My Dangerous Shaka

My Dangerous Shaka
NONTON BIOSKOP


__ADS_3

Kedua sejoli ini sudah sampai di depan tempat CGV berada setelah adanya drama tadi yang mengharuskan keduanya berpisah sejenak karena Shaka bersembunyi menghindari Kana.


Kemudian keduanya pun masuk dengan Shaka yang menggandeng mesra tangan Zea, karena tidak ingin gadisnya itu jauh-jauh darinya.


Keduanya hampir sampai di depan petugas kasir hendak membeli tiket terlebih dulu, namun harus menunggu dua orang lagi dan berganti gilirannya.


Sembari menunggu dua orang itu selesai memesan, Shaka yang tiba-tiba melihat gerombolan laki-laki datang dengan suara mereka kemudian dengan cepat berpindah posisi ke belakang tubuh gadisnya yang semula di samping gadisnya.


Zea yang melihat hal itu sontak menoleh ke arah Shaka. Kemudian melirik ke belakang ke arah gerombolan laki-laki yang sekarang sudah ada di belakang Shaka.


Zea yang mengerti pun tersenyum kecil dan di balas kedipan oleh Shaka.


Tinggal menunggu satu orang lagi lalu setelah itu gilirannya, Shaka lagi-lagi meletakkan kedua tangannya pada pinggang Zea dan mendekatkan tubuh mereka hingga saling menempel.


Sembari menghilangkan rasa bosannya, Shaka memilih memperhatikan wajah Zea dari samping dengan tatapan sayunya yang tak lepas dari hidung, mata, dan terakhir ke bibir Zea.


Zea yang menyadari suaminya tengah menatapnya pun sedikit melirikkan matanya melalui ekor matanya. Awalnya dia sudah menahan kedua kedutan bibirnya, namun ketika Shaka semakin dalam menatap dirinya lama-lama juga bisa membuat dirinya salting sendiri.


“Kak Shak jangan natap aku kayak gitu.” Protes gadisnya.


“Yang kayak gimana.” Tanya Shaka.


“Ya itu kayak kakak sekarang natap aku, jangan gitu,” Shaka terkekeh kecil.


“Kenapa, salting ya.” Zea memalingkan mukannya ke samping, tidak mau Shaka menatapnya.


“Dasar bocil.” Dia kemudian menyematkan satu kecupan di kepala Zea dan berdiri tegak lurus dengan kedua tangan masih anteng memegang pinggang gadisnya.


Sampai akhirnya kini giliran keduanya untuk memesan tiket.


Shaka berucap, “kamu aja yang pesen, aku bagian jagain kamu biar ngga di lirik cowok-cowok belakang aku.” Zea terkekeh.


Kemudian dia segera memesan tiket dan mendapatkan dua bonus minuman untuk dirinya dan Shaka.


Setelah menunggu kira-kira lima belas menit setelah memesan tiket, kini keduanya sudah di perbolehkan masuk karena sekarang giliran jam mereka.


Setelah masuk dan menyesuaikan tempat duduk dengan nomor bokingnya, kini Shaka lagi-lagi yang hendak duduk menjadi urung ketika melihat jika samping Zea adalah sekumpulan anak laki-laki tadi di belakang mereka.


Sontak hal itu membuat Zea yang hendak duduk menjadi urung karena Shaka menggeser pelan tangan Zea untuk mengode gadisnya.


Zea yang paham pun menurut lalu duduk di kursi yang awalnya Shaka tempati.


Salah satu laki-laki yang menyadari tingkah Shaka yang posesif ke ceweknya mengundang dirinya untuk bertanya langsung pada pria itu.


“Sayang banget sama ceweknya ya, bang.” Shaka menoleh ke arah laki-laki remaja di sampingnya.


“Tentu.” Sudah gitu doang. Singkat, padat dan jelas.


Kemudian lampu di matikan. Mereka segera memposisikan diri mereka seenak mungkin kemudian film pun di putar.


Sudah berjalan beberapa menit, Shaka diam-diam melepas jaketnya dan ia pakaikan ke depan tubuh gadisnya ketika melihat gadis itu menyatukan kedua tangannya saling memegang lengannya. Dingin.


Zea yang melihat hal itu sontak tersentak kecil dan menunjukkan wajah terkesannya di hadapan Shaka yang langsung memalingkan muka.


Lama film ini berdurasi satu jam lebih kira-kira, dan pada pertengahan film ketika terjadinya adegan kiss, Zea merasakan tubuhnya yang tiba-tiba menjadi panas dingin.


