My Dangerous Shaka

My Dangerous Shaka
Shaka Mahardika


__ADS_3

...Selamat Membaca…


...


...***


...


Atmosfer dingin yang tiba-tiba tercipta di ruangan ini disebabkan oleh seorang gadis bernama Zea Anindita yang saat ini tengah menelungkupkan kepalanya di atas lipatan tangannya. Tertidur.


Padahal kelas masih berlangsung tapi Zea berani tidur di jamnya.


Shaka Mahardika, laki-laki yang dikenal dingin oleh mahasiwa-mahasiswi fakultasnya kini berjalan menghampiri meja Zea berada, disamping Zea, Kana Maharani sahabat Zea, sudah dibuat ketar-ketir sendiri dengan kedatangan dosen itu ke tempat duduknya.


Beberapa kali ia mencoba menyenggol lengan Zea agar terbangun, namun bukannya bangun Zea malah melenguh dengan suara seraknya. Kana melototkan kedua matanya.


“Ze! Bangun, pak Shaka datang.” Zea melirik wajah Kana yang panic, tapi Zea acuh dan kembali tidur. Kepalanya sangat pusing akibat ia lembur tugas, tadi ia baru bisa tidur jam 2 dini hari dan harus bangun pagi hari untuk matkul pak Shaka.


“Ze! Yaampun nih anak nggak ada takut-takutnya.” Kana yang berusaha membangunkan Zea kembali melirik kearah Shaka yang ternyata sudah berdiri di samping mejanya.


“Pak.” Sapa Kana berusaha meredam atmosfer yang tercipta dengan dingin ini.


Semua teman se prodinya hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Zea agar lolos dari amukan dosen terdingin di kampusnya.


“Zea, tamat riwayat lo,” lirih Kana yang sudah pasrah karena melihat wajah datar Shaka menatap Zea.


“Zea Anindita.” Kana menoleh pada Zea yang hanya melenguh namun tak kunjung bangun.


“Zea Anindita, siapa yang menyuruhmu tidur di kelas saya!” Zea yang mendengar suara setengah meninggi dari Shaka kemudian perlahan membuka matanya, Zea menatap teman-temannya heran karena semua mata memusat padanya.


Namun belum menyadari jika Shaka sudah berdiri disamping mejanya, baru ketika Kana membisikkanya, kedua mata Zea dibuat terbelalak.


Zea mendapati wajah garang Shaka yang sudah merah padam menatapnya, ia merapikan rambutnya yang berantakan karena ia duselkan ke lipatan tangannya ia menatap Shaka dengan tersenyum kikuk.


“Maaf pak, saya ketiduran.” Sebagai mahasiwa akhir semester, tugasnya yang teramat ngadi-ngadi membuat jam tidurnya jadi berantakan, dan akhirnya ia mengambil jam tidurnya waktu dosen mengajar secara diam-diam.


Tapi Zea lupa jika dosen yang saat ini mengajarnya adalah dosen Shaka Mahardika yang dikenal dengan sikap dingin dan menyeramkannya.


Mata Zea menatap Shaka yang masih terus menghujaninya tatapan marah, karena tak kunjung buka suara Zea dibuat panas dingin ditempatnya.


“Selesai matkul ini, datang ke ruangan saya!” Zea dengan cepat mengangguk, selepas itu Shaka kembali ke depan dan melanjutkan kegiatannya.


Kana melirik Zea dari samping, “jam berapa kemarin lo tidur?”


“Jam dua dini hari.” Kana mendesah.

__ADS_1


“Pantes aja dibangunin susah, maaf ya Ze, gue gabisa bantu lo dari amukan pak Shaka.” Zea hanya mengangguk untuk menanggapi ucapan Kana. Tidak masalah bagi Zea mendapat hukuman dari Shaka.


***


Zea mengetuk pintu ruangan milik dosen Shaka, dosen muda yang dikenal dengan watak dinginnya itu.


Zea terdiam di depan pintu, dengan tangan sibuk mengetuk sembari menunggu respon dari dalam. Tapi sudah beberapa menit ia berdiri disini dan belum ada respon apapun dari dalam sana.


Awalnya dia ingin membuka ruangan itu namun urung karena dirasa tidak sopan tapi dengan iseng, Zea mencoba membuka pintu ruangan Pak Shaka yang ternyata tidak dikunci, ia menjembulkan kepalanya ke dalam dan mendapati ruangannya yang sepi.


Tidak ada Shaka di dalam.


Zea mendecak, pantas dipanggil tidak segera menyahut.


Saat asik mengamati ruangan Shaka, tiba-tiba tubuhnya terdorong ke depan dan bersamaan dengan itu pintu tertutup dengan rapat, lalu seseorang memojokkannya pada pintu itu yang sudah tertutup.


Zea terkejut bukan main dan hampir serangan jantung karena ulah Shaka, pria itu menubrukkan tubuhnya dengan memeluknya hangat dan menyembunyikan kepalanya pada leher Zea.


“Pak, saya datang kesini untuk menebus kesalahan saya, bukan mau cuddle dengan bapak.” Mata Shaka melongak menatap wajah datar Zea. Shaka terkekeh, lalu mengecup singkat pipi Zea yang mengembung karena cemberut.


“Saya menyuruhmu kesini karena saya mau manja-manja ke kamu Zeaaa.”


Kepala pria itu mengusuk ke lehernya, sehingga membuat Zea kegelian dan mendorong pelan tubuh Shaka, “ berhenti kak, kalo ada yang lihat gimana.” Desis Zea lalu duduk pada sofa yang tersedia disana.


