanya rangga
istri nya pun sampai menganga tak percaya atas apa yang ia dengar dari mulut suami nya itu.
" jika tidak mau ya sudah" simple tapi mematikan.
hadi bangkit meninggalkan keluarga nya yang masih betah di meja makan.
rangga juga pamit pada mama nya untuk masuk ke kamar,
__ADS_1
sesampai nya di kamar, ia meraih HP,
banyak panggilan dari Jihan & korban kecelakaan itu, dua dua nya sama m nanya kan bagaimana kelanjutan kasus ini.
[sayang, gimana? apa papa kamu bisa bantu?]
Jihan mengirimkan pesan
[belum, papa masih sibuk] jawab rangga singkat,
**
"pa, apa papa ga keterlaluan sama rangga, niat baik dia bantu temen nya ko papa malah gitu”
tadi nya hadi akan merahasiakan soal Jihan yang dia tau dekat dengan putra nya, tapi seperti nya istri nya harus tau,
" sini " hadi menepuk sofa di sebelah nya, ia meletakan kacamata dan buku yang tadi sedang ia baca..
mama mendekat,
"apa pernah rangga bicara kalo dia punya pacar? " tanya hadi.
"papa tau? ” tanya Rahayu sedikit kaget
" ma, papa tidak tinggal diam, mungkin papa terlihat cuek pada rangga,
tapi asal kalian tau, papa mengutus seseorang untuk menyelidiki latar belakang perempuan yang dekat dengan rangga..
papa mau tau, apa perempuan itu tulus sayang pada anak mu, atau karna dia tau orang tua nya siapa"
mama menyimak,
"dan perlu kamu tau, rangga berbohong,
dia bilang mau tolong teman nya yang kecelakaan?
itu tidak benar, yang kecelakaan itu adalah Jihan, dia menabrak mobil, dan di tuntut ganti rugi sebanyak 65jt, belum lagi biaya perbaikan mobil yang dia pakai"
mama mengerjap, tidak menyangka mendengar kebenaran dari suami nya sendiri..
"terserah papa rangga sebut renternir,
papa membuat persyaratan begitu agar dia tidak sanggup, dan mundur untuk membantu Jihan, semoga dengan itu mereka putus"
"tapi gimana kalo rangga malah nyari pinjeman ke yang lain pah?? ”
" papa jamin tidak akan,
mama tau pekerjaan apa yang Jihan lakoni sekarang ini? ” tanya hadi serius..
"dia pelayanan di sebuah bar,
ibu nya sudah meninggal, dan ayah nya entah kemana, dia besar dengan dua orang adik nya"
mama tidak bisa berkata apa pun,
dimana mereka bertemu sampai bisa saling kenal, bahkan menjalin hubungan serius.
"apa kah rangga sering datang ke bar?"
papa mengangguk,
"anak mu sering minum minum kalo tidak pulang ke rumah"
berlinang air mata Rahayu,
__ADS_1
bagaimana dia bisa lengah dengan hal seperti itu..