
Karin terus mendapatkan telepon dan notifikasi chat dari Rangga. Entah mengapa semenjak malam ia bertemu dan meninggalkan Kafe bersama Nadia, Rangga terus mengontaknya.
Mungkin ini yang dinamakan semakin diabaikan semakin penasaran.
Karin sudah berkomitmen untuk memutus komunikasi dengan lelaki yang pernah menjadi dambaannya itu.
Namun seperti bait lagu Sang Dewi, wanita seperti diri Karin pun ternyata mudah menyerah. Mudah tersentuh dan pendiriannya gampang goyah.
"Kembaliin hp ku, nad!"
"Nggak, gw dah tau lu mau ngapain. Pasti lu mau bales chat si kadal gurun itu kan?"
Karin menggeleng, tapi ia tidak bersuara. Itu menandakan dugaan Nadia benar. Ia terus menahan hp Karin dari tadi.
Sebagai sahabat yang sangat peduli dengannya, Nadia tidak akan membiarkan sindrom monyet bucin Karin kambuh lagi. Menguasai sekaligus menyesatkan Karin ke hutan rimba tipu daya Rangga.
Nadia memegang wajah Karin dengan kedua tangannya. Menekan wajah Karin hingga menggembung.
"Karin bucin! Sadar! Udah gue bilangin kalau lu sampe nanggepin ni orang bakal semena-mena sama lu. Inget kata Erich Fromm..."
"Kata Erich Fromm yang mana?"
Karin tampak bingung, ia tahu bahwa tokoh psikologi yang disebut Nadia sempat membahas tentang cinta di buku-buku yang ia tulis, terutama di buku yang berjudul The Art of Loving - Seni mencintai.
"Eh.. Bentar." Nadia serba salah, ia sembarang saja mencomot kalimat yang menyambar di otak dan mengatakannya. Tak menyangka bahwa Karin akan menyahut dengan serius.
Nadia mengambil hp nya, mencari-cari kemudian menunjukkan screenshoot quotes dari internet yang biasa ia jadikan status.
"Nih!"
Cinta yang tak dewasa: 'Aku mencintaimu karena aku membutuhkanmu'. Cinta yang dewasa: 'Aku membutuhkanmu karena aku mencintaimu'.
Karin membaca kalimat itu dalam hati.
"Tau kan bedanya. Yang cuma butuh dan yang beneran suka siapa."
"Tapi, Nad." Karin memelas.
Memang antara teori dan praktik ada jurang pemisah yang sangat besar. Terutama untuk orang yang sudah hanyut dibawa rakit perasaannya sendiri.
Karin boleh mendapat nilai bagus untuk ujian teori psikologi cinta, tapi untuk penerapan gadis itu sepertinya masih harus remedi.
Mata Nadia sudah membelalak, geregetan. Saat itu ponsel Karin berbunyi lagi. Panggilan dari Rangga. Karin ingin mengambil ponselnya.
__ADS_1
Tetapi Nadia menahan Karin dengan kaki lincahnya. Wajah Karin menempel di telapak kaki Nadia.
Nadia yang kali ini menjawab panggilan itu.
"Iya, Halo Rangga. Nyari Karin?"
..
"Karinnya lagi eek,
...
"Duh bau banget ni t*i Karin. Habis makan jengkol dia keknya. Hmmm, oke-oke. Ntar kusampein."
.....
"Sip, kututup ya. Dah."
Wajah Karin memerah karena malu, ditambah ia dari tadi tak berkutik karena Nadia sudah memiting lehernya. Membuat Karin tak mampu mengeluarkan suara.
Bahkan hampir kehabisan napas. Wajahnya semakin merah. Karin menepuk-nepuk paha Nadia, tanda menyerah.
Nadia berbohong, banyak yang ia katakan pada Rangga di telepon merupakan dusta. Faktanya Nadia lah yang suka makan jengkol dan sangat senang jika Karin membawanya sebagai oleh-oleh dari kampung.
"Sengaja, biar si kecoa terbang tuh ilfil sama lu. Eh dia malah ketawa-ketiwi." Entah sudah berapa banyak istilah hewan yang dikatakan Nadia soal Rangga, merujuk kekesalannya pada lelaki itu.
"Terus Rangga bilang apa lagi?"