Shaka ikut menghampiri Zea dan duduk di samping gadisnya, “kalo anak kelas tau kakak kayak gini, pasti mereka bakal syukuran lihat dosen Shaka yang dikenal dingin ternyata suka manja ke istrinya.” Ejek Zea pada Shaka yang melingkarkan tangannya pada pinggangnya.


“Mau apa?”


“Mau beneran manja ke istri di depan mereka.” Mata Zea membola, dengan enteng tangan gadis itu melayang pada tangan kekar Shaka.


“Jangan aneh-aneh deh kak!” sembur Zea.


“Emang kenapa sih, daripada harus acting kejam kayak tadi di depan kamu. Aku ngga tega sayangg, rasanya merasa bersalah udah nge bentak kamu kayak tadi.” Zea jadi heran dengan pria ini. Padahal di depan mahasiwi dia ini dingin dan jutek buwanget loh. Giliran sama dengannya saja, mirip kayak anak manja ke ibunya.


"Aku jadi ngga yakin deh kalo ini kak Shaka yang dingin itu, ini beneran kak Shaka bukan?” kedua tangan Zea terbuka untuk menyambut kepala Shaka yang mendusel ke dadanya.


Mata Shaka yang semula terpejam perlahan terbuka untuk mendongak menatap Zea yang sibuk memainkan rambut tebalnya.


“Rambut kamu ngga mau dipotong kak? Udah gondrong banget loh.”


Shaka hanya diam memandangi wajah cantik Zea dari bawah, hanya gadis ini yang dia sayangi setelah Ibunya, hanya gadis ini yang ingin terus ia lindungi, pokoknya Shaka maunya cuman Zea, Zea, dan Zea di dalam hidupnya.


“Kak.” Panggil Zea, saat menyadari suaminya hanya diam saja. Zea kemudian melirik kearah Shaka. Lelaki itu ternyata melamun menatap dirinya.


Zea mendengus, “kak Shaka!” Shaka terkejut dan mengusap dahinya yang ditepuk kecil oleh Zea.

__ADS_1


“Apa sayanggg.”


“Ditanyain ngga di jawab.” Dumelnya kesal. Shaka terkekeh dan bergerak maju untuk mengecup bibir tipis Zea.


“Iya ini di jawab, kamu nanya ini beneran aku atau bukan, emang ini aku, aku yang manja di hadapan Zea Anindita. Rambutku mau aku potong, asal kamu temenin ya,” pintanya.


“Iya aku temenin kakak.”


***


Keluar dari ruangan Shaka, senyum Zea mengembang diirngi dia yang menutup pintu dan melangkah pergi darisana.


Dalam hati tak henti-hentinya Zea untuk mengucap syukur karena beruntung memiliki suami selembut Shaka, setampan Shaka dan se gantle Shaka memperlakukannya.


Suaminya itu memang sangat dingin jika di depan umum, tapi jika sudah bersamanya, aura dingin itu lantas hilang dalam sekejap.


Zea suka, apapun dari Shaka, karena hanya Shaka yang mengerti bagaimana dirinya, dan bagaimana cara memperlakukannya dengan baik. Bukankah dirinya begitu beruntung, tapi sayangnya, dia belum bisa mengungkap status mereka pada public.


Dikarenakan Zea memiliki alasan tertentu untuk masih menyembunyikannya.


“Zeaaa.” Zea berhenti menatap Kana yang berlari menghampirinya, dia berlari kecil menenteng tasnya.


Dari jarak tak terlalu jauh Zea mengikuti pergerakan Kana yang menghampirinya. Sesampainya di depan Zea, Kana berdiri dengan nafas sedikit tersengal sengal.


“Yaampun, lari dari situ kesini aja udah ngos-ngosan,”


“Oh ya Ze. Gimana? Pak Shaka ngga apa-apain lo kan, lo dikasih hukuman apa.” Tanya Kana beruntun dengan wajah menatap khawatir sahabatnya.


Zea mencari jawaban yang pas, dan sekelebat Shaka yang bukannya menghukumnya dan malah ingin bermanja dengannya membuat kedua bibirnya mengembang.


“Heh, kok lo senyum-senyum?” Kana menggoyangkan tangan Zea.


“Oh ya, cuman dikasih peringatan aja, kalo gue ulang, gue disuruh bersihin toilet cowok.” Bohongnya, tentu saja Kana yang memang polos jadi gampang dibegoin oleh Zea.


“Hah! Serius kalo lo gitu lagi disuruh bersihin toilet cowok? Yaampun kasian banget sih lo, pak Shaka jahat banget.”


Zea meringis kecil, hatinya sudah mengucap beribu-ribu maaf untuk Shaka karena menumbalkan nama baiknya.


“Ngga dibentak kayak tadi kan?”


“Enggaa Na, amann. Laper ngga lo.” Tanyanya, sebelumnya Zea terkekeh karena perut Kana yang iba-tiba mengeluarkan bunyi. Kemudian Kana mengangguk.


“Ayo makan, urusin dulu perut lo biar ngga bunyi kenceng banget.” Zea masih terkekeh dengan Kana yang cemberut memegangi perutnya.


Kedua gadis itu sudah berjalan beriringan menuju kantin dengan Kana yang sesekali bercerita random kepada Zea yang diam mendengarkan.

__ADS_1


...***...


__ADS_2