
Sementara itu, Karin tidak menyadari bahwa di lantai teratas resto bertingkat adalah tempat kerja seorang yang sering mengawasinya. Pria maskulin itu sedang bergantung secara terbalik. Tampak memikirkan suatu hal. Lama sekali. Kaca jendela yang terbuka. Sinar redup rembulan merambat di ruangan.
Albus, si pelayan vampir membawa santapan makan malam. Sangsang, masakan khas daerah berupa daging kerbau yang dicincang kecil, dimasak bersama darah kerbau tersebut. Diberi bumbu spesial. Harum semerbak hidangan itu memenuhi ruangan saat penutupnya dibuka.
"Tuan Hansel..." Albus memanggil, memberi tahu kalau tugasnya di lantai bawah telah usai. Jika ada yang dibutuhkan, ia akan selalu siap sedia.
Sedang yang dipanggil terus menatap keheningan rembulan. Bulan sabit yang bentuknya kini melengkung ke bawah. Menerangi sedikit ruangan yang sengaja ia matikan pencahayaannya.
Dua bintang di atas bulan sabit melengkung itu menyerupai mata. Sekarang terlihat seperti wajah yang sedang cemberut.
"Kali ini waktunya si wajah sedih." Gumam si pria maskulin.
.
.
Perasaan Karin yang awalnya bagai balon udara yang sudah terbang melayang ke angkasa. Sekarang balon itu di tembak petir karena kalimat Rangga. Jadi bolong dan kempes hati Karin dibuatnya. Nyesss, ngenes.
“Sebenarnya ini tunangan yang mau aku kenalin sama kamu, Rin."
"Aku nggak salah denger?"
__ADS_1
"Nggak kok, bener yang ayang Rangga bilang." Kali ini Stela menambahkan panggilan sayang, menunjukkan kalau mereka benar-benar pasangan. Memang banyak yang mengira kalau mereka itu ibu dan anak. Stela menggamit tangan Rangga dengan mesra.
Balon perasan Karin kini hancur ke tanah, masuk ke jurang tergelap. Beginilah kondisi hati dan pikiran Karin melihat pemandangan dua sejoli di depannya. Namun Karin bisa menutupi wajahnya dengan topeng senyuman. Ia buru-buru meminta maaf kepada Stela atas kesalahpahaman yang ia lakukan.
Malam saat Rangga bernyanyi di kafe itu, ada beberapa orang yang merekam dan menyebarkannya di media sosial. Membuat nama band Rangga viral dalam hitungan jam.
Ada seorang produser musik yang tertarik dan berminat ingin secepatnya mengontrak dan membuatkan mereka label rekaman. Mumpung lagi viral.
"Semua ini berkat kamu Karin, saking senengnya aku nggak tahan cerita soal kamu ke Stela. Dan dia pengen ketemu kamu langsung."
"Iya makasih banyak Karin, karena kamu hubungan kami yang udah mau masuk satu tahun nggak perlu ditutup-tutupi lagi. Rangga bakal dapat kontrak rekaman, jadi dia bisa ngeyakinin orang tuaku." Stela mendekat dan memeluknya, walau itu pelukan yang tulus nan hangat. Tapi Karin merasa terbakar.
"Oh ya, sama-sama. Emang sepatutnya Rangga dan bandnya jadi terkenal. Toh suara Rangganya bagus, lirik lagu bandnya juga penuh makna. Tuh kan, apa kubilang. Orang-orang akhirnya tahu kehebatan musikmu."
Karin menguatkan perasaannya malam itu saat makan dan mengobrol bersama Rangga dan Stela, mengokohkan pundak yang mau tumbang, dengan pikiran berkabut.
Asal dia bahagia, itu cukup buatku.
Malam-malam Karin pulang dengan maskara yang luntur. Ia sudah menahan air mata agar tak tumpah saat dinner bersama tadi. Namun ketika diperjalanan pulang dan melihat Nadia dari gerbang asrama, mata Karin tak mampu lagi membendung debit air kesedihan. Air itu tumpah begitu deras hingga pagi ini. Sudah dua hari lamanya.
"Mau sampai kapan lu mewek? Heh. Tu mata udah bengkak kek tahu bulat. Lu tetep harus sarapan. Sedih juga butuh tenaga kali, aaaaa" Nadia menganga sambil menirukan pesawat-pesawatan agar Karin mau makan.
__ADS_1
Nadia berusaha sekuat tenaga agar sahabatnya itu tidak sakit meski dirundung patah hati. Bisa gawat karena ia mempunyai proyek besar bersama Karin, proyek itu sedang digarap secara serius dengan semangat tanah air beta. Jangan sampai gara-gara patah hati patah pula rencana mereka. Jangan sampai gatot (gagal total).
"Hari ini ada kuliah kan, nad?"
"Wis, tenang. Libur. Pak Samin tadi ngechat di grup kalau kuliah diganti hari jumat."
Nadia ingin lanjut berkata kalau Karin harusnya bersyukur libur mendadak hari ini. Tapi tak ia utarakan karena ingat pesan dari ayahnya. Kalau orang sedih itu jangan dinasihatin dulu. Tapi di kasih empati, dukungan dan hiburan. Paling sederhana Itu bisa berbentuk makanan. Seperti yang Nadia lakukan sekarang.
Kesedihan perlu diterima dan dirasakan apa adanya. Kesedihan adalah bagian dari kehidupan manusia, menolak sedih sama saja menolak menjadi manusia yang utuh. Kali ini, Nadia membuat suara kereta api sambil menyuapkan bubur ke mulut Karin yang masih sesenggukan.
Setelah kenyang dan sudah agak tenang. Karin mulai bicara lagi. Nadia dari tadi menghabiskan waktu menemani di kamar. Biasanya Nadia tidak pernah betah tinggal di kamar asrama, ia lebih sering bermain di luar. Ia hanya memakai kamar asrama untuk satu tujuan utama, istirahat. Tapi kali ini, karena kondisi Karin ia rela hanya rebahan dan menunggu.
"Proyek kita, apa kabar ya?"
"Nggak tau dah, bagianku sih udah selesai." Nadia tidak berniat menyindir, ia hanya mengatakan fakta. Sambil menunjukkan beberapa rangkuman makalah.
Proyek yang mereka bicarakan adalah tiket masuk magang eksklusif yang tempo hari sudah diberitahu. Waktunya 3 bulan. Detailnya adalah bagi siapa saja mahasiswa/i yang berminat untuk magang, harus membuat sebuah terobosan ide/produk unik yang akan mendongkrak pasar.
Ide/produk itu nantinya harus mereka buat dengan prosentasi dua menit. Video lalu dikirim ke email perusahaan. 10 terobosan terbaik akan dipanggil untuk menjelaskan lebih lanjut. Dan disana hanya dua tim yang akan di terima magang eksklusif.
"Itu artinya cuma empat orang yang keterima. Katanya semua jurusan boleh ikut si. Duh, yang dari jurusan ekonomi pasti udah nyiapin ide, belum lagi jurusan farmasi yang punya terobosan paling banyak. Bakal banyak yg daftar, persaingan udah kek jalan mau ke kantin fakultas, sempit banget." Nadia berbicara sambil memijit-mijit kepala. Karin yang tengah berpikir, justru mendapat ide cemerlang.
__ADS_1
.
.