
Hadi berniat menolong teman nya itu,
mengucukan dana yang terbilang sangat besar dengan tujuan agar teman nya itu bangkit lagi dari hidup nya.
"di, saya sangat bersyukur bisa di Terima kerja, lalu apa maksud nya ini? ” tanya Hamid saat Hadi memberikan uang 200jta cash di dalam tas
" Hamid, maaf bukan maksud saya menjatuhkan harga diri kamu,
anggaplah ini ucapan terimakasih dari aku karna dulu kamu menyelamatkan nyawa ibu ku"
Hadi menggeleng,
"itu hanya kebetulan di, jangan bawa bawa masa lalu"
"engga, selama ini aku kepikiran soal itu, dan mungkin dengan ini aku bisa berterimakasih karna kamu nolong ibu aku dari perampokan itu"
Hamid tertunduk,
mereka diam sejenak...
"tapi hutang ku hanya 100juta ke luar,,
uang ini kebanyakan lebih nya, belum lagi kamu kasih aku kerjaan di"
Hadi tertawa,
"kalau pekerjaan anggaplah itu rezeki kamu,
kalau ini, lebih nya bisa kamu pakai sewa rumah yang lebih layak buat anak istri mu, kamu pasti sedih kan melihat mereka, dulu kehidupan kamu sangat berkecukupan? ”
Hamid tidak bisa bicara bila menyangkut anak dan istri nya, ia menunduk...
" akan aku cicil setiap bulan nya, bila perlu langsung saja potong di gaji ku di"
supaya teman nya itu menerima apa yang Hadi beri.. ia mengangguk saja meng iyakan apa kata Hamid, walau tak ada sedikit pun niat ingin di kembalikan. ia iklas.... terlebih Hamid adalah anak yang sholeh dengan agama yang ketat dari orang tua nyanya se tau Hadi.
berkat bantuan dari Hadi lah, hidup mereka kembali normal kini, Hamid bisa menyekolahkan putri nya Nayla sampai kuliah sesuai keinginan nya.
"kita harus pelan pelan bilang ke Nayla nya yah, tapi nay anak yang baik, jika kita memberi pengertian pada nya inshaAllah dia ngerti" ucap Fatimah menenangkan suami nya
"tapi ayah masih ragu, apa Rangga bisa jadi imam yang baik untuk putri kita, seperti yang kita harap kan? "
"kita memang berhak memilih calon terbaik buat putri kita yah, tapi kita juga ga bisa meragukan apa yang sudah allah rencanakan,
kita cuma bisa berdoa semoga Rangga jadi suami yang baik untuk Nayla"
Hamid mengangguk
"astaghfirullah, maafkan ayah yang punya keraguan bu"
"suami apa yah? ” Nayla tiba tiba datang dari arah belakang orang tua nya.
__ADS_1
seketika Hamid dan Fatimah salah tingkah.. tapi mau bagaimana lagi, putri nya ini sudah mendengar semua mereka harus mau tidak mau membicarakan ini...
setelah Hamid mengatakan semua yang terjadi selama ini pada Nayla, ia terdiam, nay menunduk mendengar ucapan ayah nya, Fatimah hanya bisa mengusap punggung Nayla memberikan kekuatan...
"ayah sulit menolak pada pak Hadi nak, kita banyak berjasa pada nya"
sebagai anak yang penurut Nayla kesulitan menolak keinginan orang tua nya itu,
ia terpaksa menyetujui perjodohan ini...
***
jam menunjukan pukul 01.17 malam saat Rangga masuk ke rumah nya dengan mengendap endap,
"ingat pulang kamu? ” suara khas papa nya itu menggema di ruang tamu yang sudah gelap itu, angga begitu terkejut, mendengar nya
" maaf pa"
Hadi menyalakan lampu, hingga dengan jelas melihat anak nya yang berdiri menuju kamar nya di lantai 1,
bau minuman bisa ia cium saat lebih dekat dengan putra nya itu..
"sampai kapan kamu akan menyia nyiakan hidup seperti ini? " tanya Hadi dingin...
