My Boss Vampire

My Boss Vampire
Ch 5 - SAHABAT


__ADS_3

Karin mengecek ponselnya yang bergetar.


Nadia: Udah jam berapa ini Karina Oktavia, lu dimana?- {stiker ibu-ibu bawa sapu}


Karin: Bentar lagi nyampe, bu kos. Dahlah jangan bawel.


Karin membalas chat sahabat cerewetnya itu dengan cepat. Ia melihat rambu sudah berwarna merah. Memasukkan ponselnya kembali ke tas selempang.


Ditengah penyebrangan ada cahaya yang begitu cepat menghampiri Karin, membuat matanya jadi silau. Sebuah mobil pick up, mendekat dengan kecepatan tinggi.


Kecepatannya itu membuat Karin tak bisa bereaksi. Mobil sudah hampir mengenainya. Sejengkal lagi. Namun tiba-tiba, ada sosok yang datang menahan laju pick up tersebut.


Hansel, sang vampir generasi ke 27. Menghentikan mobil pick up yang hampir merenggut nyawa Karin. Hanya dengan sebelah tangannya.


_


Sinar mentari yang masuk di celah ventilasi kamar menyapa wajah Karin. Ia terbangun di atas ranjang. Mengerjap-ngerjapkan mata. Sedikit tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi.


Melihat Nadia yang masih mendengkur di kasur sebelah. Membuat Karin sadar kalau ia sudah berada di kamar asrama.


Gadis itu merasakan sakit kepala, berdenging dan menusuk-nusuk. Mimpi yang aneh. Pikirnya. Karin tidak mengingat begitu jelas apa yang terjadi setelah kejadian di lampu merah.


"Malam tadi aku pulang sama siapa nad?"


"Ye, mana gue tau. Gue udah tidur duluan sebelum lu sampe." Jawab Nadia ketika ia sudah bangun.


Karena tak menemukan jawaban bagaimana dia bisa ada di kamar asrama pagi ini, Karin turut mencoba mengorek informasi dari pak satpam penjaga asrama. Ia yakin kalau insiden malam tadi bukan mimpi.


"Wah, malam tadi sih saya nggak liat mbak Karin pulang. Mungkin pas saya lagi ke toilet, soalnya semalaman saya mules kebanyakan makan geprek." Tutur Pak Joko, satpam asrama itu.


Karena Karin masih penasaran, ia meminta Pak Joko mengecek CCTV, jam di sudut layar menunjuk pukul 22:34, saat Karin melenggang masuk di gerbang asrama.


Ia berjalan normal, membawa tumpukan buku dan tidak ada siapa-siapa bersamanya. Dilihat-lihat tidak ada yang mencurigakan sama sekali. Walau rasanya kejadian malam itu begitu nyata, mungkin itu memang benar mimpi Karin saja.


_


Yang sebenarnya terjadi malam itu.


Bagian depan mobil itu penyok, kacanya pecah berhambur di jalanan. Si supir segera keluar tapi tak menemukan apa yang sudah ia tabrak. Supir tadi sudah kehilangan rasa kantuknya, menggaruk kepala karena bingung.


Semenjak Karin meninggalkan perpustakaan, Hans terus mengikutinya dari kejauhan. Ia melakukan tindakan spontan melihat bahaya yang akan menimpa gadis tersebut. Keadaan jalan malam itu cukup sepi. Lampu jalanan juga banyak yang mati.


Dengan kecepatan vampir yang ia miliki, Hans mampu membawa Karin tanpa disadari orang-orang. Orang lain sebenarnya sudah terlalu sibuk dengan pikirannya masing-masing, dan juga tidak terlalu memperhatikan kejadian singkat malam tersebut. Kalau pun ada, Hans sudah memerintah Albus untuk mengatasinya.


Hans mampu melakukan hipnotis tingkat tinggi, dengan tatapan mata merah vampir, ia mampu membuat pikiran seseorang menjadi beku dan mengikuti segala perintahnya.


Karin yang telah terhipnotis setelah menatap mata Hans, menjadi hanya diam tak berkedip. Pikirannya kini menjadi balok es di dalam kulkas ilusi. Hans terus membawa Karin dan menurunkannya di dekat gerbang asrama putri, jauh dari pantauan CCTV.


"Kejadian di jalan malam ini, kau hanya akan mengingatnya sebagai mimpi." Hans selanjutnya memberi instruksi agar Karin berjalan pulang ke asrama seperti biasa.

__ADS_1


Hans mengawasi Karin di balik kegelapan. Albus berkata sambil membungkuk di belakangnya.


"Tuanku, bukankah kita tidak boleh mencampuri takdir manusia? Gadis itu seharusnya mati malam ini."


"Albus..," Hans melirik pelayannya dengan tatapan dingin menembus jiwa.


"Kau belum mengerti tentang apa itu takdir."


_


Sakit kepala Karin semakin menggila. Dunia serasa bergoyang. Namun goyangan itu tidak membuat Karin menjadi wanita manja. Karena merasa masih cukup kuat, Karin tetap memutuskan ke apotek untuk membeli obatnya sendiri.


Nadia yang melihat Karin terus memegang kepalanya jadi tak tega dan merasa khawatir, ia memutuskan untuk menemani, antisipasi kalau Karin tumbang di jalan.


Sesampainya di apotek, mereka melihat Nancy disana, sedang menebus obat di kasir. Nadia sudah mendengus, melihat wajah Nancy saja bisa membuatnya kesal. Berbeda dengan Karin, ia memutuskan untuk menyapa Nancy dengan senyum ramah. 


"Siapa yang sakit, Nan?" 


