
Sebuah kejutan.
Pembicara yang dinantikan ternyata berbeda orang. Pembawa acara menjelaskan bahwa ada perubahan untuk pengisi kuliah tamu hari ini.
Para mahasiswa tak banyak soal akan perubahan narasumber yang mendadak ini, mereka lebih penasaran dengan siapa sosok yang sedang duduk dengan berwibawa itu.
Hansel Brama Adi Wijaya seorang brilian, tampan plus mapan. Meski wajahnya yang pucat, namun ia memiliki aura menarik yang misterius. Pengusaha sukses berumur 29 tahun yang memiliki latar belakang S1 psikologi dan S2 di Amerika bidang ekonomi.
Sepulangnya dari Amrik ia memutuskan untuk berbisnis ketimbang menjadi akademisi. Hans sebenarnya tidak punya waktu untuk hal semacam ini. Namun karena almamater kampus mengontaknya sebagai pembicara pengganti maka ia pun (terpaksa) datang.
Suasana yang sejuk bertambah dingin saat ia masuk. Nadia yang duduk di samping Karin sudah bersin beberapa kali, suara bersin yang ditahan dengan sapu tangan terdengar seperti kuntilanak terjepit di selokan.
Kaki Hans yang jenjang, tubuh yang tegap dan atletis, dalam balutan jas biru gelap membuat karismanya menyebar. Memabukkan para mahasiswi di aula itu.
Seorang lelaki dua baris di belakang Karin menelan ludah, tatapan pacarnya di sebelah seolah berkata 'Tuh, kamu harusnya kayak gitu!'.
Karena Hans merupakan tamu penting, maka Pak dekanlah yang langsung memberi sambutan, sekaligus pengantar perkuliahan tersebut. Acara dilanjutkan dengan pembahasan utama seputar dunia usaha yang bersinggungan dengan ilmu psikologi.
"Inti dari bisnis adalah menyediakan apa yang dibutuhkan manusia. Sedangkan sifat manusia seringkali menginginkan apa yang sebenarnya tidak ia butuhkan. Kenali dua faktor ini, yang dibutuhkan dan yang diinginkan.”
Hans memberi contoh, menampilkan gambar di slide presentasi.
“Itu kenapa perusahaan rokok tidak pernah mengiklankan cara merokok, karena itu tidak dibutuhkan (dan terlarang di aturan penyiaran) tapi mereka memberi apa yang orang ingin dan harapkan. Seperti terlihat keren, macho, pesan tersembunyi seolah kalau tidak merokok berarti bukan lelaki sejati.
Iklan rokok menampilkan orang-orang dengan kegitan keren, seperti pria tampan yang atletis berselancar di laut dalam terpaan mentari yang ingin tenggelam. Ini mempengaruhi psikologis keinginan bagi mereka yang menontonnya terutama para remaja atau orang yang sedang mencari jati diri..." Hans terus melanjutkan pembicaraan.
Karin tak terlalu menyimak banyak karena rasa kantuk yang menggelayuti kelopak mata. Ia berkali-kali terhantuk bahu orang di depan. Nadia menyenggol dan mengingatkan agar Karin mengelap air liurnya yang hampir membuat peta penjelajahan Columbus.
Sesi kuliah ditutup dengan tanya jawab, Hans dengan santai memberi jawaban yang lugas dan realistis. Terkesan nyelekit tapi benar memang begitu adanya.
__ADS_1
“Jadi apa kunci kesuksesan usaha menurut Pak Hans? Adakah tips dan trik menjadi pengusaha sukses?”
Nancy, mahasiswi paling ambis sejagad fakultas langsung memborong 2 pertanyaan terakhir, yang harusnya diberikan untuk satu orang lagi. Ia tak peduli, baginya: siapa cepat ia hebat.
“Ini menurut saya pribadi, berdasar pengalaman selama saya berbisnis. Kuncinya satu kata: KONEKSI. Itu saja.
Jika kalian tidak pintar, maka pintar-pintarlah menjalin hubungan baik dengan orang lain, itu akan sangat membantu kalian ketika lulus nanti.”
Kalau mau diteruskan maka kuliah tamu ini tidak akan pernah selesai, ditambah lagi para mahasiswa/i sudah kusut dahinya mendengar pemaparan lelaki berkarisma itu.
Sebagai penutup Hans mengumumkan bahwa perusahaannya sedang membuka lowongan magang eksklusif untuk mahasiswa/i terpilih.
Hans adalah CEO dari bisnis kuliner dan perhotelan. Di Surabaya saja ia memiliki 7 restoran dan 4 hotel bintang lima. Jumlah itu belum termasuk cabang-cabang di kota besar lainnya.
Ia memberi keterangan bahwa siapapun yang nantinya mendapat kesempatan magang, juga berpeluang paling besar untuk lanjut bekerja di tempatnya setelah lulus kuliah nanti. Terjamin 99%.
...______...
Janji pertemuan.
Di lantai satu restoran food dekat pelabuhan. Karin memandang laut lepas. Angin malam menerpa rambut panjangnya yang bergelombang. Menunggu Rangga. Malam ini adalah janji temu 'kangen' mereka.
Malam yang akan menjadi sejarah, mungkin. Jantung Karin berdebar tak menentu. Restoran ini adalah resto paling mahal yang bisa ia datangi di kota pahlawan. Bukan hanya karena kualitas hidangannya yang top markotop.
Tetapi karena lokasinya yang berada di dekat pantai. Suasana indah dan makanan lezat adalah duo kombo yang menjadikan resto ini begitu berkelas.
Ditambah lagi, dari info yang ia cari-cari di internet. Tempat ini adalah lokasi yang paling sering digunakan seorang lelaki untuk melamar gadisnya.
Membuat Karin perlu menelepon dua kali, memastikan bahwa benar ini tempat pertemuan yang dimaksud. Rangga hanya tertawa, ia sampai memberi lokasi resto itu melalui whattsapp, agar Karin tidak nyasar. Selebihnya agar Karin semakin yakin.
__ADS_1
Menunggu, dan terus menanti. Rangga tak juga datang. Karin terus menerus mengecek hp nya, melihat jam. Beberapa saat lalu hp itu bergetar kencang. Ada beberapa pesan yang masuk.
Tapi itu bukan dari lelaki yang dinanti, melainkan dari sahabat sekamar dan sejurusannya. Nadia, bertanya ini itu yang membuat Karin sedikit kesal.
Nadia: Gimana? Lo beneran di lamar? Emang lu udah siap? Pliss jangan nikah dulu la. Gue ntar gimana??????
Karin: Husstttt diem nad, berisik lu. - {emot marah.}
Meski begitu Karin malah terus membalas pesan dari Nadia. Membuatnya asik sendiri menghabiskan waktu dengan ponsel. Tak sadar Rangga telah ada di hadapannya. Memanggil nama Karin.
Disampingnya ada seorang wanita umur 30an terlihat lebih tua dari Rangga. Tapi untuk ukuran ibunya, Karin pikir perempuan ini bisa dibilang sangat awet muda.
"Karin ya? Rangga suka banget cerita tentang kamu lo. Kenalin namaku Stela." Wanita itu menyapa dengan ramah.
Yang malah dijawab dengan kikuk. "Iya tante. Aku Karin."
"Kok tante sih??" wanita yang bernama Stela itu jadi heran.
Kali ini Rangga berdehem, menjelaskan situasinya agar tidak jadi salah paham berkelanjutan.
"Sebenarnya ini...”
.
.
Dukunganmu sangat berarti. Jangan lupa buat like & koment ya. Matur nuwun.
.
__ADS_1