My Boss Vampire

My Boss Vampire
Ch 4 - KAMPUS C


__ADS_3

Hari berikutnya Karin tidak banyak bicara, masih murung. Tapi itu lebih baik dari hari sebelumnya. Kuliah juga lagi-lagi dibatalkan, diganti dengan tugas.


Pak Samin, dosen Kesehatan Mental itu memang terkenal super sibuk. Padahal itu adalah mata kuliah yang selalu Karin tunggu.


Karenanya daripada pulang dan hanya tidur-tiduran (yang jelas akan membuat Karin tambah galau), lebih baik ia menyibukkan diri dengan hal yang lebih berguna.


Karin melihat jamnya, pukul 1 siang adalah jadwal bis ke kampus C. Kampus ini terpecah menjadi 4 bagian, Asrama Karin berada di kampus B, pihak universitas sudah menyediakan fasilitas berupa bis gratis setiap 30 menit sekali untuk mobilitas para mahasiswanya.


Demi menghemat uang bulanan, tentu saja Karin akan mempergunakan fasilitas ini dengan maksimal. Nadia tidak ikut, karena malam tadi mereka telah membagi tugas.


Memang sedikit menyebalkan harus mengulang mencari data lagi. Tapi mereka masih punya cukup waktu.


Di kampus C ada perpustakaan terlengkap yang dapat memberinya banyak data. Ide yang cemerlang harus dibarengi dengan data yang sistematis.


Perpustakaan itu menjulang tinggi, desain bangunanya mirip sebuah buku yang terbuka. Sebulan yang lalu baru saja mereka mengupgrade penuh ke sistem digital.


Sebelumnya hanya para dosen dan pejabat kampus yang diperbolehkan menggunakan sistem ini. Karena demo besar-besaran para mahasiswa yang menuntut agar sistem itu disamaratakan.


Banyak mahasiswa yang kesulitan mencari referensi baik untuk skripsi ataupun untuk lomba ilmiah, rata-rata jurnal ilmiah itu sulit didapat karena berbayar. Para mahasiswa harus menggunakan cara ilegal untuk mendapatkannya secara gratis.


Dengan upgrade sistem ini salah satu kegunaannya adalah untuk mengatasi masalah itu.  Sebenarnya bukan kampus tidak ingin, namun dananya tidak mencukupi.


Setelah terjadi tuntutan terang-terangan itu tampaknya kampus memutar otak, mencari investor untuk membiayai.


Desas-desus berseliweran, tentang munculnya konglomerat muda yang sangat baik hati, menyutujui semua biaya yang akan dikeluarkan untuk peningkatan fasilitas perpustakaan, membayar semua biaya. Tanpa imbalan sepeser pun.


Orang-orang banyak membicarakannya, tapi tidak tahu persis nama donatur tersebut. Akhirnya setelah beberapa pekan, berita itu tenggelam. Diganti dengan gosip baru yang lebih panas. 


_


Karin dari tadi sudah melahap beberapa lembar tulisan. Ia mengerjakan tugas dari Pak Samin terlebih dahulu. Meski deadline tugas yang diberikan masih seminggu, Karin menyelesaikan sekarang.

__ADS_1


Tidak ada salahnya. Dahulu dia memang suka menunda-nunda tugas yang dosen berikan, namun karena sekarang sibuk bekerja part time, mau tak mau tugas itu harus diselesaikan secepatnya.


Tugas kuliah memiliki sifat 'baperan', jika diabaikan maka dia akan memanggil teman-temannya yang lain, bertumpuk, dan menghajar Karin habis-habisan.


Selanjutnya setelah selesai di tugas itu, Karin membuka laptop dan mencatat hal-hal penting terkait proyeknya. Kadang ia membuka laman web khusus yang sudah disediakan pihak perpustakaan kampus untuk mencari sumber-sumber ilmiah.


Ketika suntuk dan tidak menemukan apa yang dicari, juga sedikit pusing melihat huruf dan angka yang mulai menari, Karin memutuskan berjalan-jalan di lorong lain rak buku bertema fiksi. Melihat judul yang menarik, membuka beberapa halaman buku tersebut lantas menaruhnya kembali.


Karin menyipitkan mata untuk melihat rak atas buku yang cukup tinggi. Ia ingin mengambil buku itu namun tak sampai, Karin berjinjit tetapi buku itu masih diluar jangkauan.


Disitulah sosok tinggi dengan lengan panjang muncul, menarik buku yang diinginkan Karin. Karin mendongak melihat wajah pria itu. 


