My Boss Vampire

My Boss Vampire
CH 1- KAFE & PERTEMUAN


__ADS_3

Di suatu Kafe, Kota Pahlawan.


Mata Karin berbinar-binar, telinganya menikmati alunan lagu. Tak terasa tubuh mulai bergoyang pelan mengikuti melodi. Karin bekerja part time di kafe itu.


Malam terasa syahdu, bukan karena suasana kafe outdoor yang megah. Bukan pula karena pengunjung yang ramai datang. Tetapi karena saat ini, tempat dimana ia berada. Karin dapat melihat secara langsung performa band indie yang disukainya.


Tidak, Karin bukanlah anak senja yang suka berpuisi tentang semesta. Ia menyukai band ini karena ada seorang pria yang sudah lama membuatnya jatuh hati.


Yang tak lain dan tak bukan merupakan kakak kelasnya dahulu semasa SMA. Mereka sempat berpacaran dua bulan. Namun harus kandas karena si pria harus pindah sekolah bersama orang tuanya yang dipindah tugaskan.


Mungkin bagi sebagian orang, cinta di masa SMA hanyalah cinta monyet. Tetapi bagi Karin cinta monyet itu bukan sembarang monyet. Itu adalah cinta yang membuatnya bertingkah seperti monyet betulan.


Semenjak putus, Karin belum bisa move on sampai ia kuliah sekarang. Karin diam-diam terus memantau sosial media pria itu dengan akun anonim.


Dirinya berteriak kegirangan karena tahu pria yang ia sukai kini kembali ke Surabaya untuk merintis karir jadi vokalis band terkenal. Menuju terkenal lebih tepatnya. Karin saat ini adalah manusia bucin yang siap melakukan apa saja demi pujaan hati.


“Makasih ya, karena info dari kamu. Kami bisa manggung disini.”


“Santai kali, kebetulan aja kok itu. Kafe ini yang harusnya berterima kasih sama bandmu, btw suara kamu bagus banget lo, orang-orang harus tahu itu” Karin berlagak seolah menjadi pemiliki kafe dan anak senja dadakan.


“Ah, biasa aja. Kamu tahu kalau aku sebenarnya nggak dibolehin jadi penyanyi sama orang tuaku. Tapi aku nekat kabur, daripada kuliah asal-asalan. Lebih baik aku fokus berkarir seperti ini. Sekali lagi, makasih banget ya.”


Pria itu menggenggam tangannya. Wajah Karin memerah. Ia setuju dengan keputusan berani pria itu. Lebih setuju kalau saat ini tangannya terus digenggam dan tak pernah dilepaskan.


Kebetulan? No, Karin sudah merengek berkali-kali agar manajer kafe itu membuat acara live music menjelang diadakannya nonton bareng piala dunia.


Setelah memohon seperti hendak melahirkan, si manajer akhirnya menyerah, memberikan waktu bagi band itu satu jam untuk menghibur para pengunjung. Tentunya dengan tidak dibayar.


Tapi Karin tidak tega dan merasa mukanya mau ditaruh dimana jika bilang ke pria yang ia sukai, kalau band mereka tampil tanpa dibayar.


Karena itu Karin rela merogoh tabungannya sendiri yang ia kumpulkan berbulan-bulan hanya untuk menyawer band (menuju) terkenal ini.


“Gila lo Rin, kerja lembur kek orang kesurupan. Terus duitnya dikasih ke orang yang jelas-jelas udah ninggalin elu.”

__ADS_1


Nadia mengoceh di kamar asrama karena tahu sahabatnya itu bertingkah bodoh ‘lagi’ demi yang namanya cinta.


“Tapi Nad, Rangga lebih butuh duit itu daripada gue. Ya anggap aja solidaritas.” Karin malas berdebat, menjawab sekenanya saja. Sayangnya bagi Nadia, teman sekamar karin dari semester satu itu, jawaban Karin jauh dari kata kena.


“Solidaritas pale lu bau menyan. Gue ultah cuma lu kasih garem. Ini orang baru timbul langsung lu kasih duit.” Nadia merasa tak dianggap.


Baru saja Nadia ingin menyerocos lagi, tiba-tiba ponsel Karin berdering. Nomor yang selalu ia simpan. Siapa lagi kalau bukan Adipati Rangga. Karin telah menunggu-nunggu momen ini. Saat dimana ia dibutuhkan dan memenuhi segala hajat Rangga. 