Pliss jangan salting, batinnya. Dia melirik kecil ke Shaka yang tengah memainkan bibir bawahnya dengan jari yang di gesekkan ke sana. Pikiran nakalnya pun jadi traveling melihat Shaka memainkan bibir.


Membayangkan jika di dalam film tersebut adalah dirinya dengan Shaka.

__ADS_1


Zea menundukkan kepala dengan helaan nafas kecil, seharusnya ia tidak memilih film ini tadi. Tau begini lebih baik ia menonton film horor saja.


“Kenapa sayang?” tangan Shaka bergerak mengambil tangan Zea dan ia genggam, tangan gadis itu dingin sekali karena ac atau entah karena gugup dipegang Shaka.


Kepala Shaka mendekat ke pundaknya dan menempelkan kepalanya pada pipi Zea kemudian berbisik lembut, “Dingin ya, mau peluk aja?”


Zea sontak menggeleng, lah kalo dia sama Shaka pelukan kan jadi ngalahin adegan romantis di filmnya.


“Gini aja kak, cukup.” Zea berbisik tepat di telinga Shaka dengan menunjukkan genggaman tangan mereka ke depan suaminya.


“Yakin hm.” Bahaya, ini bahaya sekali. Mari kita dengar ucapan pria itu selanjutnya.


“Emang ngga mau yang kayak gitu, lebih menghangatkan daripada ini lho.” Nahkan, mampus dia sudah kebingungan ingin merespon seperti apa.


Sedangkan Shaka yang sibuk menatap wajah Zea diam-diam menyunggingkan sudut bibirnya ke atas, “Bonusnya juga dapet anak, hehe.”


Mata Zea membelalak. Bisa-bisanya setelah berucap seperti itu suaminya masih bisa terkekeh. Benar-benar membahayakan sekali pria ini.


***


Setelah keluar dari tempat bioskop dan sekarang turun untuk mencari makan di sekitar mall Zea kembali menghindari Shaka seperti yang ia lakukan tadi sepulang dari kampus.


Sedangkan Shaka yang membuntuti Zea dari belakang beberapa kali mendecak karena gadisnya lepas sendiri di banyaknya orang-orang pada berlalu lalang.


“Zeaa.” Panggil Shaka dan segera berlari kecil untuk meraih tangan gadisnya.


“Zea.” Zea menoleh dan menunjukkan cengirannya di hadapan Shaka ketika pria itu berhasil menangkap dirinya.


“Jangan lari-lari, bahaya, nanti kalo kamu hilang bagaimana.”


Zea mempoutkan bibirnya, “Iya, engga lagi.”


“Apa.” Mata Zea sontak melebar ketika Shaka mendekatkan wajahnya ke depan wajah dirinya hingga hampir membuat bibir mereka saling bersentuhan.


“Ih, kakak jangan deket-deket. Yuk bisa yuk, jaga jarak dulu, ini di tempat umum kak.”


“Ngga peduli, salahin tuh bibirmu, kenapa ada magnetnya.”


Zea menutup bibirnya, “ck, kak Shaka mesum.”


Shaka membasahi bibir bawahnya dan semakin menggoda Zea. Karena jaketnya sudah kembali di pakai Shaka, kemudian pria itu sedikit menarik tudung di kepalanya semakin maju hingga orang-orang tak bisa menangkap ekspresinya sekarang.


“Mau bukti.” Seringai Shaka. Udahlah Zea angkat tangan, makin kesini makin bahaya saja suaminya ini.


Bahayanya semakin overload dan yang pasti tidak aman untuk kesehatan jantungnya.


“Kak, mau makan.”


Shaka mengangguk kemudian mengambil tangan gadisnya untuk ia genggam.


“Ayo. Di tempat lain aja ya, di sini rame, takut bikin kamu ngga nyaman,” katanya dengan tangan satunya yang ia buat untuk mengusap usap lembut pipi Zea. Zea megangguk cepat dan tersenyum sumringah.


Keduanya pun memilih keluar dari mall dan segera mencari tempat makan yang nyaman dan sekiranya pengunjungnya tidak sepadat di mall tadi.


Karena Shaka takut istrinya merasa tidak nyaman dan pusing.


“Wahh.” Sesampainya di sebuah restoran dengan desain interior yang elegan juga lampu-lampu bergantungan membuat Zea spontan menganga takjub di balik kaca mobil.


“Suka?” Zea menoleh ke arah Shaka lalu mengangguk seperti anak kecil.

__ADS_1


Shaka menggeleng kecil dengan sudut bibir tersungging ke atas melihat wajah kagum Zea menatap desain bangunan restoran ini. “Berasa kayak ngajak bocil makan di restoran deh.”