"Pak Hansel??" Karin bertanya untuk memastikan, ia sedikit bingung kenapa pengisi kuliah tamu kemarin bisa ada disini. Mungkinkah ada kuliah tamu juga di aula perpustakaan? Entahlah.


Yang disapa hanya diam. Sikapnya begitu dingin. Setelah mengambil buku itu ia langsung memberikannya pada Karin. Kemudian pergi. Tidak berkata apa-apa. 


Sombong banget. 


Karena belum selesai, Karin memutuskan untuk membawa beberapa buku pulang. Ia datang ke bilik peminjaman, dan disana ternyata Karin bertemu lagi dengan sosok lelaki dingin yang tidak menggubris saat disapa.


Di tangan lelaki itu ada satu buku yang sepertinya mau ia pinjam. The Secrets of Vampire - Menguak Rahasia Para Vampir. 


Karin merogoh tasnya, ia menyadari bahwa kalau kartu perpustakaannya lupa dibawa. 


"Aduh, gimana nih."


"Ada apa non?" petugas peminjaman bertanya, antrian semakin panjang karena Karin lama mencari kartu itu. Ia benar-benar tidak membawanya. 


"Ini buk, boleh nggak bukunya dipinjem tanpa kartu anggota?"


"Aduh non, maaf ga bisa. Udah kebijakannya kalau satu orang, harus memakai kartu anggotanya sendiri kalau mau minjem buku." Petugas perpustakaan itu menjelaskan dengan baik. 

__ADS_1


Karin menggaruk kepalanya, sungguh peraturan yang merepotkan. Tapi karena ini keteledorannya juga, maka Karin hanya bisa menghela napas perlahan. Baru saja ia ingin keluar dari antrian tersebut, seseorang di belakangnya bicara. 


"Tunggu, pakai ini saja." Lelaki itu menyodorkan kartu berwarna hitam. Black card, kartu VIP, kartu khusus perpustakaan yang memungkinkan pemiliknya meminjam buku dan mengabaikan semua aturan.


Bahkan pemilik kartu itu boleh meminjam sebanyak yang ia mau, dan bisa mengembalikan buku tanpa kena denda walaupun terlambat, singkatnya buku yang dipinjam dengan kartu itu bebas untuk  dikembalikan atau tidak. Benar-benar kartu sakti. 


Petugas perpustakaan itu langsung mengerti saat disodorkan Black card, karena paham kalau ini adalah pengunjung VIP ia langsung memproses dengan cepat. Tidak bertanya ini itu, karena antrian juga masih banyak. 


"Terima kasih, Pak Hansel."


Si lelaki hanya mengangguk pelan. Setelah bukunya juga selesai dimasukkan ke data peminjaman, lagi-lagi ia pergi dengan sikap sedingin es antartika. 


Kali ini Karin tidak berpikir buruk tentang Pak Hansel. Sebaliknya Ia merasa sangat beruntung bisa melihat 'kesaktian' kartu yang katanya cuma dongeng itu.


Ia jadi bebas menikmati dan tak perlu repot bolak-balik melakukan perpanjangan untuk buku-buku penting yang sudah dipinjam. Karin mencoba berprasangka baik, mungkin Pak Hansel memang orang yang tidak banyak bicara.


Setidaknya ia sudah sangat baik dengan dua kali membantu Karin hari ini, kapan-kapan Karin harap bisa membalas kebaikan itu.  


Keberuntungan Karin sepertinya sudah habis. Ia terlambat mengejar bus terakhir malam itu. Jarak antara kampus C ke asrama Karin di kampus B, kurang lebih bisa ditempuh hanya 15 menit jika menggunakan bus.


Jika Karin berjalan cepat, ia membutuhkan waktu setidaknya 30 menit. Jika Karin menggunakan jasa ojek online, maka ia harus membayar sebesar 15 ribu.


Mungkin bagi sebagian orang, nilai itu kecil. Tapi bagi Karin yang hanya mahasiswi perantauan, 15 ribu adalah uang yang sangat bernilai. Karin tak berpikir lama untuk memutuskan kalau malam ini ia pulang jalan kaki saja.


Setelah 10 menit berjalan, Karin sampai di perempatan lampu merah. Ia baru mengecek hp, ada chat dari Nadia.


Sebuah mobil pick up berwarna hitam menembus kegelapan malam. Karena kondisi supir yang mengantuk, ia tak fokus lagi dan terus menambah kecepatan. Si supir tak sadar lampu sudah berwarna merah, juga seorang gadis yang sedang menyebrang jalan.


Karin sebaiknya tidak pulang jalan kaki malam itu.


Bersambung

__ADS_1


................


__ADS_2