"Bukan urusan lu." Nancy merapikan bungkus obat dan memasukkannya ke dalam saku. Melengos begitu saja dari mereka berdua. 


Setelah jauh dan tak terlihat lagi, giliran Nadia yang bicara. 


"Tuh kan, udah gue bilangin pura-pura nggak kenal aja. SKSD banget lu Rin."


"Gapapa, nggak ada ruginya nyapa orang." Karin menaikkan bahunya. 


"Malam ini lu ga kerja?" 


"Nggak, udah resign."


"Karena si Rangga ya? Denger-denger sih kafe itu jadi tempat tetap mereka manggung."


"Nah, itu kamu tau."


"Nggak papa, nggak ada salahnya bikin kamu kesel. Hehe" Nadia seperti membalas kalimat Karin di apotek tadi. Diikuti dengan tumpukan bantal yang sekarang mengenai wajahnya. 


_


Malam minggu. 


Karin bersama Nadia pergi ke kafe yang baru buka di kota. Gadis itu sebenarnya jarang sekali ngalur ngidul seperti ini, tetapi sesekali bolehlah. 


Ia butuh menyegarkan pikiran, banyak hal yang terjadi sepanjang pekan. Bermain dan beristirahat sama pentingnya dengan belajar. 


Lagi pula kafe yang didatangi ini sedang menawarkan promosi yang menarik, beli satu gratis satu. Lumayan. 


Karin jelas tidak bisa memesan kopi, lambungnya tidak kuat untuk 'si hitam' itu. Meski bartender sudah menawarkan jenis kopi ringan yang aman untuk orang berpenyakit maag, Karin tetap menggeleng.


Ia akhirnya memesan jus alpukat saja. Sedangkan Nadia memesan espresso, juga tambahan beberapa cemilan. 

__ADS_1


Saat sedang asyik menikmati suasana kafe, Karin tersedak minumannya sendiri. Seseorang yang saat ini paling tidak mau ia temui sedang berjalan dari pintu masuk.


Mengenakan kemeja santai dan celana jeans hitam sobek di lutut. Rangga awalnya tak sadar, tetapi beberapa saat mata mereka langsung bertemu. 


"Waduh, kayaknya ada yang berjodoh nih." Nadia mencoba menggoda, suasana dingin AC sekarang tiba-tiba jadi panas buat Karin. 


"Kok, bisa dia ada disini? Kamu yang nyuruh ya?" 


"Eh. Nggak Rin, sumpah demi kuntilanak kecebur got. Gue nggak tau sama sekali." Nadia langsung membentuk jari V, membela dirinya. Sedangkan Rangga yang melihat Karin ada disitu mulai berjalan menghampiri. 


"Aku harus gimana?" Sudah terlambat bagi Karin untuk pura-pura tidak melihat.


"Santai aja, kalau lu kabur justru jadi aneh kelihatannya." Nadia memberi petunjuk instan. 


Rangga sudah berdiri di hadapan mereka. Tampak senang dan langsung menyapa keduanya. Dengan santai Rangga duduk di kursi (setelah meminta izin). Ia duduk berhadapan lurus dengan Karin. 


Nadia yang merasa menjadi pengganggu di obrolan dua orang ini, izin ke toilet. Dalam hati, Karin mengumpat Nadia karena meninggalkannya sendiri terjebak dalam kandang buaya. 


"Kata manajer kafe, lu berhenti ya, kenapa?" 


"Nggak papa, cuma pengen libur aja dulu."


"Libur kan nggak harus langsung resign. Pasti ada apa-apanya nih, cerita aja Rin. Kamu kan udah bantuin aku, mungkin aku bisa bantu masalahmu juga."


Masalahnya, ini karena dirimu RANGGA. The problem it's you.


Karin tidak mungkin menjawab apa yang ada dipikirannya sekarang. Ia tersenyum palsu dan sekali lagi menjawab dengan kalimat yang mirip, tugas kuliah semakin banyaklah, ini itulah, berbagai macam alasan. Karin mencoba mengalihkan topik dengan bertanya kenapa Rangga datang ke kafe ini, dan dimana Stela. 


"Hubungan kami masih belum direstui, Rin. Aku datang ke kafe ini karena udah janjian buat ketemu papanya. Katanya ada yang mau dibicarakan, khusus empat mata."


"Oh, begitu..," Karin berharap bisa menghentikan basa-basi busuk ini. Setelah patah hati dan menghabiskan tisu 1 dus, air matanya telah mengering untuk Rangga.


Kalau dulu ia tidak bisa move on, itu karena ada harapan kalau Rangga masih mencintainya. Setelah tahu Rangga sudah bersama wanita lain, Karin bisa merelakan perasaan ini. Karin masih punya harga diri dan tak mau mengusik hubungan orang lain.


Dan untungnya ponsel Rangga tiba-tiba bernyanyi, lelaki tersebut menjawab panggilan. Mengangguk-angguk. Kemudian menutup sambungan.


"Aku harus ke lantai dua, Rin. Papanya Stela udah nungguin disana. Kalo ada apa-apa kabarin aja ya." Rangga bergegas meninggalkan Karin. 


Gadis itu paham sekali, kalau kalimat terakhir Rangga barusan hanya pemanis. Lelaki itu tidak mungkin benar-benar peduli dengan apa yang Karin rasakan. Buktinya sudah jelas terpampang seperti iklan penyedot wc.


Cukuplah sahabat yang benar-benar tulus, menerima apa adanya yang boleh tahu semua masalah hidup yang Karin alami. 


"Nadia, kita cabut sekarang."


.


Bersambung


......................

__ADS_1


__ADS_2