Keduanya pun masuk dengan tangan Zea yang digandeng Shaka. Pria itu kembali menarik tudung jaketnya ke kepala.


Zea memperhatikan itu, meskipun bermodal sandal jepit dengan setelan bajunya kelewat santai untuk ukuran jalan-jalan ke mall, nonton bioskop, hingga makan di restoran. Shaka tetap terlihat tampan dan sangat attractive di matanya.


Di tambah dirinya yang sudah bucin Shaka to the max, jadinya mau pakai pakaian sejelek apapun itu tetap kelihatan cool kalo Shaka yang pakai.


“Jangan gitu nanti makin jatuh cinta.” Zea tersentak kecil dan melihat Shaka yang menerima uang kembalian sekaligus nomor meja.


Zea menautkan dua jemarinya, “Emang udah.” Shaka melirik sebentar lalu terkekeh kecil ketika telingannya medengar istrinya berbicara demikian.


***


Menghabiskan waktu berjam-jam di luar dengan berjalan-jalan, nonton, dan terakhir makan di restoran. Kini keduanya sudah sampai di rumah dan Shaka yang baru selesai memarkirkan mobil hitamnya.


Dia kemudian berjalan mengitari mobilnya setelah menutup pintu dan berjalan menuju istrinya kini yang katanya udah ngantuk banget.


Shaka yang tidak ingin membuat istrinya itu berjalan sendiri dengan badan ter oleng-oleng pun mendekati gadisnya dan ia gendong masuk ke rumah.


Zea yang masih sedikit sadar pun membukakan pintunya dengan tubuhnya yang di gendong Shaka.


Kemudian setelah pintu terbuka, keduanya pun masuk dan Shaka menutup pintu dengan kakinya setelah Zea memindahkan kuncinya ke dalam dan menguncinya.


Keduanya berjalan ke atas memasuki kamar dengan Zea yang meletakkan kepalanya di dada Shaka dengan tangan mengalung di leher pria itu.


“Cuci kaki sama tangan dulu ya, abis itu tidur. Masih bisa?” Tanya Shaka lembut. Zea mengangguk lalu memilih turun dari gendongan Shaka.


Kemudian Zea berjalan dengan Shaka yang memperhatikan gadis itu dalam diam, saat hampir mencapai pintu dan hendak masuk, tidak sengaja tubuh Zea oleng dan hampir terjatuh karena keset berbulu yang licin.


Ya ampun hampir saja, namun untungnya dia bisa menahan dirinya dengan kedua bola mata terbuka lebar. Langsung hilang kantuknya.


Shaka yang memperhatikan itu sudah dibuat ketar-ketir dengan istrinya dan berjalan medekati Zea.


“Udahlah sama aku aja, takut kamu ceroboh kayak gini."


Sesudahnya membasuh kaki dan tangannya, Zea dengan baju seksinya hanya tanktop dan celana sepaha sudah membaringkan tubuhnya di atas kasur, sembari menunggu Shaka selesai berkutat di kamar mandi.


Ketika mendengar bunyi ceklekan pintu, Zea dengan cepat merubah posisinya menjadi miring dengan kepala yang ia sangga dengan tangan dan siku sebagai tumpuannya.


“Uhuyy,” mata Shaka kontan melotot lebar, melirik ke arah istrinya yang astaga, seksi sekali bajunya. Pula dengan dirinya yang kebetulan telanjang dada dan hanya memakai celana kolor saja.


“Ngode nih ceritanya. Jadi mau beneran di kabulin yang tadi.” Zea sudah merutuki mulutnya yang reflek jadi gatal ingin menggoda pria itu.


Tubuhnya itu loh, bikin Zea ingin memeluknya. “Engga, ayo tidur.”


Shaka menarik sudut bibirnya lalu mendekati Zea dan segera masuk ke dalam selimut yang dipakai istrinya.


Shaka mendekatkan tubuhnya dan menyelipkan tangannya di leher Zea agar gadis itu bisa memeluknya. Zea dengan sendirinya memiringkan posisi tidurnya lalu memeluk erat pinggang Shaka yang telanjang.


Shaka pun begitu, satu tangannya lagi ia gunakan untuk memeluk pingang istrinya erat, sembari berbisik.


“Melayani suami juga kewajiban istri lho beib. Ready ngga, mumpung sama-sama gini nih kita.” Sontak hal itu membuat Zea yang semula memejamkan mata, sontak membuka lebar-lebar matanya.


“Sial. Ngga jadi ngantuk, malah was-was.”


...***


...

__ADS_1


__ADS_2