Lupakan lelaki yang jadi pahlawan seperti Superman. Sebaliknya, selama ia bisa menjadi Cat Woman (karena Karin punya cita-cita jadi kucing saja), ia bahkan rela menembus badai pasir di gurun sahara jika Rangga memintanya.


“Ya, Rangga. Kenapa?” Karin mencoba bersuara senormal mungkin, selembut yang ia bisa. Walau hatinya kini deg-deg ser kembang kempis. Jarang-jarang crush-nya itu menelpon duluan. Hampir tidak pernah rasanya.


“Besok lusa kamu ada acara?”


“Nggak tuh kayaknya.” Masih mencoba terdengar biasa dan lembut seperti lelehan keju mozarella.


“Ketemuan yuk. Aku kangen nih, sekalian pengen ngenalin kamu ke seseorang.”


Beberapa saat percakapan terus berlanjut, basa-basi lain seperti nostalgia kenangan mereka dahulu. Menanyakan kabar teman-teman lain yang tidak terlalu penting (bagi karin).


Rangga tak dapat banyak bicara dengan Karin saat di kafe sebelumnya karena gadis itu harus melayani pengunjung yang membludak. Hingga percapakan mereka berakhir. Karin menutup sambungan dengan senyuman.


Kangen? Rangga bilang gitu ke aku. Aku yang cuma kek lalapan pecel lele ini.


Ngenalin ke siapa? Ibunya? wah nggak mungkin, tapi kalau beneran gimana? Aku harus dandan dan pakai baju paling bagus nih...


Malam itu pikiran Karin diliputi overthingking. Ia membuat berbagai skenario saat bersama Rangga nantinya.


Dipertemukan dengan ibu mertua, dilamar saat itu juga, orang tuanya ternyata tak setuju karena Karin yang miskin. Ia digaplok dengan duit segepok, dst.


Skenario absurd yang bahkan sekelas Crishtoper Nolan pun takkan sanggup berpikir sejauh itu.


~

__ADS_1


Hari senin, kuliah tamu jam 10 pagi. 


Karin berlari seperti terdesak buang hajat. Malam tadi ia sulit sekali memejamkan mata, alhasil pagi ini Karin bangun kesiangan.


Rupanya ruang aula tempat kuliah tamu berlangsung baru diisi oleh dua tiga orang saja. Banyak mahasiswa/i yang juga datang terlambat. 


Untunglah pembicara kuliah tamu kali ini belum datang. Acara mungkin akan sesuai jadwal walau hanya beberapa mahasiswa yang datang, namun jika pembicaranya yang tidak berada di tempat, kuliah tamu itu tentu tak bisa dimulai.


Mungkin terjebak kemacetan. Pikir Karin. Hujan deras yang mengguyur Surabaya bulan desember memang sering membuat jalanan macet. 


Karin tidak akan pernah punya alasan macet, karena ia tinggal di asrama yang menyatu dengan kampus tersebut. Tetapi kali ini sepertinya yang di atas membantunya.


Karena jika terlambat (sendirian) dirinya akan di silang absen, satu kali absen lagi maka ia tidak boleh ikut ujian akhir mata kuliah ini. Psikologi Kewirusahaan. Mata kuliah cabang dari ilmu dasar Psikologi.


''Kamu ke mana aja, Nad?" Tanya Karin yang melihat Nadia juga ngos-ngosan dan langsung duduk di sebelahnya.


"Dari kantin." Nyengir sambil membuka plastik snack.


"Yah, Kok nggak bangunin aku sih”


"Ye... Udah gue bangunin lu nya doang yang ngebo, nih ambil. Lu pasti belum sarapan kan" Nadia memberikan roti selai stroberi.


Karin tidak bisa marah lagi karena memang itu kesalahannya yang begadang tadi malam. Ditambah kini ia yang merasa bersalah, Nadia meski muncungnya ceplas-ceplos ia adalah teman yang sangat baik, tahu betul jika Karin tidak makan pagi maka maag nya bisa kambuh.


15 menit berselang, dari pintu masuk. Seorang dengan wajah pucat bak mayat hidup berjalan. Tatapan dinginnya membuat orang-orang di aula terdiam. Semua mata tertuju padanya. Tak percaya dengan apa yang mereka lihat.


“Siapa dia?” Tanya Karin dengan polosnya.


~


Bersambung


......................

__ADS_1


__ADS_2