"Nggak penting (menurut Nadia), basa-basi nanyain kabar, sama nitip salam doang. Bener-bener dah, udah punya pasangan masih nelpon-nelpon cewek lain. Red flag banget ini mah."
Nadia menunjuk-nunjuk layar hp Karin. Melemparnya ke kasur sembarangan. Tak mau ambil pusing lagi.
"Ya, mungkin dia cuma butuh temen curhat, Nad."
"Ngejawab lagi gue smackdown lu ya."
Karin hanya nyengir, sedikit menelan ludah. Wajah merahnya tampak masih berbekas. Karin tentu tak mau membangkitkan sosok The Rock dalam diri sahabatnya itu.
.
.
Malam pun berlalu.
__ADS_1
Sejak subuh tadi, hujan terus mengguyur kota kelahiran Bung Tomo itu. Hari ini Karin dan Nadia dijadwalkan berkonsultasi dengan Pak Samin terkait proyek untuk magang mereka.
Meski beberapa kali sulit ditemui, namun kesempatan itu datang. Pak Samin juga sudah mendapat makalah rancangan proyek yang mereka buat.
Sebenarnya Nadia ingin menamai ide mereka dengan proyek kesedihan. Tetapi Karin tidak setuju, ia lebih suka jika proyek itu bernama proyek duka.
Sibuk dengan perdebatan soal nama, mereka memilih suit 3 babak. 'Pertarungan' suit itu kemudian dimenangkan oleh Karin dengan skor telak 3-0.
Jadilah ide mereka dengan nama Proyek Duka. Dengan slogannya: Yang patah tumbuh, yang hilang kan berganti.
Proyek mereka adalah sejenis prototipe aplikasi yang membantu seseorang berdamai dengan kehidupannya, baik soal cinta, keluarga, depresi, kehilangan, dan hal-hal yang menyedihkan lainnya.
Rancangan aplikasi itu akan memiliki fitur utama untuk konsultasi dengan Psikolog secara privat, dengan harga yang lebih terjangkau tentunya.
Ditambah fitur-fitur unggulan lainnya seperti curhat kelompok, games kesehatan mental, pelacakan kebiasaan harian, dan fitur lain yang belum ada di aplikasi serupa.
Singkatnya ide Karin & Nadia ingin menyempurnakan kelemahan dan kekurangan dari aplikasi yang sudah ada saat ini.
Setelah konsul dengan Pak Samin. Ada banyak bagian yang dicoret, dibuang, dan diperbarui lagi.
Karin juga sengaja tidak mencari pekerjaan part time baru, ia memfokuskan diri pada proyek ini. Itu dikarenakan benefit jangka panjang yang bisa diperoleh jika Karin lolos magang lebih menguntungkan berkali lipat daripada pekerjaan part time yang mungkin ia lakukan.
Realistis sebenarnya, mengingat kondisi ekonomi Karin yang berada di titik nadir. Jika bukan karena bantuan beasiswa mungkin ia sudah berhenti kuliah sekarang.
Waktu terus berjalan, deadline pengumpulan tiba. Setelah mengirimkan file dan berbagai persyaratan. Beberapa hari berikutnya 10 tim yang terpilih pun diumumkan.
Nama Karin dan Nadia berada di posisi 3, satu peringkat di atas tim Nancy. Peringkat pertama jatuh ke tim di jurusan ekonomi, mereka unggul dengan memberi ide tentang aplikasi keuangan terkini.
Dan yang kedua di sabet oleh jurusan farmasi, dengan ide aplikasi kesehatan dan pembuatan obat-obatan herbal. Memang kebanyakan yang lolos adalah ide yang mencantumkan tentang pembuatan aplikasi.
Alasannya adalah era industri 4.0, perkembangan internet yang semakin masif. Semua akan berbasis digital, penting sekali menyadari hal ini dan menyiapkan sarana yang akan dibutuhkan.
Perusahaan Pak Hansel memang sedang mengembangkan hal ini untuk inovasi bisnis mereka di masa depan. Karin sudah melakukan riset dan mencari tahu hal ini jauh-jauh hari.
Namun ranking yang dibuat saat ini hanyalah penilaian sementara, dari penampilan di video singkat dan makalah yang mereka kirim. Masih ada satu tahapan lagi untuk menentukan tim siapa yang benar-benar lolos.
.
.
Bersambung.
Jangan lupa buat like dan koment ya.
__ADS_1