"kamu tidak sayang nyawa yang hanya satu itu? ” tambah Hadi
" pa Rangga masih muda Rangga bebas ngelakuin apa aja"
plakkkk
Rangga merasa kebas pipi nya setelah mendapatkan satu tamparan dari papa nya
"masa muda bukan untuk main main.
kamu bukan anak SMA lagi yang minta kebebasan, kamu tau berapa umur kamu sekarang?
dengan enak nya kamu menghambur hamburkan uang papa untuk kesenangan kamu?
lihat papa, papa bekerja keras supaya hidup kamu terjamin, tapi apa balasan kamu pada papa? ”
Rangga menunduk,
betul... memang betul apa yang papa nya bilang.
"besok kamu harus ikut sama papa, dan papa tidak menerima alasan"
Hadi pergi ke kamar nya setelah mengucapkan itu, benar kata orang, lebih baik di maki ibu mu dari pada ayah, bukan hanya pipi yang sakit, walaupun Rangga salah, hati nya sakit menerima perlakuan papa nya itu, padahal ia tau papa nya itu tegas...
*ke esokan hari nya*
"pake baju ini ya sayang" Rahayu memberikan koko atasan untuk di pakai Rangga,
__ADS_1
"kenapa ini ma? emang mau ke pengajian? ”
Rahayu tersenyum,
"kamu ikutin aja ya, jangan banyak tanya, nanti papa kamu ngamuk lagi"
"jangan bilang aku mau di masukin pesantren?? ” Rangga penasaran
"bisa jadi, ya udah mama tunggu di luar ya? ” mama pergi, membuat Rangga semakin penasaran..
saat mereka di dalam mobil, Rangga benar benar diam menurut pada mama nya, hanya mata nya saja yang seperti memindai jalan, dan sekali sekali menoleh pada mama nya, seolah olah ia bertanya lewat tatapan..
tiba di sebuah rumah yang tampak sederhana, tidak kecil, tapi tidak besar juga,
"jangan banyak bertanya, ikuti apa yang papa bilang" mata papa nya menyorot tajam pada Rangga,
Rangga mengangguk dengan wajah yang penuh pertanyaan..
"assalamu'alaikum" Hadi mengucapkan salam, pintu rumah Hamid memang sudah terbuka,
"waalaikumsalam... " pemilik rumah keluar menyambut dengan senyuman hangat,
mereka berpelukan, Fatimah menghampiri Rahayu, mengajak nya masuk..
"kenalkan ini putra saya Rangga" ucap Hadi, Rangga memberikan salam pada kedua nya
"MasyaAllah, tampan sekali nak Rangga, om baru lihat lagi, dulu kita pernah ketemu saat kamu masih kecil" hamid tersenyum mengucapkan nya,
"makasih om" Rangga mengangguk
"nah Rangga, tujuan kita datang ke sini, papa ingin memperkenalkan kamu pada calon istri mu"
deg....
Rangga langsung melirik papa nya, tatapan mata mereka bertemu,
"maksud papa? ” tanya Rangga
"papa ingin menjodohkan kamu dengan putri nya pak hamid, dan hari ini kalian akan di pertemukan"
tangan Rangga mengepal, sang mama melihat itu,
"nah hamid, saya jadi yang deg degan menunggu putri mu keluar.. " hadi tertawa mengucapkan itu, karna hadi pun belum tau bagaimana wajah calon menantu nya itu, seperti yang hamid bilang, mereka pernah bertemu saat anak anak masih kecil...
semua saling pandang, Fatimah pamit untuk membawa nayla keluar menemui calon suami nya.
pelan pelan, Rangga yang tatapan nya tertuju ke lantai, mulai melihat kedatangan calon istri nya, tatapan nya langsung tertuju pada dua perempuan di hadapan nya, mata nya memicing, mencoba mengingat siapa perempuan bercadar itu...
"assalamu'alaikum" ucap nay menunduk, ia tampak malu dan salah tingkah tidak berani menatap langsung pada keluarga pak hadi...
"MasyaAllah.. kamu cantik sekali nak" Rahayu begitu saja berucap
__ADS_1
hadi merasa puas dengan komentar sang istri, walaupun nayla terhalang cadar seperti ibu nya, hadi pun bisa melihat kecantikan calon menantu nya melalui mata yang berwarna coklat terang.
"Nayla? " Rangga begitu saja mengudarakan nama nay, membuat kedua orang tua nya saling lirik keheranan.